Lucien Scott, pengusaha muda yang menggawangi raksasa bisnis di bawah naungan GS Company, tak sadar telah jatuh cinta pada seorang gadis bernama Andrea. Sosok menggemaskan dengan sikap tegas dan terang-terangan, hadir memberikan warna baru di hidupnya yang terkontrol rapi tanpa cacat. Mencintai dengan bengis, menjadi perjalanan cinta cukup menggelitik di mata orang-orang sekitar mereka. Intrik sederhana menjadi pemanis saat keduanya mulai saling menyadari perasaan masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. ( Orang Munafik )
Ada yang berbeda sejak Andrea bergabung di GS Company. Perusahaan yang dulu hampir selalu dinaungi awan gelap penuh tekanan serta intimidasi, dalam sekejap berubah hangat bak musim semi. Adakalanya karyawan yang beruntung bisa melihat hadirnya senyuman tipis di bibir si pemilik perusahaan yang selama ini terkenal dingin dan bengis. Aneh, tapi nyata.
"Syutt syuttt."
Veroz menoleh. Sebelah alisnya terangkat ke atas melihat William, manager utama di GS Company, tengah menempel di tembok sambil memberi isyarat aneh. Malas meladeni kekonyolan orang ini, Veroz kembali fokus pada pekerjaan.
"Ck, Veroz!" seru William dengan suara tertahan.
"Cari orang lain saja untuk menemanimu bergosip. Tuan Lucien sedang dalam suasana hati yang buruk, aku tidak mau cari masalah," sahut Veroz dingin. Dia sudah sangat hafal dengan kelakuan William yang entah kenapa suka sekali mencari tahu kehidupan bosnya lewat dirinya.
"Ini penting. Ayolah."
"Tidak mau. Aku bukan orang bodoh sepertimu yang sengaja mencari masalah supaya kehilangan pekerjaan."
"Astaga, mulutmu benar-benar ya."
Kesal terus diabaikan, William akhirnya mendekat. Sebelum itu dia memastikan pintu ruangan bosnya tertutup. Mengendap-endap seperti maling, dia berjongkok di samping meja kerja William lalu menatapnya serius.
"Hari ini wajah Tuan Lucien kenapa muram sekali? Kau tahu penyebabnya tidak?"
"Tahu pun aku tidak akan memberitahukan alasannya padamu."
"Jangan pelit begitu, Veroz. Semua orang yang bekerja di GS Company adalah saudara. Terbukalah sedikit," rayu William tak menyerah.
"Yang menganggap saudara itu cuma dirimu, aku tidak," sarkas Veroz masih enggan meladeni. Sedetik kemudian dia menoleh ke arah ruangan bosnya. Veroz bergumam. "Sebenarnya kau pergi ke mana, Nona? Kenapa tak memberi kabar? Gara-gara kau menghilang, semua orang jadi diintimidasi oleh Tuan Lucien. Hmmm,"
Meski samar-samar, William bisa mendengar gumaman barusan. Ternyata dugaannya tak meleset kalau penyebab bosnya bermuram durja adalah karena ketidakhadiran Andrea di perusahaan. Sambil tersenyum tengil, William kembali mengorek informasi.
"Bos kita sedang jatuh cinta ya? Kalau benar, ini akan jadi kabar terheboh tahun ini. Seorang Lucien Scott, pembisnis muda yang berhasil menjadikan GS Company sebagai perusahaan raksasa yang disegani baik di negara sendiri maupun di luar negeri, terperangkap oleh pesona karyawan magang yang datang dari desa. Astaga, alurnya mirip dengan cerita yang di film-film," ucap William lalu terkikik sendiri.
"William?"
"Ya?"
Menghela nafas, Veroz meletakkan pena lalu menunduk mensejajarkan muka dengan William. Si tukang gosip ini benar-benar cari mati. Meskipun yang diucapkan adalah suatu kebenaran, Veroz mana mungkin membiarkannya menyebar gosip sesuka hati. Karena jika sampai terjadi, pekerjaannya akan semakin sulit.
"Dengar baik-baik ucapanku! Jangan sesekali kau berani menyebar gosip yang berhubungan dengan Tuan Lucien dan Nona Andrea kalau masih ingin bekerja di sini. Benar atau tidaknya tentang mereka, aku sarankan sebaiknya kau tutup mulutmu rapat-rapat. Mengerti?" ancam Veroz.
"Itu masalah gampang." William tersenyum licik. "Katakan dulu bahwa memang benar bos kita jatuh cinta pada karyawan magang itu."
"Jangan macam-macam denganku!"
"Hanya semacam saja, Veroz. Come on."
"Sudah ku bilang jangan ....
Ceklek
Pintu ruangan terbuka. Seketika Veroz dan William menelan ludah saat merasakan tatapan bengis di mata bos mereka.
(Gawat. Sepertinya tiran ini mulai kerasukan lagi. Mana posisiku sedang tidak estetik begini. Matilah aku!)
"Ini kantor. Bukan tempat yang bisa kalian gunakan untuk berbuat mesum!" tandas Lucien jengkel melihat posisi Veroz yang seperti ingin berciuman dengan William.
"Tidak seperti yang Anda duga, Tuan. Saya hanya sedang memberi teguran kecil pada anjing liar yang tengah mengorek makanan di bawah kaki saya," sahut Veroz sambil memperbaiki posisi. Setelah itu dia mendekat. "Anda mau keluar?"
"Kalian pikir aku ini bodoh? Jelas-jelas posisi kalian tadi sudah menjelaskan semuanya, masih berani mengelak. Hari ini juga aku mau di ruanganku sudah ada surat pengunduran diri dari kalian. Seenaknya ingin merusak image perusahaanku. Sialan!"
William syok. Sedangkan Veroz, dia hanya diam tak merespon. Sadar nasibnya sudah diujung tanduk, William segera memikirkan cara untuk membujuk si tiran jahat ini. Dia lalu teringat dengan Andrea yang kemungkinan besar menjadi alasan kenapa tiran ini kehilangan mood.
"Oya, Tuan Lucien. Hari ini kenapa saya tak melihat kehadiran Nona Andrea ya? Apa dia sudah diberhentikan?"
"SIAPA YANG BERANI MEMBERHENTIKANNYA DARI SINI HAH!"
Auman sang tiran hampir saja membuat William pingsan di tempat. Dalam hati dia merutuki diri sendiri karena salah melontarkan pertanyaan.
"Hah! Percuma aku memberinya ponsel mahal kalau ujung-ujungnya tetap tak bisa dihubungi. Memang sialan gadis gila itu. Dia pasti sengaja membuatku kesal!" amuk Lucien naik pitam. Setengah hari ini otaknya tak bisa berfungsi dengan baik. Bukan karena memikirkan Andrea, tapi karena pekerjaan yang begitu menumpuk. Makanya sekarang moodnya jadi jelek.
"Datangi saja ke rumahnya, Tuan. Siapa tahu terjadi sesuatu pada Nona Andrea," ucap William memberi saran. Fixs sih bosnya sedang jatuh cinta, tapi belum sadar. Jika tidak, mustahil bosnya akan semarah ini cuma karena gadis yang disukainya tidak datang ke kantor.
"Asal saja kau bicara. Memangnya siapa yang berani menyakitinya?"
Veroz melirik tajam ke arah William saat melihatnya ingin kembali bicara. Khawatir kalau ucapannya malah akan membuat bosnya semakin murka.
"Kenapa melotot padaku. Aku cuma ingin memberi saran terbaik untuk Tuan Lucien," seloroh William sengaja mengumpankan Veroz. Hehehe ,kapan lagi coba punya kesempatan untuk mengerjai orang kaku ini.
"Kau ....
Lucian berdehem. Seperti menemukan secercah cahaya, dia meminta William mendekat. "Saran terbaik apa yang kau punya? Cepat katakan."
"Baik, Tuan."
Andai bosnya tak ada di sana, William pasti sudah menjulurkan lidah pada Veroz.
"Tuan, yang saya tahu orang desa itu punya watak yang gigih dan baik hati. Dan kedua hal ini ada pada Nona Andrea."
(Baik hati apanya. Jelas-jelas dia seperti banteng yang selalu siap menelan orang)
"Lalu?"
"Saya rasa ada alasan pasti kenapa Nona Andrea tak masuk bekerja dan ponselnya tak bisa dihubungi. Menurut saya, lebih baik Anda datangi saja kediamannya daripada penasaran," ucap William meyakinkan.
Tak langsung mengiyakan, Lucien diam mencerna ucapan William. Atas dasar apa dia harus datang ke rumah Andrea? Toh tidak ada urusan dengannya gadis itu masuk kerja atau tidak.
"William, apa kau berpikir kalau aku sedang mengkhawatirkan Andrea?" tanya Lucien sambil menyipitkan mata. Aura membunuh seketika menguar dari tubuhnya.
"Bu-bukannya memang seperti itu ya?" sahut William gugup. Bulu kuduknya berdiri semua saat merasakan aura dingin mengelilingi tubuhnya.
(Alamak salah lagi. Bagaimana ini? Aku belum siap jika harus kehilangan pekerjaan. Tolong aku Tuhan!!!)
"Kau salah paham. Dari sudut mana kau mengira kalau aku sedang mengkhawatirkan Andrea? Aku begini karena penat pemikirkan pekerjaan. Tahu!"
"I-iya, Tuan. Saya minta maaf."
"Ciihhh, maaf tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah yang sudah terlanjur kau buat."
Glukkkk
Seperti anak anjing yang kehilangan induknya, William melayangkan tatapan memelas pada Veroz. Berharap pria kaku ini akan menyelamatkannya dari amukan sang tiran.
"Nomor Nona Andrea tak bisa dibungi kemungkinan besar karena dia lupa mengisi daya, Tuan. Dan mengenai alasan kenapa dia tidak masuk ke kantor, saya bisa mencari tahu apa penyebabnya," ucap Veroz menengahi keadaan.
"Apa urusannya denganku?" sahut Lucien pura-pura acuh. Padahal dia ingin sekali mengetahui penyebab kenapa Andrea hilang kabar begini. Akan tetapi gengsi di dirinya menolak untuk mengakui hal tersebut.
"Kalau begitu saya dan William akan pergi ke rumah Nona Andrea untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dengan begitu kita semua tidak perlu merasa khawatir lagi."
Lucien membuang muka ke arah lain. Sementara William, dia terus mengamati perubahan emosi di wajah bosnya. Begitu jelasnya sedang khawatir, malah bersikap sok tak peduli. Definisi orang yang tidak mau mengakui sedang jatuh cinta.
"Ingat ya. Kalian pergi ke sana atas keinginan sendiri, bukan aku yang menyuruh. Jadi jangan sebut namaku di depan Andrea nanti," ucap Lucien lalu berbalik masuk ke dalam ruangan.
Veroz kembali menghela nafas.
"Lain kali jangan asal bicara di depan orang yang sedang jatuh cinta. Nanti kau kena getahnya."
"Tapi Tuan Lucien lucu juga ya. Dia ternyata bisa bersikap munafik layaknya orang-orang," seloroh William takjub.
"Bedebah. Diam kau!"
***
Sudah lama juga, nggk pernah baca novel dari penulis ini. 😂😂😂 Terakir tahun 2022 yang lalu dah. Waktu Di Novel "Love Story Eleanor dan Gabriele... 😂😂😂