Nexus Academy bukan sekolah biasa. Hanya 1% siswa terbaik yang berhasil diterima setiap tahun. Dari lebih dari 120.000 pendaftar, hanya 600 siswa yang lolos melewati serangkaian tes yang hampir mustahil: tes logika ekstrem, simulasi kepemimpinan, wawancara psikologi, ujian ketahanan mental, hingga permainan strategi yang membuat ribuan peserta menyerah sebelum mencapai gerbang sekolah.
Mereka yang diterima disebut sebagai Elite One.
Namun tidak semua yang masuk mampu bertahan.
Setiap semester, siswa dengan nilai, etika, atau mental terburuk akan dikeluarkan tanpa kesempatan kedua. Di sekolah ini, tidak ada teman yang benar-benar bisa dipercaya. Tidak ada kemenangan tanpa pengorbanan dan tidak semua siswa jenius adalah orang baik. Sebuah rahasia yang membuat beberapa alumni menghilang tanpa jejak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Kirana yang Selalu Tersenyum
Lantai 1 Gedung Kompetisi menyambut para peserta dengan arsitektur yang sepenuhnya berbeda. Tidak ada lagi meja-meja melingkar atau bilik kaca kedap suara. Ruangan ini berbentuk amfiteater semi-gelap dengan deretan kursi tribun berundak yang mengitari sebuah area datar luas di tengahnya. Di atas area tersebut, puluhan proyektor inframerah menggantung, siap memproyeksikan simulasi taktis babak berikutnya.
Sambil menunggu instruksi dari Profesor Adrian, sebagian besar peserta memilih berkerumun dalam kelompok-kelompok kecil, mencoba meredakan ketegangan dari babak sebelumnya. Di tengah salah satu kerumunan faksi elite, Kirana Safira berdiri dengan keanggunan yang alami.
Senyum lembutnya yang khas tidak pernah lepas dari wajahnya yang rupawan, memancarkan aura ketenangan yang membuat siapa pun di dekatnya merasa nyaman. Ia dengan sabar mendengarkan keluh kesah dua peserta perempuan di sebelahnya yang masih gemetar setelah melihat eliminasi instan akibat ketidakstabilan emosi tadi.
"Tenanglah, semuanya pasti ada jalan keluar," kata Kirana, suaranya terdengar sehalus sutra, sembari mengusap pelan bahu salah satu peserta. "Nexus hanya ingin menguji fokus kita. Selama kita tetap tenang bersama, kita pasti bisa melewatinya."
"Kamu benar, Kirana. Beruntung sekali kami satu faksi denganmu," jawab salah satu dari mereka, tampak sangat terbantu oleh sandaran emosional yang diberikan Kirana.
Namun, di balik sepasang mata indahnya yang tampak penuh empati, isi kepala Kirana bekerja seperti mesin pemindai yang dingin dan tanpa ampun.
Tangan kanannya yang tersembunyi di dalam saku almamaternya sedang menggerakkan sebuah pena digital mini, mengetuk-ngetuk sandaran kursi dengan pola kode tertentu yang terhubung langsung ke memori lokal anting-anting pintar yang ia kenakan.
Setiap kali ia tersenyum atau mengangguk mendengarkan ucapan seseorang, Kirana sebenarnya sedang menyusun katalog data mentah mengenai kelebihan dan kelemahan fatal dari setiap peserta di sekitarnya.
Subjek 142 (Dimas): Memiliki intuisi taktis yang cukup baik, namun memiliki kompleksitas rendah diri yang masif terkait pencapaian keluarganya. Celah emosional: Sangat mudah dipatahkan jika diekspos pada kegagalan komparatif.
Subjek 520 (Nabila): Kemampuan analisis data biologis tingkat tinggi, namun ketahanan fisik berada di bawah standar minimum. Celah emosional: Tekanan fisik berlebih akan memicu serangan panik dan sinkop instan.
Subjek 089 (Raka): Manipulator verbal yang agresif. Menggunakan intimidasi untuk mendominasi kelompok. Kelemahan: Terlalu bergantung pada respons ketakutan lawan; akan kehilangan kendali argumen jika dihadapkan pada subjek yang kebal terhadap tekanan emosional.
Bagi Kirana, senyuman adalah topeng paling efisien di dunia. Di tempat sekejam Nexus Academy, menunjukkan permusuhan secara terbuka seperti yang dilakukan Raka adalah strategi yang primitif dan tidak elegan. Permusuhan memicu kewaspadaan, sedangkan keramahan memicu kelengahan. Dengan menjadi sosok yang paling ramah dan penuh empati, semua orang secara sukarela menyerahkan rahasia dan kelemahan mereka kepadanya tanpa perlu dipaksa.
Kirana memiliki filosofi yang sangat kokoh di kepalanya: Nexus Academy adalah ekosistem puncak. Dan di dalam ekosistem puncak, hanya mereka yang paling kuat, paling adaptif, dan paling tidak memiliki celah yang pantas untuk bertahan hidup dan memimpin. Membiarkan orang-orang lemah lolos hanya akan merusak kemurnian dari Top 1% yang dicari oleh Veritas Lux Fortuna.
Tatapan lembut Kirana perlahan bergeser, melewati kerumunan faksi elite, dan terkunci pada bangku tribun paling atas yang terisolasi. Di sana, Atharva duduk sendirian dengan pandangan lurus ke bawah, sementara Keisya berdiri beberapa meter di dekatnya dengan wajah sedingin salju.
Subjek 002 (Keisya): Logika analitis yang tajam, didorong oleh dendam pribadi masa lalu. Kelemahan: Keterikatan emosional pada sejarah keluarganya bisa dieksploitasi untuk memicu kemarahan impulsif.
Dan akhirnya, matanya tertuju pada Atharva.
Subjek 001 (Atharva): Anomali terbesar. Detasemen emosional mutlak. Tidak merespons stimulasi trauma, tidak terpengaruh oleh bias angka, tidak membangun aliansi. Celah emosional: Belum ditemukan.
Kirana menarik napas dalam-dalam, senyum di wajahnya mengembang semakin manis, bahkan terlihat sangat tulus bagi siapa pun yang melihatnya dari luar. Namun, di dalam hatinya, sebuah antisipasi yang dingin mulai membakar semangatnya.
"Subjek tanpa celah," bisik Kirana dalam hati, jemarinya mengunci pena digitalnya di dalam saku. "Aku sangat ingin melihat, di bagian mana dinding batumu akan retak saat simulasi eliminasi akhir ini mempertemukan kita secara langsung, Atharva."
...****************...
Kirana memalingkan wajahnya kembali ke arah dua peserta perempuan di sampingnya, mengubah fokus pandangannya menjadi kilauan penuh kehangatan dalam sekejap. "Bagaimana kalau setelah ini kita bertukar catatan tentang metode kalkulasi tanggul tadi? Aku merasa ada beberapa poin dari timku yang bisa kita diskusikan untuk mengantisipasi skenario berikutnya."
"Oh, tentu saja, Kirana! Itu akan sangat membantu kami," jawab salah satu peserta dengan mata berbinar, merasa mendapat angin segar di tengah badai seleksi yang mencekam ini. Mereka tidak menyadari bahwa dengan membagikan catatan tersebut, mereka baru saja memberikan cetak biru cara berpikir mereka langsung ke dalam genggaman Kirana.
Di tribun atas, Atharva tidak melewatkan sedikit pun pergerakan Kirana di bawah sana. Meskipun ia tidak bisa mendengar apa yang diucapkan gadis itu, pergerakan mikrososial di sekitar Kirana memberikan pola yang sangat jelas bagi mata analitis Atharva.
"Gadis itu berbahaya," suara Keisya terdengar pelan, memecah keheningan di antara mereka. Matanya yang tajam juga sedang mengunci sosok Kirana yang masih dikelilingi faksi elite. "Dia tipe orang yang akan memelukmu erat sebelum menancapkan pisau dari belakang. Di angkatan kami dulu saat olimpiade, semua orang mengaguminya karena dia selalu bersikap seperti pelindung bagi mereka yang kalah."
"Dia bukan pelindung," sahut Atharva tanpa mengalihkan pandangannya. "Dia adalah kolektor data. Dia mengumpulkan kelemahan orang lain untuk memastikan posisinya sendiri tidak tersentuh."
Keisya melirik Atharva sekilas. "Kamu tahu dari mana?"
"Dari caranya mendengarkan," jawab Atharva datar. "Orang yang tulus mendengarkan akan menunjukkan sinkronisasi mikro-ekspresi pada wajah mereka. Tapi Kirana... senyumnya terlalu statis. Sudut bibirnya terangkat dalam derajat yang sama persis sejak sepuluh menit yang lalu. Itu bukan empati. Itu adalah protokol yang diprogram secara sadar."
Keisya tertegun sejenak mendengarkan analisis presisi dari Atharva. Kesadaran baru menghantamnya bahwa di dalam amfiteater ini, tidak ada satu pun orang yang bisa diremehkan. Raka Elang menyerang dengan kapak verbal yang kasar, sementara Kirana Safira menyusup menggunakan jarum beracun yang tidak terasa sakit sampai korbannya tersungkur.
BZZZZ—
Pencahayaan kuning peringatan di dalam amfiteater mendadak padam sepenuhnya, menyisakan kegelapan total selama tiga detik sebelum lingkaran lampu sorot putih raksasa menyala di tengah area datar.
Profesor Adrian melangkah masuk ke dalam lingkaran cahaya tersebut, ditemani oleh tiga asisten senior yang membawa sebuah kotak logam hitam berlogo. Di dalam ruangan langsung mendingin secara drastis, memaksa seluruh bisikan dan obrolan kelompok di tribun berhenti seketika.
"Waktu observasi mandiri selesai," suara Profesor Adrian menggema berat melalui sistem audio spasial, membuat setiap kata yang diucapkannya terasa bergetar di dada para peserta. "Kalian telah melihat angka-angka kalian. Beberapa dari kalian memilih protes dan hancur, beberapa memilih bersekutu dalam ketakutan, dan beberapa memilih mengamati secara diam-diam."
Mata Profesor Adrian menyapu barisan tribun berundak, melewati Raka, Kirana, Keisya, dan akhirnya berhenti sejenak pada Atharva.
"Tahap Akhir dari Fase Penyaringan: Simulasi Teori Permainan Eliminasi Biner," lanjut Profesor Adrian sembari mengetuk permukaan kotak logam di depannya. Seketika, puluhan proyektor inframerah di langit-langit menembakkan cahaya merah ke bawah, membentuk dinding-dinding partisi digital yang memisahkan area tribun menjadi zona-zona isolasi mandiri.
"Di babak ini, topeng yang kalian gunakan tidak akan lagi berguna. Kita akan melihat, siapa yang benar-benar kuat untuk melangkah ke satu persen teratas, dan siapa yang hanya menjadi batu loncatan bagi para penguasa sejati Nexus Academy."