Mengisahkan Perjalanan kisah cinta Adel Emanuella Sanjaya anak tunggal dari pasangan suami istri bapak Max Sanjaya dan ibu Jenny Andreas. Kisah ini berawal ketika Adel berkenalan dengan seorang polisi yang identitasnya sengaja di rahasiakan karena tugas negaranya. Di pertemukan lagi ketika Adel sudah menjadi seorang dokter. Saat itu Adel Emanuella Sanjaya baru tahu bahwa Karel Imanuel Barnabas seorang perwira Kepolisian berpangkat Iptu. Apakah cinta mereka bisa bertahan menembus segala cobaan dengan profesi Karel yang adalah seorang intel??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Keluarga Karel
Waktu mengetahui Karel mengalami kecelakaan dan akan dibawa ke rumah sakit. Orangtua Karel juga sudah menuju ke sana. Dan ternyata aksi Adel menolong anak mereka di lihat oleh orangtuanya. Bahkan Kaleb kakaknya membantu mendorong bangkar itu sampai depan pintu ruang operasi.
Operasi yang dilakukan oleh Karel dan tim juga melibatkan tentara makanya Mayor Kaleb Imanuel Barnabas ada di lokasi dan dia juga yang menemani adiknya. Jadi gestur tubuh dokter Adel waktu melihat dan menolong Karel terlihat jelas oleh Kaleb kakaknya.
Karel sudah sadar, sekarang dokter Wibowo sedang memeriksa kesehatannya. Orangtua dan kakaknya Kaleb sangat lega, semua organ vital bagian dalam tubuh Karel semua sudah berfungsi dengan baik.
"Dok, boleh tanya dokter yang tadi melakukan aksi pertolongan pertama saat masih di luar sampai ruang operasi dimana??"
"Oooo dokter Adel. Dia yang akan memberikan obat yang akan diberikan kepada Karel. Mungkin lima menit lagi dia kesini."
"dokter Adel tahu saya begini??"
"Dia yang menghentikan pendarahan."
Adel sudah mandi bersih dan sudah selesai menyiapkan obat yang diperlukan oleh Karel.
"Dokter Adel, mari Komandan Karel sudah sadar."
Adel mulai memeriksa Karel kekasihnya ini. Arman melihat jelas interaksi dua sejoli ini. Kerja harus fokus, meskipun itu yang sakit kekasih. Arman tersenyum.
"Dokter Adel yang akan merawat Komandan Karel. Saya permisi."
"Terima kasih dokter."
Terlihat oleh Kaleb bagaimana tatapan Karel pada dokter itu. Tangan Karel berusaha memegang tanganya, namun dokternya berhasil menghindar dari tangan Karel. Semakin curiga Kaleb kakaknya Karel.
"Bagaimana kondisi adik saya dokter??"
"Semua organ vitalnya sudah berfungsi baik."
"Karena ada lima luka tembak maka saya akan memberi obat injeksi lewat infus. Ada obat nyeri, antibiotik dan juga vitamin untuk menyembuhkan luka dari dalam."
"Tetapi dokter adik saya takut sama jarum suntik."
"Tidak dokter jangan percaya kakak saya. Saya berani. Apalagi dokter sendiri yang menyuntiknya."
Adel tahu betul bahwa Karel memang takut sama jarum suntik. Karena setiap di suntik. Pasti dia berteriak. Karena janji yang tidak di tepati oleh Karel untuk menjaga dirinya, maka terlintas niat jail dari Adel di kepalanya.
"Permisi komandan Karel, ini untuk kesembuhan komandan." Karel yang tahu niat jahat Adel. Meminta Adel sedikit menundukan kepalanya. Dan bagai terhipnotis, Adel menuruti keinginan Karel. Maka satu kecupan mesra mendarat di bibir Adel.
"Lakukan dengan cinta sayang. Karena memang pacarmu ini takut di suntik."
Muka Adel sudah memerah. Orangtua Karel kaget, terlebih Kaleb.
"Karel kenapa kamu begitu."
"Ini pacar Karel ma, pa. Dokter Adel Emanuella Sanjaya."
Semua kaget diruangan ini, kecuali ners Arman yang sudah mengetahui hubungan dokter dan komandan ini.
"Benar firasatku. Soalnya dokter ini menangis waktu melihat pasiennya adalah Karel. Jangan terlalu kecintaan dokter sama playboy kakap ini??"
"Sayang jangan dengar kakakku, ayo suntik dengan lembut sayang."
Adel pun memasukan obat injeksi melalui jarum infus. Karena Adel tidak ada pasien di polinya maka saat ini dia sedang berada di tengah - tengah kelaurga Barnabas.
"Dokter Adel kenal Karel dimana??"
"Di rumah sakit ini tante. Waktu saya masih praktek kerja lapangan. Tujuh tahun yang lalu."
"Papa pilihan Karel cantik kan."
Akhirnya papanya tahu alasan Karel tidak mau di jodohkan dengan anak petinggi kepolisian. Karena sudah ada dokter manis ini. Banyak hal yang dibicarakan sampai orangtua Karel tahu, bahwa Adel adalah nona Jawa Ambon, lahir dan besar di Bali. Adel sudah pamit untuk kembali bekerja.
Istri Kaleb sudah ada di rumah sakit juga. Semua orang tidak tahu bahwa Jesika Putri seorang penyiar televisi adalah perempuan yang Karel naksir, namun diam - diam, karena dia tahu bahwa Kaleb kakaknya jatuh cinta kepada Jesika ini. Mereka sudah menikah tahun lalu, waktu Karel ada di Australia menjalankan tugasnya. Jesika tahu perasaan itu, tetapi dia lebih memilih Kaleb kakaknya Karel. Padahal mereka sudah sering kali jalan bareng.
"Bagaimana kabarnya Jagoan keluarga Barnabas??"
"Baik, kakak ipar."
"Kamu bawa apa sayang buat adik iparmu."
"Hanya bawa kue dan buah."
"Ini kue belum boleh makan tanyakan dulu kepada dokter cintanya."
"Dokter Cinta???"
"Iya Karel punya pacar dokter di rumah sakit ini."
"Dokter Evelin??"
"Bukan dokter Adel Emanuella Sanjaya spesialis bedah saraf dan pembulu."
"Ngak lebih tua umurnya dari Karel??"
"Iya ya. Karel???"
"Mau dia lebih tua atau lebih muda dari saya. Ngak peduli."
"Karel???"
Ners Dita datang untuk mengecek kondisi Karel sebelum mereka pulang.
"Kenapa bukan Adel??"
"Dokter Adel ada di IGD komandan ada pasien."
"Saya mau Adel yang suntik."
"Sabar ya, saya hubungi dokter."
"Dita kamu tahukan dokter Adel itu kelahiran tanggal berapa??"
"Dua puluh sembilan mei tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan. Nanti bisa lihat di name cardnya."
"Mau dua puluh tujuh tahun bulan mei ini. Masih sangat muda sudah dokter spesialis."
"Selamat sore."
"Mari dokter Adel, bayinya ngak mau orang lain yang suntik maunya ayangnya saja." Adel malu, namun dia terhibur, mendengar candaan papanya Karel.
"Permisi."
"Cantik banget."
"Iya sayang, tetapi kamu cantik juga." Kaleb memuji istrinya sendiri juga setelah dia memuji kecantikan Adel.
"Terima kasih sayangku."
"Pelan - pelan sayang, sampai sakit aku akan balas. Ku suntik balik dirimu." Muka Adel sudah memerah. Berada di tengah - tengah keluarganya Karel.
"Aku tinggal ya."
"Malam ini kamu temani aku ya."
"Mas.....aku malu."
"Aku ngak akan mau di suntik kalau bukan kamu."
" Tolong tante ya, Karel ini anak tante yang paling rewel. Ada tante dan om juga kakak dan istrinya disini."
Adel sedang berada di ruang operasi, ada pasien laka lantas yang harus dia tolong. Selesai menyelamatkan pasien, Adel langsung mandi. Untung di lokernya ada beberapa baju. Karel sudah menghubunginya lewat handphone.
Adel sudah berada di ruangan Karel dia yang menyuapi Karel. Kemudian menyuntikan obat.
"Bobo disini saja sayang."
"Eh... bukan suami istri." Jesika membantah permintaan adik iparnya.
"Sayang aku malu. Aku tidur di ruanganku saja."
"Adel aku mau kamu disini."
Tenaga Karel memang kuat walaupun ada lima luka tembak. Namun dia bisa mengangkat tubuh Adel, sehingga tiba di atas tempat tidur.
"Bobo sini."
"Tante mohon maaf."
"Tante yang mohon maaf, atas sikap Karel."
"Ma, pa. tidur."
"Boy, kamu memang papa sekali."
"Maksudnya??"
"Mama juga dulu dibuat sama seperti ini, waktu pacaran dan papa sakit."
Adel sudah berada dalam pelukan Karel, dengan tangan yang infusnya dia membelai perempuan yang sudah mencuri hatinya.
"Maaf ya sayang, sudah buat kamu kuatir."
"Mas, jangan terulang lagi ya. Aku bisa jantungan."
"Terima kasih karena sudah menolongku, walaupun selesai operasi kamu menangis kencang. Aku janji akan menjaga diriku baik - baik."
"Janji ya mas."
"Iya sayang."
Karel memberi ciuman di kening kekasihnya. Kemudian Adel tertidur dalam pelukan Karel. Pembicaraan Karel dan Adel di dengar oleh mama dan papanya.
"Bobo boy, jangan kecewai Adel. Kamu harus sehat."
"Iya pa."
Kondisi Karel waktu dibawa ke rumah sakit, secara kesat mata pasti tidak tertolong. Namun Tuhan menolongnya lewat tangan ajaib seorang dokter bedah saraf dan pembulu, yang adalah pacarnya.