NovelToon NovelToon
The Return Of The Lost Heiress

The Return Of The Lost Heiress

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Keluarga & Kasih Sayang / Drama
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Haena_Llulia

Tujuh belas tahun hidup sederhana, Haena mendadak mendapati dirinya adalah putri kandung yang tertukar dari Keluarga Dirgantara, dinasti konglomerat terkaya. Namun, kepulangannya ke istana megah itu justru disambut dingin oleh sang ibu, Nyonya Rosalind, serta intrik busuk dari Vanya, anak angkat yang takut posisinya tergusur.

Bukannya tumbang oleh intimidasi dunia elite, gadis jenius bermental baja ini justru menarik perhatian Kaelen Arkananta, pewaris tunggal yang terkenal dingin dan tak tersentuh. Bersama Kaelen, Haena tidak hanya menemukan cinta sejati, tetapi juga mulai membongkar konspirasi gelap masa lalu yang sengaja membuangnya saat bayi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haena_Llulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 Malam Eksekusi Sang Pewaris

Grand Ballroom Hotel Dirgantara malam itu disulap menjadi sebuah istana cahaya yang luar biasa megah. Ribuan lampu kristal yang menggantung di langit-langit memantulkan kilauan keemasan ke atas lantai marmer impor yang mengilat sempurna. Di sepanjang dinding aula, puluhan layar proyektor interaktif raksasa menampilkan lambang megah Dirgantara Corp, diselingi oleh jepretan kilat kamera dari ratusan wartawan media nasional dan internasional yang berbaris rapi di balik barikade beludru merah.

Malam ini adalah malam perjamuan Grand Debut yang paling dinantikan oleh kalangan elite ibu kota.

Seluruh taipan bisnis, diplomat asing, hingga menteri pemerintahan hadir dengan setelan tuksedo dan gaun malam terbaik mereka. Semua orang berkumpul dengan satu rasa penasaran yang sama melihat sosok putri kandung Keluarga Dirgantara yang sesungguhnya, yang beberapa hari lalu mengguncang dunia pendidikan dengan kejeniusan mutlaknya.

Di sudut VIP aula, Vanya berdiri dengan anggun di samping Nyonya Rosalind. Vanya mengenakan gaun malam mewah bermerek Dior berpotongan A-line dengan warna pastel yang sangat serasi dengan riasan wajah Korean Ulzzangnya. Di pergelangan tangannya, sebuah gelang Cartier Love berkilau mewah di bawah sorotan lampu.

Meskipun senyum manis terus terkembang di wajah cantiknya saat menyapa para tamu sosialita, sepasang mata Vanya berkilat penuh dengan racun kedengkian. Di dalam tas tangan mini satin miliknya, jemarinya terus meraba sebuah perangkat kendali jarak jauh mikro bersandi frekuensi sebuah alat yang sebentar lagi akan menghancurkan hidup Haena untuk selamanya.

"Mama, apakah desainer La Sposa sudah memastikan semuanya?" bisik Vanya dengan suara yang sangat rendah di balik senyumannya.

Nyonya Rosalind menyesap sampanye di gelas kristalnya, matanya menyipit kejam ke arah tangga utama yang masih kosong.

"Semua sudah sempurna, Vanya. Benang polimer di gaun putih yang dipakainya sudah berada dalam kondisi ketegangan maksimal. Begitu dia berdiri di bawah lampu sorot utama dan kamu menekan tombol itu, distorsi frekuensi tinggi akan memutus jahitan utamanya dalam hitungan detik. Ramuan stimulan di minumannya juga pasti sudah mulai bekerja sekarang."

Vanya menahan tawa kemenangannya. Dia sudah tidak sabar melihat gadis jenius kebanggaan ayahnya itu bertingkah seperti orang gila yang telanjang di hadapan seluruh dunia.

Tepat pada pukul delapan malam, dentang lonceng besar di aula berbunyi, menandakan acara utama dimulai. Suasana yang semula bising seketika senyap saat Tuan Bramasta Dirgantara melangkah maju ke atas podium utama dengan mikrofon di tangannya. Aura wibawa sang triliuner begitu kuat menyelimuti ruangan.

"Selamat malam, para hadirin yang terhormat," suara bariton Tuan Bramasta menggema berwibawa melalui sistem tata suara tercanggih di aula tersebut.

"Malam ini adalah malam yang paling membahagiakan dalam hidup saya. Setelah bertahun-tahun terpisah oleh takdir, malam ini, dengan rasa bangga dan syukur yang tak terhingga, saya ingin memperkenalkan putri kandung saya, pewaris sah yang sesungguhnya dari seluruh lini bisnis Dirgantara Corp..."

Tuan Bramasta mengulurkan tangannya ke arah tangga melingkar besar di ujung aula. Lampu utama di seluruh ruangan mendadak redup, menyisakan satu sorotan lampu pencahayaan putih yang sangat terang dan intens ke arah puncak tangga.

"Mari kita sambut... Haena Dirgantara."

Tap. Tap. Tap.

Suara langkah kaki yang stabil dan penuh keanggunan terdengar menuruni tangga. Begitu sosok Haena muncul di bawah sorotan cahaya, terdengar helaan napas kagum yang serentak dari ratusan tamu yang hadir. Kilatan kamera wartawan langsung meledak bagaikan badai petir, mengabadikan setiap detik kemunculannya.

Haena berjalan turun dengan punggung tegak dan dagu terangkat sempurna, memancarkan mental baja yang luar biasa dominan. Dia mengenakan gaun malam sutra putih murni rancangan La Sposa yang tampak melekat sempurna pada siluet tubuhnya yang anggun. Rambut lurusnya dibiarkan tergerai indah, sementara kacamata transparannya justru memberikan kesan intelektual yang sangat mahal dan berkelas. Sentuhan tahi lalat kecil di bawah dagunya mempertegas ekspresi dingin dan penuh percaya diri yang terpancar dari wajah cantiknya yang dipoles riasan Douyin glass skin yang berkilau dewy.

Tidak ada tanda-tanda kegugupan, tidak ada kecemasan, dan yang paling penting tidak ada tanda-tanda bahwa dia sedang berada di bawah pengaruh obat stimulan saraf seperti yang diharapkan oleh Nyonya Rosalind. Di pergelangan tangan kirinya, sebuah jam tangan berlian terpasang rapi, menyembunyikan cip mikroskopis peredam frekuensi pemberian Kaelen dengan sangat sempurna.

Dari barisan penonton paling depan, Kaelen Arkananta berdiri dengan setelan tuksedo hitam pekat yang disesuaikan sempurna. Pemuda penguasa sekolah itu menatap lekat-lekat ke arah Haena, seulas senyuman tipis dan dingin terukir di bibir seksinya. Dia tahu, panggung eksekusi telah siap.

Vanya yang melihat Haena berjalan dengan begitu sempurna langsung merasakan darahnya mendidih. Dia tidak bisa lagi menahan diri.

"Sekarang waktunya mati, jalang kampung," desis Vanya kejam.

Dengan gerakan cepat yang tersembunyi di dalam tas tangannya, jari Vanya menekan tombol aktivasi pada perangkat kendali jarak jauhnya. Alat tersebut seketika memancarkan gelombang distorsi frekuensi tinggi yang diarahkan tepat ke arah gaun yang dikenakan Haena, memicu sistem audio aula untuk menghasilkan gelombang akustik tak terdengar yang seharusnya memutuskan benang polimer rapuh pada gaun itu.

Vanya dan Nyonya Rosalind melebarkan mata mereka dengan binar kegilaan, menunggu detik-detik pakaian Haena terlepas dari tubuhnya di tengah lantai dansa.

Satu detik... dua detik... tiga detik...

Namun, tidak terjadi apa-apa pada gaun Haena.

Gadis berkacamata transparan itu justru menghentikan langkahnya tepat di tengah-tengah lantai dansa utama. Cip mikroskopis di jam tangannya berkedip merah sesaat, menangkap seluruh sinyal distorsi frekuensi kinetik tersebut, memblokirnya sepenuhnya, lalu mengalihkan enkripsi militer yang tertanam di dalamnya langsung ke server pusat kendali proyektor dan sistem pencahayaan hotel yang telah diretas oleh tim siber Arkananta Group.

BZZZZT!

Mendadak, seluruh lampu sorot utama yang mengarah ke Haena padam total. Aula besar itu sempat gelap gulita selama dua detik, memicu kepanikan dan gumaman bingung dari para tamu konglomerat.

"Ada apa ini? Kenapa lampunya mati?"

"Apakah ada masalah teknis pada sistem listrik hotel?"

Sebelum kepanikan meluas, puluhan layar proyektor interaktif raksasa setinggi tiga meter yang mengelilingi seluruh dinding aula mendadak menyala kembali dengan sangat terang. Namun, layar tersebut tidak lagi menampilkan logo Dirgantara Corp, melainkan sebuah rekaman video CCTV beresolusi tinggi yang sangat jernih dengan audio yang sangat tajam.

Itu adalah rekaman video di dalam kamar pribadi Vanya yang diambil secara rahasia melalui alat sadap digital mini milik Haena semalam.

Di dalam layar raksasa tersebut, seluruh tamu undangan dan ratusan kamera wartawan dapat melihat dengan sangat jelas bagaimana Vanya sedang melemparkan vas bunga porselen dengan wajah yang penuh distorsi kebencian, diikuti oleh suara Nyonya Rosalind yang terdengar sangat lantang dan jelas di seluruh pelantang suara aula.

"Mama yang akan mengurus seluruh persiapan pakaian dan protokol pesta untuk Haena. Kita akan memberikan dia sebuah gaun yang... 'istimewa'. Sebuah gaun desainer yang tampak luar biasa mewah di luar, namun memiliki cacat tersembunyi pada struktur jahitannya. Begitu dia melangkah ke tengah aula di bawah sorotan lampu utama untuk berdansa, gaun itu akan terlepas dari tubuhnya."

Tak lama kemudian, wajah Vanya di layar proyektor berbisik dengan tawa iblis yang sangat kejam:

"Dan di saat dia dipermalukan hingga hancur secara fisik dan mental... aku yang akan maju mengenakan gaun terbaikku, menyelamatkan situasi dengan pidato yang anggun, dan menunjukkan kepada semua orang siapa putri sejati yang sebenarnya pantas menyandang nama Dirgantara!"

Hening.

Seluruh Grand Ballroom seketika jatuh ke dalam keheningan yang luar biasa mencekam, seolah-olah seluruh pasokan oksigen di dalam ruangan itu baru saja disedot habis. Semua taipan bisnis, diplomat, menteri, dan wartawan berdiri mematung dengan mulut terbelalak dan mata melotot tidak percaya menatap layar proyektor.

Detik berikutnya, badai histeria massal langsung pecah di seisi aula.

"Ya Tuhan! Itu... itu rencana pembunuhan karakter yang sangat kejam!"

"Nyonya Rosalind dan Vanya sengaja merancang pakaian agar anak kandung mereka sendiri telanjang di depan publik?! Binatang sekalipun tidak akan sekejam itu pada anaknya!"

"Jadi selama ini Vanya Dirgantara yang terlihat lemah lembut seperti boneka itu sebenarnya memiliki hati iblis?! Menjijikkan sekali!"

"Lihat! Vanya memegang remote control di tangannya sekarang! Dia baru saja mencoba mengaktifkan alat itu!"

Jepretan kamera wartawan yang semula mengarah ke Haena seketika berbalik seratus delapan puluh derajat, menyerbu ke arah Vanya dan Nyonya Rosalind bagaikan air bah. Lampu kilat blitz yang menyilaukan menghantam wajah kedua wanita itu bertubi-tubi.

"Nyonya Rosalind! Apakah benar Anda merancang skandal ini untuk menyingkirkan putri kandung Anda?!"

"Vanya! Jelaskan mengenai perangkat remote yang Anda pegang di dalam tas Anda sekarang!"

Vanya berdiri mematung di tempatnya, seluruh tubuhnya bergetar hebat bagaikan daun kering yang tertiup angin kencang. Perangkat kendali jarak jauh di tangannya terlepas, jatuh dan hancur di atas lantai marmer, memperjelas bukti kejahatannya.

Wajah cantiknya kian memucat, air matanya mengalir deras merusak seluruh riasan Korean Ulzzangnya, dan dia merasa seolah-olah seluruh dunia sedang runtuh menguburnya hidup-hidup.

"T-Tidak... ini fitnah! Ini video editan! Papa! Tolong Vanya, Papa!" jerit Vanya histeris, mencoba menggapai lengan Tuan Bramasta yang berdiri tidak jauh darinya.

Namun, Tuan Bramasta Dirgantara menepis tangan Vanya dengan sangat kasar. Wajah tegas sang triliuner kini dipenuhi oleh amarah yang begitu mengerikan, matanya memerah padam menahan murka yang tak terbendung.

"Diam kamu, anak tidak tahu diuntung!" menggelegar suara Tuan Bramasta, membuat nyali Vanya menciut sepenuhnya.

Tuan Bramasta berbalik menatap Nyonya Rosalind dengan pandangan penuh rasa jijik dan kecewa yang teramat dalam.

"Rosalind... besok pagi, pengacaraku akan mengirimkan surat perceraian ke mejamu. Dan untukmu, Vanya... mulai detik ini, namamu dihapus dari kartu keluarga Dirgantara. Kamu... bukan lagi anakku. Keamanan! Seret kedua wanita ini keluar dari hotel ini sekarang juga!"

"Papa! Jangan, Papa! Vanya minta maaf!" jerit Vanya sesenggukan saat beberapa petugas keamanan berbadan tegap langsung mencengkeram lengannya dan lengan Nyonya Rosalind dengan kasar, menyeret mereka keluar melewati kerumunan tamu yang menatap mereka dengan pandangan penuh ludah kehinaan dan rasa muak.

Di tengah kekacauan dan jeritan histeris pengusiran tersebut, Haena tetap berdiri dengan tenang di tengah lantai dansa. Sinar lampu aula perlahan kembali normal, menyinari sosoknya yang tetap anggun, suci, dan tak tersentuh sedikit pun di dalam gaun sutra putihnya.

Haena menatap kepergian Vanya dan Nyonya Rosalind dengan seulas senyuman sinis yang teramat dingin dari balik kacamata transparannya.

Jari telunjuknya mengetuk pelan tahi lalat di bawah dagunya. Otak jenius dan mental bajanya telah berhasil mengeksekusi skakmat yang sempurna, membalikkan perangkap sutra musuh menjadi kuburan massal bagi reputasi mereka.

Kaelen Arkananta melangkah perlahan mendekati Haena.

Di hadapan ratusan kamera yang kini kembali menatap mereka dengan rasa takjub, Kaelen membungkuk hormat dengan sangat elegan, lalu mengulurkan tangan kanannya ke hadapan Haena.

"Pertunjukan yang sangat berdarah dan luar biasa indah, Putri Haena," ucap Kaelen dengan suara rendahnya yang penuh dengan kekaguman mutlak.

"Sekarang... maukah Anda berdansa denganku sebagai tanda kemenangan aliansi kita?"

Haena menatap jemari Kaelen, lalu meletakkan telapak tangan lentiknya di atas tangan pemuda penguasa sekolah itu dengan senyuman tipis yang sangat menawan.

"Dengan senang hati, Tuan Arkananta."

Malam itu, di atas lantai dansa yang megah, di hadapan seluruh dunia, sang putri sejati yang hilang tidak hanya kembali—dia telah naik takhta dengan menghancurkan siapa saja yang berani menghalangi jalannya.

(Cliffhanger)

"Tepat saat Haena dan Kaelen menyelesaikan dansa kemenangan mereka di bawah tepuk tangan meriah para penonton, Pak Baskara tiba-tiba berlari mendekati Tuan Bramasta dengan wajah pucat pasi. Dia membisikkan sebuah berita darurat yang mengguncang: Ibu Aminah, ibu angkat yang merawat Haena telah diculik secara paksa dari ruang perawatan utama rumah sakit oleh sekelompok pria bersenjata misterius tak dikenal yang meninggalkan sebuah pesan ancaman berdarah khusus untuk Haena."

1
Osie
rosalind mak kandung harga bukan yaa?? kok malah jd musuh anak sendiri
Haena_Llulia: kamu tau kan maknya gimana😔
total 1 replies
Osie
ini hana apa udah gak sekolah ya..kok mainnya diperusahaan terus
Haena_Llulia: iya, kayaknya gitu deh. ini jg pasti krn masalah yg muncul
total 1 replies
Osie
eh nyonya rosalind ente emak kandung haena kan??? kok kayak mak tiri ya yg takut kehilangan harta warisan
Haena_Llulia: iya aku juga jadi ngedek dehhh sama dia😡
total 1 replies
Osie
mampir akuh nya..msh nyimak dan moga MC nya sosok tangguh. benar benar tangguh n smart
Haena_Llulia: Terimakasih banyak, aminnnn🙏🤗
total 1 replies
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat thor nulisnya😍
Haena_Llulia: Terimakasih banyak bebkuhhhh😳🙏❤
total 1 replies
Alia Chans
mampir thor✍️👈
Haena_Llulia: Terimakasih banyak🙏
total 1 replies
Siru06
mampir thor👍
Haena_Llulia: Terimakasih banyak🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!