NovelToon NovelToon
Istri Pengganti Yang Terluka

Istri Pengganti Yang Terluka

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Balas Dendam
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Dua jam sebelum akad, Devon tiba-tiba dijebak masuk penjara. Demi harga diri keluarga, Liam terpaksa turun tangan menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Mira Hazelya.

​Namun, malam pertama yang seharusnya indah justru berubah menjadi neraka. Liam murka saat mendapati fakta bahwa istri barunya ternyata sudah tidak lagi perawan!

​"Kau memanfaatkanku?! Kau menjebakku untuk menjadi penanggung jawab dosa orang lain?!" bentak Liam penuh amarah, siap melayangkan talak.

​Tepat sebelum Liam melangkah pergi, sebuah rahasia besar terbongkar. Noda di tubuh Mira bukan karena ia wanita murahan, melainkan bukti pengorbanan berdarah demi menyelamatkan keluarga Liam dari kehancuran.

​Saat rasa benci dalam semalam berubah menjadi rasa bersalah yang mencekik dada, sanggupkah Liam menyembuhkan luka di hati Mira? Sementara di kampus, mereka harus bersandiwara seolah tidak saling kenal!

Kita Simak Yuk Kisah Selanjutnya Di Novel => Istri Pengganti Yang Terluka.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Pendar fajar pertama menembus celah gorden sutra kelabu yang menjuntai tinggi di kamar penthouse suite Hotel Grand Luminary. Cahaya keemasan yang samar perlahan mengusir kepekatan malam, menyinari kelopak-kelopak mawar merah yang kini tampak layu dan berserakan di atas lantai marmer.

Suasana kamar yang semula mencekam dan pekat oleh amarah, kini bergeser menjadi keheningan yang dingin, sunyi, dan penuh dengan kecanggungan yang menyesakkan dada.

Liam Oliver masih terduduk di sofa kulit hitam di ujung ruangan. Sepanjang sisa malam tadi, ia sama sekali tidak memejamkan mata. Sepasang mata elangnya yang biasa berkilat tajam kini tampak meredup, dikelilingi bayang-bayang gelap akibat hantaman rasa bersalah yang terus menguliti sanubarinya tanpa ampun.

Kemeja hitamnya sudah ia kancingkan kembali dengan rapi, namun garis rahangnya yang tegas tetap mengatup rapat, menyembunyikan badai batin yang belum juga reda.

Setiap kali Liam mengalihkan pandangannya ke arah ranjang king-size, dadanya berdenyut sangat sakit.

Di atas ranjang itu, Mira Hazelya tampak tertidur karena kelelahan fisik dan mental yang luar biasa. Wanita itu tidur menyamping, meringkuk kecil seolah-olah berusaha melindungi dirinya sendiri di dalam mimpi.

Di balik cahaya pagi yang kian terang, wajah porselen Mira yang polos tanpa cadar terlihat begitu rapuh. Ada sisa jejak air mata yang mengering di pipinya, dan bibir merah mudanya sesekali bergetar kecil, pertanda bahwa ketakutan itu bahkan mengejarnya hingga ke alam bawah sadar.

Liam mengepalkan kedua tangan kekarnya di atas lutut. Di dalam keheningan pagi itu, sebuah ikrar suci yang jauh lebih sakral daripada kalimat qobul-nya semalam mendadak tertanam kuat di lubuk hatinya.

"Aku bersumpah demi harga diri dan nyawaku sendiri... aku akan menjagamu, Mira. Aku akan menebus setiap inci luka yang digoreskan oleh mulut bajinganku, dan setiap tetes darah yang kau tumpahkan demi keluargaku. Mulai detik ini, tidak akan ada satu pun orang yang bisa menyakitimu lagi selama aku masih bernapas," batin Liam, tatapan matanya mendadak berubah menjadi sangat intens, dingin, namun dipenuhi oleh tekad protektif yang mutlak. Aura ketegasan seorang pria sejati kembali terpancar dari tubuh tegapnya.

Sreeek...

Suara gesekan seprai yang halus memecah keheningan. Mira perlahan membuka sepasang mata bulatnya yang indah. Begitu kesadarannya pulih, hal pertama yang ia lakukan adalah meraba wajahnya dengan panik.

Ketika ia menyadari kain cadarnya tidak lagi terpasang, tubuhnya seketika menegang hebat. Ia langsung menarik selimut tebal hingga sebatas hidung, menatap Liam yang duduk di kejauhan dengan sorot mata yang sarat akan kewaspadaan dan ketakutan yang mendalam.

Melihat reaksi trauma tersebut, Liam buru-buru menurunkan pandangannya ke lantai agar Mira tidak merasa terintimidasi oleh tatapannya. Ia menghela napas panjang yang terasa sangat berat melalui hidung, mencoba menekan seluruh ego prianya sedalam mungkin.

"Mira..." suara bariton Liam memecah kesunyian pagi, terdengar begitu rendah, berat, dan sangat lembut, sebuah perubahan nada suara yang membuat Mira sempat tertegun sesaat di balik selimutnya.

Liam bangkit berdiri dengan gerakan yang sengaja diperlambat. Postur tubuhnya yang tinggi besar menjulang di bawah sorot cahaya fajar, memancarkan pesona maskulin yang luar biasa, namun kali ini ia menjaga jarak aman.

Ia berjalan menuju meja marmer, mengambil selembar kain sifon putih, cadar Mira yang baru dan bersih, yang telah disiapkan oleh pelayan hotel sejak subuh tadi atas perintah rahasianya.

Liam melangkah mendekati tepi ranjang, lalu meletakkan kain cadar itu di atas kasur, tepat di jangkauan tangan Mira.

"Pasanglah jika itu membuatmu merasa aman," ujar Liam pelan, memberikan ruang privasi bagi istrinya. Ia membalikkan badannya membelakangi ranjang, memberikan waktu bagi Mira untuk merapikan penampilannya tanpa harus merasa terancam.

Mendengar ketulusan di balik nada suara Liam, jemari gemetar Mira perlahan bergerak meraih kain sifon tersebut.

Dengan gerakan cepat namun senyap, ia mengikatkan tali cadar itu di belakang kepalanya, menyembunyikan kembali wajah cantiknya di balik benteng pertahanan terakhirnya. Setelah kain itu terpasang sempurna, Mira menghela napas lega yang samar, walau tubuhnya masih tetap meringkuk kaku.

"Sudah?" tanya Liam setelah beberapa saat keheningan berlalu.

Mira tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya memberikan anggukan kecil yang nyaris tidak kentara dari balik selimut.

Liam membalikkan tubuhnya kembali. Ia menatap lurus ke arah sepasang mata bulat Mira yang kini terbingkai oleh kain putih tipis. Dengan gestur yang sangat berwibawa, Liam memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana panjang hitamnya, lalu menarik napas dalam-dalam sebelum mengajukan sebuah kesepakatan yang akan mengubah hidup mereka beberapa bulan ke depan.

"Kita perlu bicara soal kelanjutan hubungan ini, Mira," kata Liam, nada suaranya kembali berubah menjadi sangat datar, dingin, dan tegas khas seorang pembuat keputusan, namun tidak lagi mengandung kebencian sepeser pun.

"Aku tahu, kalimat talak yang kuucapkan dalam kemarahan semalam telah menghancurkan pernikahan ini sebelum sempat dimulai. Tapi setelah mengetahui kebenaran dari Papa... aku sadar bahwa pernikahan ini bukan sekadar soal ego pribadiku atau egomu. Ini soal keselamatanmu dari musuh-musuh bisnis keluarga Oliver yang masih mengincarmu di luar sana."

Liam melangkah satu langkah lebih dekat, tatapan mata elangnya mengunci lurus netra sayu Mira dengan intensitas yang sanggup membuat jantung wanita mana pun berhenti berdetak.

"Jadi, aku ingin mengajukan sebuah kesepakatan tertulis di antara kita. Pernikahan ini akan tetap berjalan di mata dunia dan keluarga besar kita. Kita akan memulai sebuah sandiwara sebagai sepasang suami istri yang sah selama tepat Satu Semester selama masa kuliahku berjalan hingga ujian akhir nanti," lanjut Liam, setiap kata yang keluar dari bibirnya terdengar begitu mutlak dan penuh perhitungan.

"Selama satu semester ini, kita akan tinggal bersama di rumah utama keluarga Oliver. Di depan Papa, di depan media, dan di depan siapa pun yang mencoba mengusik hidupmu, aku bersumpah akan menjadi tameng hidupmu. Aku tidak akan membiarkan seujung jaripun dari orang luar menyentuh atau merendahkanmu. Kau akan mendapatkan perlindungan penuh di bawah nama besarku."

Liam menjeda kalimatnya sejenak, memperhatikan respons Mira. Wanita di hadapannya itu tampak terpaku, sepasang mata bulatnya membelalak kecil menatap wajah tampan Liam yang memancarkan keseriusan tanpa celah.

"Dan sebagai gantinya," suara Liam mendadak melunak, berbisik rendah penuh dengan rasa penyesalan yang kembali merayapi hatinya, "aku berjanji... aku tidak akan pernah menuntut hakku sebagai suami. Aku tidak akan menyentuhmu secara fisik, dan aku tidak akan memaksamu untuk berbicara jika kau belum siap. Di dalam rumah itu nanti, kita hanyalah dua orang asing yang terikat kontrak demi sebuah keselamatan. Dan setelah satu semester berlalu, saat kondisi kesehatan Papa sudah benar-benar pulih dan situasimu sudah aman, aku sendiri yang akan mengantarkanmu kembali ke keluargamu dengan terhormat, lalu kita bisa berpisah secara baik-baik."

Kesepakatan itu terucap dengan begitu lugas dan transparan. Di bawah guyuran cahaya fajar yang kian benderang, Liam Oliver resmi menawarkan sebuah sangkar emas yang baru bagi Mira, sebuah sangkar yang kali ini tidak dirancang untuk menyiksanya, melainkan untuk melindunginya dari kebiadaban dunia luar.

Mira terdiam di balik cadarnya. Pikirannya bergejolak hebat. Ia menatap telapak tangan Liam yang kini terulur di depannya, menanti sebuah persetujuan tanpa paksaan. Di dalam hati kecilnya yang terdalam, ada rasa canggung dan ragu yang luar biasa besar.

Bagaimana mungkin ia bisa hidup satu atap dengan pria berdarah dingin yang sempat membentaknya begitu kejam semalam? Namun di sisi lain, sorot mata Liam pagi ini memancarkan sebuah kejujuran dan rasa bersalah yang teramat pekat, sebuah jaminan keamanan yang saat ini sangat dibutuhkan oleh jiwanya yang rapuh.

Dengan gerakan yang sangat lambat dan ragu-ragu, Mira perlahan mengeluarkan tangan kanannya yang mungil dari balik selimut. Tanpa menyentuh kulit tangan Liam secara langsung, Mira menganggukkan kepalanya dengan tegas, memberikan tanda bahwa ia menerima kesepakatan satu semester tersebut.

Liam menarik kembali tangannya, seulas senyum tipis yang nyaris tak terlihat terukir di sudut bibirnya yang tegas. Sandiwara terbesar dalam hidup seorang Liam Oliver telah resmi dimulai pagi ini.

Sebuah pernikahan kontrak satu semester yang ia rintis sebagai bentuk penebusan dosa, tanpa ia sadari bahwa di dalam rentang waktu enam bulan ke depan, benteng es di hatinya justru akan runtuh sepenuhnya oleh keanggunan sang martir bercadar di hadapannya.

...----------------...

To Be Continue ....

1
Eva Karmita
cemburu tanda cinta ...❤️
marah tandanya sayang 🤗
Arkan kamu sudah lupa dengan perjanjian itu 🤸🏼‍♀️😅
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
makanya jangan so nolak kamu Arkan jadi pusing sendiri kan 😤🤣🤣🤣
Eva Karmita
seriyus mau nanya apa nama pu nya di ganti ...??
padahal bagus Liam
Eva Karmita
kenapa namanya di ganti otor yg tadinya Liam kenapa berubah jadi Arkana. 🤔🤔🤔
Riana Utami
puasssss
makanya jangan sok berkuasa 🫤🫤
Lovita BM
kq jd Arkan Oliver namanya, bukanya Liam Oliver ????
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Lovita BM
luar biasa
Lovita BM
👍👍👍👍👍💪
Eva Karmita
kita lihat apakah liam mampu merebut hati Mira
Eva Karmita
ya Allah kasihan Mira jadi korban penculikan dan pemerkosaan 🥺
Eva Karmita
percuma menjelaskan Mira lebih baik kamu diam ... biarkan waktu yang berbicara
Eva Karmita
Liam edan main talak" aja ...awas aja nanti kamu menyesal 🥺
Dibalik Senja
Lebih baik diem mira biarkan liam dngn asumsinya krn wlupun kau membela diri dia tdk akan percaya ...talak sdh diucapkan dan mira pasti akan pergi liam tnpa dimintapun
Dibalik Senja
Tdak apa2 dicerai sdh bkn jdohnya jngn dtangisi lebih baik begitu dr pd setiap hari disiksa dan direndahkan....CEO gemblung mainya kekerasan tnpa tau permasalahan merasa pnya dinasti diluar angkasa sungguh awak gemess
N Wage
apa maksud dr paragraf "Di sana,di atas seprai putih bersih yang tertutup beberapa kelopak mawar,tidak ada tanda2 kesucian yang biasanya dst..."

emangnya seperti apa?
N Wage
bukan altar KK...meja akad😊
Lovita BM
👍👍👍💪💪
Enny Suhartini
hadir kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!