NovelToon NovelToon
Bad Boy X Good Girl (Musuh Jadi Cinta)

Bad Boy X Good Girl (Musuh Jadi Cinta)

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Scrpn

Bagi Aura, mahasiswa tingkat akhir penerima beasiswa penuh, hidup ini sederhana: belajar keras, lulus cepat, dan dapat kerja bagus demi menyembuhkan ibunya yang sakit. Dunia Aura diatur oleh jadwal kuliah yang ketat dan nilai IPK yang sempurna. Ia menjauhi segala bentuk masalah, termasuk Devan, mahasiswa jurusan hukum yang terkenal arogan, kerap bolos, dan selalu dikelilingi aura berbahaya. Devan adalah definisi nyata dari bad boy kampus yang harus dihindari.

Permusuhan mereka dimulai dari hal sepele—rebutan buku referensi langka di perpustakaan dan insiden kopi tumpah yang membuat Devan bersumpah akan membuat hidup Aura di kampus seperti neraka. Aura menganggap Devan tak lebih dari berandalan kaya yang manja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Suara pecahan kaca dari lantai bawah terdengar berdentum, disusul rentetan tembakan yang membuat jantung Aura serasa melompat keluar dari rongga dadanya. Bau mesiu samar mulai tercium, mengalahkan aroma debu ruangan. Seluruh tubuh Aura mendadak kaku, namun tarikan kuat pada pergelangan tangannya memaksa kakinya untuk terus bergerak.

Devan menariknya melewati lorong-lorong sempit di bagian belakang gedung kantor. Langkah cowok itu cepat namun terukur, sama sekali tidak memperlihatkan kepanikan. Di depan mereka, Kenzo bergerak memimpin dengan sebuah senjata api tergenggam di tangannya, matanya awas menyapu setiap sudut remang-remang, sementara Bram menjaga barisan belakang.

"Ken, jalur lift barang masih aman?" tanya Devan tanpa menghentikan langkah.

"Akses utama diputus dari luar oleh orang-orang Gavin, tapi jalur manual lift logistik di sayap barat masih bisa dipakai," jawab Kenzo cepat sambil membuka sebuah pintu besi berat yang menuju ke koridor luar.

Hujan deras langsung menghantam wajah Aura saat mereka keluar ke selasar terbuka yang menghubungkan gedung kantor dengan kompleks gudang penampungan kargo. Angin malam Distrik Utara yang dingin menusuk hingga ke tulang, membuat Aura menggigil hebat. Kardigan rajutnya basah dalam sekejap. Namun, telapak tangan Devan yang menggenggamnya justru terasa sangat panas, menjadi satu-satunya jangkar waras Aura di tengah situasi yang gila ini.

"Dev! Dua orang di tangga darurat bawah!" seru Bram dari belakang.

Dor! Dor!

Aura spontan berteriak kecil dan menutup telinganya saat suara tembakan balasan menggema di selasar besi. Devan dengan cepat menarik tubuh Aura ke balik dadanya, memosisikan dirinya sebagai tameng hidup antara Aura dan arah datangnya peluru.

"Jangan lihat bawah, Aura! Tatap gue!" perintah Devan setengah membentak, mencoba mengalahkan suara gemuruh petir dan tembakan.

Aura mendongak dengan wajah pias dan rambut yang lepek karena air hujan. Sepasang mata elang Devan menatapnya begitu dekat—sangat intens, gelap, namun memancarkan keyakinan mutlak bahwa mereka akan selamat. Rasa takut yang tadinya melumpuhkan Aura perlahan terkikis oleh dominasi tatapan itu. Aura mengangguk kuat-kuat.

"Bram, tahan mereka! Kenzo, buka pintunya!" teriak Devan lagi.

Kenzo menghantam slot kunci manual di pintu besi sayap barat, dan dengan satu sentakan keras, pintu itu terbuka, memperlihatkan sebuah ruangan besar yang dipenuhi kontainer-kontainer raksasa setinggi tiga meter. Ini adalah gudang penyimpanan utama Pelabuhan Utara. Di dalam sini, suasana jauh lebih gelap, hanya diterangi oleh lampu indikator darurat berwarna merah yang berkedip-kedip ritmis, menciptakan atmosfer yang mencekam.

Mereka berempat menyelinap masuk, dan Bram segera mengunci kembali pintu besi tersebut dari dalam menggunakan balok kayu besar.

"Kita punya waktu lima menit sebelum mereka mendobrak pintu ini," kata Bram sambil terengah-engah, menyandarkan punggungnya pada pintu. "Gavin bener-bener niat malam ini. Dia bawa pasukan inti klan Mahendra."

Devan melepaskan genggaman tangannya dari pergelangan tangan Aura, membuat Aura mendadak merasa kehilangan kehangatan. Namun, detik berikutnya, Devan justru melepas jaket denim longgarnya yang setengah basah dan menyampirkannya ke bahu Aura.

"Pakai. Lo bisa mati kedinginan sebelum kita keluar dari sini," ujar Devan pendek.

Aura terpaku. Jaket itu terlalu besar untuk tubuhnya, namun aroma maskulin khas Devan yang bercampur dengan wangi tembakau tipis langsung membungkusnya, memberikan rasa aman yang aneh di tengah kepungan musuh. "Terima kasih," bisik Aura, suaranya hampir tenggelam oleh suara hujan di atap seng gudang.

Devan tidak menyahut. Ia berbalik menatap Kenzo. "Di mana mobil jemputan?"

"Di dermaga tiga, tepat di belakang kontainer baris G. Marco sudah menunggu di sana dengan kapal cepat kalau jalur darat benar-benar lumpuh," jawab Kenzo sambil memeriksa tablet digitalnya yang masih menyala. "Tapi kita harus melewati labirin kontainer ini tanpa memicu sensor gerakan yang sudah diretas klan Mahendra."

"Gue tahu jalurnya," ucap Devan dingin. Ia kembali menoleh pada Aura, mengulurkan tangannya yang bertato. Kali ini, ia tidak mencengkeram pergelangan tangan Aura, melainkan membuka telapak tangannya, menunggu Aura menyambutnya secara sukarela. "Genggam yang kuat. Kalau lo tertinggal di labirin ini, gue gak jamin Gavin gak bakal jadiin lo sandera."

Aura menatap telapak tangan itu sejenak. Ego akademisnya berteriak untuk menolak, namun logika bertahannya jauh lebih kuat. Ia meletakkan tangan mungilnya di atas telapak tangan Devan. Jemari Devan langsung menutup, mengunci tangan Aura dalam genggaman yang begitu erat dan protektif.

Mereka mulai berlari mengendap-endap di antara celah-celah kontainer raksasa yang dingin. Tempat itu terasa seperti labirin raksasa tak berujung. Lampu darurat merah yang berkedip membuat bayangan mereka memanjang di dinding besi kontainer, menambah kesan dramatis.

Aura bisa merasakan irama napas Devan yang memburu di sebelahnya. Cowok itu sesekali berhenti di sudut tikungan, memastikan situasi aman sebelum menarik Aura untuk kembali berlari. Di saat-saat seperti ini, Aura menyadari satu hal: Devanandra Bratadikara yang ia lihat di kampus—si pemalas yang arogan dan manja—hanyalah sebuah topeng penyamaran yang sangat rapi. Devan yang sesungguhnya adalah pria ini; dingin, taktis, bertanggung jawab atas nyawa orang-orangnya, dan memiliki otoritas yang tidak bisa dibantah.

Tiba-tiba, langkah Kenzo di depan berhenti mendadak. Ia memberi isyarat tangan untuk merapat ke dinding kontainer.

Dari arah depan, terdengar suara langkah sepatu bot yang berat, berjalan di atas lantai beton. Lebih dari tiga orang.

"Cari di setiap celah! Gavin bilang anak klan Bratadikara itu membawa seorang cewek kampus. Cari cewek itu, dia kelemahan baru si Devan!" sebuah suara berat terdengar bergema dari lorong kontainer sebelah.

Jantung Aura berdegup kencang. Kelemahan baru? Pikiran Aura berputar liar. Bagaimana bisa orang-orang itu menganggapnya sebagai kelemahan Devan, padahal mereka baru saja saling mengenal lewat insiden kopi tumpah kemarin siang?

Devan yang mendengar ucapan itu mendadak menghentikan napasnya. Rahangnya mengeras. Ia menarik tubuh Aura semakin merapat ke dadanya di dalam celah sempit antara dua kontainer yang gelap gulita. Jarak mereka begitu pangkas hingga Aura bisa merasakan detak jantung Devan yang kuat dan cepat membentur dadanya sendiri.

Devan menundukkan kepalanya, mendekatkan bibirnya ke telinga Aura, berbisik dengan suara yang teramat rendah, hampir seperti desisan angin. "Jangan bersuara sedikit pun. Tetap di belakang gue."

Aura mengangguk di dalam kegelapan, meremas ujung kaos hitam Devan dengan tangan kirinya yang bebas. Ketakutan nyata berbaur dengan sensasi aneh yang mendebarkan akibat kedekatan fisik mereka yang teramat intens.

Langkah kaki orang-orang Mahendra semakin mendekat ke arah celah tempat mereka bersembunyi. Sinar dari lampu senter berdaya tinggi menyapu lantai beton di depan mereka, perlahan bergerak naik ke arah dinding kontainer. Jika senter itu bergeser sepuluh sentimeter saja ke kiri, posisi mereka akan terbongkar.

Bram sudah bersiap dengan memicu pelatuk senjatanya, sementara Kenzo menahan napas dengan tangan bersiap melempar sebuah pisau taktis. Suasana mencekam hingga batas tertinggi.

Tepat sebelum sinar senter itu menyinari wajah Aura, sebuah suara ledakan keras terdengar dari arah sayap timur gudang, diikuti oleh suara sirine mobil polisi yang meraung-raung dari kejauhan.

"Sial! Polisi datang! Mundur, mundur! Kita selesaikan ini di dermaga!" teriak pemimpin orang-orang Mahendra dari luar. Langkah kaki mereka segera menjauh dengan tergesa-gesa.

Kenzo mengembuskan napas lega yang tertahan. "Marco berhasil memanggil unit patroli pelabuhan untuk memecah konsentrasi mereka."

Devan tidak langsung melepaskan pelukannya dari Aura. Ia memastikan suasana benar-benar aman sebelum melonggarkan jarak mereka. Sepasang matanya menatap Aura ke dalam kegelapan, seolah memastikan gadis itu tidak terluka.

"Lo gak apa-apa?" tanya Devan, suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya—sebuah nada suara yang belum pernah didengar oleh siapa pun di kampus.

Aura mengerjapkan matanya, perlahan melepaskan remasan tangannya di kaos Devan. "Aku... aku gak apa-apa. Kita harus pergi dari sini sebelum mereka kembali."

Devan tertegun sejenak melihat ketegaran Aura. Gadis baik-baik ini tidak menangis atau histeris seperti dugaannya. Ada kekuatan mental yang luar biasa di balik penampilan lugunya. Sebuah senyuman tipis—bukan seringai mengejek, melainkan senyuman penuh apresiasi—muncul di wajah tampan Devan.

"Ayo," kata Devan, kembali mengeratkan genggaman tangannya pada jemari Aura. "Kita keluar dari neraka ini."

1
Ical Habib
lnjut thor
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
aaaa sosweet nyaa, ihh salting Mulu bacanya nihh aaa baguss kali ceritanya tapi kok gak rame ya.. padahal seru gini loh/Scowl/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
owhhh ternyata udahh nikahh, kukira pacaran loh tapi bagus lah langsung nikahh, ahhh bagusss dan seruu tauu ceritanya.. semangat!/Determined/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
aaaa akhirnya jadii pasangan benerann, ihhh salting Mulu Weh liatnyaa.. lanjut terus Ampe tamat ya thorr, semangatt!/Determined/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
awww lucuu mereka berduuaa, sosweet ihh akhirnyaaa Devan sadar sama perasaan nyaa /Grin/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
aaaa seruu banget ceritanya/Scream/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!