NovelToon NovelToon
AYAH TIRI UNTUK ANAKKU

AYAH TIRI UNTUK ANAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Duda / Komedi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: La Rumi

Erina Hutomo, single mom yang harus berjuang sendiri mengatasi kekacauan hidup--anak sulung yang beranjak remaja dan banyak ulah, anak bungsu yang autis, tetangga yang selalu nyinyir karena dia janda--hingga tumpukan pekerjaan yang terus menghantuinya di kantor.

Sampai suatu ketika, petir terbesar menyambarnya--Erina divonis mengidap kanker otak, dan usianya tak akan lama.

Di tengah badai, Erina tak sempat menangis. Garis akhir itu seperti bom waktu. Dan ia memilih mati-matian mempersiapkan segalanya, terutama untuk buah hati yang paling dicintainya. Ia hanya ingin anak-anaknya hidup layak dan bahagia--bahkan setelah ia tak ada lagi di dunia.

Termasuk, memberi mereka sosok ayah yang bisa menjaga dan menyayangi mereka seperti darah daging sendiri, sampai akhir.

Berhasilkah Erina menuntaskan misi dan harapan terakhirnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. TAK TERDUGA

"Assalamu'alaikum... Bu De Nasri."

Erina tanpa ragu mengetuk pintu kayu bercat hijau tua yang sudah terkelupas akibat dimakan cuaca itu dengan buku-buku jarinya yang terasa dingin.

"Wa'alaikumsalam. Eh kamu Rin... ada apa malam-malam begini kemari?"

Bu De Nasri, tetangga sebelah kontrakan Erina yang bertubuh gemuk pendek dan berwajah ramah, keluar dengan mengenakan daster kelelawar warna hijau, rambut panjang beruban digelung, dan mata mengantuk setelah pintu rumahnya diketuk Erina pukul sembilan malam lewat.

"Maaf mengganggu malam-malam, Bu De... saya boleh pinjam ponsel? Saya mau telepon Saga, dia belum pulang juga sampai sekarang," ujar Erina cepat, ekspresinya campuran antara panik dan tegang.

"Lho... kok bisa?" Bu De Nasri terkejut, kantuknya lenyap seketika. "Sebentar... Bu De ambil ponsel dulu di kamar. Masuk dan duduk dulu, Rin."

Bu De Nasri masuk kamar untuk mengambil ponselnya. Tak lama kemudian, ia keluar dan menyerahkannya pada Erina yang duduk sambil meremas kedua tangannya dengan gelisah di salah satu kursi antik di ruang tamu.

"Eh...," Erina bengong sejenak setelah menerima ponsel itu.

"Kenapa, Rin?" tanya Bu De Nasri bingung, yang kemudian duduk di sebelah Erina.

"Saya lupa... nomor HP Saga berapa, ya?" Erina menggaruk topi kupluk rajut warna beige yang kini membungkus kepalanya plontosnya.

"Lhah...," Bu De Nasri pun menggaruk kepalanya yang tak gatal.

"Bu De nggak save nomor Saga di ponsel Bu De?" Erina memandang Bu De Nasri penuh harap.

"Eh... ponsel Bu De tadi sore ke-reset, gara-gara Maya. Semua nomor pada hilang," ujar Bu De Nasri menyesal. Maya adalah cucunya yang baru berusia lima tahun dan sedang aktif-aktifnya--dan memainkan sampai me-reset ponsel orang-orang di rumahnya selagi ada kesempatan bukan lagi menjadi perkara yang mengherankan.

"Yah...," keluh Erina, hatinya serasa mencelos.

"Tetangga lain nggak ada yang punya nomornya Saga?" tanya Bu De Nasri.

Erina menggeleng.

Di sepanjang gang ini, hanya Bu De Nasri yang menjalin hubungan paling dekat dan paling baik dengan keluarga kecil Erina. Bu De Nasri juga satu-satunya yang bisa dimintai tolong untuk menjaga Saga dan Nala sejak kecil jika Erina harus bekerja. Kedekatan mereka sudah seperti keluarga sedarah.

"Maafin Bu De ya...," Bu De Nasri tampak menyesal. "Terus ini harus gimana? Eh, ponselmu sendiri mana? Kok sampai pinjam ponsel Bu De buat nelepon Saga?"

Erina menghela napas muram.

"Dari tadi saya cari ponsel saya gak ketemu... kayaknya ketinggalan di kantor."

"Lhoalah...," celetuk Bu De Nasri seraya menepuk jidatnya. "Terus gimana? Mau diambil dulu?"

"Yah... nggak ada pilihan lain lagi. Saya harus segera telepon Saga... Bu De, maaf merepotkan, tapi tolong jaga Nala sampai saya pulang, ya. Dan kalau Saga pulang, tolong suruh kabari saya."

Bu De Nasri mengangguk.

"Ya, Bu De akan jaga Nala sampai kamu pulang. Mudah-mudahan Saga segera pulang juga--semoga semuanya baik-baik saja. Kamu hati-hati ya, Rin."

Usai menitipkan Nala pada Bu De Nasri, Erina bergegas mengenakan jaket. Ia kemudian berjalan cepat menyusuri gang, dan setibanya di jalan raya, ia harus menunggu selama lima belas menit sampai angkot yang diincarnya lewat. Ia pun mencegat dan menumpangi angkot itu untuk menuju tempat kerjanya yang terletak di pinggiran kota.

Sepanjang perjalanan, Erina benar-benar tak bisa tenang. Ia juga sempat menyesali banyak hal--kenapa ponselnya bisa sampai tertinggal? Kenapa ia bisa tak ingat tentang Saga sama sekali--termasuk nomor HP-nya? Dan yang membuatnya merasa sangat bodoh--kenapa ia tadi tak mencoba pergi ke sekolah Saga dulu untuk mengecek keberadaan putranya di sana? Siapa tahu Saga masih berada di sekolah karena ada kegiatan ekstra, atau mendapat hukuman lain karena bertengkar dengan kawan sekolahnya... meski Erina berharap setengah mati, hal seperti itu tak akan terjadi lagi.

Tetapi nasi sudah menjadi bubur meski tanpa suwiran ayam, taburan seledri dan bawang goreng, apalagi sate telur puyuh. Sekarang ia sudah hampir sampai gudang--jadi kepalang tanggung kalau harus turun dan naik angkot lain ke SMP Tunas Emas yang letaknya jauh dan berlawanan dari lokasi PT. Dasim Sakti tempatnya bekerja.

Kepala Erina terasa makin berat dan berkabut saat ia turun dari angkot di jalan raya depan kawasan pergudangan, langkahnya pun limbung.

Kenapa aku tetap pusing dan malah jadi pelupa parah begini...? Padahal Glioma Boxer sudah pergi... jangan-jangan beneran ada jamur baru tumbuh di otakku, lagi...

Pikiran kacau Erina terhenti saat melihat gerbang biru raksasa yang menjadi akses masuk gudang tempatnya bekerja sedikit terbuka--padahal biasanya tertutup rapat, apalagi saat malam begini.

Erina dengan lekas dan hati berdebar memasuki area depan gudang. Ia terkejut saat melihat mobil Lexus RX putih yang familiar sudah terparkir di sana.

Alvin... dia ada di sini? Malam-malam begini? Bukannya dia sedang cuti umroh?

Kebingungan, Erina menghampiri pos security di dekat gerbang. Ia ingin melaporkan kedatangannya sesuai prosedur keamanan yang berlaku, sekaligus menanyakan perihal Alvin dan gerbang yang dibiarkan terbuka pada security yang bertugas malam ini--entah giliran siapa, Erina tak bisa mengingat jadwalnya.

Malam itu, segala sesuatunya bergulir begitu tak terduga--dan entah bagaimana, semakin mengguncang jiwa.

Erina terkejut bukan kepalang kala mendapati Bonita telungkup di atas meja dengan mata terpejam di dalam pos. Segelas minuman terguling dekat lengannya, sedikit cairan hitam pekat yang tersisa dan beraroma manis mengotori permukaan kayu meja yang tak rata.

"Bonita... bangun! Bonita!"

Sekuat apapun Erina memanggil dan mengguncang bahu Bonita, lelaki kekar ber-wig merah ikal panjang itu tak bergerak sama sekali, apalagi membuka mata.

"Bon... kamu kenapa? Kamu sakit? Kamu pingsan? Bonita!"

Bonita benar-benar tak sadarkan diri--entah mengapa, meski untungnya nadinya masih berdenyut dan masih bernapas.

Dengan cemas dan panik, Erina pun menyambar telepon di ujung meja untuk menghubungi ambulans.

Saat itulah ia melihatnya--di layar komputer tua dekat telepon, salah satu rekaman CCTV di dalam gudang menunjukkan pemandangan tak biasa dan membuat jantungnya seakan berhenti mendetakkan darah.

Di sudut belakang gudang lantai dua, tempat barang-barang bekas disimpan, lima orang lelaki terlihat ramai-ramai menyudutkan dan menghajar seseorang hingga terkapar tak berdaya.

Siapa mereka? Apa yang...?

Erina mendekat dan menekan mouse untuk melihat lebih jelas para penyerang dan korban yang tampak kesakitan dalam gambaran hitam-putih itu.

Sosok para penyerang itu sepenuhnya tak dikenal Erina.

Fokusnya kemudian tertuju pada sosok yang tergeletak di lantai kayu.

Wajah menawan berambut agak ikal yang kini berlumuran darah itu sungguh tak asing di mata dan ingatan Erina--bahkan mendesirkan sesuatu yang telanjur mengakar kuat di kedalaman batinnya.

"A--ALVIN?!"

***

1
Shamira Zee
Saga nggak pulang, Alvin tiba-tiba diserang... Erina juga kayaknya belum sembuh... mulai dar-der-dorr ceritanyaa
Shamira Zee
Dari tumor ganti jamur... asbun kali Harum 😭🤣 Kayaknya konfliknya mulai naik ya /Chuckle/
Shamira Zee
Jangan macem-macem deh vin... yang ada tambah rusuh bukannya tambah beres /Hammer/
Shamira Zee
Nggak sama vin... emak dan masmu kayak es batu, sementara kamu semprul 🤣🤣🤣
Shamira Zee
🤣🤣🤣🤣
Shamira Zee
Nah lhoo kepergok ibunda ratu... astagaa malu gak tuuh 🤣🤣🤣
Nyonya Billy
😂😂😂😂 alvin ini orang kaya dan baik tapi kayaknya nasibnya kurang baik 😂
Nyonya Billy
Kasihan Saga salah paham terus punya mama kayak Erina 😂
Nyonya Billy
Walau absurd dan kocak, tapi mimpinya nyambung sama kondisi Erina yang lagi diangkat tumornya... bisa aja bikin beginian thor 😂
Nyonya Billy
Perutku sakit, ngak bisa berhenti ketawa... aduuh 😂
Nyonya Billy
Kasihan Erina... semoga lekas sembuh
Nyonya Billy
Rusuh tapi lucu 😂
Nyonya Billy
Rosalinda... makhluk berbatang pisang... astagaa 😂
Nyonya Billy
Kamar bersalin dan Alvin melahirkan... thor kamu kocak amat sih 😂
Shamira Zee
Gimana konsepnya lagi mimpi ena-ena lah kebangun sama ringtone hp sendiri yang nyeleneh 🤣🤣🤣 Alvin emang koplak 🤣🤣🤣🤣
Shamira Zee
🤣🤣🤣 wes gak tahu mau bilanh apa erina absurdnya udah di luar nurul, makanya tumornya juga kocak 😭🤣🤣🤣
Shamira Zee
🤣🤣🤣 capek mgakak 🤣🤣🤣😭🤣🤣🤣
Shamira Zee
Susahnya dapat restu 😭 Bu andin ngidam apa dulu bu anaknya modelan alvin 😭🤣
Shamira Zee
Jangan galak-galak Ga itu calon bapakmu udah baik banget lho mau yang spek kayak gimana lagi coba... mana mamamu absurd orangnya 😭🤣
Nyonya Billy: Setuju 😂
total 1 replies
Shamira Zee
🤣🤣🤣🤣 THOR TOLONG NGAK BISA BERHENTI NGAKAK, SUMPAH INI PALING KOCAKKK AMPUNN 😭🤣🤣🤣
La Rumi: /Curse//Curse//Curse//Curse/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!