NovelToon NovelToon
Kebangkitan Kaisar Abadi

Kebangkitan Kaisar Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Misteri
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bagus Dwi

Tahun 2042.
Manusia hidup seperti biasa dengan teknologi modern. Tidak ada yang tahu bahwa energi spiritual di Bumi mulai bangkit kembali setelah menghilang selama ribuan tahun.
Arkana Wijaya, mahasiswa berusia 20 tahun, menjalani hidup biasa hingga menemukan cincin kuno peninggalan kakeknya. Saat darahnya menyentuh cincin itu, jiwa seorang kultivator legendaris dari ribuan tahun lalu terbangun.
Namun, alih-alih mengambil alih tubuh Arkana, jiwa itu justru menghilang setelah mewariskan seluruh ingatan dan teknik kultivasinya.
Arkana menjadi satu-satunya orang yang mengetahui cara kultivasi sejati.
Sementara dunia mulai berubah, organisasi rahasia, keluarga kuno, dan makhluk yang selama ini bersembunyi juga mulai bergerak.
Bumi ternyata hanyalah dunia tingkat terendah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Aura yang Tersembunyi

​Perjalanan menuju kampus pagi itu terasa sangat berbeda bagi Arkana Wijaya. Jakarta Barat yang biasanya bising oleh raungan mesin kendaraan hibrida dan desis kereta maglev layang, kini diselimuti oleh atmosfer ketegangan yang aneh. Di dalam gerbong kereta otonom yang ia naiki, tidak ada lagi penumpang yang tertidur atau asyik bermain dengan kacamata Virtual Reality mereka. Semua orang terpaku pada layar gawai masing-masing, saling berbisik dengan raut wajah cemas sekaligus penasaran.

​Arkana berdiri di dekat pintu kaca gerbong, memegang tiang besi dengan santai. Namun, jika ada orang yang memperhatikannya dengan teliti, mereka akan menyadari bahwa Arkana sama sekali tidak menggunakan tenaga untuk menahan tubuhnya dari guncangan kereta. Ia berdiri dengan keseimbangan yang mutlak, seolah-olah kakinya telah menyatu dengan lantai gerbong.

​Sejak melangkah keluar dari kos, Arkana terpaksa harus beradaptasi dengan perubahan drastis pada indranya. Efek dari Body Tempering Tingkat Pertama ternyata jauh lebih masif dari yang ia duga.

​Telinganya kini mampu mendengar detak jantung pria paruh baya yang berdiri tiga meter di sebelahnya. Ia bahkan bisa menangkap frekuensi bisikan dua mahasiswi di ujung gerbong yang sedang membicarakan video viral tentang kucing liar yang tumbuh sebesar macan tutul di daerah Kebayoran.

​Penglihatannya pun tidak kalah mengerikan; Arkana bisa melihat dengan jelas debu-debu mikro yang beterbangan di udara, serta riak energi transparan yang samar-samar menyelimuti tubuh beberapa orang di dalam kereta.

​"Energi spiritual benar-benar telah menyebar ke segala penjuru," batin Arkana, sambil menatap ke luar jendela kaca yang menampilkan pemandangan kota Jakarta dari ketinggian. "Tapi energi ini masih sangat liar dan tidak teratur. Tanpa teknik kultivasi yang benar, manusia biasa hanya akan menyerapnya secara pasif melalui makanan atau udara, menyebabkan perubahan fisik yang acak."

​Berkat ingatan kuno dari Cincin Kaisar Abadi, Arkana tahu bahwa situasi ini sangat berbahaya. Manusia yang tidak siap menerima lonjakan energi spiritual bisa mengalami kerusakan organ interior jika emosi mereka tidak stabil. Bumi saat ini ibarat sebuah wadah kering yang tiba-tiba diguyur air bah; jika tidak ada saluran yang tepat, air tersebut hanya akan merusak sekitarnya.

​Beberapa menit kemudian, kereta maglev berhenti di stasiun terdekat dari Universitas Nusantara—kampus tempat Arkana menuntut ilmu. Begitu melangkah turun, ia langsung disambut oleh pemandangan yang tidak biasa di gerbang utama kampus.

​Biasanya, gerbang hanya dijaga oleh dua atau tiga satpam robotik. Namun pagi ini, sepasang robot itu telah dinonaktifkan, digantikan oleh belasan personel keamanan manusia berpakaian hitam legam tanpa atribut resmi. Mereka berdiri tegak dengan tatapan mata yang dingin dan waspada, memeriksa setiap kartu mahasiswa yang masuk secara manual dengan alat pemindai genggam.

​"Arka! Hei, tungguin gua!"

​Sebuah tepokan keras mendarat di bahu kanan Arkana. Jika itu adalah Arkana yang lama, tepokan sekuat itu pasti akan membuatnya sedikit terhuyung. Namun sekarang, tubuh Arkana bahkan tidak bergeming satu milimeter pun. Justru si pemukul yang meringis kesakitan, memegang telapak tangannya sendiri yang memerah.

​"Aduh! Sialan, lo pasang besi ya di balik jaket lo? Keras banget!" seru Dani, sahabat karib Arkana sejak semester pertama. Dani adalah tipikal mahasiswa teknik yang ekspresif, dengan rambut berantakan dan jaket denim penuh tambalan logo band cyber-punk.

​Arkana dengan cepat mengendalikan ekspresi wajahnya. "Cuma perasaan lo aja kali, Dan. Lo-nya aja yang lemes belum sarapan. Ada apa sih rame-rame begini? Kampus ketat banget."

​Dani langsung melupakan rasa sakit di tangansnya. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Arkana, berbisik dengan nada yang sangat serius. "Lo semalam gak mati lampu apa? Seluruh Jakarta mati total, Ka! Terus lo lihat gak langit semalam? Ada aurora gila warna hijau sama ungu! Dan denger-denger dari anak-anak forum, penjaga di depan itu bukan satpam kampus. Mereka dari biro keamanan khusus bentukan pemerintah pusat. Katanya ada anomali energi yang keindikasi di sekitar wilayah kampus kita semalam."

​Jantung Arkana berdesir pelat. Anomali energi semalam? Apakah itu karena proses pengikatan jiwanya dengan Cincin Kaisar Abadi yang memicu lonjakan Qi murni secara lokal di sekitar kosnya yang tidak jauh dari kampus?

​"Biro keamanan khusus?" tanya Arkana, berpura-pura bingung.

​"Iya! Namanya Badan Investigasi Krisis Energi atau apa lah, gua lupa. Yang jelas, mereka punya hak veto buat nutup fasilitas umum kalau dianggap berbahaya," sahut Dani penuh semangat saat mereka berjalan melewati pos pemeriksaan. Alat pemindai di tangan petugas berbaju hitam sempat berbunyi tit pendek saat diarahkan ke tubuh Arkana, tetapi petugas itu hanya mengernyitkan dahi sejenak sebelum mengizinkannya masuk. Tampaknya, alat itu hanya bisa mendeteksi fluktuasi Qi yang aktif, sedangkan Arkana telah berhasil menyembunyikan energinya jauh di dalam lubang meridiannya.

​Ketika mereka tiba di Gedung Utama, auditorium lantai tiga sudah dipenuhi oleh ratusan mahasiswa dari berbagai jurusan. Suasana di dalam ruangan sangat bising. Di atas panggung utama, beberapa dosen senior tampak berdiri mendampingi seorang pria paruh baya yang mengenakan setelan jas abu-abu formal. Pria itu memiliki potongan rambut militer yang rapi dan sepasang mata yang sangat tajam, mengawasi seluruh mahasiswa yang masuk dengan pandangan yang mengintimidasi.

​Begitu Arkana melangkah masuk ke dalam auditorium, insting kultivatornya langsung memberikan sinyal bahaya. Cincin hitam di jarinya memberikan denyutan hangat yang halus, sebuah peringatan otomatis.

​Arkana memicingkan matanya, memfokuskan penglihatannya ke arah pria berjas abu-abu di atas panggung. Di bawah pandangan batinnya yang telah terbuka, Arkana tersentak. Pria itu tidak seperti manusia biasa di sekitarnya yang hanya memiliki riak energi tipis. Di dalam tubuh pria itu, terdapat aliran energi spiritual yang terstruktur dengan jelas, berputar di sekitar area dadanya meskipun jalurnya tampak sangat kasar dan tidak efisien.

​"Dia seorang kultivator!" batin Arkana terkejut. "Tidak... bukan kultivator sejati. Aliran energinya dipaksakan melalui obat-obatan atau teknik yang cacat. Kekuatannya mungkin baru setara dengan pertengahan ranah Body Tempering, tetapi di dunia yang baru bangkit ini, dia sudah menjadi manusia super."

​Fakta ini membuat Arkana menyadari sesuatu yang krusial. Pemerintah atau organisasi rahasia tertentu ternyata sudah mengetahui keberadaan energi spiritual jauh sebelum The Great Awakening semalam terjadi. Mereka hanya menyembunyikannya dari publik sembari melatih segelintir orang secara rahasia.

​"Harap tenang, semuanya. Silakan ambil tempat duduk masing-masing," suara Profesor Bramanto, Dekan Fakultas Teknik, bergema melalui pengeras suara, mencoba menenangkan massa yang gelisah.

​Setelah auditorium mulai kondusif, Profesor Bramanto menyerahkan mikrofon kepada pria berjas abu-abu di sampingnya.

​"Selamat pagi, para mahasiswa sekalian," suara pria itu berat, berwibawa, dan memiliki resonansi yang kuat, tanda bahwa ia menggunakan energi fisiknya untuk memperkeras volume suaranya tanpa perlu berteriak. "Nama saya Aditia Pramono. Saya adalah perwakilan dari Kementerian Pertahanan dan Keamanan Nasional, Divisi Respons Anomali Alam."

​Seluruh ruangan seketika hening. Kehadiran pejabat kementerian di kampus teknik bukanlah hal yang biasa.

​"Saya tahu kalian semua bingung, takut, dan memiliki banyak pertanyaan mengenai fenomena alam yang terjadi semalam," lanjut Aditia, matanya menyapu seluruh ruangan. "Pemerintah ingin menegaskan bahwa situasi saat ini berada di bawah kendali penuh. Fenomena kosmik semalam memicu radiasi gelombang elektromagnetik baru yang kami sebut sebagai Partikel E-01. Partikel ini memiliki dampak langsung pada struktur biologi makhluk hidup dan lingkungan."

​Arkana tersenyum sinis di dalam hati. Partikel E-01? Sebuah nama ilmiah yang dikarang dengan rapi oleh pemerintah untuk menyamarkan nama asli dari energi penciptaan alam semesta: Qi.

​"Untuk mengantisipasi dampak buruk dan menjaga stabilitas nasional, pemerintah akan melakukan skrining kesehatan massal di setiap universitas mulai hari ini. Siapa pun yang menunjukkan gejala adaptasi positif terhadap Partikel E-01 akan dipisahkan ke dalam program karantina mandiri dan pelatihan khusus di bawah pengawasan militer demi keselamatan publik," tegas Aditia.

​Mendengar kata "karantina mandiri" dan "pengawasan militer", suasana auditorium kembali riuh dengan protes dan bisikan ketakutan dari para mahasiswa. Mereka tahu betul bahwa di era modern ini, masuk ke dalam program khusus militer berarti kehilangan kebebasan pribadi secara mutlak.

​Di tengah kegaduhan itu, tatapan mata Aditia tiba-tiba berhenti, terkunci tepat ke arah sudut belakang auditorium—tempat di mana Arkana sedang duduk.

​Sebagai seorang yang telah melatih fisiknya hingga batas ranah manusia, Aditia memiliki intuisi yang sangat tajam terhadap bahaya. Entah mengapa, saat matanya menyapu area belakang, ia merasakan sebuah tekanan tak kasat mata yang sangat dingin, seolah-olah ada seekor predator purba yang sedang mengawasinya dari kegelapan.

​Aditia mengerutkan alisnya, matanya menatap tajam ke arah barisan tempat duduk Arkana.

​Di tempat duduknya, Arkana tetap mempertahankan ekspresi wajahnya yang lesu dan bingung, persis seperti mahasiswa lain di sekitarnya. Namun di balik penampilannya yang biasa saja, tangan kanan Arkana yang berada di bawah meja perlahan mengepal. Energi hangat dari Kitab Primordial Kaisar Abadi mengalir pelan, siap meletup kapan saja jika penyamarannya terbongkar.

1
Jujun Adnin
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!