Bagi Kirana, kesetiaan dalam pernikahan adalah impian mutlak. Namun, kebahagiaan yang ia bangun bertahun-tahun runtuh seketika saat sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa suaminya, Rendra. Di saat yang sama, rahasia besar terungkap, Rendra meninggal bersama istri keduanya, meninggalkan seorang putri berusia dua tahun bernama Aura.
Melalui pesan terakhirnya, Rendra memohon agar Kirana sudi mengasuh Aura sebagai anak sendiri. Kirana hancur dan berada di persimpangan jalan yang menyiksa batin. Di satu sisi, ia sangat terluka oleh pengkhianatan suaminya. Di sisi lain, ia sudah memiliki seorang putri kandung berusia empat tahun yang harus ia jaga perasaannya dari kehadiran anak madunya tersebut.
Kini, di bawah satu atap, Kirana harus berjuang menekan rasa sakit hati demi membesarkan dua anak perempuan yang hanya terpaut usia dua tahun tersebut.
Mampukah Kirana berdamai dengan masa lalu dan bersikap adil, ataukah kehadiran Aura justru menjadi luka abadi yang terus mengingatkann
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 3- Berujung petaka
Suasana di dalam area taman hiburan perlahan mulai menyepi dari gelak tawa, berganti dengan keheningan yang menyesakkan di antara Rendra dan Ayu. Kebenaran yang selama ini tersimpan rapat akhirnya membentur dinding realita secara menghantam.
Ayu menatap Rendra dengan pandangan tegas namun sarat akan rasa bersalah. Ia memegang kedua lengan suaminya dan memaksa pria itu untuk menatap matanya.
"Aku pikir masalah ini bukan untuk ditunda berlama-lama, Mas," tegas Ayu. "Kita harus segera temui Mbak Kirana dan jelaskan semuanya. Makin lama Mas menundanya, makin dalam luka yang Mas goreskan di hati Mbak Kirana dan Keisya."
Rendra mengusap wajahnya yang kaku secara kasar. Rasa takut akan kehilangan Kirana berbenturan keras dengan rasa tanggung jawabnya pada Ayu. Namun, menatap keputusasaan di mata kedua istrinya, Rendra akhirnya mengangguk dengan pelan.
"Baik..." bisik Rendra pasrah. "Kita ke rumah sekarang."
Berkat bujukan dan nasihat Ayu, Rendra akhirnya melangkah menuju parkiran. Ia menggandeng jemari kecil Aura, sementara Ayu berjalan di sampingnya dengan dada yang berdegup kencang.
Brooommm!!
Mesin mobil meraung pelan saat keluar dari area parkir taman hiburan.
Di sepanjang perjalanan, kabin mobil terasa begitu hening. Ayu duduk di samping kursi kemudi sambil memeluk Aura yang mulai tertidur pulas karena kelelahan, sementara Rendra menyetir dengan pikiran yang berkecamuk hebat.
Bagaimana perasaan Kirana saat ini? Apa yang sedang dilakukan Keisya?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus menari-nari menembus kesadarannya. Bayangan wajah Kirana yang sembap, tatapan matanya yang dingin dan penuh kegetiran tadi di taman hiburan, terus membayangi pelupuk mata Rendra.
Bagaimana aku harus menghadapi mereka di rumah nanti? Dan... bagaimana jika Kirana tidak bisa memaafkanku? Bagaimana jika dia menuntut cerai, atau memintaku memutus hubungan dan berpisah dari Ayu?
Isi kepala Rendra bagai benang kusut yang tak terurai. Ketakutan, rasa bersalah, dan kepanikan berbaur menjadi satu, hingga membuat tumpuan kakinya pada pedal gas sesekali tak beraturan.
Pandangannya ke arah jalanan mulai kabur oleh bayangan-bayangan buruk yang ia ciptakan sendiri.
"Mas... Mas Rendra?" panggil Ayu cemas, saat menyadari laju mobil yang mulai tak stabil dan melenceng dari jalurnya. "Mas, pelankan jalannya. Mas fokus, ya..."
"Aku... aku bingung, Ayu. Aku tidak tau harus bicara apa pada Kirana," gumam Rendra dengan tatapan kosong menatap trek lurus di hadapannya.
"Mas, awas!" jerit Ayu tiba-tiba dengan suara yang melengking.
Rendra terperanjat kaget. Fokusnya buyar seketika. Di depan mereka, sebuah truk besar mendadak melintas memotong jalur dari arah berlawanan di tikungan tajam jalan perbukitan.
Dalam keadaan panik yang luar biasa, Rendra membanting stir secara mendadak ke arah kiri untuk menghindari tabrakan.
Sayangnya, kecepatan mobil terlalu tinggi. Ban mobil berdecit keras mencengkram aspal hingga kehilangan kendali penuh, dan oleng menghantam besi pembatas jalan dengan hantaman yang amat dahsyat!
BRAAAGGGHHH!
Suara benturan logam yang remuk bergema memecah sunyinya jalanan. Besi pembatas jalan tak sanggup menahan bobot kendaraan yang melaju dengan kencang.
Dalam hitungan detik, mobil hitam itu berguling beberapa kali menuruni jurang terjal di tepi jalan, meninggalkan keheningan yang mencekam bersama kepulan asap tipis di udara.
Tak lama,
Kepulan asap tebal keluar dari kap mobil yang hancur tak berbentuk di dasar jurang. Suara hening hutan perbukitan seketika pecah oleh bunyi sirine, keriuhan, dan riak langkah kaki warga sekitar yang berlarian menuruni tebing terjal untuk memberikan pertolongan.
"Cepat! Ada mobil jatuh ke jurang! Panggil ambulans dan polisi!" teriakan beberapa warga saling bersahutan di hari yang semakin sore.
Di dalam kabin mobil yang remuk terbalik, kondisi Rendra sangat kritis. Kepalanya terkulai di atas airbag yang pecah dengan darah segar yang terus mengalir membasahi wajah dan kemeja putihnya. Napasnya tersendat-sendat, amat lemah dan menyakitkan.
Sedangkan di sebelahnya, Ayu tergeletak tak bergerak. Hantaman keras pada bagian samping mobil membuat napasnya terhenti seketika. Ayu meninggal dunia di tempat kejadian, masih dengan sisa air mata yang mengering di sudut matanya.
Namun, di tengah keheningan maut itu, sebuah isak tangis kecil dan cadel terdengar menyeruak dari sela-sela kursi belakang yang hancur.
"Hawaa... Hawaa... Ibu... bangun... Hawaa..."
Aura, bocah kecil yang baru berusia dua tahun itu, secara ajaib selamat karena terlindung oleh lipatan kursi.
Dengan tubuh kecilnya yang gemetar dan pipi yang belepotan noda hitam serta sisa air mata, ia merangkak keluar dari sela-sela reruntuhan.
Bocah polos yang belum mengerti arti kematian itu duduk di samping jasad ibunya. Tangannya yang mungil mengguncang-guncang pelan lengan Ayu yang sudah dingin dan terkulai kaku.
"Ibu... gendong... Hwaaa... Ibu, Aura mau gendong..." tangis Aura makin pecah.
Ia menarik-narik ujung gaun Ayu, lalu menyandarkan kepalanya yang kecil di atas dada sang ibu yang tak lagi berdetak, seolah menunggu dengan setia agar ibunya mau terbangun dan memeluknya seperti biasa.
"Ya Tuhan! Ada anak kecil di dalam!" seru seorang warga yang berhasil menerobos masuk ke dalam bangku belakang melalui kaca pintu yang hancur.
Pria setengah baya itu merengkuh tubuh Aura dengan hati-hati. Aura menjerit dan meronta-ronta kecil, seraya matanya terus menatap ke arah jasad Ayu. "Ndak mau! Ndak mau! Mau sama Ibu... Ibuuu!"
"Sabar ya, Nak, sabar..." ucap warga itu dengan mata yang berkaca-kaca, karena merasa sangat iba menyaksikan kepolosan anak kecil yang tak tau bahwa ibunya telah pergi untuk selamanya.
Di sisi lain, beberapa warga berusaha keras mengeluarkan Rendra dari impitan kemudi.
Saat tubuhnya berhasil ditarik keluar dan dibaringkan di atas tandu darurat, kesadaran Rendra yang hampir padam mendadak terbuka sedikit. Matanya yang membengkak memandang samar-samar ke arah langit sore.
Di antara dentang nafasnya yang berat dan serak, bibir Rendra yang pecah bergerak-gerak lirih menuturkan satu nama.
"Ki... Kirana..." gumam Rendra sangat pelan, dan hampir tak terdengar di tengah kebisingan. "M-maaf... kan... aku..."
Petugas medis yang baru tiba langsung memasangkan masker oksigen dan melarikan Rendra serta Aura ke rumah sakit terdekat dengan raungan sirine ambulans yang membelah jalanan, meninggalkan lokasi kecelakaan yang menjadi saksi bisu hancurnya sebuah rahasia.
_______
___________
Gimana guys... suka nggak sama alur ceritanya sejauh ini? 😭💥
Boleh dong bisikin kesan-kesan kalian di kolom komentar! Menurut kalian, apa yang bakal Kirana lakukan setelah kecelakaan tragis ini? Apakah kalian tim yang kasihan sama Kirana, atau makin geregetan sama Rendra?
Kalo kalian suka dan penasaran sama kelanjutan nasib mereka, jangan lupa untuk tetap setia baca cerita ini sampai bab terakhir, ya! Janji, bakal ada banyak adegan yang makin seru dan menyentuh hati di bab-bab berikutnya.
Dukungan kalian (like, subscribe, comment, & share) adalah energi terbesarku! Happy reading! 📖💖
Bersambung...
Enak banget si Hendra sama si ayu
Yg gk sala Karina nanggung sesak seumur hidup
Tapi emang lukanya belum sembuh...🤗