NovelToon NovelToon
Mantan Komandan Muda

Mantan Komandan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Penyelamat / Fantasi
Popularitas:666
Nilai: 5
Nama Author: Kanji Wara

Bima mengira ia bisa mengubur masa lalunya yang kelam di Desa . Mantan komandan regu pasukan khusus ini memilih hidup bersahaja sebagai petani jagung dan pemancing di tepi sungai demi melarikan diri dari trauma perang. Namun, kedamaian yang ia bangun susah payah runtuh setiap kali ia teringat pada Joni, sahabat sekaligus anak buahnya yang gugur dalam pelukan Bima akibat terjangan peluru senapan mesin musuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

sebuah petunjuk

"Segala niat baik serta ketulusan dari Ibu dan juga Mia tentu saya terima dengan senang hati di dalam dada," ujar Bima dengan nada suara baritonnya yang sangat tenang dan berwibawa. Kalimatnya mengalir perlahan, mencoba meredakan riak ketegangan yang sempat menyelimuti ruang tamu mewah bernuansa emas tersebut. "Namun, untuk hadiah-hadiah berharga ini, alangkah baiknya jika silakan Ibu dan Mia simpan saja kembali dengan aman."

Mendengar penolakan yang begitu lugas dan tegas untuk kedua kalinya, Mia langsung memajukan posisi tubuhnya ke depan dengan gurat wajah yang tampak cemberut. "Mana bisa urusannya diselesaikan begitu saja, Kak Bima!" protes Mia dengan suara merdunya yang kini terdengar agak kesal sekaligus gemas karena hadiahnya diabaikan. "Kalau bukan karena keberanian besar dari Kakak yang nekat menerobos kobaran api maut kemarin, aku sangat yakin hari ini kami berdua tidak akan bisa duduk berkumpul lagi dengan damai di sini. Nyawaku yang sekarang ini ada semata-mata karena pertolongan Kakak!"

Bima hanya menunjukkan senyum tipis di bibirnya, sementara sorot matanya tetap memancarkan kerendahan hati yang mendalam, sebuah ciri khas yang melekat kuat pada diri seorang mantan prajurit pasukan khusus. "Mia, semua peristiwa yang terjadi kemarin itu murni karena keberuntunganmu yang besar hari itu. Tuhan masih menghendaki agar kamu selamat. Saya pribadi cuma kebetulan sedang berada di lokasi sana dan digerakkan untuk menjadi perantara saja," jawab Bima dengan untaian kalimat yang sangat bijak.

Tanpa ada keinginan sedikit pun untuk memperpanjang jalannya perdebatan soal pemberian hadiah, Bima mengalihkan fokusnya dan merogoh saku dalam celana jins levis yang dikenakannya. Dia mengeluarkan sebuah ponsel jadul miliknya yang sudah tampak usang, lalu menekan salah satu tombol fisik berbahan karet untuk menyalakan layar kecil yang bahkan belum memiliki tampilan berwarna itu. Sepasang matanya melirik tajam ke arah deretan angka digital yang tertera di sudut layar. Waktu ternyata sudah berjalan cepat menunjukkan lewat pukul tiga sore.

Bima pun langsung merapikan posisi duduknya dan bersiap untuk bangkit berdiri dari sofa beludru. "Sepertinya waktu sudah semakin larut, saya harus pamit untuk pulang dulu, Bu, Mia. Sudah sore. Mungkin di lain kesempatan kali kita bisa mengatur waktu untuk bertemu lagi," kata Bima berpamitan dengan sikap sopan santai yang sangat terjaga.

"Lho, Nak Bima, kenapa terburu-buru? Menginap di sini saja dulu malam ini," cegah Ibu Sanjaya dengan gerakan cepat, raut wajah paruh bayanya tampak jelas belum rela melepaskan kepergian sang penyelamat nyawa anaknya begitu saja. "Rumah atau mansion ini sangat luas, kamarnya banyak yang kosong, dan di bangunan sebesar ini cuma kami berdua saja yang tinggal sehari-hari."

Mendengar ucapan polos tersebut, dahi Bima sedikit mengernyit heran. Dia merasa agak aneh dengan kondisi internal keluarga di rumah sebesar stadion ini. "Bapak ke mana, Bu? Kalau boleh tahu," tanya Bima kemudian, sekadar melontarkan kalimat basa-basi untuk mencairkan suasana, sekaligus didorong oleh rasa penasaran mendalam yang sebenarnya sudah terpendam di kepalanya sejak kemarin.

Ibu Sanjaya seketika menghela napas panjang yang terasa sangat berat, guratan kabut kesedihan mendadak muncul dan tercetak jelas di wajah paruh bayanya saat beliau mulai membuka memori lama untuk bercerita. "Dulu... Ibu dan suaminya Ibu memutuskan untuk bercerai, Nak Bima. Setelah putusan sidang itu keluar, hak asuh kakaknya Mia yang laki-laki diputuskan oleh pengadilan untuk ikut bersama bapaknya pindah ke wilayah Utara."

Bima seketika terdiam seribu bahasa, mendengarkan setiap bait kata dengan fokus penuh yang terkunci. Informasi tak terduga ini mendadak membuat ritme detak jantung di dalam dadanya berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya.

"Namun, baru sebulan setelah kami resmi bercerai, bapaknya Mia mendadak dikabarkan meninggal dunia karena serangan sakit," lanjut si ibu dengan nada suara yang mulai terdengar serak menahan gejolak haru yang mendalam. "Dan sejak momen memilukan saat itu, kami berdua kehilangan kontak sepenuhnya dengan kakaknya Mia yang kala itu usianya masih sangat muda. Jujur saja, kami sudah bertahun-tahun lamanya mencari keberadaannya ke berbagai penjuru kota, mengeluarkan banyak tenaga dan biaya yang tidak sedikit, namun tak pernah berhasil menemukan satu pun petunjuk konkret tentang di mana keberadaannya sekarang."

Deg!

Kata-kata mengenai 'kakak laki-laki yang hilang' serta petunjuk lokasi 'wilayah Utara' seketika berputar hebat bagaikan badai di dalam kepala Bima. Lembaran memorinya langsung melompat jauh pada selembar foto usang berdebu milik mendiang Joni dan sebuah cap stempel studio foto tua di Kota Barat yang selama ini menjadi misteri terbesar dalam misi pencariannya. Garis merah takdir yang selama ini dia cari ke sana kemari seolah-olah baru saja ditarik paksa oleh alam semesta tepat di depan matanya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!