NovelToon NovelToon
Tirai Sutra Tuan Muda Cang

Tirai Sutra Tuan Muda Cang

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Kultivasi
Popularitas:394
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

Klan Jenderal Cang yang agung berdiri di ujung jurang kehancuran. Titah rahasia Kaisar Yan telah turun, mengincar nyawa setiap anggota keluarga yang memegang kendali militer. Sebagai pewaris tunggal, Cang Qixuan memilih jalan yang paling dibenci dunia demi menyelamatkan klannya: menjadi sampah. Ia menenggelamkan diri dalam lautan arak, judi, dan wanita, menghamburkan emas kekaisaran seolah debu. Di balik cemoohan rakyat dan tawa meremehkan musuh-musuhnya, Qixuan merajut Jaring Bayangan. Setiap keping emas yang ia lempar di rumah bordil adalah investasi intelijen; setiap aib yang ia ciptakan adalah perisai pelindung. Berawal dari kultivasi yang hancur, ia memanjat kembali dari dasar jurang kekuasaan, menelan penghinaan untuk kelak menelan seluruh Kekaisaran Yan.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 22 runtuhnya pilar langit dan panen raya di atas puing dewa

Asap tebal berwarna hitam kelam membumbung ke angkasa, menutupi sinar matahari pagi di atas Gunung Guntur Surgawi. Ribuan jimat peledak tingkat Surga yang dibeli Cang Qixuan murni menggunakan kekuatan finansialnya telah mengubah Istana Pedang Guntur Suci—salah satu dari tiga pilar kekuasaan absolut Benua Atas—menjadi padang neraka. Bangunan-bangunan megah yang dipahat dari batu giok putih kini hanya tersisa puing-puing berasap. Perpustakaan kuno yang menyimpan jutaan gulungan teknik bela diri hangus tanpa sisa. Asrama murid, paviliun alkimia, hingga taman obat spiritual rata dengan tanah.

Kekayaan ribuan tahun musnah dalam waktu kurang dari lima menit.

Di udara, proyeksi spiritual raksasa milik Leluhur Tua Lei Wuji bergetar hebat sebelum akhirnya hancur berkeping-keping. Keterikatan jiwanya pada fondasi gunung tersebut memantulkan kerusakan langsung ke tubuh fisiknya.

Jauh di dalam ruang rahasia bawah tanah yang terhindar dari ledakan utama, sebuah balok es spiritual raksasa hancur berantakan. Pria tua kurus kering dengan rambut panjang yang memancarkan kilat listrik membuka matanya. Sepasang pupilnya sepenuhnya berwarna putih bersih, memancarkan amarah yang sanggup mengeringkan lautan.

"BOCAH KEPARAT!!!" raungan Lei Wuji dari bawah tanah menggetarkan seluruh lempeng tektonik gunung tersebut.

Ledakan energi ranah *Domain Bumi (Earth Realm)* tahap puncak menyapu sisa-sisa reruntuhan di atasnya. Bongkahan batu raksasa terlempar ke udara layaknya kerikil ringan. Tubuh fisik Lei Wuji melesat ke angkasa, dikelilingi oleh badai petir ungu yang ribuan kali lebih pekat daripada proyeksinya tadi. Kehadiran fisik dari sang monster purba itu seketika membuat tekanan udara di sekitar Bahtera Awan Emas anjlok.

Puluhan prajurit Naga Hitam yang berada di barisan terdepan langsung memuntahkan darah, organ dalam mereka remuk hanya karena tidak sanggup menahan gravitasi spiritual Lei Wuji.

Di atas haluan kapal, Cang Qixuan masih berdiri tegak. Inti Emas Kegelapan di dalam Dantiannya yang baru saja menelan energi perisai sekte terus berputar gila-gilaan, menstabilkan auranya di batas transisi menuju ranah *Jiwa Baru (Nascent Soul)*. Pakaian sutra putihnya berkibar liar, wajahnya diterangi kilatan petir ungu dari sang Leluhur.

"Mati kau! Hancur menjadi ketiadaan beserta kapal mainanmu ini!" Lei Wuji tidak berbasa-basi. Ia merentangkan kedua tangannya.

*Domain Bumi: Api Penyucian Guntur Surgawi!*

Langit dalam radius sepuluh kilometer langsung berubah menjadi lautan petir ungu yang menggelegak. Ribuan pilar listrik raksasa menyambar turun secara bersamaan, mengunci setiap titik ruang. Formasi ini adalah wilayah absolut milik Lei Wuji; di dalam domain ini, ia adalah dewa yang mengendalikan hukum alam. Tidak ada jimat teleportasi yang bisa berfungsi. Tidak ada perisai spiritual yang sanggup bertahan lama.

Shen Feiyan, sang kapten armada, memucat pasi. Tangannya gemetar di atas kemudi utama formasi armada. "Tuanku! Perisai Fatamorgana Emas akan hancur dalam tiga detik menahan Domain Bumi ini! Kita akan menguap!"

Qixuan tidak menoleh. Matanya menyipit menatap dewa guntur tua yang sedang murka di depannya.

"Nona Shen, kau lupa siapa penyewa kapal ini," suara Qixuan terdengar sedatar es, kontras dengan kiamat yang sedang berlangsung. Ia merogoh lengan bajunya, mengeluarkan sebuah cermin kuno berbentuk segi delapan yang ia lelang dari Paviliun Fatamorgana Surga malam sebelumnya. Benda itu adalah *Cermin Pemantul Bintang*, pusaka kelas Surga tingkat puncak.

"Aku membelinya seharga dua juta batu spiritual," Qixuan melemparkan cermin itu ke udara tepat di atas kepalanya. "Mari kita lihat apakah barang jualanmu sepadan dengan harganya."

Qixuan menyuntikkan qi Air Kegelapan (Yin) dan elemen Bumi super padat ke dalam cermin tersebut. Seketika, Cermin Pemantul Bintang membesar menjadi perisai cahaya selebar satu kilometer yang menutupi seluruh armada.

Saat ribuan pilar petir ungu Lei Wuji menghantam cermin itu, suara bising yang nyaris merobek gendang telinga meledak. Cermin pusaka itu bergetar hebat, retakan-retakan halus mulai muncul di permukaannya. Benda mati tidak akan pernah bisa menahan serangan penuh dari ahli Domain Bumi dalam waktu lama.

"Hong Lian!" teriak Qixuan mengatasi deru petir. "Apakah hidangan utamanya sudah siap?!"

Sang Teratai Pandai Besi menyeringai buas dari balik meriam komandonya. Wajahnya dipenuhi jelaga dan keringat. "Peluru khusus pesananmu sudah di dalam laras, Tuanku! Aku membungkus racun *Embun Pemutus Dao* milik Gu Lie dengan cangkang baja spiritual yang dilapisi serbuk es purba. Benda ini akan menembus qi pelindung bajingan tua itu sebelum meledak!"

"Tembakkan seluruhnya! Jangan sisakan satu pun!" perintah Qixuan.

Di bawah perlindungan sementara Cermin Pemantul Bintang yang hampir hancur, lima puluh *Meriam Naga Pemakan Bintang* kembali meraung. Kali ini, mereka tidak menembakkan energi murni, melainkan melontarkan peluru-peluru fisik raksasa berwarna hitam legam yang melesat menembus badai petir.

Lei Wuji mendengus meremehkan melihat peluru-peluru baja itu mendekatinya. "Senjata fana! Mainan anak kecil!"

Sang Leluhur hanya menjentikkan jarinya. Petir ungu menyambar kelima puluh peluru baja itu di tengah udara. Sesuai dugaannya, baja itu meleleh seketika akibat panas ekstrem guntur surgawi.

Kelemahan sang Leluhur adalah ketidaktahuannya akan strategi licik pemuda Jinling tersebut.

Saat baja itu meleleh, isi di dalamnya terbebas. Kabut beracun berwarna ungu gelap—*Embun Pemutus Dao* yang telah dimodifikasi secara khusus menggunakan Bunga Jiwa Hitam—menyebar dengan kecepatan ledakan. Racun itu tidak terbakar oleh petir. Sifat Yin purba dari racun tersebut justru menyerap panas petir untuk menguap lebih cepat, menciptakan awan beracun yang seketika menyelimuti seluruh tubuh fisik Lei Wuji.

"Racun?!" Lei Wuji terbatuk, menghirup secercah kabut tersebut.

Seketika, kulitnya yang keriput berubah warna menjadi biru kehitaman. Aliran qi petir di dalam meridiannya, yang sebelumnya menderu layaknya sungai deras, mendadak tersumbat. Racun itu merobek struktur selulernya, memaksa usianya yang sudah mencapai delapan ratus tahun membusuk lebih cepat.

"AARRGGHH!" Lei Wuji menjerit memegangi dadanya. Domain Api Penyucian Gunturnya melemah drastis. Pilar-pilar petir di langit memudar. Tubuhnya yang melayang mulai terhuyung kehilangan keseimbangan.

Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Qixuan.

*PRANG!*

Cermin Pemantul Bintang di atas kepalanya hancur berkeping-keping, tidak sanggup lagi menahan sisa energi. Namun misinya telah selesai.

Qixuan melesat ke udara, meninggalkan geladak kapal. Tubuhnya dibungkus oleh perpaduan tiga warna: Hitam (Bumi), Biru Kelam (Yin), dan Merah Keemasan (Api Yang). Ia menggunakan Teknik *Menelan Langit* hingga batas maksimal, mengorbankan sebagian darahnya sendiri demi meningkatkan kecepatan geraknya melebihi kilat itu sendiri.

"Leng Yue! Bersihkan sisa-sisa lalat di darat! Jangan biarkan Patriark Lei Jiantian melarikan diri!" seru Qixuan sebelum menembus awan.

Di darat, Wakil Jenderal Leng Yue sudah menunggangi Kuda Iblis Mata Merah. Ia menghunus pedang esnya ke arah reruntuhan gunung.

"Pasukan Naga Hitam! Kepung seluruh gunung! Bunuh setiap orang yang memakai jubah sekte Guntur! Pemburu liar, ambil jarahan kalian di bawah pengawasanku!" titah Leng Yue tanpa belas kasihan. Seratus ribu pasukan berzirah langsung merangsek maju, membantai sisa-sisa murid sekte yang selamat dari ledakan jimat.

Di udara, pertarungan antara manusia yang melampaui dewa dengan dewa tua yang sedang sekarat terjadi.

Qixuan muncul tepat di atas Lei Wuji yang sedang meronta akibat racun. Pemuda itu tidak menggunakan pedang. Ia memadatkan elemen Bumi yang sangat berat di telapak kaki kanannya, menciptakan gravitasi internal setara jatuhnya sebuah gunung batu.

"Ini untuk menyia-nyiakan waktuku memikirkan strategi pertahanan armada," Qixuan mengayunkan kakinya, mendaratkan tendangan telak tepat di wajah Lei Wuji.

*BLAAAM!*

Sang Leluhur yang ditakuti seluruh benua itu meluncur jatuh dari langit layaknya komet yang mati. Tubuhnya menghantam pelataran batu giok di depan sisa Aula Leluhur dengan kekuatan destruktif yang menciptakan kawah sedalam tiga puluh meter. Retakan gempa menjalar membelah puncak Gunung Guntur Surgawi.

Darah segar menyembur dari mulut Lei Wuji. Tulang rahangnya remuk. Racun *Embun Pemutus Dao* membuat kemampuan regenerasi spiritualnya mati total. Ia menatap ke langit dengan pandangan yang dipenuhi horor dan ketidakpercayaan. Ia telah kalah. Seorang ahli Domain Bumi, puncak kultivasi di Benua Atas, dikalahkan oleh pemuda yang baru berusia dua puluhan.

Qixuan mendarat perlahan di tepi kawah. Ia mengibaskan sisa darah dari sepatunya. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan belas kasihan, tidak pula memancarkan kebanggaan layaknya pahlawan yang baru saja menumbangkan naga. Baginya, ini hanyalah transaksi bisnis yang sudah mencapai kesimpulan.

"K-Kau... monster abadi dari zaman mana yang merasuki tubuh bocah itu?" Lei Wuji merintih, darah menggenang di tenggorokannya. Ia menolak percaya bahwa manusia fana murni bisa memiliki kelicikan dan kekuatan sekejam ini.

"Kau terlalu sering membaca dongeng, Kakek Tua," Qixuan melangkah mendekati tubuh sang leluhur. "Tidak ada dewa yang merasukiku. Aku hanyalah seorang pedagang dari Jinling yang kebetulan memiliki cukup uang untuk membeli peti matimu. Dan sekarang, aku datang untuk mengambil kembalianku."

Qixuan berjongkok, menancapkan kelima jarinya tepat ke dada Lei Wuji, menembus tulang rusuk yang patah, lalu mencengkeram jantung spiritual sang Leluhur.

"Menelan Langit: Panen Jiwa Absolut."

Mata Lei Wuji melotot hingga urat kemerahannya pecah. Daya hisap yang sangat brutal menarik sisa-sisa esensi Domain Bumi dan Inti Jiwa dari dalam tubuhnya. Semua pemahaman tentang elemen petir, pengalaman tempur delapan ratus tahun, dan sisa vitalitasnya disedot habis-habisan oleh Inti Emas Kegelapan Qixuan.

Tubuh Lei Wuji mengering dengan kecepatan mata telanjang, berubah menjadi mumi keriput sebelum akhirnya hancur menjadi tumpukan abu abu-abu yang tersapu angin gunung.

Sesaat setelah menyerap esensi Domain Bumi tersebut, aura Qixuan meledak di luar kendali. Suara robekan dimensi terdengar dari dalam tubuhnya. Inti Emas Kegelapannya pecah, dan dari dalam pecahan itu, muncul sebuah entitas cahaya kecil yang berbentuk persis seperti Qixuan, namun memancarkan kegelapan mutlak.

Qixuan memejamkan mata, membiarkan tubuhnya melayang beberapa inci dari tanah. Ia memutar lehernya hingga berbunyi renyah.

*Ranah Jiwa Baru (Nascent Soul).*

Hanya butuh waktu kurang dari setahun sejak ia menghancurkan meridiannya sendiri di Paviliun Teratai Malam, ia kini telah mencapai tahap Jiwa Baru. Di usia dua puluh tahun, pencapaian ini adalah anomali mutlak yang akan membuat dewa-dewa di langit menangis iri.

"Kekuatan yang luar biasa menenangkan," gumam Qixuan, mengepalkan tangannya. Ia bisa merasakan aliran darah semut di bawah tanah sejauh sepuluh kilometer. Ia tidak perlu lagi berjalan; ia bisa memanipulasi ruang untuk berpindah tempat dalam kedipan mata.

Dari arah belakang kawah, suara langkah kaki diseret terdengar.

Patriark Lei Jiantian, yang lengan kanannya telah terputus akibat sabetan pedang es Leng Yue, diseret paksa oleh Mo Chen dan dilemparkan ke depan kaki Qixuan. Sang Patriark tampak sangat menyedihkan. Mahkota emasnya hilang, wajahnya dipenuhi darah dan debu reruntuhan sektenya sendiri.

"Leluhur..." Lei Jiantian meratap menatap tumpukan abu di tepi kawah. Pandangannya kosong. Segala sesuatu yang ia bangun, segala kesombongan yang ia pelihara, telah musnah hari ini.

Qixuan menatap Lei Jiantian dengan pandangan bosan. Ia menoleh ke arah Leng Yue yang berdiri di belakang Mo Chen.

"Bagaimana situasi pembersihan, Wakil Jenderal?"

"Seluruh sisa murid dan tetua tingkat menengah telah menyerah atau tewas, Tuanku," lapor Leng Yue, menyarungkan pedangnya yang berlumuran darah. "Ribuan kultivator liar sedang mengantre di pos pembayaran yang dijaga Nona Shen Feiyan. Kami juga telah mengamankan pintu masuk menuju Perbendaharaan Utama Istana Pedang Guntur Suci di bawah tanah. Formasi kuncinya telah dinonaktifkan."

Mendengar kata perbendaharaan, mata Qixuan berbinar cerah, mengalahkan kilatan aura Jiwa Barunya. Ini adalah tujuan utamanya. Kekuatan kultivasi hanyalah alat; kekayaan adalah tujuan sejatinya.

"Bagus sekali," Qixuan mengangguk. Ia melirik Lei Jiantian yang masih tersungkur. "Mo Chen, berikan pria ini pada kelompok kultivator liar di luar sana. Katakan bahwa siapa yang bisa menguliti Patriark Guntur Suci dalam keadaan hidup akan mendapat bonus satu juta batu spiritual. Biarkan mereka berpesta."

Lei Jiantian bahkan tidak memprotes. Jiwanya telah mati sebelum tubuhnya sempat disiksa. Ia diseret pergi oleh Mo Chen tanpa sedikit pun perlawanan.

Qixuan melangkah melewati puing-puing, menuruni tangga batu yang mengarah ke bagian perut Gunung Guntur Surgawi. Leng Yue dan Hong Lian mengikutinya dari belakang, bersiap menjadi saksi sejarah pembongkaran kekayaan terbesar abad ini.

Pintu Perbendaharaan Utama terbuat dari baja bintang yang dikabarkan tidak bisa dilelehkan oleh api biasa. Qixuan hanya meletakkan tangannya di atas pintu setebal dua meter tersebut, menggunakan kemampuan manipulasi ruang dari ranah Jiwa Baru miliknya, dan *SREKK!*—ruang di sekitar pintu itu dipelintir hingga baja bintang tersebut hancur seperti kertas diremas.

Saat pintu itu terbuka, cahaya harta karun menyilaukan mata ketiga orang tersebut.

Ruangan itu luasnya setara dengan separuh ibukota Jinling. Pegunungan batu spiritual tingkat atas tertumpuk rapi di setiap sudut. Ratusan rak kayu gaharu menampilkan berbagai macam senjata kelas Surga, zirah naga, kotak-kotak giok berisi pil keabadian, gulungan teknik rahasia tingkat dewa, serta tanaman herbal langka yang masing-masing nilainya cukup untuk membeli sebuah benua fana.

Hong Lian, Sang Teratai Pandai Besi, menjatuhkan palunya ke lantai. Ia berlari ke arah sebuah rak yang menyimpan material tempa kuno, air mata kebahagiaan mengalir di wajahnya. "Ini... ini adalah Besi Es Bintang Jatuh! Dan ini... Inti Lava Abadi! Tuan Muda! Material di sini cukup untuk mempersenjatai sejuta prajurit dengan zirah tak tertembus!"

Leng Yue yang biasanya tenang pun tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Matanya tertuju pada barisan pil spiritual yang bisa meningkatkan fondasi Pasukan Naga Hitam hingga tahap sempurna. "Tuanku... dengan kekayaan ini, kita tidak hanya menjadi penguasa Benua Timur. Kita bisa membangun sekte penguasa kita sendiri di sini, di atas reruntuhan ini."

Qixuan berjalan perlahan menyusuri lorong emas tersebut. Tangannya menyentuh beberapa pedang pusaka, lalu membuangnya dengan asal. Ia tidak tertarik pada benda-benda yang memancarkan kekuatan tempur. Matanya mencari sesuatu yang jauh lebih bernilai.

Di ujung ruangan, di atas sebuah altar pualam tunggal, terletak sebuah kotak kecil yang terbuat dari kristal transparan. Di dalam kotak itu, melayang sebuah koin kuno yang terbuat dari logam tidak dikenal. Koin itu tidak memancarkan qi spiritual, melainkan memancarkan aura *hukum alam (Dao)* yang berkaitan erat dengan pertukaran setara dan penciptaan.

Qixuan mengambil kotak itu. Senyum tulus yang sangat langka merekah di wajahnya.

"Koin Timbangan Surga," Qixuan menggumam takjub, mengenali artefak mitologi yang selama ini dianggap dongeng oleh para ahli sejarah. "Artefak yang mampu mengubah nilai suatu benda menjadi nilai lainnya secara absolut. Benda ini saja bernilai lebih dari seluruh gunung ini digabungkan."

Ia menyimpan koin tersebut dengan hati-hati ke dalam cincin utamanya. Kemudian ia berbalik, menatap gunung harta karun yang memenuhi ruangan raksasa itu.

"Leng Yue," panggil Qixuan, suaranya kembali dipenuhi arogansi sang Dewa Kekayaan. "Hubungi Shen Feiyan. Suruh dia memasukkan semua armadanya ke area gunung. Aku tidak ingin satu pun batu spiritual, satu pun biji herbal, atau satu bilah pedang pun tertinggal di ruangan ini. Kuras habis semuanya. Kita bawa pulang kekayaan ini ke Jinling. Biarkan Benua Atas tahu bahwa mulai hari ini, pusat peradaban dan ekonomi dunia telah berpindah."

"Sesuai perintah Anda, Tuanku!" Leng Yue membungkuk dalam, segera melesat keluar untuk menjalankan tugasnya.

"Hong Lian," Qixuan beralih pada pandai besinya. "Bawa semua material tempa yang kau suka. Mulai besok, kau harus mulai merancang *Meriam Naga Pemakan Bintang* generasi kedua. Aku ingin senjata yang bisa menembakkan hujan meteor emas melintasi samudra."

Hong Lian tertawa kegirangan sambil memeluk bongkahan Besi Es Bintang. "Palu ini tidak akan berhenti berayun, Tuanku!"

Qixuan melangkah keluar dari perbendaharaan, berjalan kembali menuju atap gunung yang telah terbuka ke langit berkat ledakan bom jimatnya.

Malam telah menyelimuti Benua Atas. Pesisir Tebing Guntur Putih kini sepenuhnya dikendalikan oleh pasukan bayarannya. Reruntuhan Istana Pedang Guntur Suci menjadi monumen diam dari kemenangan sang kapitalis brutal.

Namun, indera Jiwa Baru milik Qixuan menangkap sesuatu yang menarik di kejauhan.

Jauh di ufuk selatan Benua Atas, dua pilar cahaya spiritual menjulang tinggi ke angkasa. Satu berwarna merah darah, satu lagi berwarna biru kabut.

Itu adalah reaksi dari Sekte Teratai Darah dan Sekte Langit Berkabut pusat. Kehancuran Istana Pedang Guntur Suci telah memicu lonceng peringatan di dua sekte penguasa lainnya. Mereka kini menyadari bahwa sebuah entitas baru telah menghancurkan keseimbangan segitiga kekuasaan di dunia mereka.

Qixuan memandangi dua pilar cahaya tersebut dengan senyum miring yang menyimpan bahaya mematikan bagi siapa saja yang berani menatapnya. Ia mengeluarkan kipas gioknya, mengipas sisa-sisa debu abu leluhur dari udara.

"Ah, tetangga yang baru saja terbangun," bisik Qixuan pada angin malam. "Bersiaplah, wahai dewa-dewa tua. Tuan Muda Jinling akan segera mengirimkan tagihan sewa dunia ini ke depan pintu sekte kalian. Dan kuharap... kalian memiliki cukup uang untuk membayar nyawa kalian."

Ekspedisi pertamanya ke Benua Atas telah berakhir dengan panen darah dan emas yang tidak terukur. Tembok kesombongan para kultivator luhur telah diruntuhkan hingga ke fondasinya. Kini, Cang Qixuan tidak hanya sekadar memerintah dari balik layar ibukota fana; ia telah menancapkan cakar emasnya tepat di tenggorokan para dewa, bersiap menelan langit itu sendiri dalam gelimang kekayaan absolut.

1
Sang Alang
cerita sebagus ini koq kurang peminatnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!