Dia datang bukan untuk merebut kembali masa lalunya.
Dia datang untuk menghancurkan mereka yang mencurinya.
Tujuh tahun lalu, ia kehilangan segalanya dalam satu malam. Nama baiknya dihancurkan, keluarganya meninggalkannya, wanita yang dicintainya bersaksi melawannya, dan dunia percaya ia telah mati.
Namun, kematian itu hanyalah awal.
Kini ia kembali dengan identitas baru—lebih kaya, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Di balik senyum tenangnya, tersimpan rencana yang telah disusun selama tujuh tahun. Satu per satu orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar harga yang tak pernah mereka bayangkan.
Tetapi semakin dekat pada balas dendam, semakin banyak rahasia yang terbongkar.
Bagaimana jika orang yang selama ini ia benci hanyalah pion?
Bagaimana jika dalang sebenarnya masih hidup... dan telah mengawasi setiap langkahnya sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 : Kesaksian Sasha
#
Ruang sidang praperadilan itu penuh sesak, bahkan lorong di luar juga penuh, orang orang berdiri berjejer cuma buat ngintip lewat kaca kecil di pintu, dan Damar duduk di kursi terdakwa dengan tangan diborgol lagi, badannya udah kurus banget sekarang, kemejanya yang dipinjemin dari petugas kelonggaran di mana mana.
Dia nggak nyangka bakal seramai ini. Dia kira sidang praperadilan kayak gini biasanya cuma dihadirin sama pihak pihak yang berkepentingan doang, tapi ternyata ini udah jadi tontonan nasional, ada layar di luar gedung yang nyiarin langsung, ada orang orang yang bawa spanduk "ADIL UNTUK KORBAN LEDAKAN" berdiri di depan gerbang pengadilan, dan Damar ngerti, dia ngerti banget kenapa mereka marah, tapi dia juga pengen banget teriak, saya juga korban, saya juga kehilangan, tapi suaranya nggak akan pernah kedengeran di tengah kerumunan sebesar itu.
Terus, nama itu dipanggil. "Saksi, Sasha Anindya, dipersilakan maju."
Damar noleh, dan jantungnya berenti sepersekian detik ngeliat Sasha jalan masuk ke ruang sidang. Dia keliatan kurus juga, matanya sembab, dan dia pake baju yang paling sederhana yang Damar pernah liat dia pake, biasanya Sasha selalu perhatiin penampilan sampe detail detail kecil, tapi hari itu dia kayak orang yang emang sengaja bikin dirinya sekecil mungkin, sesederhana mungkin.
Sebelum dia duduk di kursi saksi, Damar liat, sekilas doang, tapi dia liat, Sasha nggosok gosok pergelangan tangan kirinya, dan di situ ada bekas merah, kayak bekas cengkeraman, kayak ada yang megang erat banget sampe ninggalin tanda. Damar mikir, siapa yang megang tangan dia sampe segitu, dan kenapa dia keliatan takut banget sampe tangannya sendiri digosok gosok kayak gitu, kayak lagi coba ilangin rasa sakit yang masih nempel.
Dan sebelum duduk, Sasha noleh ke pintu belakang ruang sidang, cuma sekilas, tapi Damar yang emang lagi merhatiin dia dari tadi, nangkep arah pandangan itu. Ada seorang pria berdiri di situ, deket pintu, pake jas item, wajahnya nggak keliatan jelas soalnya agak kegelapan, tapi posisi berdirinya itu yang bikin Damar merinding, kayak orang yang lagi ngawasin, bukan lagi nonton biasa.
"Nona Sasha," jaksa mulai, "bisa ceritakan kepada majelis, apa yang Anda ketahui tentang kondisi keuangan Damar Aditya Wijaya menjelang peresmian pabrik?"
Sasha diem sebentar, matanya nggak natap Damar sama sekali, malah natap ke depan, ke arah jaksa, kayak dia udah latihan buat nggak liat ke arah Damar soalnya kalo dia liat, dia bakal ambruk.
"Damar... dia sering keliatan stress," Sasha mulai, suaranya pelan tapi kedengeran jelas di ruangan yang sunyi itu, "dia pernah cerita ke saya, soal biaya produksi yang bengkak, dan dia... dia bilang dia pengen nyari cara buat nutupin itu tanpa ketauan direksi."
Damar melotot. Itu... itu obrolan yang sama persis yang dia curhatin ke Broto. Gimana caranya Sasha bisa tau soal itu, kecuali...
"Selain itu," Sasha lanjut, dan Damar liat tangannya gemeteran di bawah meja, "dia juga pernah nanya ke saya, soal, eh, prosedur asuransi pabrik. Katanya penasaran aja."
Bohong. Itu bohong. Damar nggak pernah nanya apapun soal asuransi ke Sasha, mereka bahkan jarang ngobrolin kerjaan pas lagi berdua, biasanya mereka ngobrolin rencana pernikahan, ngobrolin liburan yang mereka rencanain, hal hal kecil dan bego dan manis yang sekarang berasa kayak mimpi dari kehidupan orang lain.
"Sasha," Damar teriak, nggak bisa nahan lagi, berdiri dari kursinya sampe pengacaranya kaget nariknya duduk lagi, "itu bohong! Kamu tau itu bohong! Kenapa kamu ngomong kayak gitu?!"
Hakim langsung ketok palu, "terdakwa harap tenang!"
Sasha, buat pertama kalinya sejak dia masuk ruangan itu, akhirnya noleh ke arah Damar. Dan di matanya, Damar liat sesuatu yang bikin dia berenti napas. Bukan kebencian. Bukan kepuasan orang yang berhasil ngejatuhin mantan tunangannya. Yang Damar liat itu... permintaan maaf. Permintaan maaf yang paling dalem dan paling nyesek yang pernah dia liat di mata siapapun, dan air mata mulai netes di pipi Sasha, meski dia nggak berenti ngomong, meski suaranya masih lanjut jawab pertanyaan jaksa berikutnya dengan detail detail yang makin nyudutin Damar makin dalem.
Damar ngerasa, di detik itu, ada dua hal yang keliatan jelas banget di depan matanya. Yang pertama, Sasha lagi berbohong. Yang kedua, Sasha lagi ketakutan setengah mati, dan entah kenapa, dua hal itu, digabungin jadi satu, malah bikin hati Damar makin ancur daripada kalo Sasha emang beneran benci sama dia.
Sidang berlangsung sekitar dua jam lagi, dan setiap kalimat yang keluar dari mulut Sasha, makin nambahin beban di pundak Damar, sampe di akhir sidang, hakim ngasih putusan sementara bahwa penahanan Damar tetep dilanjutin, alasan alasannya udah cukup buat lanjut ke tahap penyidikan yang lebih dalem.
Damar digiring keluar lagi, dan sebelum dia bener bener keluar dari ruang sidang, dia noleh sekali lagi ke arah pintu belakang, ke tempat pria berjas item itu tadi berdiri.
Orangnya udah nggak ada.
Damar merhatiin sekeliling, coba nyari, tapi orang itu udah ilang, kayak nggak pernah ada, dan cuma Damar sendiri yang inget wajahnya, yang meski samar samar, entah kenapa berasa familiar banget.
Dia mikir mikir sepanjang jalan digiring balik ke sel, mikirin, di mana dia pernah liat postur berdiri kayak gitu, gaya jalan kayak gitu, dan tiba tiba dia inget.
Gedung kantor Hartono Group. Lantai dua puluh dua. Beberapa bulan sebelum ledakan itu terjadi, waktu Damar lagi jalan ke ruangan Wisnu buat rapat rutin, dia pernah liat pria itu, atau pria yang mirip banget sama itu, berdiri di depan lift, ngobrol pelan sama seseorang di telefon, dan waktu itu Damar cuma ngelewatin doang tanpa mikir apa apa, soalnya emang banyak orang asing yang keluar masuk kantor itu buat urusan bisnis.
Tapi sekarang, ngeliat orang yang sama berdiri di ruang sidang, ngawasin Sasha yang lagi bersaksi bohong buat nyudutin dia, Damar ngerasa ada benang merah yang mulai keliatan, samar samar, tapi ada.
Siapa orang itu. Dan kenapa dia ada di dua tempat yang, di mata Damar, seharusnya sama sekali nggak berhubungan.