Bagi Laily, mendapatkan pekerjaan sebagai pelayan di rumah mewah keluarga Arshawirya adalah sebuah keberuntungan—kesempatan kedua untuk mengubur masa lalu kriminalnya.
Jeffran Arshawirya adalah suami sempurna yang tampan dan penuh perhatian, sementara istrinya, Selina, tampak seperti wanita kaya yang tidak stabil dan gemar menyiksanya dengan aturan tak masuk akal.
Namun, di balik kemegahan rumah serbaputih itu, tersimpan gema masa lalu yang mengerikan. Sebuah rumor berbisik bahwa Selina pernah mencoba membunuh putrinya sendiri di bak mandi. Ketika batas profesional antara Laily dan Jeffran mulai mengabur dalam satu malam yang terlarang, Laily menyadari satu hal: di rumah ini, tidak ada yang benar-benar jujur.
Apakah Selina memang seorang psikopat yang berbahaya, ataukah ada skenario yang jauh lebih gelap yang sedang mengintai nyawa Laily? Ingat, di rumah ini, salah memilih langkah bisa berarti kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanizen_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter empat
"Jeffy!"
"Ayo perkenalkan ini Laily!"
Ini pasti Jeffran Arshawirya. Ketika aku mencari tahu tentang keluarga Arshawirya di Google, mataku agak terbelalak saat melihat kekayaan bersih pria ini. Setelah melihat semua simbol uang itu, bioskop rumah dan gerbang yang mengelilingi properti ini menjadi sedikit lebih masuk akal. Dia seorang pengusaha, yang mengambil alih perusahaan mendiang ayahnya yang berkembang pesat, dan telah melipatgandakan keuntungannya sejak saat itu.
Tetapi jelas dari ekspresi terkejutnya bahwa dia menyerahkan sebagian besar urusan rumah tangga kepada istrinya, dan tampaknya Selina benar-benar lupa memberi tahu suaminya bahwa dia telah mempekerjakan seorang asisten rumah tangga yang tinggal di dalam rumah.
"Selamat pagi..."
Tuan Arshawirya melangkah ke ruang tamu, alisnya berkerut. "Laily, ya? Maaf, saya tidak menyadari..."
"Jeffy, aku sudah memberi tahumu tentang dia!"
Selina memiringkan kepalanya ke samping.
"Aku bilang kita perlu menyewa seseorang untuk membantu bersih-bersih, memasak, dan menjaga Seina. Aku yakin, aku sudah memberi tahumu!"
"Ya, baiklah." Wajahnya akhirnya melunak.
"Selamat datang, Laily. Kami tentu sangat membutuhkan bantuanmu di sini."
Jeffran Arshawirya mengulurkan tangannya agar kujabat. Sulit untuk tidak menyadari bahwa dia adalah pria yang luar biasa tampan. Mata cokelat yang tajam, rambut lebat sewarna kayu mahoni, rahang yang tegas dan lesung pipi yang membuatnya tampak berkharisma. Oh, siluet tubuhnya tidak bisa kulewatkan sedikitpun. Tinggi dan tegap, dada yang bidang juga bahu yang lebar. Aku yakin Jeffran Arshawirya melatih otot-otot tubuhnya dengan olahraga yang kentat di tengah umur menjelang empat puluh tahunnya.
Sulit juga untuk tidak menyadari bahwa dia beberapa tingkat lebih menarik daripada istrinya, bahkan dengan perawatan penampilan istrinya yang sempurna, yang menurutku agak aneh. Lagipula, pria ini kaya raya. Dia bisa mendapatkan wanita mana pun yang dia inginkan. Aku menghormatinya karena tidak memilih supermodel berusia dua puluh tahun untuk menjadi pasangan hidupnya.
Aku memasukkan ponsel baruku ke dalam saku jins dan mengulurkan tangan untuk menyambut tangannya. "Senang bertemu dengan Anda, Tuan Arshawirya."
"Tolong..." Dia tersenyum hangat padaku.
"Panggil saja Jeffran."
Saat dia mengucapkan kata-kata itu, sesuatu kilasan emosi melewati wajah Selina Arshawirya. Bibirnya berkedut dan matanya menyipit.
Aku tidak tahu pasti kenapa. Dia sendiri yang menawarkan agar aku memanggilnya dengan nama depannya. Dan Jeffran Arshawirya bukannya sedang memandangiku dengan mesum. Matanya tetap menatap mataku dengan penuh hormat dan tidak turun ke bawah leher.
Bukannya ada banyak hal yang bisa dilihat—meskipun aku tidak repot-repot memakai kacamata bermotif polkadot hari ini, aku memakai blus sederhana dan celana jins biru yang nyaman untuk hari pertama kerjaku.
"Lagipula..." Potong Selina dengan nada ketus, "...bukankah kau harus pergi ke kantor, Jeffy?"
"Oh, ya." Dia merapikan dasi abu-abunya.
"Aku ada rapat jam sembilan tiga puluh di kantor. Aku harus bergegas."
Jeffran memberikan ciuman mesra yang lama di bibir Selina dan meremas bahunya. Sejauh yang kulihat, pernikahan mereka cukup bahagia. Dan Jeffran tampak cukup rendah hati untuk seorang pria yang kekayaan bersihnya memiliki sebelas digit di belakang simbol rupiah. Sungguh manis bagaimana dia meniupkan kecupan untuk istrinya dari pintu depan—ini adalah pria yang mencintai istrinya.
"Suami Anda tampaknya orang yang baik." Kataku pada Selina saat Jeffran menutup pintu depan dengan rapat.
Tatapan gelap dan penuh kecurigaan kembali ke matanya. "Kau pikir begitu?"
"Y-ya, begitulah." Jawabku gagap. "Maksud saya, dia tampaknya seperti... sudah berapa lama Anda berdua menikah?"
Aku merasa bodoh. Kenapa aku melayangkan pertanyaan terdesak itu?
Selina menatapku dengan penuh selidik. Namun, alih-alih menjawab pertanyaanku, dia malah bertanya, "Apa yang terjadi dengan kacamatamu?"
"A-apa?"
Dia mengangkat alisnya. "Kau memakai sepasang kacamata saat wawancara kemarin, kan?"
"Oh." Aku merasa tidak nyaman, enggan mengakui bahwa kacamata itu palsu—usahaku untuk terlihat lebih cerdas dan serius, dan ya, agar tidak terlalu menarik dan mengancam.
"Saya... uhm, saya sedang memakai lensa kontak."
"Benarkah?"
Aku tidak tahu mengapa aku berbohong. Seharusnya aku bilang saja kalau aku tidak terlalu butuh kacamata itu. Sebaliknya, sekarang aku malah memperparah kebohongan dengan mengarang cerita tentang lensa kontak yang sebenarnya tidak kupakai. Aku bisa merasakan Selina meneliti pupil mataku, mencari keberadaan lensa tersebut.
"A-apakah... itu masalah?" Tanyaku akhirnya.
Sebuah otot berkedut di bawah mata kanannya. Untuk sesaat, aku takut dia akan menyuruhku pergi keluar. Namun kemudian wajahnya melunak. "Tentu saja tidak! Aku hanya berpikir kacamata itu terlihat sangat imut padamu. Sangat mencolok, kau harus lebih sering memakainya."
"Ya, baiklah...Nyonya." Aku meraih pegangan salah satu tas jinjingku dengan tangan yang gemetar.
"Mungkin sebaiknya saya membawa barang-barang saya ke atas agar pekerjaan ini bisa segera dimulai."
Selina bertepuk tangan. "Ide yang bagus sekali!"
Sekali lagi, Selina tidak menawarkan bantuan untuk membawakan salah satu tasku saat kami menaiki dua anak tangga menuju loteng. Di pertengahan tangga kedua, lenganku rasanya seperti mau copot, tetapi Selina tampaknya tidak tertarik untuk berhenti sejenak demi memberiku waktu membetulkan posisi tali tas.
Aku mendesah lega saat akhirnya bisa menjatuhkan tas-tas itu ke lantai kamar baruku. Selina menarik tali untuk menyalakan dua bohlam lampu yang menerangi ruang kamar yang mungil.
"Kuharap ini tidak apa-apa." Ucap Selina
"Kupikir kau akan lebih suka privasi berada di atas sini, apalagi lengkap dengan kamar mandimu sendiri."
Mungkin dia merasa bersalah tentang kenyataan bahwa kamar tamu mereka yang luar biasa besar dibiarkan kosong sementara aku tinggal di kamar yang ukurannya hanya sedikit lebih besar dari gudang alat kebersihan. Tetapi tidak masalah. Apa pun yang lebih luas dari kursi belakang mobilku sudah terasa seperti istana. Aku tidak sabar untuk tidur di sini malam nanti. Aku sangat bersyukur.
"Ini sempurna." Kataku jujur.
Selain tempat tidur, lemari laci, dan rak buku, aku menyadari ada satu hal lain di kamar ini yang tidak kulihat pertama kali. Sebuah kulkas mini, tingginya sekitar tiga puluh sentimeter. Kulkas itu tercolok ke dinding dan berdengung dengan ritme yang teratur. Aku berjongkok dan menarik pintunya hingga terbuka.
Kulkas mini itu memiliki dua rak kecil. Dan di rak atas, ada tiga botol air minum berukuran sangat kecil.
"Hidrasi yang baik itu sangat penting." Kata Selina bersungguh-sungguh.
"Ya..."
Ketika dia melihat ekspresi bingung di wajahku, dia tersenyum. "Tentu saja, ini kulkasmu dan kau bisa memasukkan apa pun yang kau mau ke dalamnya. Aku hanya berpikir untuk memberimu modal awal."
"Terima kasih." Ini tidak seaneh itu. Beberapa orang meninggalkan permen mint di atas bantal. Sementara Selina, meninggalkan tiga botol air kecil.
"Lagipula..." Selina mengusap tangannya ke pahanya, meskipun tangannya bersih tanpa noda. "Aku akan membiarkanmu membongkar barang dan setelah itu mulailah membersihkan rumah. Aku sendiri harus bersiap-siap untuk rapat PTA besok."
"PTA?"
"Parent Teacher Association. Persatuan orang tua murid dan guru."
Dia berseri-seri menatapku. "Aku wakil ketuanya."
"Bagus sekali." Kataku, karena itulah yang ingin dia dengar. Selina sangat mudah dibuat senang.
"Saya akan merapikan semuanya dengan cepat dan langsung bekerja."
"Terima kasih banyak." Jari-jarinya menyentuh lenganku sekilas—tangannya terasa hangat dan kering. "Kau adalah penyelamatku, Laily. Aku senang sekali kau ada di sini."
Tanganku bertumpu pada kenop pintu saat Selina mulai beranjak meninggalkan kamarku. Dan saat itulah aku menyadarinya. Hal yang menggangguku tentang kamar ini sejak pertama kali aku melangkah masuk ke mari. Perasaan mual yang aneh menyergapku.
"Selina?" Aku memanggilnya.
"Hmm?" Dia menoleh.
"Kenapa...ekhm..." Aku berdeham.
"Kenapa gembok kunci untuk kamar tidur ini ada di bagian luar, bukannya di dalam?"
Selina menatap ke bawah ke arah kenop pintu, seolah baru menyadarinya untuk pertama kali.
"Oh! Aku minta maaf sekali tentang itu. Kami dulu menggunakan ruangan ini sebagai gudang penyimpanan pakaian, jadi tentu saja kami ingin menguncinya dari luar. Tetapi kemudian aku mengubahnya menjadi kamar tidur untuk pembantu rumah tangga, dan kurasa kami tidak perlu memindahkan letak kuncinya."
Jika seseorang mau, mereka bisa dengan mudah mengunciku di dalam sini. Dan hanya ada satu jendela itu, yang menghadap ke bagian belakang rumah. Kamar ini bisa menjadi jebakan maut. Tetapi di sisi lain, mengapa ada orang yang ingin mengunciku di sini?
"Bolehkah saya meminta kunci kamarnya?" Tanyaku.
Dia mengedikkan bahu. "Kunci? Aku bahkan tidak tahu pasti di mana kuncinya."
"Saya ingin salinannya."
Mata coklatnya menyipit menatapku. "Kenapa? Memangnya apa yang ingin kau simpan di kamarmu sampai-sampai kau tidak ingin kami mengetahuinya?"
Mulutku terperangah. "Saya... Tidak ada apa-apa, tapi..."
Ini tentang privasi.
Selina mendongakkan kepalanya ke belakang lalu tertawa. "Aku hanya bercanda. Ini kamarmu, Laily! Jika kau ingin kunci, aku akan mencarikannya untukmu. Aku berjanji."
Terkadang rasanya Selina seperti memiliki kepribadian ganda. Perubahan sikapnya dari hangat ke dingin terjadi begitu cepat. Dia mengaku hanya bercanda, tetapi aku tidak begitu yakin. Namun itu tidak penting. Aku tidak punya pilihan masa depan lain dan pekerjaan ini adalah berkah. Aku akan membuatnya berhasil. Apa pun yang terjadi. Aku akan membuat Selina Arshawirya menyukaiku.
Setelah Selina meninggalkan kamarku, aku menutup pintu di belakangnya. Aku ingin menguncinya, tetapi aku tidak bisa. Tentu saja.
Saat aku menutup pintu, aku menyadari ada bekas-bekas goresan pada kayunya. Garis-garis tipis panjang menjalar di sepanjang permukaan pintu di sekitar setinggi bahuku. Aku menjalankan jari-jariku di atas guratan tersebut. Bekas-bekas itu hampir terlihat seperti...
Cakaran. Seperti seseorang telah menggaruk-garuk pintu ini. Mencoba untuk keluar.
Tidak, itu konyol. Aku hanya paranoid. Terkadang kayu tua memang tergores. Itu tidak menandakan sesuatu yang buruk.
Ruangan ini tiba-tiba terasa sangat panas dan pengap. Ada tungku pemanas kecil di sudut ruangan, yang kuyakin akan membuat nyaman di musim penghujan, tetapi tidak ada apapun yang akan mendinginkan kamar ini di bulan-bulan musim panas. Aku harus membeli kipas angin untuk dipasang di depan jendela.
Meskipun ukuran kamar ini jauh lebih besar daripada mobilku, tempat ini tetaplah ruangan yang sangat sempit—aku tidak heran mereka menggunakannya sebagai gudang penyimpanan pakaian.
Aku melihat sekeliling, membuka laci-laci untuk memeriksa ukurannya. Ada sebuah lemari kecil di dalam kamar, dengan ruang yang nyaris tidak cukup untuk menggantung beberapa gaunku. Lemari itu kosong kecuali beberapa gantungan baju dan sebuah ember biru kecil di sudut ruangan.
Aku mencoba membuka paksa jendela kecil itu untuk mendapatkan sedikit udara. Tetapi jendela itu tidak bergerak sama sekali. Aku menyipitkan mata untuk menyelidikinya lebih dekat. Aku menjalankan jariku di sepanjang bingkai jendela. Kelihatannya jendela itu sudah melekat mati karena lapisan cat.
Meskipun aku punya jendela, jendela itu tidak bisa dibuka.
Aku bisa saja bertanya pada Selina tentang hal itu, tetapi aku tidak ingin terlihat seperti sedang mengeluh padahal aku baru mulai bekerja di sini hari ini. Mungkin minggu depan aku baru bisa menyebutkannya. Kupikir meminta satu jendela yang berfungsi bukanlah harapan yang berlebihan.
Pria penata taman itu, Nicho, sekarang berada di halaman belakang. Dia sedang menjalankan mesin pemotong rumput di sana. Dia berhenti sejenak untuk menyeka keringat dari dahinya dengan lengan bawahnya yang berotot, lalu mendongak. Dia melihat wajahku melalui jendela kecil itu, dan dia menggelengkan kepalanya, persis seperti yang dilakukannya saat pertama kali aku bertemu dengannya. Aku mengingat kata yang dia bisikkan padaku dalam bahasa Italia sebelum aku masuk ke dalam rumah. Pericolo.
Aku merogoh ponsel baruku dari dalam saku. Layarnya langsung menyala begitu kusentuh, dipenuhi dengan ikon-ikon kecil untuk pesan teks, panggilan, dan cuaca. Ponsel jenis seperti ini belum menjamur di awal masa penahananku dulu, dan aku belum mampu membelinya sejak aku bebas. Tetapi beberapa gadis memilikinya di rumah singgah tempatku tinggal saat pertama kali keluar dari penjara, jadi aku lumayan tahu cara menggunakannya. Aku tahu ikon mana yang bisa membuka website pencarian.
Aku mengetik di jendela pencarian: Translate pericolo.
Sinyalnya pasti sangat lemah di atas loteng ini, karena prosesnya memakan waktu lama.
Hampir satu menit berlalu ketika terjemahan dari kata pericolo akhirnya muncul di layar ponselku:
Bahaya.
.
.
.
.
.
.
To be continue....
Ayo like gaes🥰
btw, saya pun baru mula menulis novel, kalau ada masa, boleh singgah profile. terima kasih 🤭