Di SMA Nusantara Jaya, aturan mainnya sangat sederhana: Uang adalah hukum, dan E4 (The Elite Four) adalah penguasanya. Dipimpin oleh Alvaro Pramudya, pewaris tunggal konglomerat terbesar di Indonesia yang angkuh dan tak tersentuh, geng E4 mengendalikan sekolah dengan sistem "Kartu Merah"—sebuah vonis perundungan kejam yang membuat siapa pun targetnya memilih untuk putus sekolah.
Namun, roda takdir berputar secara instan ketika Kayla Shaqueena, seorang gadis tangguh anak pemilik laundry kiloan, masuk ke sekolah elit tersebut lewat beasiswa jalur khusus. Kayla bukan tipikal gadis yang akan tunduk pada intimidasi. Ketika kartu merah mendarat di mejanya, alih-alih menangis dan memohon ampun, Kayla justru merobek kartu tersebut dan melayangkan
Di antara benturan kasta, harga diri, cinta segitiga yang rumit, dan intrik keluarga kaya yang kotor, akankah Kayla bertahan sebagai rumput liar yang merusak taman indah E4?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TOPENG SANG PENYELAMAT YANG RUNTUH (2)
Taman belakang sekolah yang biasanya sunyi kini terasa seperti kuburan bagi sisa-sisa kepercayaan Kayla. Keheningan di antara dirinya dan Devan begitu pekat, menyisakan deru napas keduanya yang berkejaran dengan angin malam yang mulai berembus kencang.
Devan menatap telapak tangannya yang mulai mendingin. Tuduhan Kayla yang menyebutnya lebih mengerikan daripada Alvaro menghantam tepat ke ego terdalam seorang Narendra.
"Kamu tidak mengerti, Kayla..." Devan berbisik, suaranya mendadak pecah, kehilangan artikulasi tajam yang biasa ia pamerkan di podium debat. "Aku melindungimu dengan caraku! Jika aku tidak menjatuhkan Alvaro malam ini, dia akan kembali ke ruko itu, dia akan terus mengikatmu dengan rasa bersalahnya, dan kamu... kamu akan perlahan luluh padanya! Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi!"
"Jadi ini semua karena rasa cemburumu yang sakit, Devan?" Kayla menggelengkan kepalanya pelan, mundur dua langkah hingga tubuhnya keluar dari bayangan Devan. "Kamu tidak pernah peduli pada nasib anak beasiswa di sekolah ini. Kamu hanya ingin menang dari Alvaro, dan menjadikanku sebagai piala kemenanganmu."
"Kayla—"
"Jangan pernah mendekatiku lagi, Devan. Hubungan aliansi kita selesai malam ini," tegas Kayla dengan sisa kekuatan yang ia miliki. Ia berbalik, mengabaikan panggilan Devan yang berulang kali menggema di koridor yang sepi, lalu berlari sekuat tenaga meninggalkan area sekolah.
---
Malam kian larut, namun Kayla tidak langsung pulang ke rukonya. Pikirannya dipenuhi oleh satu bayangan: wajah Alvaro yang hancur dan mati rasa di atas panggung tadi. Ada dorongan moral yang sangat kuat di dalam dadanya untuk menjelaskan kebenaran, bahwa bukan dirinya yang mengkhianati momen rahasia mereka.
Kayla nekat naik transportasi daring menuju sirkuit balap liar di pinggiran Jakarta—tempat yang pernah Galang sebutkan sebagai tempat pelarian Alvaro setiap kali cowok itu sedang dalam kondisi tertekan.
Setibanya di sana, aroma ban terbakar dan bensin menyengat indra penciuman Kayla. Di tengah kerumunan anak-anak motor dan sorot lampu yang bising, Kayla melihat mobil sport hitam milik Alvaro terparkir di sudut area yang gelap, jauh dari keramaian.
Alvaro duduk bersandar di kap mobilnya yang hangat, memegang sebotol air mineral yang belum dibuka. Seragam sekolahnya sudah kusut, dan beberapa kancing atasnya terbuka bebas. Wajah tampannya menatap kosong ke arah aspal sirkuit. Tidak ada amarah, tidak ada air mata; yang tersisa hanyalah kekosongan yang amat sangat.
Kayla melangkah mendekat dengan napas terengah-engah. "Alvaro..."
Alvaro tidak menoleh. Ia hanya mengembuskan napas pendek melalui hidungnya, seulas senyum pahit terukir di bibirnya yang pucat. "Untuk apa kamu ke sini, Kayla? Ingin melihat bagaimana hancurnya pecundang yang baru saja kamu telanjangi di depan seluruh sekolah?"
"Bukan aku, Alvaro! Aku bersumpah demi nyawa ayah dan ibuku, bukan aku yang menyebarkan rekaman itu!" jerit Kayla, melangkah hingga berdiri tepat di hadapan Alvaro, memaksa cowok itu untuk menatapnya. "Itu perbuatan Devan! Dia menguntit kita, dia merekam pembicaraan kita di depan ruko, dan dia yang meretas layar LED aula! Aku baru mengetahuinya saat video itu diputar!"
Alvaro perlahan mengangkat kepalanya, menatap sepasang mata bulat Kayla yang digenangi air mata ketulusan. Untuk beberapa detik, ada kilatan harapan yang muncul di manik mata hitam Alvaro, namun dengan cepat redup kembali, digantikan oleh rasa lelah yang teramat sangat.
"Aku tahu, Kayla," bisik Alvaro lirih.
Kayla tertegun. "Kamu... kamu tahu?"
"Aku tahu karaktermu, Kayla. Kamu terlalu bangga dan terhormat untuk menggunakan cara kotor seperti itu," Alvaro menurunkan kakinya dari kap mobil, berdiri tegap di depan Kayla. Jarak mereka begitu dekat, hingga Kayla bisa merasakan aura dingin kekecewaan yang memancar dari tubuh cowok itu.
"Tapi tahu apa yang paling membuatku hancur, Kayla? Fakta bahwa Devan bisa memiliki rekaman itu karena kamu mengizinkannya berada di dekatmu. Kamu membangun aliansi dengannya untuk melawanku. Kamu memberikannya ruang untuk masuk ke dalam hidupmu, hingga dia bisa mengintai setiap pergerakanku bersamamu."
Alvaro mencengkeram kedua bahu Kayla dengan lembut namun sarat akan keputusasaan. "Aku sudah membuang segalanya untukmu, Kayla! Aku menantang ibuku, aku merobek harga diriku di depan umum, aku membiarkan seluruh sekolah tahu bahwa penguasa Nusantara Jaya bertekuk lutut di depan seorang anak laundry... hanya agar kamu berhenti membenciku! Tapi pada akhirnya, kamu tetap memilih untuk berdiri di belakang punggung Devan dan membiarkan dia menghancurkanku."
Air mata Alvaro akhirnya menetes, meluncur melewati pipinya yang kini tampak begitu tirus. Pelukan hangat yang pernah mereka bagi di atas atap kini terasa seperti fatamorgana yang menyakitkan.
"Permainan ini... aku mengaku kalah, Kayla," Alvaro melepaskan cengkeramannya dari bahu Kayla, melangkah mundur satu jengkal. "Mulai besok, aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku akan mengundurkan diri dari pemilihan OSIS, dan aku akan membiarkan Devan mengambil alih semua yang dia inginkan. Termasuk dirimu."
"Alvaro, bukan itu maksudku—"
"Pergilah, Kayla," potong Alvaro, suaranya mendadak berubah menjadi sangat datar dan dingin—sebuah benteng pertahanan baru yang ia bangun untuk mengunci hatinya rapat-rapat dari gadis di hadapannya. "Kembalilah pada penyelamatmu. Mulai hari ini, urusan di antara kita benar-benar sudah selesai."
Alvaro memutar tubuhnya, masuk ke dalam kursi kemudi mobil sport hitamnya, dan menyalakan mesin yang menderu keras. Tanpa menoleh lagi ke arah Kayla yang menangis tergugu di tepi jalan, Alvaro menginjak pedal gas dalam-dalam, membiarkan mobilnya melesat membelah kegelapan malam, meninggalkan sang rumput liar yang kini didera rasa bersalah yang teramat sangat di tengah kepungan angin malam Jakarta.
---
Bersambung