NovelToon NovelToon
Maaf.. Kukira Ini Taksi

Maaf.. Kukira Ini Taksi

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: arrasy

Di tengah guyuran hujan deras yang membasahi jalanan Jakarta, Rima masuk ke mobil mewah yang baru saja ia buka dengan tergesa-gesa. Wajahnya memancarkan kaget luar biasa. Mata terbelalak lebar, mulut terbuka melongo. Saat baru menyadari bahwa ia salah masuk kendaraan, bukan taksi yang sudah dipesannya. Pantulan di kaca spion memperlihatkan Andre yang duduk di kursi pengemudi dengan wajah dingin kaku, tatapan tajam tanpa senyum, seolah tak percaya ada kejadian seaneh ini. Butiran air menetes di kaca jendela dan bodi mobil hitam mengkilap, memperkuat suasana yang canggung sekaligus kocak di pertemuan pertama mereka. Kontras jelas antara ekspresi Rima yang panik lucu dan sikap Andre yang tenang kaku langsung menyiratkan kisah pertemuan tak terduga yang penuh kekacauan manis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Dino yang Memberi Peringatan

Ruangan arsip yang hening kini kembali dipenuhi suara gesekan kertas dan gumaman pelan Rima. Ia sudah duduk di sana sejak jam dua siang, tumpukan berkas di depannya belum berkurang banyak. Sinar matahari sore menembus jendela kecil di bagian atas, menerangi debu-debu halus yang melayang di udara.

Rima menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan, lalu membetulkan posisi duduknya yang mulai pegal. Ia memandang tumpukan dokumen yang harus diperiksa ulang satu per satu, lalu menghela napas panjang.

"Satu, dua, tiga..." hitungnya pelan sambil membalik lembaran. "Lima belas halaman... ya, benar. Tapi kenapa rasanya makin lama makin banyak saja ya? Kayaknya dokumen ini biang kerok semua berantakan di kantor deh."

Ia baru saja selesai memasukkan satu map ke dalam kotak saat terdengar suara ketukan pelan di pintu. Rima menoleh dan melihat Dino berdiri di ambang pintu sambil membawa dua gelas teh hangat.

"Selamat sore, Mbak Rima. Masih sibuk ya?" tanyanya ramah sambil melangkah masuk.

Rima buru-buru berdiri tegak. "Eh Pak Dino! Sore Pak. Iya nih, masih ada sisa sedikit lagi. Maaf ya Pak, merepotkan gara-gara kesalahan saya tadi."

"Santai saja, namanya juga belajar," Dino meletakkan gelas teh di meja kerja Rima. "Ini diminum dulu ya, biar nggak lemas. Saya kebetulan lewat, sekalian mau kasih sedikit pesan buat kamu."

Rima duduk kembali dengan sopan, tangannya memegang gelas hangat itu. "Pesan apa Pak? Apakah Pak Andre marah lagi?"

"Bukan marah, tapi beliau memang punya kebiasaan yang harus kamu tahu," Dino menarik kursi kosong dan duduk di hadapannya dengan sikap santai tapi serius. "Saya sudah bekerja sama dengan Pak Andre hampir tiga tahun, jadi saya cukup paham apa yang beliau suka dan tidak suka."

Ia menatap Rima dengan tatapan mengingatkan. "Pak Andre itu orang yang sangat teratur, perfeksionis, dan sama sekali tidak suka kekacauan, baik itu kekacauan berkas, kekacauan waktu, maupun kekacauan pembicaraan. Kalau nanti kamu dipanggil beliau atau harus melapor sesuatu, bicaralah langsung ke inti saja. Jangan bertele-tele, jangan cerita hal yang tidak perlu, dan jangan menambahkan alasan yang panjang lebar."

Rima mengangguk antusias, tapi matanya berbinar seolah baru saja menemukan topik menarik. "Oh begitu ya Pak? Jadi beliau nggak suka ya kalau suatu masalah di perinci? Padahal tadi saya cuma mau jelasin kalau gambar kucing itu maksudnya biar semangat hitung angka loh Pak! Soalnya saya kalau lihat deretan angka yang banyak dan kaku, kadang jadi capek sendiri. Terus saya ingat kucing itu fokus kalau menjaga incarannya, jadi saya pikir... , lucu saja kalau digambarkan jadi penjaga dokumen."

Dino menahan tawa, bibirnya tertekan rapat menahan senyum melebar.

"Terus selain itu," lanjut Rima tanpa sadar makin bersemangat, "saya memang suka banget gambar kucing sejak kecil Pak. Dulu waktu saya masih SD, rumah saya dekat tempat penampungan kucing liar, hampir setiap sore saya main ke sana. Rasanya kucing itu tenang, nggak banyak omong, tapi selalu tahu apa yang harus dilakukan. Beda sama saya yang mulutnya lari duluan sebelum otak mikir. Makanya kalau saya lagi bingung atau capek kerja, saya suka gambar kucing biar hati saya tenang lagi. Kadang saya kasih mereka ekspresi lucu, kayak kucing yang lagi kaget, kucing yang lagi ngomel, atau kucing yang lagi pura-pura galak padahal hatinya lembut..."

Rima baru berhenti bicara saat melihat Dino menepuk pelan bahunya sambil tertawa kecil.

"Waduh Mbak Rima... baru saya bilang jangan bertele-tele, kok malah cerita panjang lebar soal kucing?" canda Dino.

Wajah Rima seketika memerah padam. Ia menutup mulutnya dengan tangan. "Waduh! Maaf Pak! Mulutku ini emang suka nggak bisa diajak kompromi. Sekali mulai ngomong, susah berhentinya."

"Iya saya tahu, itu bukan hal buruk kok," Dino tersenyum ramah, lalu kembali menatapnya dengan serius. "Cuma satu hal penting yang harus kamu ingat baik-baik. Jaga jarak dengan Pak Andre. Beliau adalah pimpinan tertinggi di sini, kamu adalah anak magang. Jarak jabatan itu harus dijaga, jangan sampai kamu terlalu bebas bicara seperti sama teman sendiri."

Ia menunjuk tumpukan berkas di meja. "Pak Andre menghargai kerja keras dan ketelitian. Kalau kamu ingin beliau melihat kamu sebagai pekerja yang andal, tunjukkan lewat pekerjaanmu yang rapi dan laporan yang singkat padat jelas. Kalau bicara soal kucing atau hal pribadi lain, simpan dulu di waktu istirahat atau saat ngobrol sama temanmu ya."

Rima mengangguk kencang, matanya berbinar penuh pengertian. "Siap Pak Dino! Saya paham banget maksud Bapak. Saya janji bakal berusaha mengontrol omongan saya kalau sedang berhadapan sama Pak Andre. Saya nggak mau dianggap anak yang nggak tahu sopan santun cuma gara-gara kebanyakan ngomong."

"Bagus kalau begitu," Dino berdiri dan merapikan setelannya. "Semangat ya menyelesaikan arsipnya. Kalau sudah selesai, kamu bisa lapor ke saya, nanti saya bantu periksa sebentar sebelum dikirim ke Pak Andre."

"Terima kasih banyak ya Pak! Bapak baik banget," ucap Rima tulus.

"Sama-sama. Saya pamit dulu ya, masih ada laporan yang harus saya siapkan," Dino melambaikan tangan lalu berjalan keluar ruangan.

Setelah pintu tertutup, Rima kembali menatap tumpukan berkas di depannya. Ia mengambil satu lembar kertas kosong, menulis pesan singkat di atasnya lalu menempelkannya di pinggir meja:

"Ingat: Fokus, Rapi, Jangan Banyak Omong!"

Ia tersenyum melihat tulisannya sendiri, lalu mulai bekerja kembali dengan lebih hati-hati. Sesekali ia berhenti sejenak, menahan napas saat rasanya ingin berbicara sendiri, lalu menggelengkan kepala pelan.

"Oke Pak Andre, Pak Dino... saya buktikan saya bisa berubah," bisiknya pelan. "Nggak ada lagi gambar kucing di laporan, nggak ada lagi cerita panjang lebar tanpa perlu. Pokoknya saya jadi anak magang paling sopan dan teliti!"

Di lantai atas, Dino baru saja masuk ke ruangan Andre. Andre sedang menandatangani berkas, namun menyadari langkah asistennya yang terlihat menahan tawa.

"Ada apa?" tanyanya singkat tanpa menoleh.

"Tadi saya ketemu Mbak Rima di ruang arsip Pak," jawab Dino sambil tersenyum. "Saya sudah kasih peringatan supaya beliau bicaranya singkat dan menjaga batasan jabatan. Eh, baru selesai saya bilang, dia malah cerita panjang lebar soal alasan kenapa suka menggambar kucing. Mulai dari masa kecil sampai sifat kucing yang tenang."

Andre berhenti menulis sejenak, ujung bibirnya bergerak sedikit membentuk senyum tipis yang tak disadari.

"Benar-benar unik," gumamnya pelan. "Tapi setidaknya dia mau mendengar nasihat. Biarkan saja, asal pekerjaannya benar."

"Siap Pak," Dino mengangguk. "Beliau terlihat sangat berusaha keras mengubah kebiasaan cerobohnya Pak. Semoga saja berhasil."

Andre kembali menunduk ke berkasnya, namun pikirannya sejenak melayang pada gadis ceroboh yang selalu punya alasan lucu di balik setiap kesalahannya.

"Semoga saja," ucapnya pelan.

1
partini
jaraknya kaya Cilacap Jogyakarta naik bus efisiensi atau purwokerto Jogya
❥␠⃝ ͭ🍁Hes'💋𝗔𝗿𝗿𝗮𝘀𝘆🍁
betul ka. mau hujan deres kek.. bomat😄
🌺⃟ SasMaya
Oohh... ternyata emng Rima-nya yang mau anter hujan-hujanan... 🙄
🌺⃟ SasMaya
jangan sebel-sebel sama Rima pak Andre nanti ketulah jadi bucin 😆
🌺⃟ SasMaya
Andre ini tipe-tipe yang ga mau ribet dan bomat sama urusan orang lain 🫠
Mingyu gf😘
aduhh si bapak galak banget
❥␠⃝ ͭ🍁Hes'💋𝗔𝗿𝗿𝗮𝘀𝘆🍁: galak dan kesel dikira supir taksi😄
total 1 replies
Mingyu gf😘
sibuk banget ngurusin perut orang lain di saat kamu aja sedang terjebak masalah
Tulisan__mawar
Heh nota utang🥲
ini namanya waktu kecil lihat orang tua kita suka bon di warung sekarang kita sudah dewasa bisa bon warung sendiri🤣🙏
Alia Chans
Dan ke salah pahaman di mulai dari sini😌
kenzi moretti
bisa-bisanya rim salah masuk mobil/Facepalm/
kenzi moretti
wuihh/Blush//Sly/
THE GIRL COOL😑
😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
RahmaYesi
Rima Rima, kamu itu menggemaskan bingittt zih dg segala gedebag gedebug hidup mu
arsyila putri
lucu banget ceritanya, bikin penasaran part selanjutnya. 😍😍
mama Al
aduh salah alamat
arsyila putri
makin malu🤣🤣
arsyila putri
wih malu pasti, mana aku pernah lagi🤣🤣
Nyai Aksara 👩‍🦯
Dasar ceroboh, udah lihat Andre juga masih aja ngomong santai
RahmaYesi
Syukurlah
Mutia Kim🍑
Kok tiba-tiba mau di ganti mobilnya🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!