Tirai Sutra Tuan Muda Cang

Tirai Sutra Tuan Muda Cang

bab 1 emas di balik lengan baju

Aroma bedak murahan bercampur semerbak arak bunga persik menguar kental di udara Malam Jinling. Ibukota Kekaisaran Yan tidak pernah tidur, apalagi di Distrik Lentera Merah. Di pusat distrik tersebut, Paviliun Teratai Malam berdiri megah dengan lampion-lampion emas yang memancarkan cahaya remang, memantulkan bayangan para bangsawan yang kehilangan akal sehat mereka malam ini.

Di lantai tiga paviliun, yang disewa khusus dengan harga setara pajak satu kota kecil selama setahun, suara tawa serak memecah denting kecapi.

"Tuang lagi! Apakah Paviliun Teratai Malam sudah kehabisan arak?! Jika Nyonya Su tidak bisa memuaskanku malam ini, aku akan membeli seluruh tempat ini dan mengubahnya menjadi kandang kuda-kudaku!"

Seorang pemuda berpakaian sutra biru tua yang disulam benang emas bersandar malas di atas dipan berlapis bulu rubah putih. Wajahnya tampan dengan garis rahang tegas, matanya sedikit memerah karena efek alkohol. Tangan kanannya memeluk pinggang seorang penari cantik yang gemetar pelan, sementara tangan kirinya memutar-mutar cawan giok.

Dialah Cang Qixuan, pewaris tunggal Kediaman Jenderal Cang. Tuan muda paling terkenal di seluruh ibukota, bukan karena bakat bela dirinya, melainkan kemampuannya menghancurkan harta kekayaan leluhur.

Di sudut ruangan, dua pria berwajah datar dalam balutan jubah abu-abu saling bertukar pandang. Mereka duduk berbaur dengan para penjaga, berpura-pura menikmati hidangan. Hanya orang dengan mata batin tajam yang bisa melihat lencana kecil berukir naga melingkar di balik kerah mereka—Anjing Pelacak Kaisar. Mata-mata Istana.

Qixuan menyadari keberadaan mereka sejak langkah pertamanya memasuki paviliun. Sudut bibirnya berkedut kecil membentuk seringai tipis, sangat tipis hingga tak ada yang menyadarinya, sebelum kembali tertawa terbahak-bahak.

"Tuan Muda Cang benar-benar murah hati," suara lembut nan merayu terdengar dari ambang pintu. Nyonya Su Liyin, pemilik paviliun, melangkah masuk membawa nampan berisi guci arak pualam. Usianya menginjak pertengahan tiga puluh, pesonanya matang ibarat buah persik yang siap dipetik. "Ini adalah Arak Dewa Mabuk berusia seratus tahun. Hanya ada tiga guci di seluruh ibukota."

"Berapa harganya?" Qixuan bertanya tanpa melepaskan pelukannya pada sang penari.

"Lima ribu tael emas, Tuan Muda."

Ruangan mendadak hening. Lima ribu tael emas cukup untuk mempersenjatai satu batalion pasukan elit kekaisaran dengan zirah besi terbaik.

Tanpa berkedip, Qixuan melempar kantong kain sutra ke arah Nyonya Su. Kantong itu mendarat di atas meja kayu cendana dengan bunyi dentingan yang berat. "Di dalamnya ada sepuluh lembar wesel dari Bank Giok Ruyi, masing-masing bernilai seribu tael. Sisanya anggap saja uang jajan untukmu, Nyonya Su."

Mata para pelayan terbelalak. Kedua mata-mata kekaisaran di sudut ruangan tersenyum sinis, mencatat dalam ingatan mereka betapa bodohnya pewaris Jenderal Cang ini. Jenderal Besar Cang Baotian mempertaruhkan nyawa di perbatasan menjaga negara, sementar cucunya melempar emas untuk arak dan wanita.

Saat Nyonya Su mengambil kantong tersebut, jari telunjuknya dengan lincah menyapu bagian bawah kantong. Ada sebuah kompartemen rahasia kecil di sana. Di dalamnya bukan emas, melainkan gulungan kertas seukuran jarum berisi tiga nama pejabat penting yang harus disingkirkan informasinya malam ini.

Pandangan Nyonya Su bertemu dengan mata Qixuan selama sepersekian detik. Mata pemuda yang tadinya terlihat mabuk itu kini sedingin es di Puncak Gunung Surgawi. Sangat tajam. Sangat jernih.

"Terima kasih atas kemurahan hati Tuan Muda," Nyonya Su menunduk dalam, menyembunyikan senyum penuh artinya. Emas yang selama ini dibakar oleh Cang Qixuan di tempat ini tidak pernah menjadi abu. Uang itu mengalir deras bagai sungai di bawah tanah, membiayai pembentukan Jaring Bayangan—sebuah organisasi intelijen bawah tanah yang mulai mencengkeram nadi ibukota.

Tepat saat arak mulai dituangkan, pintu ruangan ditendang terbuka. Kayu gaharu yang mahal hancur berkeping-keping.

"Hahaha! Aku penasaran siapa orang tolol yang berani menyewa seluruh lantai tiga. Ternyata Tuan Muda Sampah dari Klan Cang!"

Seorang pemuda melangkah masuk diiringi belasan pengawal berotot kawat. Pemuda itu memiliki wajah panjang dengan hidung bengkok bak burung bangkai. Pei Qianji, putra kedua dari Perdana Menteri Pei. Secara politis, Klan Pei adalah musuh bebuyutan Klan Jenderal Cang. Kaisar Yan diam-diam mendukung Klan Pei untuk menekan pengaruh militer Jenderal Besar.

Qixuan tidak bangkit dari dipannya. Ia bahkan tidak melepaskan penari di pelukannya. "Ah, Tuan Muda Pei. Bau kotoran babi dari sepatumu merusak aroma Arak Dewa Mabuk milikku. Apakah pelayan di rumahmu lupa cara membersihkan kakimu?"

Wajah Pei Qianji memerah padam. "Cang Qixuan! Kau pikir kau masih bisa bersikap arogan?! Kakekmu sedang sekarat di Perbatasan Utara, dan kau di sini membuang-buang uang pensiun prajuritnya! Kau bukan lagi kultivator jenius seperti lima tahun lalu. Meridianmu sudah lumpuh! Hari ini, aku akan memberimu pelajaran tata krama!"

Mendengar kata meridian lumpuh, hawa dingin seketika menyelimuti ruangan. Lima tahun lalu, Qixuan memang diracun oleh pembunuh bayaran misterius. Racun 'Pembakar Nadi' menghancurkan seluruh saluran qi di tubuhnya, mengubahnya dari jenius bela diri menjadi manusia fana yang lemah. Sejak hari itu, ia mulai hidup berfoya-foya, mengklaim dirinya sudah menyerah pada jalan bela diri.

Pei Qianji memberi isyarat. Dua pengawalnya di tingkat Pembentukan Fondasi tahap akhir melesat maju, tangan mereka membentuk cakar elang yang siap meremukkan bahu Qixuan.

Para penari menjerit. Nyonya Su melangkah mundur.

Tepat sebelum cakar itu menyentuh sutra bajunya, sebuah bayangan hitam muncul dari belakang dipan Qixuan. Bayangan itu bergerak lebih cepat dari kilat.

*Brak! Brak!*

Dua pengawal Pei Qianji terlempar mundur hingga menghantam dinding koridor luar, memuntahkan darah segar sebelum jatuh pingsan.

Di samping Qixuan, kini berdiri seorang pemuda berpakaian ringkas hitam legam dengan pedang tak tercabut di pinggangnya. Wajahnya tanpa ekspresi. Dia adalah Mo Chen, pelayan sekaligus pengawal pribadi Qixuan.

Pei Qianji mundur selangkah, menelan ludah. "B-beraninya kau melawan! Mo Chen, kau pikir kau bisa menahan kami semua?!"

Qixuan akhirnya bangkit. Ia merapikan jubahnya yang kusut, lalu berjalan perlahan mendekati Pei Qianji. Langkahnya gontai, senyumnya merendahkan.

"Tuan Muda Pei... kau berbicara soal tata krama?" Qixuan merogoh lengan bajunya, mengeluarkan setumpuk wesel emas lagi. Tanpa aba-aba, ia menampar wajah Pei Qianji dengan tumpukan kertas berharga tersebut.

*Plak!*

"Ini untuk pintu Nyonya Su yang kau rusak."

*Plak!*

"Ini untuk mengganggu waktu minumku."

*Plak!*

"Dan ini... karena wajahmu sangat jelek."

Tiga tamparan menggunakan kertas, tidak memiliki qi atau tenaga dalam, kemurnian penghinaan fisik belaka. Pei Qianji gemetar karena amarah dan rasa malu yang luar biasa, wajahnya memerah bagai kepiting rebus. Ia ingin menyerang, matanya menatap tajam ke arah Mo Chen yang tangannya sudah berada di gagang pedang. Qi membunuh dari pengawal hitam itu begitu pekat hingga membuat napas Pei Qianji sesak.

"Kau... Cang Qixuan! Tunggu pembalasanku!" Pei Qianji berbalik, melarikan diri meninggalkan pengawalnya yang masih terkapar.

Qixuan mendengus keras. "Mo Chen, bereskan sampah di koridor. Nyonya Su, uang yang berserakan di lantai itu untuk biaya kebersihan. Aku sudah kehilangan selera malam ini."

Kedua mata-mata kekaisaran menghela napas lega. Pertunjukan sudah selesai. Pewaris Cang itu sama sekali tidak memancarkan fluktuasi qi saat marah, membuktikan desas-desus bahwa meridiannya benar-benar telah mati permanen. Tindakannya menggunakan uang untuk menampar lawan adalah bukti nyata kebobrokan moral dan mentalnya.

Tanpa menoleh lagi, Qixuan melangkah keluar paviliun, meninggalkan Distrik Lentera Merah yang masih hingar-bingar.

Kereta kuda Klan Cang melaju menembus dinginnya malam. Di dalam kabin yang kedap suara, postur tubuh Qixuan yang tadinya bersandar malas kini berubah tegap bak pedang yang baru ditempa. Bau arak yang menguar dari tubuhnya perlahan sirna, digantikan aura misterius yang menekan udara di dalam kabin.

Mo Chen yang memegang kendali kuda di luar mengirimkan transmisi suara rahasia ke dalam kabin. *"Tuan Muda, mata-mata Kaisar sudah kembali ke istana. Tidak ada yang membuntuti kita."*

*"Bagus,"* Qixuan membalas menggunakan transmisi qi murni. Ya, qi murni. Saluran qi yang dikabarkan hancur lima tahun lalu itu tidak sepenuhnya mati.

Ia memejamkan mata. Di dalam lautan kesadarannya, ia melihat kembali memori malam berdarah itu. Pembunuh bayaran yang dikirim Kaisar memang berhasil meracuninya. Saluran qi utamanya hancur berantakan. Mengobatinya membutuhkan pil tingkat dewa yang mustahil ditemukan di dunia fana.

Alih-alih putus asa, Qixuan menemukan teknik terlarang dari gulungan kuno milik leluhur pertama klan: *Seni Pernapasan Menelan Langit*. Teknik ini tidak membutuhkan meridian utuh. Alih-alih mengalirkan energi alam ke dalam tubuh, teknik ini memaksa tubuh penggunanya menyerap energi secara kasar, menghancurkan sisa-sisa meridian lama untuk membentuk pusaran energi (Dantian) buatan di sembilan titik vital.

Rasa sakitnya seperti dikuliti hidup-hidup setiap malam selama lima tahun berturut-turut. Kegagalan berarti kematian instan. Cang Qixuan bertahan melalui neraka tersebut dalam diam, bersembunyi di balik topeng seorang pria brengsek yang gila foya-foya.

Kini, dari sembilan pusaran energi yang dibutuhkan, ia baru berhasil membuka dua. Kekuatannya baru setara dengan kultivator tingkat akhir Pengumpulan Qi, masih sangat jauh dari kekuatan puncaknya dulu. Jalan kebangkitannya masih sangat panjang.

Kereta kuda akhirnya berhenti di depan gerbang Kediaman Jenderal Cang. Dua patung singa batu besar yang mengapit gerbang tampak kusam dimakan cuaca. Cat merah pada pintu kayunya mulai terkelupas. Tidak ada penjaga lapis baja yang berbaris rapi seperti kediaman menteri lainnya. Kekaisaran secara perlahan memotong dana militer dan persediaan klan, membiarkan mereka membusuk dari dalam.

Qixuan melangkah turun. Seorang pelayan tua yang memegang lampion buru-buru menyambutnya.

"Tuan Muda, Anda sudah kembali." Suara pelayan itu serak, menyembunyikan kekhawatiran.

"Paman Lin, siapkan air hangat. Aku butuh mandi." Qixuan menjawab singkat, menjaga suaranya tetap datar.

"Tuan Muda..." Paman Lin ragu-ragu. "Tuan Besar menunggumu di Aula Leluhur."

Langkah Qixuan terhenti sesaat. Kakeknya, Jenderal Besar Cang Baotian, seharusnya berada di Perbatasan Utara mengawasi pergerakan Suku Barbar Badai. Mengapa dia kembali ke ibukota tanpa pemberitahuan? Kembali tanpa perintah kaisar adalah pelanggaran militer berat.

Tanpa banyak bicara, Qixuan bergegas menuju Aula Leluhur yang terletak di bagian terdalam manor. Aroma dupa cendana yang kuat menyengat hidungnya. Di tengah ruangan remang itu, di hadapan ratusan papan nama leluhur Klan Cang, berlutut seorang pria tua dengan zirah perang yang penyok dan berlumuran darah kering.

"Kakek." Qixuan melangkah masuk, menutup pintu kayu tebal di belakangnya.

Cang Baotian menoleh pelan. Wajah yang dulunya gagah dan ditakuti musuh hingga ribuan mil jauhnya itu kini pucat pasi. Bibirnya bernoda darah hitam. Dia terluka parah. Bukan luka senjata tajam, melainkan luka akibat benturan qi dari kultivator tingkat tinggi.

"Kau berbau pelacur dan arak murahan lagi, Xuan'er," suara jenderal tua itu berat dan serak, memendam kelelahan yang luar biasa.

Qixuan bergegas maju, memeriksa denyut nadi kakeknya. Wajah pemuda itu berubah drastis. Saluran jantung kakeknya hancur. Racun dingin sedang menggerogoti organ dalamnya. Ini bukan hasil pertarungan melawan orang barbar di perbatasan. Ini adalah racun khas dari Bayangan Istana—pasukan pembunuh pribadi Kaisar.

"Kaisar... dia akhirnya bergerak memotong rumput hingga ke akarnya," bisik Qixuan, giginya terkatup rapat hingga rahangnya menonjol.

Cang Baotian terbatuk keras, memuntahkan segumpal darah hitam ke lantai batu. Ia mencengkeram lengan cucunya dengan sisa tenaga yang ada. Cengkeramannya lemah, membuat hati Qixuan terasa diiris pedang tak kasat mata.

"Pasukan Naga Hitam di perbatasan... sudah disusupi. Wakil Jenderalku, orang yang kuangkat dari jalanan, menusukku dari belakang bersama tiga Tetua Istana," napas Cang Baotian tersengal. "Mereka menuduh klan kita melakukan pemberontakan. Dekrit pemusnahan mungkin akan turun besok pagi."

Qixuan menatap mata kakeknya. Tidak ada kepanikan, hanya rasa duka yang mendalam. Selama ratusan tahun, Klan Cang menumpahkan darah melindungi Dinasti Yan. Setiap pria dalam klan ini mati di medan perang, meninggalkan para janda yang terus membesarkan generasi berikutnya untuk kembali ke medan perang. Hasil dari kesetiaan berdarah itu adalah kecurigaan dan bilah pisau dari kaisar yang duduk nyaman di atas takhta emas.

"Aku memaksakan diri kembali menggunakan Jimat Pengecil Ruang untuk memperingatkanmu," kakeknya melanjutkan, membelai wajah Qixuan dengan tangan kasar yang gemetar. "Bawalah ibumu. Pergilah ke Selatan. Bersembunyilah. Untungnya... untungnya selama lima tahun ini kau terus merusak nama baikmu. Kaisar melihatmu sebagai sampah yang tidak mengancam. Mereka mungkin akan melepaskanmu jika kau membuang nama belakangmu."

Air mata menggenang di pelupuk mata jenderal tua itu. Baginya, melihat cucu kebanggaannya menjadi pemuda hidung belang adalah siksaan batin, sebuah rasa malu yang tak tertahankan. Mengetahui cucunya itu kini harus membuang nama klan untuk bertahan hidup membuatnya merasa gagal sebagai leluhur.

Qixuan diam. Ia tidak menjawab. Perlahan, ia melepaskan cengkeraman tangan kakeknya, lalu mundur dua langkah.

Pria muda yang selalu terlihat mabuk dan malas itu merubah posturnya. Tulang punggungnya lurus menantang langit. Mata merahnya yang selalu sayu kini memancarkan cahaya biru kelam yang mengerikan. Udara di dalam Aula Leluhur tiba-tiba menjadi sangat berat. Dupa yang menyala di atas altar seketika padam tanpa tertiup angin.

Dua pusaran energi di dalam dada dan perut Qixuan berputar liar. Gelombang qi murni, sangat padat dan buas—jauh melampaui qi kultivator normal tingkat Pengumpulan—memancar dari tubuhnya, menyapu debu di ruangan tersebut.

Mata Cang Baotian terbelalak lebar. Mulutnya terbuka menatap fenomena di depannya. "Xuan'er... kau... meridianmu..."

"Cucu tidak berbakti ini memohon ampun karena telah membohongi Kakek selama lima tahun," Qixuan berlutut, menempelkan dahinya ke lantai batu yang dingin. Suaranya bergema penuh tekad baja. "Malam ini, Kakek tidak akan mati. Klan Cang tidak akan musnah. Dan mulai malam ini, Dinasti Yan akan mulai menghitung mundur hari kehancurannya."

Qixuan mengangkat kepalanya. Seringai tipisnya yang biasa kini berubah menjadi senyum malaikat pencabut nyawa.

"Aku telah menghabiskan jutaan emas untuk membeli mata dan telinga di seluruh ibukota. Aku membiarkan mereka memanggilku sampah. Biarkan Kaisar Yan merasa puas melihat pertunjukan badutku. Karena saat badut ini melepas topengnya... seluruh istana mereka akan tenggelam dalam darah."

Di luar Aula Leluhur, badai musim semi mulai turun, menyapu dedaunan kering di halaman, menandakan dimulainya era kekacauan baru di Benua Surgawi. Tuan Muda yang boros telah menelan cukup banyak cemoohan; kini saatnya ia menelan kekaisaran.

Episodes
1 bab 1 emas di balik lengan baju
2 bab 2 jaring sutra di atas darah
3 bab 3 catur berdarah di istana naga langit
4 bab 4 kesepakatan di bawah cahaya bulan darah
5 bab 5 Tuan muda sutra di Lembah para terbuang
6 bab 6 badai gandum dan catur emas di atas papan kematian
7 bab 7 pawai emas menuju makam leluhur
8 bab 8 resep kehancuran dan perjamuan sutra berdarah
9 bab 9 hujan emas di perjamuan bunga persik
10 bab 10 runtuhnya tembok es dan lahirnya naga bayangan
11 bab 11 bahtera emas di langit utara
12 bab 12 jenderal wanita lentera es dan sang teratai pandai besi
13 bab 13 Ekspedisi kemunafikan dan sayembara hujan emas
14 bab 14 runtuhnya langit awan putih dan bayangan hitam di kota raja
15 bab 15 malam cekikan sutra emas di istana Naga Langit
16 bab 16 pesta teh di atas runtuhan singgasana
17 bab 17 utusan petir dan inti emas sang kaisar bayangan
18 bab 18 takhta bayangan dan kedatangan sang merak penjajah surga
19 bab 19 hujan jimat di menara emas dan eksekusi tiga Bayangan
20 bab 20 melintasi lautan kabut dan sambutan pesta kembang api
21 bab 21 panen darah di pesisir guntur dan runtuhnya tembok kesombongan
22 bab 22 runtuhnya pilar langit dan panen raya di atas puing dewa
23 bab 23 koin timbangan Surga dan aliansi dua kutub
24 bab 24 ketenangan sebelum badai dan deru mesin pembantai surgawi
25 bab 25 hujan Kiamat di langit darah dan dewa yang terbakar
26 bab 26 tirai sutra yang menyelimuti dunia dan riak di danau bintang
27 bab 27 invasi matahari emas dan bank sentral kematian
28 bab 28 tagihan langit berdarah dan pengkhianatan sembilan naga suci
29 bab 29 akuisisi paksa ranah Domain Bumi dan runtuhnya Matahari Benua Tengah
30 bab 30 monumen arogansi dan deru mesin industri kiamat
Episodes

Updated 30 Episodes

1
bab 1 emas di balik lengan baju
2
bab 2 jaring sutra di atas darah
3
bab 3 catur berdarah di istana naga langit
4
bab 4 kesepakatan di bawah cahaya bulan darah
5
bab 5 Tuan muda sutra di Lembah para terbuang
6
bab 6 badai gandum dan catur emas di atas papan kematian
7
bab 7 pawai emas menuju makam leluhur
8
bab 8 resep kehancuran dan perjamuan sutra berdarah
9
bab 9 hujan emas di perjamuan bunga persik
10
bab 10 runtuhnya tembok es dan lahirnya naga bayangan
11
bab 11 bahtera emas di langit utara
12
bab 12 jenderal wanita lentera es dan sang teratai pandai besi
13
bab 13 Ekspedisi kemunafikan dan sayembara hujan emas
14
bab 14 runtuhnya langit awan putih dan bayangan hitam di kota raja
15
bab 15 malam cekikan sutra emas di istana Naga Langit
16
bab 16 pesta teh di atas runtuhan singgasana
17
bab 17 utusan petir dan inti emas sang kaisar bayangan
18
bab 18 takhta bayangan dan kedatangan sang merak penjajah surga
19
bab 19 hujan jimat di menara emas dan eksekusi tiga Bayangan
20
bab 20 melintasi lautan kabut dan sambutan pesta kembang api
21
bab 21 panen darah di pesisir guntur dan runtuhnya tembok kesombongan
22
bab 22 runtuhnya pilar langit dan panen raya di atas puing dewa
23
bab 23 koin timbangan Surga dan aliansi dua kutub
24
bab 24 ketenangan sebelum badai dan deru mesin pembantai surgawi
25
bab 25 hujan Kiamat di langit darah dan dewa yang terbakar
26
bab 26 tirai sutra yang menyelimuti dunia dan riak di danau bintang
27
bab 27 invasi matahari emas dan bank sentral kematian
28
bab 28 tagihan langit berdarah dan pengkhianatan sembilan naga suci
29
bab 29 akuisisi paksa ranah Domain Bumi dan runtuhnya Matahari Benua Tengah
30
bab 30 monumen arogansi dan deru mesin industri kiamat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!