Grandmaster Yang Terlupakan

Grandmaster Yang Terlupakan

Bab 1 : Grandmaster Fana

Pagi di Kota Yunzhou selalu berbau tanah basah dan asap tungku.

Di sudut jalanan sempit dekat gerbang barat, sebuah kios kecil berdiri sederhana di antara deretan pedagang lain. Papan kayunya sudah agak kusam, tulisan di atasnya memudar dimakan hujan dan angin — Toko Buku Lin. Di balik meja yang dipenuhi tumpukan buku bergambar, seorang pemuda duduk santai sambil menyesap teh yang sudah setengah dingin.

Wajahnya biasa saja. Bukan tampan yang mencuri perhatian, bukan pula buruk yang mengundang pandang. Hanya tenang — tenang seperti kolam tua yang tak pernah terguncang angin.

Namanya Lin Qian.

Sebelum membuka kios setiap pagi, ia selalu meluangkan waktu di halaman sempit di belakang tokonya. Gerakan Tai Chi yang ia lakukan mengalir tanpa celah — setiap perpindahan bobot, setiap putaran pergelangan, sempurna hingga ke rincian terakhir. Bagi siapa pun yang mengerti seni bela diri murni, mereka akan menahan napas menyaksikannya. Keindahan yang nyaris seperti tarian langit.

Sayang, dunia ini tidak peduli dengan keindahan tanpa Qi.

Dua puluh tahun, batinnya datar, menatap langit pagi yang mulai ramai oleh titik-titik cahaya. Dan aku masih berjualan buku.

Cahaya-cahaya itu adalah para kultivator — murid sekte, pengembara pedang, atau sekadar orang berbakat yang bahkan lalat pun bisa mereka bunuh dari jarak seratus tombak. Mereka melesat seperti meteor di siang bolong, tak peduli dengan kerumunan manusia biasa di bawah mereka.

Yunzhou mendadak ramai bukan karena panen bagus atau festival musiman. Kabar sudah tersebar ke seluruh penjuru: Sekte Lingxue dan Sekte Xuanwu akan bertanding. Bukan latihan, bukan ujian — pertarungan hidup mati. Para pedagang menggelar lapak lebih pagi, pendekar jalanan menjajakan jimat dan ramuan murahan, semua orang sibuk mengais keuntungan dari hiruk-pikuk para orang kuat.

Lin Qian merapikan tumpukan bukunya dengan jempol.

Bukan urusanku.

Namun belum sempat ia menyesap tehnya lagi, dua sosok perempuan muncul dari kerumunan.

Yang pertama adalah gadis kecil berambut kepang dua, berlari setengah melompat dengan mata berbinar ke segala arah. Jubahnya putih bersih bergaris biru muda — seragam murid Sekte Lingxue yang mudah dikenali. Yang kedua berjalan beberapa langkah di belakangnya, dan orang-orang di sekitar tanpa sadar membuka jalan.

Wajar saja.

Wanita itu berjalan seperti salju turun — sunyi, dingin, dan terasa berat meski tak bersuara. Jubah putihnya tak berdebu walau jalanan penuh pasir. Rambutnya terikat rapi, wajahnya sempurna dengan ekspresi yang tampaknya sudah lama lupa cara tersenyum. Aura seorang kultivator berderajat tinggi memancar darinya seperti dinginnya lereng puncak gunung di musim salju.

Mei Lian. Salah satu murid terbaik Sekte Lingxue.

Adiknya, Xiao Rui, sudah lebih dulu berhenti tepat di depan kios Lin Qian. Mata beningnya menyapu tumpukan buku bergambar, lalu langsung bersinar.

"Kak, lihat! Gambarnya bagus sekali!" serunya, tangan kecilnya sudah hampir menyentuh salah satu buku.

"Xiao Rui."

Suara Mei Lian jatuh seperti es. Gadis kecil itu langsung menarik tangannya kembali.

Pandangan Mei Lian melintas sekilas ke arah Lin Qian — singkat, datar, mengandung sesuatu yang lebih menyakitkan daripada penghinaan langsung. Tatapan yang sama yang orang gunakan saat melihat batu di tepi jalan. Ia menilai, lalu mengabaikan.

"Kita ada urusan penting," ucapnya dingin. "Jangan buang waktu pada barang tak berguna buatan manusia biasa."

Manusia biasa.

Lin Qian menyesap tehnya. Tidak ada yang berubah di wajahnya.

Namun jauh di dalam dadanya, sesuatu terasa seperti bara yang diinjak pelan-pelan. Sudah dua puluh tahun ia hidup di dunia ini. Sudah dua puluh tahun ia menelan kata-kata seperti itu. Saluran tenaganya tersumbat sejak lahir — tak secuil pun bakat kultivasi mengalir dalam dirinya. Di mata para kultivator, ia memang tidak lebih dari semut.

Seandainya aku kuat, pikirnya pahit, sudah kuberi pelajaran wanita sombong itu.

Tapi ia tidak kuat. Jadi ia diam.

Xiao Rui menguncupkan bibir, matanya mulai mengembun. Mei Lian meliriknya sebentar, menghela napas panjang penuh ketidakrelaan, lalu melempar satu keping emas ke atas meja dengan gerakan setengah jijik — seperti melempar tulang untuk anjing jalanan. Tanpa bertanya harga, tanpa menunggu kembalian, ia mengambil satu buku sembarangan dan berbalik pergi.

"Ayo."

Xiao Rui mengikutinya, sempat berbalik melempar senyum kecil ke arah Lin Qian seolah meminta maaf atas kelakuan kakaknya.

Lin Qian menatap keping emas itu. Nilainya dua kali lipat harga buku mana pun di mejanya.

Ia mendengus pelan, lalu menyimpannya.

 

Beberapa saat kemudian, di lorong sepi di balik kedai teh tak jauh dari kios Lin Qian, Xiao Rui membuka buku itu dengan penuh semangat. Halaman demi halaman ia balik, sesekali bergumam kagum melihat gambar-gambar jurus yang digoreskan dengan tinta hitam tebal namun mengalir indah.

"Kak Mei, yang ini keren! Lihat caranya berdiri—"

"Simpan saja."

Tapi Xiao Rui sudah terlanjur menunjukkan halaman itu. Mei Lian hendak berpaling, namun sudut matanya menangkap sesuatu.

Sebuah pola.

Bukan gambar jurus biasa. Di sudut halaman terakhir, tersembunyi di balik goresan tinta yang tampak seperti hiasan belaka, terdapat susunan garis yang membentuk sesuatu yang seharusnya tidak mungkin ada di tangan pedagang jalanan.

Niat Bela Diri.

Bukan tiruan. Bukan sketsa. Tapi niat sesungguhnya — jiwa seorang yang telah menembus batas tertinggi ilmu bela diri, tertuang dalam satu gambar seperti petir yang membeku di atas kertas.

Tubuh Mei Lian seketika menegang.

Benturan tak kasat mata menghantam kesadarannya seperti puncak gunung runtuh. Ia tidak sempat membela diri, tidak sempat mengalihkan Qi-nya. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya sebelum ia menyadari dirinya sudah mundur dua langkah, lutut hampir bertekuk.

Tangannya gemetar memegang buku itu.

"Niat Bela Diri…" bisiknya, suaranya pecah tak percaya.

Di kejauhan, di balik meja kios kayu tuanya, Lin Qian masih menyesap teh yang sudah benar-benar dingin.

Tanpa tahu sama sekali apa yang baru saja terjadi.

-----bersambung bab 2 -------

Terpopuler

Comments

verto

verto

mirip di SeBUAH komik ceritanya

2026-07-01

1

cipung

cipung

jadi mc nya nggak nyadar gitu?

2026-06-02

0

Seung

Seung

setengah dingin 😭

2026-07-26

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Grandmaster Fana
2 Bab 2 : Kitab Tai Chi, Hadiah Guru
3 Bab 3 : Mencurigai Sosok Kuno
4 Bab 4 : Aura Tersembunyi & Serigala Iblis Jadi Lauk
5 Bab 5 : Pisau Dapur & Standar Sang Senior
6 Bab 6 : Penjaga Pintu Baru
7 Bab 7 : Tempaan Api & Kesalahpahaman Mulia
8 Bab 8 : Perpisahan & Senjata Penyelamat
9 Bab 9 : Siapa yang Kau Remehkan & Hukuman Ringan
10 Bab 10 : Papan Catur Sang Senior & Pisau yang Tak Ternilai
11 Bab 11 : Dendam Murid & Satu Ayunan Golok
12 Bab 12 : Patriark Pelit & Matahari Buatan Lin Qian
13 Bab 13: Orang Tua Berkhayal & Rencana Jahat
14 # Bab 14 : Garpu Rumput dan Sumpah di Bawah Langit
15 # Bab 15 : Pisau Dapur Menggemparkan Dunia
16 # Bab 16: Perubahan Nasib dan Kamar Dagang Baofeng
17 # Bab 17 : Kesuksesan Besar dan Kecantikan yang Merindukan
18 # Bab 18: Puisi Indah dan Kerinduan Akan Kampung Halaman
19 # Bab 19 : Kalimat Emas dan Rahasia yang Terlalu Jauh
20 Bab 20: Seratus Ribu Koin dan Orang Pelit yang Menyesal
21 Bab 21: Kartu Emas dan Mata-Mata dari Gunung Bersalju
22 Bab 22: Debu yang Tersisa & Firasat Buruk di Puncak Gunung
23 Bab 23: Sosok di Balik Jubah Putih & Hutang yang Dibayar dengan Tulang
24 Bab 24: Tidak Layak Berdiri di Sini & Anjing yang Lebih Setia dari Manusia
25 Bab 25: Kain Lusuh yang Menyimpan Duka & Penghinaan yang Tak Termaafkan
26 Bab 26: Kain Lap di Pagar & Amarah yang Tak Bisa Dibendung
27 Bab 27: Kesalahan yang Mematikan & Tamu-Tamu Berpenampilan Ganjil
28 Bab 28: Niat Baik yang Tak Boleh Disia-siakan & Laporan yang Menyesatkan
29 Bab 29: Gunung yang Tak Terlihat & Dunia yang Runtuh dalam Satu Kata
30 Bab 30: Majikan Sejati & Pelajaran yang Harganya Dua Lengan
31 Bab 31: Rencana Sang Patriark yang Kalah
32 # Bab 32: Dua Wanita dan Satu Pertemuan Tak Terduga
33 # Bab 33: Puncak Kejayaan yang Rapuh
34 # Bab 34: Malam Makan Malam yang Penuh Rencana
35 Bab 35: Dua Bidadari dan Satu Meja
36 Bab 36: Apakah Kita Perlu Alat Peraga?
37 # Bab 37: Permainan Kartu di Atas Meja
38 # Bab 38: Ingin Mencuri Ayam, Malah Kehilangan Beras
39 # Bab 39: Formasi Yin Surgawi dan Pengkhianat Licik
40 # Bab 40: Pintu Kecil Terbuka dan Pedang Maut dari Langit
41 Bab 41: Tamparan untuk Segalanya
42 # Bab 42: Dia Adalah Dewa dan Aku Hanya Lewat Saja
43 # Bab 43: Tengkorak Nakal dan Darah Harus Dibalas
44 # Bab 44: Dalang di Balik Layar dan Amarah yang Meledak
45 Bab 45: Pasukan Tak Tertandingi dan Duduk Tenang Saja
46 Bab 46: Tombak Mencolok dan Hancurnya Geng Peledak Langit
47 Bab 47: Ketika Langit Runtuh di Atas Kepala Orang Serakah
48 Bab 48: Pisau Itu Milikku & Bahkan Tidak Meletakkan Keranjang Bayam
49 # Bab 49: Hanya Pertunjukan Tanpa Isi & Perubahan Sikap yang Mengejutkan
50 # Bab 50: Jalur Hidup Geng Peledak Langit & Rencana Licik Long Qianxie
51 Bab 51: Kapal Bajak Laut yang Tak Bisa Ditolak"
52 Bab 52 ; Genangan Air Berbahaya
53 Bab 53 — Sekop dan Obat Ajaib
54 Bab 54 — Kaisar Iblis Berpura-pura Mati
55 Bab 55 — Perintah Pembunuhan di Pegunungan Mufu
56 Bab 56 — Manusia Fana yang Menampar Balik
57 Bab 57 — Jubah Biru yang Tidak Bernoda
58 Bab 58 — Sup Ular dan Raja Elang yang Pingsan
59 Bab 59 — Sistem Terkutuk dan Kaisar Iblis di Pohon
60 Bab 60 — Senior yang Hanya Mengumpulkan Ramuan
61 Bab 61 — Tolong Bawakan Daging Bakar Itu
62 Bab 62 — Cincin Spasial dan Dua Senjata Ilahi
63 Bab 63 — Mencari Manusia Fana
64 Bab 64: Kura-kura Itu dan Kesempatan yang Tak Terduga
65 Bab 65: Kantung yang Hilang dan Ketukan di Balik Formasi
66 Bab 66: Manusia Biasa yang Menembus Formasi
67 Bab 67: Yun Xue dan Tulang yang Hilang
68 Bab 68: Pelayan yang Menakutkan dan Tuntutan Aneh
69 Bab 69: Alkemis Nomor Satu yang Malang
70 Bab 70: Pencarian Besar dan Perang yang Tak Direncanakan
71 Bab 71: Kaisar Iblis yang Terlalu Terburu-buru dan Skeleton yang Malang
72 Bab 72: Guan Mingshu yang Menyesal dan Cangkul Tingkat Suci
73 Bab 73: Tugas Khusus untuk Alkemis Nomor Satu
74 Bab 74: Meridian Ras Dewa
75 Bab 75: Terobosan Besar dan Masa Lalu Yun Lan
76 Bab 76: Anjing yang Tidak Bisa Dibeli
77 Bab 77: Katak di Dasar Sumur
78 Bab 78: Musim Semi Ao Lan
79 Bab 79: Badai di Klan Serigala Iblis
80 Bab 80: Kaisar yang Tidak Tahu Malu
81 Bab 81: Niat Zither dan Dua Tamu yang Tidak Diundang
82 Bab 82: Serangan Mendadak dari Segala Sisi
83 Bab 83: Hotpot dan Terobosan
84 Bab 84: Mundur Sebelum Terlambat
85 Bab 85: Dunia Lain, Masa Muda Itu
86 Bab 86 — Sampah yang Mengguncang Langit
87 Bab 87 — Penyelamat yang Tidak Dipercaya
88 Bab 88 — Keripik Pedas untuk Menyelamatkan Klan
89 Bab 89 — Setengah Bungkus yang Mengubah Perang
90 Bab 90 — Harta Karun di Lubang Kotoran
91 Bab 91 — Dilarang Berkelahi di Depan Sini
92 Bab 92 — Tempat Seperti Apa Ini
93 Bab 93 — Membunuh Dua Burung, Salah Sasaran
94 Bab 94: Ladang Para Dewa dan Jebakan yang Sempurna
95 Bab 95: Hutang Skeleton dan Gua yang Mengguncang Hanyang
96 Bab 96: Wu Chang'an yang Penakut dan Penolakan Lu Tianhe
97 Bab 97: Wu Chang'an di Perut Bumi dan Pintu Batu yang Terbuka
98 Bab 98: Tiga Harta Suci dan Bencana di Makam
99 Bab 99: Sang Kerangka Kaya Mendadak dan Pertanyaan yang Menggelisahkan
100 Bab 100: Peringatan Terakhir dan Jalan Biasa
101 Bab 101: Puncak Kebanggaan dan Rebutan Benda Suci
102 Bab 102: Warisan Orang Suci
103 Bab 103: Partitur dari Jalan Biasa
104 Bab 104: Jebakan Sepuluh Ribu Tahun
105 Bab 105: Empat Orang di Depan Pintu
106 Bab 106: Sang Ahli yang Tak Tertandingi
107 Bab 107: Tuan dari Aula Bela Diri
108 Bab 108: Tetangga yang Keras Kepala
109 Bab 109: Guru yang Ragu-Ragu
110 Bab 110: Kunjungan Tanpa Sutra
111 Bab 111: Pertemuan yang Tidak Terduga
112 Bab 112: Mangsa yang Salah
113 Bab 113: Neraka di Pegunungan Mufu
114 Bab 114: Orang Gila di Tengah Pertempuran
115 Bab 115: Guru dan Murid Muncul di Saat yang Tepat
116 Bab 116: Bermalam di Bawah Pohon Song Ke
117 Bab 117: Bersin Dewa dan Kantung yang Berpindah Tangan
118 Bab 118: Rombongan Menuju Hanyang
119 Bab 119: Kedatangan yang Mengguncang Hanyang
120 Bab 120: Jangan Ganggu Tidur Tuanku
121 Bab 121: Sampah di Mata Kami
122 Bab 122: Berlutut di Hadapan Kakek Wang
123 Bab 123: Kaisar Yao untuk Sarapan
124 Bab 124: Tidur di Bawah Pertempuran Kaisar Yao
125 Bab 125: Hanya di Hadapan Anjing Aku Bisa Rileks
126 Bab 126: Kesengsaraan Surgawi yang Melarikan Diri
127 Bab 127: Sup yang Tumpah dan Tamu yang Tidak Diharapkan
128 Bab 128: Harga Meremehkan Tamu
129 Bab 129: Penculikan yang Salah Sasaran
130 Bab 130: Kekacauan di Sekte Pedang Surgawi
131 Bab 131: Permainan Catur yang Sudah Mati
132 Bab 132: Sekte Pedang Surgawi Membayar Hutang
133 Bab 133: Para Penggemar Fanatik dari Hanyang
134 Bab 134: Melamar dengan Lima Ratus Ribu Koin Emas
135 Bab 135: Rencana di Balik Pintu Tertutup
136 Bab 136: Pengantin yang Dirampas
137 Bab 137: Tengkorak di Balik Kerudung Merah
138 Bab 138: Raja Bela Diri yang Melarikan Diri
139 Bab 139: Perjalanan Musim Semi
140 Bab 140: Seperti Teman Lama
141 Bab 141: Labu Kecil untuk Teman Lama
142 Bab 142: Negeri Kekacauan
143 Bab 143: Anak Keberuntungan
144 Bab 144: Malam yang Indah
145 Bab 145: Wanita yang Memijat Kaki
146 Bab 146: Ternyata Akulah Si Adik — Dan Dia Hanya Manusia Biasa
147 Bab 147: Saudara Abadi dan Tamu yang Tak Diundang
148 Bab 148: Dendam Kecapi dan Papan Catur yang Sombong
149 Bab 149: Tidak Ada Jalan Keluar — dan Hati Dao yang Hancur
150 Bab 150: Sang Dukun, Murid yang Kelelahan, dan Tamu Tak Terduga
151 Bab 151: Guru, Murid, dan Orang-Orang Aneh di Jalan
152 Bab 152: Ikan Asin, Sutra Berlian, dan Pelarian di Malam Hari
153 Bab 153: Bintang Pembawa Malapetaka dan Jalan Memutar ke Pegunungan
154 Bab 154: Murid Pergi, Tuan Melanjutkan ke Sepuluh Ribu Gunung
155 Bab 155: Dasar Wanita Sialan, Cepat Naik!
156 Bab 156: Dua Pilihan dan Racun Ular
157 Bab 157: Reruntuhan, Hutang, dan Babi Hutan Buta
158 Bab 158: Jejak Pedang yang Mengguncang Pikiran
159 Bab 159: Manik-Manik Cantik dan Ular Abadi
160 Bab 160: Batu Bata, Sup Ular, dan Dua Juta Koin
161 Bab 161: Ketika Dewa Bela Diri Bergantung pada Manusia Biasa
162 Bab 162: Pria Berjubah Putih yang Penuh Kejutan
163 Bab 163: Pulang ke Rumah
164 Bab 164: Mimpi Mendirikan Sekte
165 Bab 165: Tukang Batu dan Secangkir Teh
166 Bab 166: Sup yang Mengubah Segalanya
167 Bab 167: Babi yang Memakan Harimau
168 Bab 168: Fitur Baru dan Pukulan yang Mengguncang Langit
169 Bab 169: Irigasi Abadi dan Tawanan Tak Terduga
170 Bab 170: Panen dari Langit
171 Bab 171: Bukti yang Berbicara Sendiri
172 Bab 172: Merpati, Gagak, dan Rahasia yang Tak Tersegel
173 Bab 173: Seratus Juta Bayangan dan Sebuah Pulau Baru
174 Bab 174: Standar Batu Bata dan Beruang yang Berbakat
175 Bab 175: Paman Baru dan Keponakan yang Tak Terduga
176 Bab 176 : Perspektif dan Dendam yang Tersimpan
177 Bab 177: Saudara Ketiga, Momen Ini Telah Tiba
178 Bab 178: Bagaimana Mungkin Aku Bersekongkol Denganmu
179 Bab 179: Sebuah Pintu Masuk yang Memukau
180 Bab 180: Aku Hanya Bercanda
181 Bab 181: Aku Benar-Benar Dipaksa Melakukannya
182 Bab 182: Hei Yu yang Setia
183 Bab 183: Di Sini, Kami di Sini
184 Bab 184: Tidak Mengetahui Kekuatan Mereka
185 Bab 185: Menantang Kekuatan Surga
186 Bab 186: Tujuan Orang Ini Sebenarnya Adalah...
187 Bab 187: Apa Ini Sebenarnya
188 Bab 188: Berkah dari Dewa
189 Bab 189: Hari Bekerja
190 Bab 190: Nasib Sial Berulang
191 Bab 191: Selamat Tinggal, Tuan
192 Bab 192: Ingin Memulai Perkelahian?
193 Bab 193: Hanya Tumpukan Sampah Ini
194 Bab 194: Dewi Bunga Dongsheng
195 Bab 195: Bayangan yang Mengintai
196 Bab 196: Siapa Sebenarnya Pria Berjubah Putih Itu
197 Bab 197: Teknik Ramalan Dunia
198 Bab 198: Pulau yang Hampir Rampung
199 Bab 199: Wanita yang Tak Pernah Ada
200 Bab 200: : Sekuntum Bunga untuk Nona Yun
201 Bab 201: Perpisahan yang Abadi
202 Bab 202: Piyama yang Terlupakan
203 Bab 203: Mata Formasi yang Sial
204 Bab 204: Tujuh Sampah, Satu Pisau Dapur
205 Bab 205: Organisasi Bernama Rao
206 Bab 206: Yang Berpakaian Putih Itu Adalah Aku
207 Bab 207: Halo yang Tidak Berguna
208 Bab 208: Tuan yang Tinggal di Kuil Bobrok
209 Bab 209: Warisan Cinta dan Kejutan di Lembah Yixian
210 Bab 210: Lembah yang Katanya Berbahaya
211 Bab 211: Sisa Sup yang Sangat Bergizi
212 Bab 212: Sekte Qingniu yang Hampir Bubar
213 Bab 213: Iblis Bernama Lin Qian
214 Bab 214: Kita Adalah Orang yang Sama, dan Hubungan Kita Sangat Baik
215 Bab 215: Aku Membawakanmu Pil Obat, dan Aku Benar-Benar Sepotong Sampah
216 Bab 216: Melacak Ye Neng, dan Mereka Telah Muncul
217 Bab 217: Penyesalan dan Patah Hati
218 Bab 218: Bayangan Benua dan Tiga Koin Emas Diamankan
219 Bab 219: Kebingungan Ketua Sekte Zhu dan Serangan Jantung Mendadak
220 Bab 220: Selera yang Cukup Aneh, dan Alam Lingxu
221 Bab 221: Metode yang Teguh, dan Murid Magang Bertambah Dua
222 Bab 222: Paku Penekan Jiwa Kembali, dan Bimbingan Sang Guru
223 Bab 223: Permainan Antara Dua Orang, dan Sekalipun Ia Datang Secara Pribadi
224 Bab 224: Inilah Kekuatan Tuan, dan Apakah Tuan Salah Perhitungan
225 Bab 225: Cahaya yang Tidak Bisa Dipadamkan
226 Bab 226: Gulungan Hancur dan Undangan Maut
227 Bab 227: Ukiran Kayu yang Tak Terhitung Jumlahnya
228 Bab 228: Pria Bagaikan Angin
229 Bab 229: Identitas yang Diabaikan
230 Bab 230: Tuan Agung yang Terus-Menerus Diabaikan
231 Bab 231: Pulang dengan Luka, Berdiri dengan Bangga
232 Bab 232: Sandiwara Sang Ahli Palsu
233 Bab 233: Sampah Super dan Sang Ahli Kuliner
234 Bab 234: Satu Murid, Satu Slot
235 Bab 235: Kaisar Abadi di Antara Sampah
236 Bab 236: Nirvana dan Si Bajingan Pelindung
237 Bab 237: Pria Pendek dan Tiga Dewa yang Malang
238 Bab 238: Kodok, Ranting, dan Badut yang Sesungguhnya
239 Bab 239: Guru Penipu dan Murid-Murid yang Tak Beres
240 Bab 240: Sekte yang Penuh Orang Tidak Beres
241 Bab 241: Tiga Tahun? Tiga Hari Sudah Lebih dari Cukup
242 Bab 242: Sapi Terbang dan Qi yang Mengubah Segalanya
243 Bab 243: Dua Jari untuk Menangkap Pedang
244 Bab 244: Kakek Hongmu Tidak Bisa Ditahan Lagi
245 Bab 245: Keledai Botak dan Pria yang Salah Pose
246 Bab 246: Leluhur Tua Berlutut, Sekte Tianling Musnah
247 Bab 247: Pertemuan yang Tak Terduga dan Pil Obat Ajaib
248 Bab 248: Pilar Abadi dan Bidak Catur Mieshi
249 Bab 249: Sekumpulan Sampah
250 Bab 250: Adat Istiadat Sekte Tiandi
251 Bab 251: Teratai Berkobar dan Pengkhianat Persaudaraan
252 Bab 252: Tumpukan Sampah dari Surga
253 Bab 253: Kartu Truf di Balik Bayangan
254 Bab 254: Mata-Mata yang Terlupa Tugasnya
255 Bab 255: Angka yang Mengguncang Langit
256 Bab 256: Murid Keseratus dan Pilar Keberuntungan
257 Bab 257: Telur Ayam untuk Garis Keturunan Phoenix
258 Bab 258: Tabung Reaksi dan Rencana yang Berantakan
259 Bab 259: Hadiah Besar yang Salah Sasaran
260 Bab 260: Poin Keberuntungan dan Toko Penukaran Sistem
261 Bab 261: Sirkus di Tepi Sungai Hitam
262 Bab 262: Sarang Sampah dan Tamu Tak Diundang
263 Bab 263: Punggung Buku yang Familiar
264 Bab 264: Bukti yang Tak Terbantahkan
265 Bab 265: Ayam Kecil
266 Bab 266: Eksekusi dan Mobilisasi
267 Bab 267: Pengunduran Diri Sang Kaisar
268 Bab 268: Ketika Sang Guru Berkata, Lakukan Saja
269 Bab 269: Dua Kantong Mayat dan Satu Murid yang Tidak Tahu Takut
270 Bab 270: Tuan yang Kabur dan Murid yang Bangkit dari Kubur
271 Bab 271: Guru yang Tidak Sengaja Jadi Pahlawan
272 Bab 272: Surat-Surat dan Sekte yang Membelot
273 Bab 273: Pengkhianatan dan Bayangan di Balik Layar
274 Bab 274: Liburan di Tempat yang Salah
275 Bab 275: Tuan Rumah di Tempat yang Salah
276 Bab 276: Koin Emas, Sate Naga, dan Kesalahan Fatal
277 Bab 277: Utusan yang Malang dan Tuan yang Baru Jadi Dewa
278 Bab 278: Kesepian di Puncak
279 Bab 279: Dangkal tapi Bahagia
280 Bab 280: Teleportasi ke Alam Abadi
281 Bab 281: Pulau Bayangan
282 Bab 282: Bertahan di Laut Hitam
283 Bab 283: Pertaruhan Sistem Keberuntungan
284 Bab 284: Nasib Baik yang Tak Terduga
285 Bab 285: Apa yang Sebenarnya Terjadi?
286 Bab 286: Kodok, Gaji, dan Tanda Tanya
287 Bab 287: Tamu dari Tebing
288 Bab 288: Reinkarnasi dan Sekantong Beras
289 Bab 289: Teleportasi dan Sekte Matahari-Bulan
290 Bab 290: Satu Malam, Satu Jari
291 Bab 291: Putra Pilihan Surga dan Fenomena Langit
292 Bab 292: Taruhan Nyawa
293 Bab 293: Puncak Riyue Itu Sampah
294 Bab 294: Guru Telah Kembali
295 Bab 295: Rahasia yang Hampir Terbongkar
296 Bab 296: Apa Sebenarnya Tingkat Kultivasi Saya
297 Bab 297: Sangat Cerdas
298 Bab 299: Belum Pernah Aku Melihat Seseorang yang Begitu Arogan
299 Bab 299 : Dendam yang Membara
300 Bab 300: Alam Rahasia yang Mengering
301 Bab 301: Pemerasan dan Konspirasi
302 Bab 302: Kengerian di Ruang Ujian
303 Bab 303: Kekuatan yang Tak Terduga
304 Bab 304: Guru Puncak yang Mengamuk
305 Bab 305: Kita Sedang Diawasi
306 Bab 306: Kekuatan yang Tak Dapat Ditentang
307 Bab 307: Dao Surgawi Pun Tunduk
308 Bab 308: Guru Besar yang Disalahpahami
309 Bab 309: Lima Puluh Peringkat
310 Bab 310: Seorang Murid Bernama Lin Qian
311 Bab 311: Sublimasi
312 Bab 312: Seperti Apa Sebenarnya Penampilannya
313 Bab 313: Aku Sangat Berharap Aku Juga Bisa Mengalami Masalah Seperti Itu
314 Bab 314: Sang Guru Kotoran, Tak Terkalahkan
315 Bab 315: Semakin Tinggi Dao, Semakin Tinggi Iblisnya
316 Bab 316: Reaksi yang Disebabkan oleh Sepuluh Tiankui
317 Bab 317: Persyaratan Sang Guru
318 Bab 318: Ternyata Biksu Malang Ini Bertindak Terburu-buru
319 Bab 319: Artefak Abadi Tingkat Menengah
320 Bab 320: Dua Dewa Abadi
321 Bab 321: Bakar Cabang Istana, Peluk Pupuk Kandang
322 Bab 322: Seandainya Tahu, Kubagi Dua Permen Itu
323 Bab 323: Bendera Putih Sang Penguasa Benua
324 Bab 324: Ember Pupuk Sang Penakluk
325 Bab 325: Siapa yang Menyuruhmu Datang?
326 Bab 326: Siapa Sebenarnya Dirimu?
327 Bab 327: Dua Manusia Abadi
328 Bab 328: Dua Ember Emas
329 Bab 329: Sambutan Meriah
330 Bab 330: Ternyata Kita Satu Keluarga
331 Bab 331: Bersihkan Kuping Dulu, Baru Bicara
332 Bab 332: Dapur Maut Jiang Zhi
333 Bab 333: Gerbang yang Mengguncang Alam Abadi
334 Bab 334: Sampah Emas di Depan Portal
335 Bab 335: Toko Sepi yang Tak Boleh Diremehkan
336 Bab 336: Semangkuk Nasi Goreng Telur
337 Bab 337: Nasi Ajaib yang Mengguncang Keluarga Wang
338 Bab 338: Satu Sendok Menghancurkan Petir
339 Bab 339: Sendok Sakti Penakluk Petir
340 Bab 340: Empat Klan Besar Menyerah pada Nasi Goreng
341 Bab 341: Ayam Kampung Lebih Hebat dari Kepala Klan
342 Bab 342: Empat Kepala Klan Berutang Budi
343 Bab 343: Menyuruh Santa Wanita Ini Perbaiki Tembok?
344 Bab 344: Digebuk Sekumpulan Ayam
345 Bab 345: Aku Juga Mau Bantu Beres-beres, Senior!
346 Bab 346: Yang Penting Senior Hanya Sayang Aku
347 Bab 347: Obat-obatan Ini, Buang Saja!
348 Bab 348: Nasib Kalian Belum Berakhir
349 Bab 349: Kamu Mau Setengahnya?!
350 Bab 350: Sebutir Beras, Satu Artefak Abadi
351 Bab 351: Nasi Goreng Seharga Artefak Abadi
352 Bab 352: Kaisar Putih Mencari Jejak Lama
353 Bab 353: Jejak Sang Kekasih
354 Bab 354: Pertanyaan yang Menggetarkan
355 Bab 355: Kebanggaan yang Terbalik
356 Bab 356: Misi Terpaksa
357 Bab 357: Formasi Kuno Lenyap Begitu Saja
358 Bab 358: Kabur Dulu Sebelum Ketahuan
359 Bab 359 — Kota Kecil Kedatangan Tokoh Besar
360 Bab 360 — Guru Macam Apa yang Bersembunyi di Halaman Belakang
361 Bab 361 — Ternyata Aku Buta Formasi
362 Bab 362 — Gara-Gara Sarkasme, Aku Naik Pangkat
363 Bab 363 — Cuma Master Kelas Tujuh Katanya?
364 Bab 364 — Semua Pergi Cari Guru Magang
365 Bab 365 — Pria Tua yang Tak Tahu Malu
366 Bab 366: Meja Kosong, Amarah Meluap
367 Bab 367: Halaman yang Sudah Berpenghuni
368 Bab 368: Kesempatan Sekali Seumur Hidup
369 Bab 369: Jamuan Seratus Ribu Meja
370 Bab 370: Bisa Sedikit Lebih Cepat Tidak?
371 Bab 371: Aku Sungguh Tidak Mengerti Formasi
372 Bab 372: Senyum Sarkastik
373 Bab 373: Rumor yang Jadi Kenyataan
374 Bab 374: Lin Qian Kabur dari Kota
375 Bab 375: Su Yanjin, Prajurit Gerbang
376 Bab 376: Penjaga Aneh yang Membunuh dalam Sekejap
377 Bab 377: Aku Hanya Seorang Prajurit Abadi Bumi
378 Bab 378: Aku Sudah Mengusirnya
379 Bab 379: Apakah Prajurit Ini Bodoh?
380 Bab 380: Apakah Ini Sesuatu yang Bisa Dilakukan Seorang Dewa Abadi Bumi?
381 Bab 381: Tak Terkalahkan
382 Bab 382: Bagaimana Mungkin Membunuh Lebih dari Selusin Makhluk Alam Abadi Mataha
383 Bab 384: Diburu karena Karma
384 Bab 384: Diburu karena Karma
385 Bab 385: Panggilan Perang
386 Bab 386: Kekuatan Berkumpul
387 Bab 387: Latar Belakang yang Tak Terbayangkan
388 Bab 388: Perang Pecah di Istana Abadi
389 Bab 389: Melahap Segalanya
390 Bab 390: Bahkan Cacing Kecil Pun Tak Terbunuh
391 Bab 391: Tak Ada yang Boleh Menghina Guru
392 Bab 392: Musuh Seperti Gambar Tongkat
393 Bab 393: Semua Orang Berdiri
394 Bab 394: Bukankah Kita Sekarang Sudah Jadi Orang Penting?
395 Bab 395: Berteriak "Ganteng"
396 Bab 396: Batas Antara Dua Alam
397 Bab 397: Tadi Ada Orang Terbang di Atas Kepala Kita?
398 Bab 398: Hal Semacam Itu Tidak Mungkin
399 Bab 399: Apa Katamu Barusan, Raja Singa Langit?
400 Bab 400: Jatuh dari Langit
401 Bab 401: Yang Terdengar Hanya Suara Angin Lewat
402 Bab 402: Masa Cuma Bisa Bilang "Wusss"?
403 Bab 403: Kecuali...
404 Bab 404: Giliran Sial yang Datang Bertubi-tubi
405 Bab 405: Ketahuan!
406 Bab 406: Ternyata Orang Alam Terpencil
407 Bab 407: Sosok yang Cocok dengan Ciri-cirinya
408 Bab 408: Bintang Keberuntungan Alam Terpencil
409 Bab 409: Benar-benar Arogan
410 Bab 410: Hancur Berkeping-keping
411 Bab 411: Ditabrak Mati oleh "Kakeknya" Sendiri
412 Bab 412: Perang Dua Alam Berakhir Gara-Gara Mereka Sama-Sama Panik
413 Bab 413: Tembok yang Menahan Kiamat
414 Bab 414: Ketika Kegelapan Merenggut Salah Satu dari Mereka
415 Bab 415: Lebih dari Seratus Makam, dan Terus Bertambah
416 Bab 416: Kesalahpahaman yang Makin Membesar
417 Bab 417: Jangan Bilang Kalian Berharap Ada Sesuatu di Lubang Jamban Itu
418 Bab 418: Nikahi Aku, Kau Boleh Ajukan Syarat Apa Saja
419 Bab 419: Syaratnya Terserah Kau, Katanya
420 Bab 420: Berani Sekali Kau
421 Bab 421: Tantangan dari Tetua Agung
422 Bab 422: Buktinya Ada di Pantatnya
423 Bab 423: Hanya Bilang "Oh"
424 Bab 424: Kau Lemah Juga Rupanya
425 Bab 425: Sup Gagak Tua
426 Bab 426: Guru yang Menakut-nakuti, Murid yang Pulang Santai
427 Bab 427: Tunggu, Kamu Mau ke Mana
428 Bab 428: Sekarang Aku Paham
429 Bab 429: Ingin Pamer, Ya?
430 Bab 430: Alam Kesepuluh Dewa Sejati
431 Bab 431: Tatapan Penuh Kekaguman
432 Bab 432: Berlutut Lagi di Depan yang Lebih Kuat
433 Bab 433: Bukankah Sudah Ada di Sini Sekarang?
434 Bab 434: Kedatangan yang Terlalu Terburu-buru
435 Bab 435: Andai Bisa Bertemu Dengannya Lagi
436 Bab 436: Kumbang Kotoran Alam Abadi Sejati
437 Bab 437: Sebuah Kejadian Kecil yang Tak Ada Kaitannya
438 Bab 438: Sisakan Ruang dalam Hidup
439 Bab 439: "Sangat Lemah"
440 Bab 440: Tidak Akan Sanggup Mendaki, Kan?
441 Bab 441: Kau Lihat Burung Itu?
442 Bab 442: Aku Akan Mengawasimu
443 Bab 443: Apakah Turnamen Ini Masih Ada Artinya?
444 Bab 444: Sebenarnya Setinggi Apa Kekuatannya?
445 Bab 445: Bertatap Muka Langsung
446 Bab 446: Apakah Leluhur Tua Itu Tewas Seketika?
447 Bab 447: Menunggu Sang Misterius Keluar
448 Bab 448: Aku Ingin Membunuhnya
449 Bab 449: Formasi Penuh Diaktifkan
450 Bab 450: Kebenaran yang Terungkap
451 Bab 451: Terima Kasih, Kami Cukup di Sini Saja
452 Bab 452: Rekor Baru yang Bikin Bangga (Menurutnya Sendiri
453 Bab 453: Karung-Karung Hadiah dari Langit
454 Bab 454: Kenapa Harus Kami?
455 Bab 455: Pelayan Kecil yang Cuek Menghalangi Jalan
456 Bab 456: Ternyata Begini Ceritanya
457 Bab 457: Sedia Payung Sebelum Hujan
458 Bab 458: Ketakutan yang Terlambat
459 Bab 459: Siapa Sebenarnya "Tuan" Itu
460 Bab 460: Balik Badan
461 Bab 461: Rencana Terakhir Sun Zimei
462 Bab 462: Sepi di Puncak Ketampanan
463 Bab 463: Guru yang Dikhianati demi Kebaikannya Sendiri
464 Bab 464: Kedatangan Tamu yang Tak Diundang
465 Bab 465: Bencana di Alam Roh
466 Bab 466: Surat Merah dari Langit
467 Bab 467: Kepala Sekte Shi Qingwu Keluar dari Pengasingan
468 Bab 468: Penghormatan yang Tak Terduga
469 Bab 469: Sekadar Hiburan Semata
470 Bab 470: Jangan Lupa Aku Juga Ada di Sini
471 Bab 471: Ternyata Dia Seterus Terang Ini
472 Bab 472: Warisan Dewa Kuno
473 Bab 473: Poin Pengalaman
474 Bab 474: Sapuan Pedang Tanpa Ampun
475 Bab 475: Mondo Beast
476 Bab 476: Ladang Tulang dan Kapal yang Turun dari Langit
477 Bab 477: Dunia yang Runtuh Seketika
478 Bab 478: Kebenaran yang Menghancurkan Segalanya
479 Bab 479: Pencuri Guci Anggur
480 Bab 480: Utang Anggur yang Harus Dilunasi
481 Bab 481: Kebenaran yang Sulit Diterima
482 Bab 482: Negosiasi Sepihak
483 Bab 483: Cukup untuk Semua Orang
484 Bab 484: Belum Cukup Berpengalaman
485 Bab 485: Sebut Saja Serangan Dasar
486 Bab 486: Sosok yang Ingin Ia Tiru
487 Bab 487: Tetaplah di Sini
488 Bab 488: Kesunyian yang Mencurigakan
489 Bab 489: Kekayaan yang Tak Terduga
490 Bab 490: Lanjutkan Saja
491 Bab 491: Jejak Campur Tangan Manusia
492 Bab 492: Biarlah Masa Lalu Berlalu
493 Bab 493: Lari!
494 Bab 494: Orang Paling Jahat di Dunia
495 Bab 495: Alasan Hilangnya
496 Bab 496: Akhirnya Dewasa
497 Bab 497: Siapa Sebenarnya yang Telah Memikatmu?
498 Bab 498: Akan Kuhabisi Kau
499 Bab 499: Kau Terlalu Banyak Berpikir
500 Bab 500: Tamu Kehormatan di Pulau Kelabang
501 Bab 501: Warisan Berdarah Emas
502 Bab 502: Titik Didih
503 Bab 503: Berubah Pikiran dalam Sekejap
504 Bab 504: Siapa pun yang Menghalangi, Harus Mati
505 Bab 505: Titah Sang Anak Ilahi
506 Bab 506: Rapat Darurat yang Kacau
507 Bab 507: Cemilan Gratis
508 Bab 508: Sang "Buddha Agung" yang Muncul
509 Bab 509: Kalau Kabur, Tangkap Saja dan Seret Kembali
510 Bab 510: Musnahkan Saja
511 Bab 511: Rebutan Jadi Pesuruh
512 Bab 512: Kabar Besar
513 Bab 513: Rasa Penasaran yang Membara
514 Bab 514: Syarat Utamanya: Lembut
515 Bab 515: Titik Terang di Tengah Kegelapan
516 Bab 516: "Oh"
517 Bab 517: Ditatap Seperti Orang Bodoh
518 Bab 518: Anjing Pengkhianat Tak Bisa Lari
519 Bab 519: Berani-beraninya Mencuri di Depan Pintu Rumahku
520 Bab 520: Harta Karun yang Hancur karena Diinjak
521 Bab 521: Menggali Lagi demi Harta yang Tak Pernah Ada
522 Bab 522: Pedang Ilahi yang Ternyata Sebilah Pantat
523 Bab 523: Kekuatan Besar Menciptakan Keajaiban
524 Bab 524: Berani-beraninya Mengganggu Tidur Siang Tuhan Ini
525 Bab 525: Diculik di Depan Mata Sendiri
526 Bab 526: Air Mata dan Ingus demi Kelangsungan Hidup
527 Bab 527: Leluhur yang "Berkorban" demi Sekte
528 Bab 528: Ditabrak Anak Kecil, Terlempar Ratusan Zhang
529 Bab 529: Domba Masuk Sarang Serigala
530 Bab 530: Terobosan Tak Terduga di Lubang Kotoran
531 Bab 531: Ditipu Sekte Sendiri, Wen Chengyu Meraung Marah
532 Bab 532: Rampok Gagal Total, Dibayar Dua Kali Lipat
533 Bab 533: Merusak Kesempatan Matiku, Kubawa Kabur Saja
534 Bab 534: Pedang yang Patah karena Dada
535 Bab 535: Sekte Hong Berdoa pada Bodhisattva
536 Bab 536: Rencana Cadangan Bernama Hutan Teror
537 Bab 537: Hutan yang Ternyata Tidak Menyeramkan
538 Bab 538: Kesimpulan Piaomiao Hong
539 Bab 539: Kesepakatan Dua Pencari Kematian
540 Bab 540: Kota Terlarang di Alam Iblis
541 Bab 541: Desa yang Sudah Jatuh
542 Bab 542: Kembalinya Sang Pemanen Daun Bawang
543 Bab 543: Rentan Sekali
544 Bab 544: Tuan Serigala Jahat, Bertahanlah
545 Bab 545: Sandiwara Seluruh Kota
546 Bab 546: Sandiwara Harus Berlanjut
547 Bab 547: Delapan Ratus Kali Gagal demi Tumis Babi Cabai
548 Bab 548: Seberapa Kuat Sebenarnya Kekuatan Ini?
549 Bab 549: Tumis Telur ke-2002
550 Bab 550: Pertanyaan Soal Sarang Monster
551 Bab 551: Lebih dari Tiga Puluh Saudara Kembar
552 Bab 552: Kota Fengmo
553 Bab 553: Panggilan yang Tak Berbalas
554 Bab 554: Keberuntungan Besar bagi Umat Manusia
555 Bab 555: Serigala Iblis yang Mengerikan
556 Bab 556: Sebenarnya Tempat Apa Ini?
557 Bab 557: Ikan Naga dan Ekspedisi ke Danau Awan
558 Bab 558: Umpan Cacing dan Pancingan Beruntun
559 Bab 559: Diabaikan Habis-habisan
560 Bab 560: Kesempatan yang Terlewat
561 Bab 561: Wanita yang Akan Segera Meninggal
562 Bab 562: Tempat yang Ajaib
563 Bab 563: Fenomena Aneh
564 Bab 564: Cinta Terkutuk Ini
565 Bab 565: Kehidupan Virtual
566 Bab 566: Warisan Kematian
567 Bab 567: Bukti Kuat Seorang Transmigran
568 Bab 568: Peri Mei
569 Bab 569: Mengangkat Batu Hanya untuk Menjatuhkannya ke Kaki Sendiri
570 Bab 570: Hari Ini, Mei'er Milikmu
571 Bab 571: Wanita Licik
572 Bab 572: Permainan Lain
573 Bab 573: Keluar
574 Bab 574: Taktik yang Mendominasi
575 Bab 575: Apakah Otak Pria Ini Normal?
576 Bab 576: Sepuluh Kematian, Tanpa Kehidupan
577 Bab 577: Pulau Fengyue
578 Bab 578: Apa Sebenarnya yang Sedang Terjadi?
579 Bab 579: Bertemu Kembali dengan Pria Itu
580 Bab 580: Taruhan Nekat Feng Qianyue
581 Bab 581: Lin Qian yang Tidak Siap-Siap
582 Bab 582: Bekal Perjalanan Menuju Kematian
583 Bab 583: Hilang selama 100.000 tahun
584 Bab 584: Kau Juga Sudah Kembali?
585 Bab 585: Semakin Aneh Orangnya, Semakin Sulit Ditebak
586 Bab 586: Sekutu yang Tak Terduga
587 Bab 587: Gerbang Kematian
588 Bab 588: Hati yang Berani
589 Bab 589: Hidup yang Tak Bermakna
590 Bab 590: Terlalu Banyak Gaya
591 Bab 591: Satu-Satunya Penghiburan
592 Bab 592: Wajah yang Berubah Seketika
593 Bab 593: Arti Keberadaan Lou Chengsha
594 Bab 594: Satu Telapak Tangan
595 Bab 595: Kehendak Sang Guru
596 Bab 596: Mati dengan Mata Terbelalak
597 Bab 597: Kehidupan Baru di Balik Kematian
598 Bab 598: Sembilan Tahun Bersama Si Kerangka
599 Bab 599: Mimpi yang Tidak Nyambung
600 Bab 600: Cari Mati Susahnya Minta Ampun
601 Bab 601: Panggilan Sang Leluhur
602 Bab 602: Rahasia di Bawah Aula Tiandi
603 Bab 603: Murka Sang Santo
604 Bab 604: Warisan Dua Pusaka
605 Bab 605: Firasat Sang Kakak Senior
606 Bab 606: Rahasia di Balik Dunia Perkotaan
607 Bab 607: Rencana yang Menguntungkan Semua Pihak
608 Bab 608: Mendaftar untuk Mati
609 Bab 609: Salah Paham yang Saling Menghormati
610 Bab 610: Sang Nyonya Racun
611 Bab 611: Terlalu Sempurna untuk Dipercaya
612 Bab 612: Noda Teh yang Menggetarkan Hati
613 Bab 613: Menanti Kabut Beracun
614 Bab 614: Kekecewaan Sang Relawan
615 Bab 615: Rencana Provokasi
616 Bab 616: Sisi Lain Sang Nyonya Racun
617 Bab 617: Sesi Konsultasi yang Aneh
618 Bab 618: Kesalahpahaman Zhang Zhishan
619 Bab 619: Tebakan yang Salah Total
620 Bab 620: Malu Karena Diselamatkan
621 Bab 621: Menyelamatkan Nyawa demi Kegagalan Sendiri
622 Bab 622: Sang Santo Bersikeras Menjaga Rahasia
623 Bab 623: Vonis Setengah Santo yang Tidak Diminta
624 Bab 624: Salah Sasaran
625 Bab 625: Dunia Ini Luas, Aku Harus Pergi Menjelajahinya
626 Bab 626: Kota yang Sedang Dibangun
627 Bab 627: Dua Pewaris yang Menghilang
628 Bab 628: Setitik Cahaya di Tengah Laut
629 Bab 629: Menuai Akibat Keserakahan
630 Bab 630: Membuat Kakak Lin Tertawa
631 Bab 631: Sekarang Hari Apa?
632 Bab 632: Hadiah Kecil, Makna Besar
633 Bab 633: Terobosan Menuju Kesucian
634 Bab 634: Qin Nan, Benarkah Itu Kau?
635 Bab 635: Tanah Pedang Terkubur
636 Bab 636: Sosok Misterius di Makam Pedang
637 Bab 637: Jalan Pulang Melewati Neraka
638 Bab 638: Mengantar Mereka Pulang
639 Bab 639: Rupanya Kami Terlambat
640 Bab 640: Menanti Jam Terakhir
641 Bab 641: Kutukan yang Menghilang
642 Bab 642: Kabut yang Sirna
643 Bab 643: Karung Misterius dari Langit
644 Bab 644: Salah Sasaran, Anak Sekte Wangyue Ketakutan Setengah Mati
645 Bab 645: Ternyata Ada Isinya, Tapi Cuma Segitu
646 Bab 646: Ayah dan Anak, Sama-Sama Kena Batunya
647 Bab 647: Kompetisi Akting, Siapa yang Lebih Berbakat
648 Bab 648: Kaisar Putih Datang Langsung, Gertakan Ini Sudah Kelewatan
649 Bab 649: Kaisar Putih Kembali, Lin Qian Tercengang
650 Bab 650: Kaisar Putih Ternyata Yun Xue, Lin Qian Salah Sasaran
651 Bab 651: Ketika Dua Santa Menunggu di Depan Pintu
652 Bab 652: Momen Paling Membanggakan dalam Hidup Chen Dong
653 Bab 653: Apa yang Sebenarnya Kau Hargai dari Dirinya?
654 Bab 654: Ditolak di Depan Mata, Demi Siapa?
655 Bab 655: Cemburu? Kalau Begitu, Biar Aku Jadi Saingannya
656 Bab 656: Ternyata Dia Rubah Tua yang Licik, Ini Kesempatan Emas
657 Bab 657: Surat Tantangan yang Bikin Salah Paham
658 Bab 658: Terima Kasih, Tapi Tolong Jangan Diulangi
659 Bab 659: Kubongkar Semua Rahasia
660 Bab 660: Giliran Sang Pendekar Pedang Suci?
661 Bab 661: Serangan Pedangku Bahkan Membuat Santo Kewalahan
662 Bab 662: Kesepian di Puncak Kekuatan
663 Bab 663: Lalat yang Mengganggu Ketenangan
664 Bab 664: Kegembiraan Orang Lain, Kesengsaraan Diri Sendiri
665 Bab 665: Malapetaka Besar Sedang Mendekat
666 Bab 666: Kedatangan Dua Kepala Iblis yang Mengerikan
667 Bab 667: Menghancurkan Kekosongan dengan Satu Jari
668 Bab 668: Yang Penting Ada Cewek atau Tidak
669 Bab 669: Kesempatan Besar bagi Keluarga Gu
670 Bab 670: Leluhur yang Berbangga Terlalu Cepat
671 Bab 671: Kemarahan yang Menghancurkan Segalanya
672 Bab 672: Tujuh Orang Suci Melangkah ke Alam Iblis
673 Bab 673: Sang Biksu yang Berpura-pura Lemah
674 Bab 674: Bayang-Bayang yang Lebih Mengerikan
675 Bab 675: Sandiwara Sang Tetua demi Seorang Murid
676 Bab 676: Reaksi yang Tidak Terduga
677 Bab 677: Pertemuan Tak Terduga
678 Bab 678: Rencana yang Berbalik Arah
679 Bab 679: Persaingan Diam-Diam Memperebutkan Calon Murid
680 Bab 680: Sisi Lain Sang Tetua
681 Bab 681: Sang Pecinta Sejati
682 Bab 682: Kultivasi Anak Muda Ini Tidak Buruk
683 Bab 683: Menerima Murid Magang? Lelucon Besar
684 Bab 684: Mi Emas dari Kampung Halaman
685 Bab 685: Kakak Beradik yang Rindu Gengsi
686 Bab 686: Yang Katanya Berbahaya
687 Bab 687: Ternyata Aku yang Jadi Beban
688 Bab 688: Tawar-Menawar Hadiah Balasan
689 Bab 689: Waktunya Membuka Kartu
690 Bab 690: Coba Saja, Kalau Berani Mati
691 Bab 691: Rebutan Pedang Pusaka
692 Bab 692: Iri yang Berlipat Ganda
693 Bab 693: Kode Etik Antar Saudara
694 Bab 694: Tamu dari Luar Bintang Awan
695 Bab 695: Peluang Terselubung Bencana
696 Bab 696: Setengah Suci Dianggap Berbakat?
697 Bab 697: Hanya Tugas Sampingan
698 Bab 698: Rahasia Manman Terbongkar
699 Bab 699: Bertemu Senior Lin Lagi
700 Bab 700: Sosok yang Menghilang
701 Bab 701: Relawan yang Disalahpahami
702 Bab 702: Semua Cuma Gertak Sambal
703 Bab 703: Gerbang Bintang
704 Bab 704: Keberuntungan yang Luar Biasa
705 Bab 705: Ras Iblis Benar-Benar Sudah Dibantai
706 Bab 706: Kodok Raksasa Penutup Langit
707 Bab 707: Sebenarnya Siapa yang Menyerang Siapa?
708 Bab 708: Rahasia di Balik Kodok Peliharaan yang Menggemaskan
709 Bab 709: Rahasia Mengerikan di Balik Sang Kodok
710 Bab 710: Ternyata Sedikit Lebih Kuat
711 Bab 711: Ternyata Dia Seorang Senior Sesungguhnya
712 Bab 712: Ternyata Bukan Cuma "Sedikit" Lebih Kuat
713 Bab 713: Rencana Cerdik Sang Ayah
714 Bab 714: Semangkuk Nasihat dari Sang Ayah
715 Bab 715: Sup Ayam yang Beracun
716 Bab 716: Menyamar dengan Cerdik di Tengah Kekacauan
717 Bab 717: Meski Sudah Tua, Tetap Lebih Cerdik
718 Bab 718: Pemimpin Regu yang Mengerikan
719 Bab 719: Kau Baru Melihat Lapisan Pertama
720 Bab 720: Kelicikan Sang Kepala Iblis
721 Bab 721: Sungguh, Aku Tidak Gila
722 Bab 722: Firasat yang Terasa Janggal
723 Bab 723: Momen Paling Membanggakan dalam Hidup
724 Bab 724: Manusia Biasa Mustahil Bisa Melewati Gerbang Iblis
725 Bab 725: Ekspedisi Berbahaya di Bintang Shuihan
726 Bab 726: Berpencar Mencari Peluang
727 Bab 727: Monster Curian
728 Bab 728: Hasil Panen yang Mengejutkan
729 Bab 729: "Hanya" Seratus Lebih
730 Bab 730: Sarang yang Ditawarkan Sang Pengecut
731 Bab 731: Delapan Iblis Peringkat Surga
732 Bab 732: Jalan Buntu Sang Perencana
733 Bab 733: Titipan untuk Nona Zhongli
734 Bab 734: Berubah Sikap
735 Bab 735: Hadiah dari Orang Tak Dikenal
736 Bab 736: Rencana Kemenangan Wei Zhenfang
737 Bab 737: Upacara Dimulai, Taruhan Dinaikkan
738 Bab 738: Kartu Truf Terakhir
739 Bab 739: Pengkhianatan Wei Zhenfang?
740 Bab 740: Kejutan yang Terlalu Mendadak
741 Bab 741: Kenyataan yang Kejam
742 Bab 742: Lautan Mayat yang Mengguncang Istana Surgawi
743 Bab 743: Amarah Sang Penantang
744 Bab 744: Perintah dari Balik Bambu
745 Bab 745: Rahasia yang Tak Terpecahkan
746 Bab 746: Ayah-Anak Pemindah Batu Bata
747 Bab 747: Kembali dengan Wajah Berbeda
748 Bab 748: Bantuan yang Datang di Saat yang Salah
749 Bab 749: Biarkan Aku yang Mencoba
750 Bab 750: Telapak Tangan Pemindah Batu Bata yang Mengerikan
751 Bab 751: Hadiah yang "Tidak Seberapa
752 Bab 752: Bayang-Bayang Kekuatan yang Tak Terbayangkan
753 Bab 753: Terobosan Tak Terduga
754 Bab 754: Jalan Menuju Kegelapan
755 Bab 755: Dendam yang Membara
756 Bab 756: Satu Tamparan, Seribu Ketakutan
757 Bab 757: Semut yang Ketakutan
758 Bab 758: Jejak yang Tersisa
759 Bab 759: Penindasan di Depan Gerbang
760 Bab 760: Pedang Iblis Hancur oleh Pedang Biasa
761 Bab 761: Melarikan Diri?
762 Bab 762: Dendam Harus Dibayar Lunas
763 Bab 763: Kedatangan Pertama di Bintang Lan
764 Bab 764: Alam Pembuktian Dao yang Sok Berkuasa
765 Bab 765: Masalah Besar Sedang Menanti
766 Bab 766: Ancaman dari Sekte Tianyin
767 Bab 767: Satu Pukulan, Dua Santo Musnah
768 Bab 768: Berlari ke Paviliun Dewa Bulan
769 Bab 769: Salah Lapor Musuh
770 Bab 770: Kesalahan Fatal Sang Ketua Sekte
771 Bab 771: Kesalahpahaman yang Berujung Kejayaan
772 Bab 772: Semuanya Kacau
773 Bab 773: Sosok yang Sesungguhnya
774 Bab 774: Ujian bagi Sang Tetua Baru
775 Bab 775: Kekuatan Mengerikan di Balik Paviliun Dewa Bulan
776 Bab 776: Kemunculan Sang Artefak Ilahi
777 Bab 777: Andai Bisa Menatap Wajah Tuan Lin, Hidup Ini Tak Akan Sia-sia
778 Bab 778: Bintang Beku dan Sang Tuan Muda yang Bosan
779 Bab 779: Serakah Tanpa Batas
780 Bab 780: Kesombongan yang Berujung Petaka
781 Bab 781: Sang Kapten Turun Tangan
782 Bab 782: Ambisi yang Semakin Membesar
783 Bab 783: Ikan Asin yang Ternyata Berbahaya
784 Bab 784: Pukulan Biasa yang Ternyata Tidak Biasa
785 Bab 785: Baju Olahraga Seharga Lima Belas Yuan
786 Bab 786: Amarah Seorang Pemburu Diskon
787 Bab 787: Kesempatan Emas untuk Mati dengan Terhormat
788 Bab 788: Tekad yang Disalahpahami
789 Bab 789: Rencana Pemusnahan yang Sudah Dekat
790 Bab 790: Jebakan yang Sia-Sia
791 Bab 791: Kenapa Kita Diam Saja?
792 Bab 792: Semuanya Hanya Ikan Kecil
793 Bab 793: Bersujud Kepada Siapa?
794 Bab 794: Senior Misterius yang Menggemparkan
795 Bab 795: Kesalahpahaman yang Membesar
796 Bab 796: Pakar dari Paviliun Dewa Bulan
797 Bab 797: Sambutan Pribadi Sang Ketua Paviliun
798 Bab 798:Ternyata Pakar Misterius Itu Diriku Sendiri
799 Bab 799: Panggilan dari Kejauhan
800 Bab 800: Peluang Menuju Kekuatan Misterius
801 Bab 801: Kedatangan Sang Legenda
802 Bab 802: Rahasia di Balik Kekuatan Sekte
803 Bab 803: Pingsan di Hadapan Lin Qian
804 Bab 804: Tetua Lin adalah Tuan.
805 Bab 805: Suasana Sekte yang Terlalu Damai
806 Bab 806: Menuju Lautan Kejahatan
807 Bab 807: Uji Kekuatan di Aula Pulau Hitam
808 Bab 808: Sarang Penjahat di Pulau Matahari
809 Bab 809: Persiapan Menuju Lelang
810 Bab 810: Rumput Penekan Jiwa Muncul
811 Bab 811: Pengacau di Tengah Pesta
812 Bab 812: Ketenangan yang Menggetarkan
813 Bab 813: Salam Hormat yang Tak Terduga
814 Bab 814: Kebohongan yang Meyakinkan
815 Bab 815: Kebenaran di Balik Rumor
816 Bab 816: Perhitungan di Balik Kekalahan
817 Bab 817: Salah Sasaran yang Menghebohkan
818 Bab 818: Salah Sangka di Penginapan Reyot
819 Bab 819: Hadiah yang Berbalik Arah
820 Bab 820: Kejutan yang Tak Masuk Akal
821 Bab 821: Persaingan Memberi Hadiah
822 Bab 822: Danau di Balik Kabut
823 Bab 823: Uang Kristal Abadi Melayang demi Sekali Mancing
824 Bab 824: Amatir yang Ternyata Punya Rencana
825 Bab 825: Melawan Peruntungan Danau Salju
826 Bab 826: Berpura-pura Bodoh untuk Menipu Semua Orang
827 Bab 827: Biarkan yang Lain Ikut Menjilat
828 Bab 828: Pria yang Tidak Takut Siapa Pun
829 Bab 829: Ikan Mahal Jadi Ikan Bakar
830 Bab 830: Meninggalkan Kegelapan Menuju Cahaya
831 Bab 831: Keajaiban Ikan Bakar
832 Bab 832: Peluang Besar di Balik Sisa Tulang Ikan
833 Bab 833: Jalan yang Terang
834 Bab 834: Ketua Sekte yang Ditinggalkan
835 Bab 835: Perencana yang Kena Tipu Sendiri
836 Bab 836: Zaman Sudah Berubah
837 Bab 837: Menuai Apa yang Ditabur
838 Bab 838: Monster Berusia Sepuluh Ribu Tahun
839 Bab 839: Undangan Sang Penguasa Pulau
840 Bab 840: Undangan Maut dari Penguasa Pulau
841 Bab 841: Monster Berusia Sepuluh Ribu Tahun yang Salah Menilai
842 Bab 842: Si Penjilat Ulung
843 Bab 843: Sekte Lima Elemen Mulai Bergerak
844 Bab 844: Awan Terbelah, Bulan Pun Tampak
845 Bab 845: Pekerja Lepas Tanpa Bayaran
846 Bab 846: Biar Saya yang Coba
847 Bab 847: Cukup Layak Jadi Lawan
848 Bab 848: Membakar Jembatan
849 Bab 849: Kekuatan Adalah Segalanya
850 Bab 850; Panggung Penentu: Kartu As Tersembunyi
851 Bab 851: Berani Menantang Semua Orang Sendirian
852 Bab 852: Kaburnya Sang Jangkrik Emas
853 Bab 853: Peluang untuk Membalikkan Kekalahan
854 Bab 854: Pertemuan Tak Terduga
855 Bab 855: Semuanya Bagai Permainan Anak-Anak
856 Bab 856: Persembahan Seratus Tahun
857 Bab 857: Takdir yang Tak Terhindarkan
858 Bab 858: Dirasuki Semangat Nekat
859 Bab 859: Bertahan di Ambang Jurang
860 Bab 860: Fajar
861 Bab 861: Satu Orang Mengguncang Seluruh Pulau
862 Bab 862: Pahlawan Sejati
863 Bab 863: Satu-satunya Kesempatan
864 Bab 864: Kekuatan Mutlak
865 Bab 865: Mata Ganti Mata
866 Bab 866: Amukan yang Tak Terduga
867 Bab 867: Tamu Aneh dari Langit
868 Bab 868: Persiapan di Balik Layar
869 Bab 869: Sang Kaisar Turun Tangan
870 Bab 870: Mencari Bala Bantuan
871 Bab 871: Sahabat Lama dari Laut Utara
872 Bab 872: Tidak Ada yang Bisa Diandalkan
873 Bab 873: Sang Guru
874 Bab 874: Nasihat Sang Kepiting Tua
875 Bab 875: Tiga Tamu Tak Terduga
876 Bab 876: Ancaman yang Tersembunyi
877 Bab 877: Aksi Panik Penuh Perhitungan
878 Bab 878: Manuver yang Tak Terduga dari Tuan Lin
879 Bab 879: Kepiting Tua yang Jenius
880 Bab 880: Kambing Hitam yang Sempurna
881 Bab 881: Sumpah Kesetiaan yang Praktis
882 Bab 882: Jangan Remehkan Orang Tua
883 Bab 883: Siapa yang Berani
884 Bab 884: Ternyata Badut Itu Adalah Aku Sendiri
885 Bab 885: Memohon di Bawah Cahaya Bulan
886 Bab 886: Barisan Megah yang Berujung Sujud
887 Bab 887: Karma Datang Tepat Waktu
888 Bab 888: Bayangan Iblis di Kamar Sang Santa
889 Bab 889: Kematian yang Menyisakan Peringatan
890 Bab 890: Buruan Ras Iblis
891 Bab 891: Umpan yang Terlalu Percaya Diri
892 Bab 892: Sosok Apa Sebenarnya Dirimu
893 Bab 893: Kota Berbahaya di Malam Hari
894 Bab 894: Pria yang Tidak Tahu Takut
895 Bab 895: Repot-Repot Khawatir untuk Apa
896 Bab 896: Jangan Sekali-Kali Memancing Kawanan Anjing
897 Bab 897: Bencana Datang Menerjang
898 Bab 898: Apakah Ini Masih Bisa Disebut Manusiawi?
899 Bab 899: Urusan yang Tidak Bisa Ditunda
900 Bab 900: Gebrakan yang Menggetarkan Kota Huangshuig
901 Bab 901: Menuju Negeri Para Dewa yang Jatuh
902 Bab 902: Bertemu Musuh Lama di Kapal
903 Bab 903: Turun dari Kapal, Cari Mati Lagi
904 Bab 904: Badai Hukuman Surgawi
905 Bab 905: Kembali dengan Gemilang
906 Bab 906: Hidup yang Membosankan di Tengah Ancaman Palsu
907 Bab 907: Sosok yang Tak Boleh Diusik
908 Bab 908: Rencana Licik yang Berantakan
909 Bab 909: Sambutan Tak Terduga
910 Bab 910: Terjun ke Neraka
911 Bab 911: Sesama Penderita di Ujung Dunia
912 Bab 912: Penjahat yang Terlalu Banyak Gaya
913 Bab 913: Keadaan Telah Berbalik
914 Bab 914: Tambang Rahasia yang Diincar
915 Bab 915: Salah Paham Seharga Miliaran
916 Bab 916: Bonus Layanan Purna Jual
917 Bab 917: Sahabat Sejiwa di Meja Anggur
918 Bab 918: Rahasia Sang Penguasa Laut
919 Bab 919: Cangkang Kura-Kura sebagai Tanda Persahabatan
920 Bab 920: Sombongnya Tuan Muda dari Istana Yunshen
921 Bab 921: Kau Boleh Mulai Duluan
922 Bab 922: Serangan yang Sia-Sia
923 Bab 923: Seberapa Kuat Ayahmu?
924 Bab 924: Upah Setimpal untuk Tuan Muda
925 Bab 925: Badai yang Datang Tiba-Tiba
926 Bab 926: Petunjuk yang Menyelamatkan
927 Bab 927: Turun Tangan Sendiri
928 Bab 928: Amukan Tetua Liu
929 Bab 929: Satu Tebasan Membungkam Langit
930 Bab 930: Bertarung Sampai Titik Darah Penghabisan
931 Bab 931: Bertarung Sampai Titik Darah Penghabisan
932 Bab 932: Kekuatan Mutlak Melampaui Segalanya
933 Bab 933: Anak Muda yang Tak Kenal Takut
934 Bab 934: Ternyata Junior yang Ditakuti Itu Adalah Dirinya Sendiri
935 Bab 935: Niat Pedang yang Mengguncang Alam Kehancuran Setengah Langkah
936 Bab 936: Rencana Balas Dendam Sang Ayah
937 Bab 937: Perangkap di Gurun Tandus
938 Bab 938: Rencana yang Berantakan
939 Bab 939: Kepercayaan Diri yang Runtuh
940 Bab 940: Sekutu dari Klan Laut
941 Bab 941: Sekutu Rahasia dari Klan Laut
942 Bab 942: Wajah yang Dikenali
943 Bab 943: Ketakutan yang Terungkap
944 Bab 944: Rencana yang Berbalik Arah
945 Bab 945: Umpan yang Dilepaskan
946 Bab 946: Kedatangan yang Mengejutkan
947 Bab 947: Ternyata Cuma Pertunjukan
948 Bab 948: Istana yang Kosong
949 Bab 949: Penguasa Bintang Tak Berdaya
950 Bab 950: Kesombongan yang Runtuh
951 Bab 951: Warisan Tak Diminta
952 Bab 952: Mantan Penguasa Bintang Jadi Kuli Bangunan
953 Bab 953: Utusan Bintang Zi Salah Pilih Lawan
954 Bab 954: Ternyata Cuma Masalah Kecil
955 Bab 955: Pengakuan Dosa Sang Dewa Pedang
956 Bab 956: Salah Duga, Malah Dipuji
957 Bab 957: Badai yang Datang Tiba-Tiba
958 Bab 958: Rencana Cari Mati yang Selalu Gagal
959 Bab 959: Cuma Segitu Kemampuanmu?
960 Bab 960: Salah Dengar, Yang Patah Justru An Shixuan
Episodes

Updated 960 Episodes

1
Bab 1 : Grandmaster Fana
2
Bab 2 : Kitab Tai Chi, Hadiah Guru
3
Bab 3 : Mencurigai Sosok Kuno
4
Bab 4 : Aura Tersembunyi & Serigala Iblis Jadi Lauk
5
Bab 5 : Pisau Dapur & Standar Sang Senior
6
Bab 6 : Penjaga Pintu Baru
7
Bab 7 : Tempaan Api & Kesalahpahaman Mulia
8
Bab 8 : Perpisahan & Senjata Penyelamat
9
Bab 9 : Siapa yang Kau Remehkan & Hukuman Ringan
10
Bab 10 : Papan Catur Sang Senior & Pisau yang Tak Ternilai
11
Bab 11 : Dendam Murid & Satu Ayunan Golok
12
Bab 12 : Patriark Pelit & Matahari Buatan Lin Qian
13
Bab 13: Orang Tua Berkhayal & Rencana Jahat
14
# Bab 14 : Garpu Rumput dan Sumpah di Bawah Langit
15
# Bab 15 : Pisau Dapur Menggemparkan Dunia
16
# Bab 16: Perubahan Nasib dan Kamar Dagang Baofeng
17
# Bab 17 : Kesuksesan Besar dan Kecantikan yang Merindukan
18
# Bab 18: Puisi Indah dan Kerinduan Akan Kampung Halaman
19
# Bab 19 : Kalimat Emas dan Rahasia yang Terlalu Jauh
20
Bab 20: Seratus Ribu Koin dan Orang Pelit yang Menyesal
21
Bab 21: Kartu Emas dan Mata-Mata dari Gunung Bersalju
22
Bab 22: Debu yang Tersisa & Firasat Buruk di Puncak Gunung
23
Bab 23: Sosok di Balik Jubah Putih & Hutang yang Dibayar dengan Tulang
24
Bab 24: Tidak Layak Berdiri di Sini & Anjing yang Lebih Setia dari Manusia
25
Bab 25: Kain Lusuh yang Menyimpan Duka & Penghinaan yang Tak Termaafkan
26
Bab 26: Kain Lap di Pagar & Amarah yang Tak Bisa Dibendung
27
Bab 27: Kesalahan yang Mematikan & Tamu-Tamu Berpenampilan Ganjil
28
Bab 28: Niat Baik yang Tak Boleh Disia-siakan & Laporan yang Menyesatkan
29
Bab 29: Gunung yang Tak Terlihat & Dunia yang Runtuh dalam Satu Kata
30
Bab 30: Majikan Sejati & Pelajaran yang Harganya Dua Lengan
31
Bab 31: Rencana Sang Patriark yang Kalah
32
# Bab 32: Dua Wanita dan Satu Pertemuan Tak Terduga
33
# Bab 33: Puncak Kejayaan yang Rapuh
34
# Bab 34: Malam Makan Malam yang Penuh Rencana
35
Bab 35: Dua Bidadari dan Satu Meja
36
Bab 36: Apakah Kita Perlu Alat Peraga?
37
# Bab 37: Permainan Kartu di Atas Meja
38
# Bab 38: Ingin Mencuri Ayam, Malah Kehilangan Beras
39
# Bab 39: Formasi Yin Surgawi dan Pengkhianat Licik
40
# Bab 40: Pintu Kecil Terbuka dan Pedang Maut dari Langit
41
Bab 41: Tamparan untuk Segalanya
42
# Bab 42: Dia Adalah Dewa dan Aku Hanya Lewat Saja
43
# Bab 43: Tengkorak Nakal dan Darah Harus Dibalas
44
# Bab 44: Dalang di Balik Layar dan Amarah yang Meledak
45
Bab 45: Pasukan Tak Tertandingi dan Duduk Tenang Saja
46
Bab 46: Tombak Mencolok dan Hancurnya Geng Peledak Langit
47
Bab 47: Ketika Langit Runtuh di Atas Kepala Orang Serakah
48
Bab 48: Pisau Itu Milikku & Bahkan Tidak Meletakkan Keranjang Bayam
49
# Bab 49: Hanya Pertunjukan Tanpa Isi & Perubahan Sikap yang Mengejutkan
50
# Bab 50: Jalur Hidup Geng Peledak Langit & Rencana Licik Long Qianxie
51
Bab 51: Kapal Bajak Laut yang Tak Bisa Ditolak"
52
Bab 52 ; Genangan Air Berbahaya
53
Bab 53 — Sekop dan Obat Ajaib
54
Bab 54 — Kaisar Iblis Berpura-pura Mati
55
Bab 55 — Perintah Pembunuhan di Pegunungan Mufu
56
Bab 56 — Manusia Fana yang Menampar Balik
57
Bab 57 — Jubah Biru yang Tidak Bernoda
58
Bab 58 — Sup Ular dan Raja Elang yang Pingsan
59
Bab 59 — Sistem Terkutuk dan Kaisar Iblis di Pohon
60
Bab 60 — Senior yang Hanya Mengumpulkan Ramuan
61
Bab 61 — Tolong Bawakan Daging Bakar Itu
62
Bab 62 — Cincin Spasial dan Dua Senjata Ilahi
63
Bab 63 — Mencari Manusia Fana
64
Bab 64: Kura-kura Itu dan Kesempatan yang Tak Terduga
65
Bab 65: Kantung yang Hilang dan Ketukan di Balik Formasi
66
Bab 66: Manusia Biasa yang Menembus Formasi
67
Bab 67: Yun Xue dan Tulang yang Hilang
68
Bab 68: Pelayan yang Menakutkan dan Tuntutan Aneh
69
Bab 69: Alkemis Nomor Satu yang Malang
70
Bab 70: Pencarian Besar dan Perang yang Tak Direncanakan
71
Bab 71: Kaisar Iblis yang Terlalu Terburu-buru dan Skeleton yang Malang
72
Bab 72: Guan Mingshu yang Menyesal dan Cangkul Tingkat Suci
73
Bab 73: Tugas Khusus untuk Alkemis Nomor Satu
74
Bab 74: Meridian Ras Dewa
75
Bab 75: Terobosan Besar dan Masa Lalu Yun Lan
76
Bab 76: Anjing yang Tidak Bisa Dibeli
77
Bab 77: Katak di Dasar Sumur
78
Bab 78: Musim Semi Ao Lan
79
Bab 79: Badai di Klan Serigala Iblis
80
Bab 80: Kaisar yang Tidak Tahu Malu
81
Bab 81: Niat Zither dan Dua Tamu yang Tidak Diundang
82
Bab 82: Serangan Mendadak dari Segala Sisi
83
Bab 83: Hotpot dan Terobosan
84
Bab 84: Mundur Sebelum Terlambat
85
Bab 85: Dunia Lain, Masa Muda Itu
86
Bab 86 — Sampah yang Mengguncang Langit
87
Bab 87 — Penyelamat yang Tidak Dipercaya
88
Bab 88 — Keripik Pedas untuk Menyelamatkan Klan
89
Bab 89 — Setengah Bungkus yang Mengubah Perang
90
Bab 90 — Harta Karun di Lubang Kotoran
91
Bab 91 — Dilarang Berkelahi di Depan Sini
92
Bab 92 — Tempat Seperti Apa Ini
93
Bab 93 — Membunuh Dua Burung, Salah Sasaran
94
Bab 94: Ladang Para Dewa dan Jebakan yang Sempurna
95
Bab 95: Hutang Skeleton dan Gua yang Mengguncang Hanyang
96
Bab 96: Wu Chang'an yang Penakut dan Penolakan Lu Tianhe
97
Bab 97: Wu Chang'an di Perut Bumi dan Pintu Batu yang Terbuka
98
Bab 98: Tiga Harta Suci dan Bencana di Makam
99
Bab 99: Sang Kerangka Kaya Mendadak dan Pertanyaan yang Menggelisahkan
100
Bab 100: Peringatan Terakhir dan Jalan Biasa
101
Bab 101: Puncak Kebanggaan dan Rebutan Benda Suci
102
Bab 102: Warisan Orang Suci
103
Bab 103: Partitur dari Jalan Biasa
104
Bab 104: Jebakan Sepuluh Ribu Tahun
105
Bab 105: Empat Orang di Depan Pintu
106
Bab 106: Sang Ahli yang Tak Tertandingi
107
Bab 107: Tuan dari Aula Bela Diri
108
Bab 108: Tetangga yang Keras Kepala
109
Bab 109: Guru yang Ragu-Ragu
110
Bab 110: Kunjungan Tanpa Sutra
111
Bab 111: Pertemuan yang Tidak Terduga
112
Bab 112: Mangsa yang Salah
113
Bab 113: Neraka di Pegunungan Mufu
114
Bab 114: Orang Gila di Tengah Pertempuran
115
Bab 115: Guru dan Murid Muncul di Saat yang Tepat
116
Bab 116: Bermalam di Bawah Pohon Song Ke
117
Bab 117: Bersin Dewa dan Kantung yang Berpindah Tangan
118
Bab 118: Rombongan Menuju Hanyang
119
Bab 119: Kedatangan yang Mengguncang Hanyang
120
Bab 120: Jangan Ganggu Tidur Tuanku
121
Bab 121: Sampah di Mata Kami
122
Bab 122: Berlutut di Hadapan Kakek Wang
123
Bab 123: Kaisar Yao untuk Sarapan
124
Bab 124: Tidur di Bawah Pertempuran Kaisar Yao
125
Bab 125: Hanya di Hadapan Anjing Aku Bisa Rileks
126
Bab 126: Kesengsaraan Surgawi yang Melarikan Diri
127
Bab 127: Sup yang Tumpah dan Tamu yang Tidak Diharapkan
128
Bab 128: Harga Meremehkan Tamu
129
Bab 129: Penculikan yang Salah Sasaran
130
Bab 130: Kekacauan di Sekte Pedang Surgawi
131
Bab 131: Permainan Catur yang Sudah Mati
132
Bab 132: Sekte Pedang Surgawi Membayar Hutang
133
Bab 133: Para Penggemar Fanatik dari Hanyang
134
Bab 134: Melamar dengan Lima Ratus Ribu Koin Emas
135
Bab 135: Rencana di Balik Pintu Tertutup
136
Bab 136: Pengantin yang Dirampas
137
Bab 137: Tengkorak di Balik Kerudung Merah
138
Bab 138: Raja Bela Diri yang Melarikan Diri
139
Bab 139: Perjalanan Musim Semi
140
Bab 140: Seperti Teman Lama
141
Bab 141: Labu Kecil untuk Teman Lama
142
Bab 142: Negeri Kekacauan
143
Bab 143: Anak Keberuntungan
144
Bab 144: Malam yang Indah
145
Bab 145: Wanita yang Memijat Kaki
146
Bab 146: Ternyata Akulah Si Adik — Dan Dia Hanya Manusia Biasa
147
Bab 147: Saudara Abadi dan Tamu yang Tak Diundang
148
Bab 148: Dendam Kecapi dan Papan Catur yang Sombong
149
Bab 149: Tidak Ada Jalan Keluar — dan Hati Dao yang Hancur
150
Bab 150: Sang Dukun, Murid yang Kelelahan, dan Tamu Tak Terduga
151
Bab 151: Guru, Murid, dan Orang-Orang Aneh di Jalan
152
Bab 152: Ikan Asin, Sutra Berlian, dan Pelarian di Malam Hari
153
Bab 153: Bintang Pembawa Malapetaka dan Jalan Memutar ke Pegunungan
154
Bab 154: Murid Pergi, Tuan Melanjutkan ke Sepuluh Ribu Gunung
155
Bab 155: Dasar Wanita Sialan, Cepat Naik!
156
Bab 156: Dua Pilihan dan Racun Ular
157
Bab 157: Reruntuhan, Hutang, dan Babi Hutan Buta
158
Bab 158: Jejak Pedang yang Mengguncang Pikiran
159
Bab 159: Manik-Manik Cantik dan Ular Abadi
160
Bab 160: Batu Bata, Sup Ular, dan Dua Juta Koin
161
Bab 161: Ketika Dewa Bela Diri Bergantung pada Manusia Biasa
162
Bab 162: Pria Berjubah Putih yang Penuh Kejutan
163
Bab 163: Pulang ke Rumah
164
Bab 164: Mimpi Mendirikan Sekte
165
Bab 165: Tukang Batu dan Secangkir Teh
166
Bab 166: Sup yang Mengubah Segalanya
167
Bab 167: Babi yang Memakan Harimau
168
Bab 168: Fitur Baru dan Pukulan yang Mengguncang Langit
169
Bab 169: Irigasi Abadi dan Tawanan Tak Terduga
170
Bab 170: Panen dari Langit
171
Bab 171: Bukti yang Berbicara Sendiri
172
Bab 172: Merpati, Gagak, dan Rahasia yang Tak Tersegel
173
Bab 173: Seratus Juta Bayangan dan Sebuah Pulau Baru
174
Bab 174: Standar Batu Bata dan Beruang yang Berbakat
175
Bab 175: Paman Baru dan Keponakan yang Tak Terduga
176
Bab 176 : Perspektif dan Dendam yang Tersimpan
177
Bab 177: Saudara Ketiga, Momen Ini Telah Tiba
178
Bab 178: Bagaimana Mungkin Aku Bersekongkol Denganmu
179
Bab 179: Sebuah Pintu Masuk yang Memukau
180
Bab 180: Aku Hanya Bercanda
181
Bab 181: Aku Benar-Benar Dipaksa Melakukannya
182
Bab 182: Hei Yu yang Setia
183
Bab 183: Di Sini, Kami di Sini
184
Bab 184: Tidak Mengetahui Kekuatan Mereka
185
Bab 185: Menantang Kekuatan Surga
186
Bab 186: Tujuan Orang Ini Sebenarnya Adalah...
187
Bab 187: Apa Ini Sebenarnya
188
Bab 188: Berkah dari Dewa
189
Bab 189: Hari Bekerja
190
Bab 190: Nasib Sial Berulang
191
Bab 191: Selamat Tinggal, Tuan
192
Bab 192: Ingin Memulai Perkelahian?
193
Bab 193: Hanya Tumpukan Sampah Ini
194
Bab 194: Dewi Bunga Dongsheng
195
Bab 195: Bayangan yang Mengintai
196
Bab 196: Siapa Sebenarnya Pria Berjubah Putih Itu
197
Bab 197: Teknik Ramalan Dunia
198
Bab 198: Pulau yang Hampir Rampung
199
Bab 199: Wanita yang Tak Pernah Ada
200
Bab 200: : Sekuntum Bunga untuk Nona Yun
201
Bab 201: Perpisahan yang Abadi
202
Bab 202: Piyama yang Terlupakan
203
Bab 203: Mata Formasi yang Sial
204
Bab 204: Tujuh Sampah, Satu Pisau Dapur
205
Bab 205: Organisasi Bernama Rao
206
Bab 206: Yang Berpakaian Putih Itu Adalah Aku
207
Bab 207: Halo yang Tidak Berguna
208
Bab 208: Tuan yang Tinggal di Kuil Bobrok
209
Bab 209: Warisan Cinta dan Kejutan di Lembah Yixian
210
Bab 210: Lembah yang Katanya Berbahaya
211
Bab 211: Sisa Sup yang Sangat Bergizi
212
Bab 212: Sekte Qingniu yang Hampir Bubar
213
Bab 213: Iblis Bernama Lin Qian
214
Bab 214: Kita Adalah Orang yang Sama, dan Hubungan Kita Sangat Baik
215
Bab 215: Aku Membawakanmu Pil Obat, dan Aku Benar-Benar Sepotong Sampah
216
Bab 216: Melacak Ye Neng, dan Mereka Telah Muncul
217
Bab 217: Penyesalan dan Patah Hati
218
Bab 218: Bayangan Benua dan Tiga Koin Emas Diamankan
219
Bab 219: Kebingungan Ketua Sekte Zhu dan Serangan Jantung Mendadak
220
Bab 220: Selera yang Cukup Aneh, dan Alam Lingxu
221
Bab 221: Metode yang Teguh, dan Murid Magang Bertambah Dua
222
Bab 222: Paku Penekan Jiwa Kembali, dan Bimbingan Sang Guru
223
Bab 223: Permainan Antara Dua Orang, dan Sekalipun Ia Datang Secara Pribadi
224
Bab 224: Inilah Kekuatan Tuan, dan Apakah Tuan Salah Perhitungan
225
Bab 225: Cahaya yang Tidak Bisa Dipadamkan
226
Bab 226: Gulungan Hancur dan Undangan Maut
227
Bab 227: Ukiran Kayu yang Tak Terhitung Jumlahnya
228
Bab 228: Pria Bagaikan Angin
229
Bab 229: Identitas yang Diabaikan
230
Bab 230: Tuan Agung yang Terus-Menerus Diabaikan
231
Bab 231: Pulang dengan Luka, Berdiri dengan Bangga
232
Bab 232: Sandiwara Sang Ahli Palsu
233
Bab 233: Sampah Super dan Sang Ahli Kuliner
234
Bab 234: Satu Murid, Satu Slot
235
Bab 235: Kaisar Abadi di Antara Sampah
236
Bab 236: Nirvana dan Si Bajingan Pelindung
237
Bab 237: Pria Pendek dan Tiga Dewa yang Malang
238
Bab 238: Kodok, Ranting, dan Badut yang Sesungguhnya
239
Bab 239: Guru Penipu dan Murid-Murid yang Tak Beres
240
Bab 240: Sekte yang Penuh Orang Tidak Beres
241
Bab 241: Tiga Tahun? Tiga Hari Sudah Lebih dari Cukup
242
Bab 242: Sapi Terbang dan Qi yang Mengubah Segalanya
243
Bab 243: Dua Jari untuk Menangkap Pedang
244
Bab 244: Kakek Hongmu Tidak Bisa Ditahan Lagi
245
Bab 245: Keledai Botak dan Pria yang Salah Pose
246
Bab 246: Leluhur Tua Berlutut, Sekte Tianling Musnah
247
Bab 247: Pertemuan yang Tak Terduga dan Pil Obat Ajaib
248
Bab 248: Pilar Abadi dan Bidak Catur Mieshi
249
Bab 249: Sekumpulan Sampah
250
Bab 250: Adat Istiadat Sekte Tiandi
251
Bab 251: Teratai Berkobar dan Pengkhianat Persaudaraan
252
Bab 252: Tumpukan Sampah dari Surga
253
Bab 253: Kartu Truf di Balik Bayangan
254
Bab 254: Mata-Mata yang Terlupa Tugasnya
255
Bab 255: Angka yang Mengguncang Langit
256
Bab 256: Murid Keseratus dan Pilar Keberuntungan
257
Bab 257: Telur Ayam untuk Garis Keturunan Phoenix
258
Bab 258: Tabung Reaksi dan Rencana yang Berantakan
259
Bab 259: Hadiah Besar yang Salah Sasaran
260
Bab 260: Poin Keberuntungan dan Toko Penukaran Sistem
261
Bab 261: Sirkus di Tepi Sungai Hitam
262
Bab 262: Sarang Sampah dan Tamu Tak Diundang
263
Bab 263: Punggung Buku yang Familiar
264
Bab 264: Bukti yang Tak Terbantahkan
265
Bab 265: Ayam Kecil
266
Bab 266: Eksekusi dan Mobilisasi
267
Bab 267: Pengunduran Diri Sang Kaisar
268
Bab 268: Ketika Sang Guru Berkata, Lakukan Saja
269
Bab 269: Dua Kantong Mayat dan Satu Murid yang Tidak Tahu Takut
270
Bab 270: Tuan yang Kabur dan Murid yang Bangkit dari Kubur
271
Bab 271: Guru yang Tidak Sengaja Jadi Pahlawan
272
Bab 272: Surat-Surat dan Sekte yang Membelot
273
Bab 273: Pengkhianatan dan Bayangan di Balik Layar
274
Bab 274: Liburan di Tempat yang Salah
275
Bab 275: Tuan Rumah di Tempat yang Salah
276
Bab 276: Koin Emas, Sate Naga, dan Kesalahan Fatal
277
Bab 277: Utusan yang Malang dan Tuan yang Baru Jadi Dewa
278
Bab 278: Kesepian di Puncak
279
Bab 279: Dangkal tapi Bahagia
280
Bab 280: Teleportasi ke Alam Abadi
281
Bab 281: Pulau Bayangan
282
Bab 282: Bertahan di Laut Hitam
283
Bab 283: Pertaruhan Sistem Keberuntungan
284
Bab 284: Nasib Baik yang Tak Terduga
285
Bab 285: Apa yang Sebenarnya Terjadi?
286
Bab 286: Kodok, Gaji, dan Tanda Tanya
287
Bab 287: Tamu dari Tebing
288
Bab 288: Reinkarnasi dan Sekantong Beras
289
Bab 289: Teleportasi dan Sekte Matahari-Bulan
290
Bab 290: Satu Malam, Satu Jari
291
Bab 291: Putra Pilihan Surga dan Fenomena Langit
292
Bab 292: Taruhan Nyawa
293
Bab 293: Puncak Riyue Itu Sampah
294
Bab 294: Guru Telah Kembali
295
Bab 295: Rahasia yang Hampir Terbongkar
296
Bab 296: Apa Sebenarnya Tingkat Kultivasi Saya
297
Bab 297: Sangat Cerdas
298
Bab 299: Belum Pernah Aku Melihat Seseorang yang Begitu Arogan
299
Bab 299 : Dendam yang Membara
300
Bab 300: Alam Rahasia yang Mengering
301
Bab 301: Pemerasan dan Konspirasi
302
Bab 302: Kengerian di Ruang Ujian
303
Bab 303: Kekuatan yang Tak Terduga
304
Bab 304: Guru Puncak yang Mengamuk
305
Bab 305: Kita Sedang Diawasi
306
Bab 306: Kekuatan yang Tak Dapat Ditentang
307
Bab 307: Dao Surgawi Pun Tunduk
308
Bab 308: Guru Besar yang Disalahpahami
309
Bab 309: Lima Puluh Peringkat
310
Bab 310: Seorang Murid Bernama Lin Qian
311
Bab 311: Sublimasi
312
Bab 312: Seperti Apa Sebenarnya Penampilannya
313
Bab 313: Aku Sangat Berharap Aku Juga Bisa Mengalami Masalah Seperti Itu
314
Bab 314: Sang Guru Kotoran, Tak Terkalahkan
315
Bab 315: Semakin Tinggi Dao, Semakin Tinggi Iblisnya
316
Bab 316: Reaksi yang Disebabkan oleh Sepuluh Tiankui
317
Bab 317: Persyaratan Sang Guru
318
Bab 318: Ternyata Biksu Malang Ini Bertindak Terburu-buru
319
Bab 319: Artefak Abadi Tingkat Menengah
320
Bab 320: Dua Dewa Abadi
321
Bab 321: Bakar Cabang Istana, Peluk Pupuk Kandang
322
Bab 322: Seandainya Tahu, Kubagi Dua Permen Itu
323
Bab 323: Bendera Putih Sang Penguasa Benua
324
Bab 324: Ember Pupuk Sang Penakluk
325
Bab 325: Siapa yang Menyuruhmu Datang?
326
Bab 326: Siapa Sebenarnya Dirimu?
327
Bab 327: Dua Manusia Abadi
328
Bab 328: Dua Ember Emas
329
Bab 329: Sambutan Meriah
330
Bab 330: Ternyata Kita Satu Keluarga
331
Bab 331: Bersihkan Kuping Dulu, Baru Bicara
332
Bab 332: Dapur Maut Jiang Zhi
333
Bab 333: Gerbang yang Mengguncang Alam Abadi
334
Bab 334: Sampah Emas di Depan Portal
335
Bab 335: Toko Sepi yang Tak Boleh Diremehkan
336
Bab 336: Semangkuk Nasi Goreng Telur
337
Bab 337: Nasi Ajaib yang Mengguncang Keluarga Wang
338
Bab 338: Satu Sendok Menghancurkan Petir
339
Bab 339: Sendok Sakti Penakluk Petir
340
Bab 340: Empat Klan Besar Menyerah pada Nasi Goreng
341
Bab 341: Ayam Kampung Lebih Hebat dari Kepala Klan
342
Bab 342: Empat Kepala Klan Berutang Budi
343
Bab 343: Menyuruh Santa Wanita Ini Perbaiki Tembok?
344
Bab 344: Digebuk Sekumpulan Ayam
345
Bab 345: Aku Juga Mau Bantu Beres-beres, Senior!
346
Bab 346: Yang Penting Senior Hanya Sayang Aku
347
Bab 347: Obat-obatan Ini, Buang Saja!
348
Bab 348: Nasib Kalian Belum Berakhir
349
Bab 349: Kamu Mau Setengahnya?!
350
Bab 350: Sebutir Beras, Satu Artefak Abadi
351
Bab 351: Nasi Goreng Seharga Artefak Abadi
352
Bab 352: Kaisar Putih Mencari Jejak Lama
353
Bab 353: Jejak Sang Kekasih
354
Bab 354: Pertanyaan yang Menggetarkan
355
Bab 355: Kebanggaan yang Terbalik
356
Bab 356: Misi Terpaksa
357
Bab 357: Formasi Kuno Lenyap Begitu Saja
358
Bab 358: Kabur Dulu Sebelum Ketahuan
359
Bab 359 — Kota Kecil Kedatangan Tokoh Besar
360
Bab 360 — Guru Macam Apa yang Bersembunyi di Halaman Belakang
361
Bab 361 — Ternyata Aku Buta Formasi
362
Bab 362 — Gara-Gara Sarkasme, Aku Naik Pangkat
363
Bab 363 — Cuma Master Kelas Tujuh Katanya?
364
Bab 364 — Semua Pergi Cari Guru Magang
365
Bab 365 — Pria Tua yang Tak Tahu Malu
366
Bab 366: Meja Kosong, Amarah Meluap
367
Bab 367: Halaman yang Sudah Berpenghuni
368
Bab 368: Kesempatan Sekali Seumur Hidup
369
Bab 369: Jamuan Seratus Ribu Meja
370
Bab 370: Bisa Sedikit Lebih Cepat Tidak?
371
Bab 371: Aku Sungguh Tidak Mengerti Formasi
372
Bab 372: Senyum Sarkastik
373
Bab 373: Rumor yang Jadi Kenyataan
374
Bab 374: Lin Qian Kabur dari Kota
375
Bab 375: Su Yanjin, Prajurit Gerbang
376
Bab 376: Penjaga Aneh yang Membunuh dalam Sekejap
377
Bab 377: Aku Hanya Seorang Prajurit Abadi Bumi
378
Bab 378: Aku Sudah Mengusirnya
379
Bab 379: Apakah Prajurit Ini Bodoh?
380
Bab 380: Apakah Ini Sesuatu yang Bisa Dilakukan Seorang Dewa Abadi Bumi?
381
Bab 381: Tak Terkalahkan
382
Bab 382: Bagaimana Mungkin Membunuh Lebih dari Selusin Makhluk Alam Abadi Mataha
383
Bab 384: Diburu karena Karma
384
Bab 384: Diburu karena Karma
385
Bab 385: Panggilan Perang
386
Bab 386: Kekuatan Berkumpul
387
Bab 387: Latar Belakang yang Tak Terbayangkan
388
Bab 388: Perang Pecah di Istana Abadi
389
Bab 389: Melahap Segalanya
390
Bab 390: Bahkan Cacing Kecil Pun Tak Terbunuh
391
Bab 391: Tak Ada yang Boleh Menghina Guru
392
Bab 392: Musuh Seperti Gambar Tongkat
393
Bab 393: Semua Orang Berdiri
394
Bab 394: Bukankah Kita Sekarang Sudah Jadi Orang Penting?
395
Bab 395: Berteriak "Ganteng"
396
Bab 396: Batas Antara Dua Alam
397
Bab 397: Tadi Ada Orang Terbang di Atas Kepala Kita?
398
Bab 398: Hal Semacam Itu Tidak Mungkin
399
Bab 399: Apa Katamu Barusan, Raja Singa Langit?
400
Bab 400: Jatuh dari Langit
401
Bab 401: Yang Terdengar Hanya Suara Angin Lewat
402
Bab 402: Masa Cuma Bisa Bilang "Wusss"?
403
Bab 403: Kecuali...
404
Bab 404: Giliran Sial yang Datang Bertubi-tubi
405
Bab 405: Ketahuan!
406
Bab 406: Ternyata Orang Alam Terpencil
407
Bab 407: Sosok yang Cocok dengan Ciri-cirinya
408
Bab 408: Bintang Keberuntungan Alam Terpencil
409
Bab 409: Benar-benar Arogan
410
Bab 410: Hancur Berkeping-keping
411
Bab 411: Ditabrak Mati oleh "Kakeknya" Sendiri
412
Bab 412: Perang Dua Alam Berakhir Gara-Gara Mereka Sama-Sama Panik
413
Bab 413: Tembok yang Menahan Kiamat
414
Bab 414: Ketika Kegelapan Merenggut Salah Satu dari Mereka
415
Bab 415: Lebih dari Seratus Makam, dan Terus Bertambah
416
Bab 416: Kesalahpahaman yang Makin Membesar
417
Bab 417: Jangan Bilang Kalian Berharap Ada Sesuatu di Lubang Jamban Itu
418
Bab 418: Nikahi Aku, Kau Boleh Ajukan Syarat Apa Saja
419
Bab 419: Syaratnya Terserah Kau, Katanya
420
Bab 420: Berani Sekali Kau
421
Bab 421: Tantangan dari Tetua Agung
422
Bab 422: Buktinya Ada di Pantatnya
423
Bab 423: Hanya Bilang "Oh"
424
Bab 424: Kau Lemah Juga Rupanya
425
Bab 425: Sup Gagak Tua
426
Bab 426: Guru yang Menakut-nakuti, Murid yang Pulang Santai
427
Bab 427: Tunggu, Kamu Mau ke Mana
428
Bab 428: Sekarang Aku Paham
429
Bab 429: Ingin Pamer, Ya?
430
Bab 430: Alam Kesepuluh Dewa Sejati
431
Bab 431: Tatapan Penuh Kekaguman
432
Bab 432: Berlutut Lagi di Depan yang Lebih Kuat
433
Bab 433: Bukankah Sudah Ada di Sini Sekarang?
434
Bab 434: Kedatangan yang Terlalu Terburu-buru
435
Bab 435: Andai Bisa Bertemu Dengannya Lagi
436
Bab 436: Kumbang Kotoran Alam Abadi Sejati
437
Bab 437: Sebuah Kejadian Kecil yang Tak Ada Kaitannya
438
Bab 438: Sisakan Ruang dalam Hidup
439
Bab 439: "Sangat Lemah"
440
Bab 440: Tidak Akan Sanggup Mendaki, Kan?
441
Bab 441: Kau Lihat Burung Itu?
442
Bab 442: Aku Akan Mengawasimu
443
Bab 443: Apakah Turnamen Ini Masih Ada Artinya?
444
Bab 444: Sebenarnya Setinggi Apa Kekuatannya?
445
Bab 445: Bertatap Muka Langsung
446
Bab 446: Apakah Leluhur Tua Itu Tewas Seketika?
447
Bab 447: Menunggu Sang Misterius Keluar
448
Bab 448: Aku Ingin Membunuhnya
449
Bab 449: Formasi Penuh Diaktifkan
450
Bab 450: Kebenaran yang Terungkap
451
Bab 451: Terima Kasih, Kami Cukup di Sini Saja
452
Bab 452: Rekor Baru yang Bikin Bangga (Menurutnya Sendiri
453
Bab 453: Karung-Karung Hadiah dari Langit
454
Bab 454: Kenapa Harus Kami?
455
Bab 455: Pelayan Kecil yang Cuek Menghalangi Jalan
456
Bab 456: Ternyata Begini Ceritanya
457
Bab 457: Sedia Payung Sebelum Hujan
458
Bab 458: Ketakutan yang Terlambat
459
Bab 459: Siapa Sebenarnya "Tuan" Itu
460
Bab 460: Balik Badan
461
Bab 461: Rencana Terakhir Sun Zimei
462
Bab 462: Sepi di Puncak Ketampanan
463
Bab 463: Guru yang Dikhianati demi Kebaikannya Sendiri
464
Bab 464: Kedatangan Tamu yang Tak Diundang
465
Bab 465: Bencana di Alam Roh
466
Bab 466: Surat Merah dari Langit
467
Bab 467: Kepala Sekte Shi Qingwu Keluar dari Pengasingan
468
Bab 468: Penghormatan yang Tak Terduga
469
Bab 469: Sekadar Hiburan Semata
470
Bab 470: Jangan Lupa Aku Juga Ada di Sini
471
Bab 471: Ternyata Dia Seterus Terang Ini
472
Bab 472: Warisan Dewa Kuno
473
Bab 473: Poin Pengalaman
474
Bab 474: Sapuan Pedang Tanpa Ampun
475
Bab 475: Mondo Beast
476
Bab 476: Ladang Tulang dan Kapal yang Turun dari Langit
477
Bab 477: Dunia yang Runtuh Seketika
478
Bab 478: Kebenaran yang Menghancurkan Segalanya
479
Bab 479: Pencuri Guci Anggur
480
Bab 480: Utang Anggur yang Harus Dilunasi
481
Bab 481: Kebenaran yang Sulit Diterima
482
Bab 482: Negosiasi Sepihak
483
Bab 483: Cukup untuk Semua Orang
484
Bab 484: Belum Cukup Berpengalaman
485
Bab 485: Sebut Saja Serangan Dasar
486
Bab 486: Sosok yang Ingin Ia Tiru
487
Bab 487: Tetaplah di Sini
488
Bab 488: Kesunyian yang Mencurigakan
489
Bab 489: Kekayaan yang Tak Terduga
490
Bab 490: Lanjutkan Saja
491
Bab 491: Jejak Campur Tangan Manusia
492
Bab 492: Biarlah Masa Lalu Berlalu
493
Bab 493: Lari!
494
Bab 494: Orang Paling Jahat di Dunia
495
Bab 495: Alasan Hilangnya
496
Bab 496: Akhirnya Dewasa
497
Bab 497: Siapa Sebenarnya yang Telah Memikatmu?
498
Bab 498: Akan Kuhabisi Kau
499
Bab 499: Kau Terlalu Banyak Berpikir
500
Bab 500: Tamu Kehormatan di Pulau Kelabang
501
Bab 501: Warisan Berdarah Emas
502
Bab 502: Titik Didih
503
Bab 503: Berubah Pikiran dalam Sekejap
504
Bab 504: Siapa pun yang Menghalangi, Harus Mati
505
Bab 505: Titah Sang Anak Ilahi
506
Bab 506: Rapat Darurat yang Kacau
507
Bab 507: Cemilan Gratis
508
Bab 508: Sang "Buddha Agung" yang Muncul
509
Bab 509: Kalau Kabur, Tangkap Saja dan Seret Kembali
510
Bab 510: Musnahkan Saja
511
Bab 511: Rebutan Jadi Pesuruh
512
Bab 512: Kabar Besar
513
Bab 513: Rasa Penasaran yang Membara
514
Bab 514: Syarat Utamanya: Lembut
515
Bab 515: Titik Terang di Tengah Kegelapan
516
Bab 516: "Oh"
517
Bab 517: Ditatap Seperti Orang Bodoh
518
Bab 518: Anjing Pengkhianat Tak Bisa Lari
519
Bab 519: Berani-beraninya Mencuri di Depan Pintu Rumahku
520
Bab 520: Harta Karun yang Hancur karena Diinjak
521
Bab 521: Menggali Lagi demi Harta yang Tak Pernah Ada
522
Bab 522: Pedang Ilahi yang Ternyata Sebilah Pantat
523
Bab 523: Kekuatan Besar Menciptakan Keajaiban
524
Bab 524: Berani-beraninya Mengganggu Tidur Siang Tuhan Ini
525
Bab 525: Diculik di Depan Mata Sendiri
526
Bab 526: Air Mata dan Ingus demi Kelangsungan Hidup
527
Bab 527: Leluhur yang "Berkorban" demi Sekte
528
Bab 528: Ditabrak Anak Kecil, Terlempar Ratusan Zhang
529
Bab 529: Domba Masuk Sarang Serigala
530
Bab 530: Terobosan Tak Terduga di Lubang Kotoran
531
Bab 531: Ditipu Sekte Sendiri, Wen Chengyu Meraung Marah
532
Bab 532: Rampok Gagal Total, Dibayar Dua Kali Lipat
533
Bab 533: Merusak Kesempatan Matiku, Kubawa Kabur Saja
534
Bab 534: Pedang yang Patah karena Dada
535
Bab 535: Sekte Hong Berdoa pada Bodhisattva
536
Bab 536: Rencana Cadangan Bernama Hutan Teror
537
Bab 537: Hutan yang Ternyata Tidak Menyeramkan
538
Bab 538: Kesimpulan Piaomiao Hong
539
Bab 539: Kesepakatan Dua Pencari Kematian
540
Bab 540: Kota Terlarang di Alam Iblis
541
Bab 541: Desa yang Sudah Jatuh
542
Bab 542: Kembalinya Sang Pemanen Daun Bawang
543
Bab 543: Rentan Sekali
544
Bab 544: Tuan Serigala Jahat, Bertahanlah
545
Bab 545: Sandiwara Seluruh Kota
546
Bab 546: Sandiwara Harus Berlanjut
547
Bab 547: Delapan Ratus Kali Gagal demi Tumis Babi Cabai
548
Bab 548: Seberapa Kuat Sebenarnya Kekuatan Ini?
549
Bab 549: Tumis Telur ke-2002
550
Bab 550: Pertanyaan Soal Sarang Monster
551
Bab 551: Lebih dari Tiga Puluh Saudara Kembar
552
Bab 552: Kota Fengmo
553
Bab 553: Panggilan yang Tak Berbalas
554
Bab 554: Keberuntungan Besar bagi Umat Manusia
555
Bab 555: Serigala Iblis yang Mengerikan
556
Bab 556: Sebenarnya Tempat Apa Ini?
557
Bab 557: Ikan Naga dan Ekspedisi ke Danau Awan
558
Bab 558: Umpan Cacing dan Pancingan Beruntun
559
Bab 559: Diabaikan Habis-habisan
560
Bab 560: Kesempatan yang Terlewat
561
Bab 561: Wanita yang Akan Segera Meninggal
562
Bab 562: Tempat yang Ajaib
563
Bab 563: Fenomena Aneh
564
Bab 564: Cinta Terkutuk Ini
565
Bab 565: Kehidupan Virtual
566
Bab 566: Warisan Kematian
567
Bab 567: Bukti Kuat Seorang Transmigran
568
Bab 568: Peri Mei
569
Bab 569: Mengangkat Batu Hanya untuk Menjatuhkannya ke Kaki Sendiri
570
Bab 570: Hari Ini, Mei'er Milikmu
571
Bab 571: Wanita Licik
572
Bab 572: Permainan Lain
573
Bab 573: Keluar
574
Bab 574: Taktik yang Mendominasi
575
Bab 575: Apakah Otak Pria Ini Normal?
576
Bab 576: Sepuluh Kematian, Tanpa Kehidupan
577
Bab 577: Pulau Fengyue
578
Bab 578: Apa Sebenarnya yang Sedang Terjadi?
579
Bab 579: Bertemu Kembali dengan Pria Itu
580
Bab 580: Taruhan Nekat Feng Qianyue
581
Bab 581: Lin Qian yang Tidak Siap-Siap
582
Bab 582: Bekal Perjalanan Menuju Kematian
583
Bab 583: Hilang selama 100.000 tahun
584
Bab 584: Kau Juga Sudah Kembali?
585
Bab 585: Semakin Aneh Orangnya, Semakin Sulit Ditebak
586
Bab 586: Sekutu yang Tak Terduga
587
Bab 587: Gerbang Kematian
588
Bab 588: Hati yang Berani
589
Bab 589: Hidup yang Tak Bermakna
590
Bab 590: Terlalu Banyak Gaya
591
Bab 591: Satu-Satunya Penghiburan
592
Bab 592: Wajah yang Berubah Seketika
593
Bab 593: Arti Keberadaan Lou Chengsha
594
Bab 594: Satu Telapak Tangan
595
Bab 595: Kehendak Sang Guru
596
Bab 596: Mati dengan Mata Terbelalak
597
Bab 597: Kehidupan Baru di Balik Kematian
598
Bab 598: Sembilan Tahun Bersama Si Kerangka
599
Bab 599: Mimpi yang Tidak Nyambung
600
Bab 600: Cari Mati Susahnya Minta Ampun
601
Bab 601: Panggilan Sang Leluhur
602
Bab 602: Rahasia di Bawah Aula Tiandi
603
Bab 603: Murka Sang Santo
604
Bab 604: Warisan Dua Pusaka
605
Bab 605: Firasat Sang Kakak Senior
606
Bab 606: Rahasia di Balik Dunia Perkotaan
607
Bab 607: Rencana yang Menguntungkan Semua Pihak
608
Bab 608: Mendaftar untuk Mati
609
Bab 609: Salah Paham yang Saling Menghormati
610
Bab 610: Sang Nyonya Racun
611
Bab 611: Terlalu Sempurna untuk Dipercaya
612
Bab 612: Noda Teh yang Menggetarkan Hati
613
Bab 613: Menanti Kabut Beracun
614
Bab 614: Kekecewaan Sang Relawan
615
Bab 615: Rencana Provokasi
616
Bab 616: Sisi Lain Sang Nyonya Racun
617
Bab 617: Sesi Konsultasi yang Aneh
618
Bab 618: Kesalahpahaman Zhang Zhishan
619
Bab 619: Tebakan yang Salah Total
620
Bab 620: Malu Karena Diselamatkan
621
Bab 621: Menyelamatkan Nyawa demi Kegagalan Sendiri
622
Bab 622: Sang Santo Bersikeras Menjaga Rahasia
623
Bab 623: Vonis Setengah Santo yang Tidak Diminta
624
Bab 624: Salah Sasaran
625
Bab 625: Dunia Ini Luas, Aku Harus Pergi Menjelajahinya
626
Bab 626: Kota yang Sedang Dibangun
627
Bab 627: Dua Pewaris yang Menghilang
628
Bab 628: Setitik Cahaya di Tengah Laut
629
Bab 629: Menuai Akibat Keserakahan
630
Bab 630: Membuat Kakak Lin Tertawa
631
Bab 631: Sekarang Hari Apa?
632
Bab 632: Hadiah Kecil, Makna Besar
633
Bab 633: Terobosan Menuju Kesucian
634
Bab 634: Qin Nan, Benarkah Itu Kau?
635
Bab 635: Tanah Pedang Terkubur
636
Bab 636: Sosok Misterius di Makam Pedang
637
Bab 637: Jalan Pulang Melewati Neraka
638
Bab 638: Mengantar Mereka Pulang
639
Bab 639: Rupanya Kami Terlambat
640
Bab 640: Menanti Jam Terakhir
641
Bab 641: Kutukan yang Menghilang
642
Bab 642: Kabut yang Sirna
643
Bab 643: Karung Misterius dari Langit
644
Bab 644: Salah Sasaran, Anak Sekte Wangyue Ketakutan Setengah Mati
645
Bab 645: Ternyata Ada Isinya, Tapi Cuma Segitu
646
Bab 646: Ayah dan Anak, Sama-Sama Kena Batunya
647
Bab 647: Kompetisi Akting, Siapa yang Lebih Berbakat
648
Bab 648: Kaisar Putih Datang Langsung, Gertakan Ini Sudah Kelewatan
649
Bab 649: Kaisar Putih Kembali, Lin Qian Tercengang
650
Bab 650: Kaisar Putih Ternyata Yun Xue, Lin Qian Salah Sasaran
651
Bab 651: Ketika Dua Santa Menunggu di Depan Pintu
652
Bab 652: Momen Paling Membanggakan dalam Hidup Chen Dong
653
Bab 653: Apa yang Sebenarnya Kau Hargai dari Dirinya?
654
Bab 654: Ditolak di Depan Mata, Demi Siapa?
655
Bab 655: Cemburu? Kalau Begitu, Biar Aku Jadi Saingannya
656
Bab 656: Ternyata Dia Rubah Tua yang Licik, Ini Kesempatan Emas
657
Bab 657: Surat Tantangan yang Bikin Salah Paham
658
Bab 658: Terima Kasih, Tapi Tolong Jangan Diulangi
659
Bab 659: Kubongkar Semua Rahasia
660
Bab 660: Giliran Sang Pendekar Pedang Suci?
661
Bab 661: Serangan Pedangku Bahkan Membuat Santo Kewalahan
662
Bab 662: Kesepian di Puncak Kekuatan
663
Bab 663: Lalat yang Mengganggu Ketenangan
664
Bab 664: Kegembiraan Orang Lain, Kesengsaraan Diri Sendiri
665
Bab 665: Malapetaka Besar Sedang Mendekat
666
Bab 666: Kedatangan Dua Kepala Iblis yang Mengerikan
667
Bab 667: Menghancurkan Kekosongan dengan Satu Jari
668
Bab 668: Yang Penting Ada Cewek atau Tidak
669
Bab 669: Kesempatan Besar bagi Keluarga Gu
670
Bab 670: Leluhur yang Berbangga Terlalu Cepat
671
Bab 671: Kemarahan yang Menghancurkan Segalanya
672
Bab 672: Tujuh Orang Suci Melangkah ke Alam Iblis
673
Bab 673: Sang Biksu yang Berpura-pura Lemah
674
Bab 674: Bayang-Bayang yang Lebih Mengerikan
675
Bab 675: Sandiwara Sang Tetua demi Seorang Murid
676
Bab 676: Reaksi yang Tidak Terduga
677
Bab 677: Pertemuan Tak Terduga
678
Bab 678: Rencana yang Berbalik Arah
679
Bab 679: Persaingan Diam-Diam Memperebutkan Calon Murid
680
Bab 680: Sisi Lain Sang Tetua
681
Bab 681: Sang Pecinta Sejati
682
Bab 682: Kultivasi Anak Muda Ini Tidak Buruk
683
Bab 683: Menerima Murid Magang? Lelucon Besar
684
Bab 684: Mi Emas dari Kampung Halaman
685
Bab 685: Kakak Beradik yang Rindu Gengsi
686
Bab 686: Yang Katanya Berbahaya
687
Bab 687: Ternyata Aku yang Jadi Beban
688
Bab 688: Tawar-Menawar Hadiah Balasan
689
Bab 689: Waktunya Membuka Kartu
690
Bab 690: Coba Saja, Kalau Berani Mati
691
Bab 691: Rebutan Pedang Pusaka
692
Bab 692: Iri yang Berlipat Ganda
693
Bab 693: Kode Etik Antar Saudara
694
Bab 694: Tamu dari Luar Bintang Awan
695
Bab 695: Peluang Terselubung Bencana
696
Bab 696: Setengah Suci Dianggap Berbakat?
697
Bab 697: Hanya Tugas Sampingan
698
Bab 698: Rahasia Manman Terbongkar
699
Bab 699: Bertemu Senior Lin Lagi
700
Bab 700: Sosok yang Menghilang
701
Bab 701: Relawan yang Disalahpahami
702
Bab 702: Semua Cuma Gertak Sambal
703
Bab 703: Gerbang Bintang
704
Bab 704: Keberuntungan yang Luar Biasa
705
Bab 705: Ras Iblis Benar-Benar Sudah Dibantai
706
Bab 706: Kodok Raksasa Penutup Langit
707
Bab 707: Sebenarnya Siapa yang Menyerang Siapa?
708
Bab 708: Rahasia di Balik Kodok Peliharaan yang Menggemaskan
709
Bab 709: Rahasia Mengerikan di Balik Sang Kodok
710
Bab 710: Ternyata Sedikit Lebih Kuat
711
Bab 711: Ternyata Dia Seorang Senior Sesungguhnya
712
Bab 712: Ternyata Bukan Cuma "Sedikit" Lebih Kuat
713
Bab 713: Rencana Cerdik Sang Ayah
714
Bab 714: Semangkuk Nasihat dari Sang Ayah
715
Bab 715: Sup Ayam yang Beracun
716
Bab 716: Menyamar dengan Cerdik di Tengah Kekacauan
717
Bab 717: Meski Sudah Tua, Tetap Lebih Cerdik
718
Bab 718: Pemimpin Regu yang Mengerikan
719
Bab 719: Kau Baru Melihat Lapisan Pertama
720
Bab 720: Kelicikan Sang Kepala Iblis
721
Bab 721: Sungguh, Aku Tidak Gila
722
Bab 722: Firasat yang Terasa Janggal
723
Bab 723: Momen Paling Membanggakan dalam Hidup
724
Bab 724: Manusia Biasa Mustahil Bisa Melewati Gerbang Iblis
725
Bab 725: Ekspedisi Berbahaya di Bintang Shuihan
726
Bab 726: Berpencar Mencari Peluang
727
Bab 727: Monster Curian
728
Bab 728: Hasil Panen yang Mengejutkan
729
Bab 729: "Hanya" Seratus Lebih
730
Bab 730: Sarang yang Ditawarkan Sang Pengecut
731
Bab 731: Delapan Iblis Peringkat Surga
732
Bab 732: Jalan Buntu Sang Perencana
733
Bab 733: Titipan untuk Nona Zhongli
734
Bab 734: Berubah Sikap
735
Bab 735: Hadiah dari Orang Tak Dikenal
736
Bab 736: Rencana Kemenangan Wei Zhenfang
737
Bab 737: Upacara Dimulai, Taruhan Dinaikkan
738
Bab 738: Kartu Truf Terakhir
739
Bab 739: Pengkhianatan Wei Zhenfang?
740
Bab 740: Kejutan yang Terlalu Mendadak
741
Bab 741: Kenyataan yang Kejam
742
Bab 742: Lautan Mayat yang Mengguncang Istana Surgawi
743
Bab 743: Amarah Sang Penantang
744
Bab 744: Perintah dari Balik Bambu
745
Bab 745: Rahasia yang Tak Terpecahkan
746
Bab 746: Ayah-Anak Pemindah Batu Bata
747
Bab 747: Kembali dengan Wajah Berbeda
748
Bab 748: Bantuan yang Datang di Saat yang Salah
749
Bab 749: Biarkan Aku yang Mencoba
750
Bab 750: Telapak Tangan Pemindah Batu Bata yang Mengerikan
751
Bab 751: Hadiah yang "Tidak Seberapa
752
Bab 752: Bayang-Bayang Kekuatan yang Tak Terbayangkan
753
Bab 753: Terobosan Tak Terduga
754
Bab 754: Jalan Menuju Kegelapan
755
Bab 755: Dendam yang Membara
756
Bab 756: Satu Tamparan, Seribu Ketakutan
757
Bab 757: Semut yang Ketakutan
758
Bab 758: Jejak yang Tersisa
759
Bab 759: Penindasan di Depan Gerbang
760
Bab 760: Pedang Iblis Hancur oleh Pedang Biasa
761
Bab 761: Melarikan Diri?
762
Bab 762: Dendam Harus Dibayar Lunas
763
Bab 763: Kedatangan Pertama di Bintang Lan
764
Bab 764: Alam Pembuktian Dao yang Sok Berkuasa
765
Bab 765: Masalah Besar Sedang Menanti
766
Bab 766: Ancaman dari Sekte Tianyin
767
Bab 767: Satu Pukulan, Dua Santo Musnah
768
Bab 768: Berlari ke Paviliun Dewa Bulan
769
Bab 769: Salah Lapor Musuh
770
Bab 770: Kesalahan Fatal Sang Ketua Sekte
771
Bab 771: Kesalahpahaman yang Berujung Kejayaan
772
Bab 772: Semuanya Kacau
773
Bab 773: Sosok yang Sesungguhnya
774
Bab 774: Ujian bagi Sang Tetua Baru
775
Bab 775: Kekuatan Mengerikan di Balik Paviliun Dewa Bulan
776
Bab 776: Kemunculan Sang Artefak Ilahi
777
Bab 777: Andai Bisa Menatap Wajah Tuan Lin, Hidup Ini Tak Akan Sia-sia
778
Bab 778: Bintang Beku dan Sang Tuan Muda yang Bosan
779
Bab 779: Serakah Tanpa Batas
780
Bab 780: Kesombongan yang Berujung Petaka
781
Bab 781: Sang Kapten Turun Tangan
782
Bab 782: Ambisi yang Semakin Membesar
783
Bab 783: Ikan Asin yang Ternyata Berbahaya
784
Bab 784: Pukulan Biasa yang Ternyata Tidak Biasa
785
Bab 785: Baju Olahraga Seharga Lima Belas Yuan
786
Bab 786: Amarah Seorang Pemburu Diskon
787
Bab 787: Kesempatan Emas untuk Mati dengan Terhormat
788
Bab 788: Tekad yang Disalahpahami
789
Bab 789: Rencana Pemusnahan yang Sudah Dekat
790
Bab 790: Jebakan yang Sia-Sia
791
Bab 791: Kenapa Kita Diam Saja?
792
Bab 792: Semuanya Hanya Ikan Kecil
793
Bab 793: Bersujud Kepada Siapa?
794
Bab 794: Senior Misterius yang Menggemparkan
795
Bab 795: Kesalahpahaman yang Membesar
796
Bab 796: Pakar dari Paviliun Dewa Bulan
797
Bab 797: Sambutan Pribadi Sang Ketua Paviliun
798
Bab 798:Ternyata Pakar Misterius Itu Diriku Sendiri
799
Bab 799: Panggilan dari Kejauhan
800
Bab 800: Peluang Menuju Kekuatan Misterius
801
Bab 801: Kedatangan Sang Legenda
802
Bab 802: Rahasia di Balik Kekuatan Sekte
803
Bab 803: Pingsan di Hadapan Lin Qian
804
Bab 804: Tetua Lin adalah Tuan.
805
Bab 805: Suasana Sekte yang Terlalu Damai
806
Bab 806: Menuju Lautan Kejahatan
807
Bab 807: Uji Kekuatan di Aula Pulau Hitam
808
Bab 808: Sarang Penjahat di Pulau Matahari
809
Bab 809: Persiapan Menuju Lelang
810
Bab 810: Rumput Penekan Jiwa Muncul
811
Bab 811: Pengacau di Tengah Pesta
812
Bab 812: Ketenangan yang Menggetarkan
813
Bab 813: Salam Hormat yang Tak Terduga
814
Bab 814: Kebohongan yang Meyakinkan
815
Bab 815: Kebenaran di Balik Rumor
816
Bab 816: Perhitungan di Balik Kekalahan
817
Bab 817: Salah Sasaran yang Menghebohkan
818
Bab 818: Salah Sangka di Penginapan Reyot
819
Bab 819: Hadiah yang Berbalik Arah
820
Bab 820: Kejutan yang Tak Masuk Akal
821
Bab 821: Persaingan Memberi Hadiah
822
Bab 822: Danau di Balik Kabut
823
Bab 823: Uang Kristal Abadi Melayang demi Sekali Mancing
824
Bab 824: Amatir yang Ternyata Punya Rencana
825
Bab 825: Melawan Peruntungan Danau Salju
826
Bab 826: Berpura-pura Bodoh untuk Menipu Semua Orang
827
Bab 827: Biarkan yang Lain Ikut Menjilat
828
Bab 828: Pria yang Tidak Takut Siapa Pun
829
Bab 829: Ikan Mahal Jadi Ikan Bakar
830
Bab 830: Meninggalkan Kegelapan Menuju Cahaya
831
Bab 831: Keajaiban Ikan Bakar
832
Bab 832: Peluang Besar di Balik Sisa Tulang Ikan
833
Bab 833: Jalan yang Terang
834
Bab 834: Ketua Sekte yang Ditinggalkan
835
Bab 835: Perencana yang Kena Tipu Sendiri
836
Bab 836: Zaman Sudah Berubah
837
Bab 837: Menuai Apa yang Ditabur
838
Bab 838: Monster Berusia Sepuluh Ribu Tahun
839
Bab 839: Undangan Sang Penguasa Pulau
840
Bab 840: Undangan Maut dari Penguasa Pulau
841
Bab 841: Monster Berusia Sepuluh Ribu Tahun yang Salah Menilai
842
Bab 842: Si Penjilat Ulung
843
Bab 843: Sekte Lima Elemen Mulai Bergerak
844
Bab 844: Awan Terbelah, Bulan Pun Tampak
845
Bab 845: Pekerja Lepas Tanpa Bayaran
846
Bab 846: Biar Saya yang Coba
847
Bab 847: Cukup Layak Jadi Lawan
848
Bab 848: Membakar Jembatan
849
Bab 849: Kekuatan Adalah Segalanya
850
Bab 850; Panggung Penentu: Kartu As Tersembunyi
851
Bab 851: Berani Menantang Semua Orang Sendirian
852
Bab 852: Kaburnya Sang Jangkrik Emas
853
Bab 853: Peluang untuk Membalikkan Kekalahan
854
Bab 854: Pertemuan Tak Terduga
855
Bab 855: Semuanya Bagai Permainan Anak-Anak
856
Bab 856: Persembahan Seratus Tahun
857
Bab 857: Takdir yang Tak Terhindarkan
858
Bab 858: Dirasuki Semangat Nekat
859
Bab 859: Bertahan di Ambang Jurang
860
Bab 860: Fajar
861
Bab 861: Satu Orang Mengguncang Seluruh Pulau
862
Bab 862: Pahlawan Sejati
863
Bab 863: Satu-satunya Kesempatan
864
Bab 864: Kekuatan Mutlak
865
Bab 865: Mata Ganti Mata
866
Bab 866: Amukan yang Tak Terduga
867
Bab 867: Tamu Aneh dari Langit
868
Bab 868: Persiapan di Balik Layar
869
Bab 869: Sang Kaisar Turun Tangan
870
Bab 870: Mencari Bala Bantuan
871
Bab 871: Sahabat Lama dari Laut Utara
872
Bab 872: Tidak Ada yang Bisa Diandalkan
873
Bab 873: Sang Guru
874
Bab 874: Nasihat Sang Kepiting Tua
875
Bab 875: Tiga Tamu Tak Terduga
876
Bab 876: Ancaman yang Tersembunyi
877
Bab 877: Aksi Panik Penuh Perhitungan
878
Bab 878: Manuver yang Tak Terduga dari Tuan Lin
879
Bab 879: Kepiting Tua yang Jenius
880
Bab 880: Kambing Hitam yang Sempurna
881
Bab 881: Sumpah Kesetiaan yang Praktis
882
Bab 882: Jangan Remehkan Orang Tua
883
Bab 883: Siapa yang Berani
884
Bab 884: Ternyata Badut Itu Adalah Aku Sendiri
885
Bab 885: Memohon di Bawah Cahaya Bulan
886
Bab 886: Barisan Megah yang Berujung Sujud
887
Bab 887: Karma Datang Tepat Waktu
888
Bab 888: Bayangan Iblis di Kamar Sang Santa
889
Bab 889: Kematian yang Menyisakan Peringatan
890
Bab 890: Buruan Ras Iblis
891
Bab 891: Umpan yang Terlalu Percaya Diri
892
Bab 892: Sosok Apa Sebenarnya Dirimu
893
Bab 893: Kota Berbahaya di Malam Hari
894
Bab 894: Pria yang Tidak Tahu Takut
895
Bab 895: Repot-Repot Khawatir untuk Apa
896
Bab 896: Jangan Sekali-Kali Memancing Kawanan Anjing
897
Bab 897: Bencana Datang Menerjang
898
Bab 898: Apakah Ini Masih Bisa Disebut Manusiawi?
899
Bab 899: Urusan yang Tidak Bisa Ditunda
900
Bab 900: Gebrakan yang Menggetarkan Kota Huangshuig
901
Bab 901: Menuju Negeri Para Dewa yang Jatuh
902
Bab 902: Bertemu Musuh Lama di Kapal
903
Bab 903: Turun dari Kapal, Cari Mati Lagi
904
Bab 904: Badai Hukuman Surgawi
905
Bab 905: Kembali dengan Gemilang
906
Bab 906: Hidup yang Membosankan di Tengah Ancaman Palsu
907
Bab 907: Sosok yang Tak Boleh Diusik
908
Bab 908: Rencana Licik yang Berantakan
909
Bab 909: Sambutan Tak Terduga
910
Bab 910: Terjun ke Neraka
911
Bab 911: Sesama Penderita di Ujung Dunia
912
Bab 912: Penjahat yang Terlalu Banyak Gaya
913
Bab 913: Keadaan Telah Berbalik
914
Bab 914: Tambang Rahasia yang Diincar
915
Bab 915: Salah Paham Seharga Miliaran
916
Bab 916: Bonus Layanan Purna Jual
917
Bab 917: Sahabat Sejiwa di Meja Anggur
918
Bab 918: Rahasia Sang Penguasa Laut
919
Bab 919: Cangkang Kura-Kura sebagai Tanda Persahabatan
920
Bab 920: Sombongnya Tuan Muda dari Istana Yunshen
921
Bab 921: Kau Boleh Mulai Duluan
922
Bab 922: Serangan yang Sia-Sia
923
Bab 923: Seberapa Kuat Ayahmu?
924
Bab 924: Upah Setimpal untuk Tuan Muda
925
Bab 925: Badai yang Datang Tiba-Tiba
926
Bab 926: Petunjuk yang Menyelamatkan
927
Bab 927: Turun Tangan Sendiri
928
Bab 928: Amukan Tetua Liu
929
Bab 929: Satu Tebasan Membungkam Langit
930
Bab 930: Bertarung Sampai Titik Darah Penghabisan
931
Bab 931: Bertarung Sampai Titik Darah Penghabisan
932
Bab 932: Kekuatan Mutlak Melampaui Segalanya
933
Bab 933: Anak Muda yang Tak Kenal Takut
934
Bab 934: Ternyata Junior yang Ditakuti Itu Adalah Dirinya Sendiri
935
Bab 935: Niat Pedang yang Mengguncang Alam Kehancuran Setengah Langkah
936
Bab 936: Rencana Balas Dendam Sang Ayah
937
Bab 937: Perangkap di Gurun Tandus
938
Bab 938: Rencana yang Berantakan
939
Bab 939: Kepercayaan Diri yang Runtuh
940
Bab 940: Sekutu dari Klan Laut
941
Bab 941: Sekutu Rahasia dari Klan Laut
942
Bab 942: Wajah yang Dikenali
943
Bab 943: Ketakutan yang Terungkap
944
Bab 944: Rencana yang Berbalik Arah
945
Bab 945: Umpan yang Dilepaskan
946
Bab 946: Kedatangan yang Mengejutkan
947
Bab 947: Ternyata Cuma Pertunjukan
948
Bab 948: Istana yang Kosong
949
Bab 949: Penguasa Bintang Tak Berdaya
950
Bab 950: Kesombongan yang Runtuh
951
Bab 951: Warisan Tak Diminta
952
Bab 952: Mantan Penguasa Bintang Jadi Kuli Bangunan
953
Bab 953: Utusan Bintang Zi Salah Pilih Lawan
954
Bab 954: Ternyata Cuma Masalah Kecil
955
Bab 955: Pengakuan Dosa Sang Dewa Pedang
956
Bab 956: Salah Duga, Malah Dipuji
957
Bab 957: Badai yang Datang Tiba-Tiba
958
Bab 958: Rencana Cari Mati yang Selalu Gagal
959
Bab 959: Cuma Segitu Kemampuanmu?
960
Bab 960: Salah Dengar, Yang Patah Justru An Shixuan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!