Maya Kirana, perancang busana berjiwa halus, berselisih dengan Rendra, konsultan teknis yang dingin dan kaku di ajang Indonesian Fashion Week. Sentuhan tak sengaja pada relief candi kuno melempar kesadaran mereka ke masa lalu, mengungkap takdir reinkarnasi sebagai sepasang kekasih kerajaan, Raden Jayendra dan Putri Kirana.
Saat persaingan memanas, studio Maya disabotase dan lisensinya dibekukan akibat fitnah plagiarisme dari rival mereka, Victor dan Clarissa. Di tengah krisis, Maya dan Rendra bersatu memadukan kelembutan sutra dengan kriya logam presisi. Didukung Rian, kakak Maya, mereka menggelar uji materi terbuka untuk membersihkan nama baik.
Jelang panggung Grand Final, Rendra mengorbankan material karya rahasianya dan mengundurkan diri sebagai desainer misterius berinisial REN demi menyelamatkan gaun Maya sekaligus menjebak Victor ke jalur hukum. Mahakarya kolaborasi sutra dan logam tersebut akhirnya meraih Juara Utama IFW, menyatukan kembali cinta serta takdir masa lalu Maya dan Rendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imron Tohari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM BAB 20
BAB 20
"Apa yang kau katakan?!" bentak Victor, suaranya menggelegar menekan sang utusan. "Siapa yang berani meretas dan menyebarkan berkas terenkripsi itu ke domain publik?!"
"K-kami belum bisa melacak alamat IP pengunggahnya, Pak Victor!" tanggap anak buahnya dengan suara terbata-bata, tubuhnya gemetar ketakutan. "Data itu diunggah menggunakan jaringan privat bertingkat dengan tingkat enkripsi yang sangat rumit. Jejak digitalnya bersih... persis seperti gaya peretasan profesional!"
Clarissa manatap tajam ke arah Victor seraya melangkah maju dengan jemari yang mengepal erat.
"Victor! Bagaimana dengan pendaftaran paten kita?!" seru Clarissa dengan nada histeris yang tertahan. "Jika stempel waktu asli itu terbukti sah di mata hukum, klaim hak cipta kita akan gugur dan kita yang bakal terseret tuduhan pencurian data!"
Victor menghempaskan anak buahnya hingga tersungkur di lantai. Pria itu menarik napas panjang, merapikan kembali lengan jasnya seraya menata ritme emosinya yang sempat goyah. Manik matanya berkilat tajam, memancarkan kedinginan seorang kalkulator bisnis yang tak kenal ampun. Di matanya, setiap krisis hanyalah variabel angka yang masih bisa ia manipulasi dengan kekuasaan dan modal.
"Tenang, Clarissa," bisik Victor dengan suara serak yang mematikan. "Bukti digital di internet tidak bisa langsung dipakai di dalam persidangan formal tanpa verifikasi forensik yang memakan waktu berbulan-bulan. Kita masih memegang stempel resmi dari Direktorat Jenderal. Selama gugatan hukum kita dilayangkan lebih dulu saat runway berlangsung, panitia wajib membekukan status kepesertaan Maya di tempat."
Ia menoleh kembali pada anak buahnya yang masih bersimpuh di lantai marmer seraya mengusap sikunya yang memar.
"Berdiri kalian!" perintah Victor tajam. "Panggil Baskoro dan seluruh tim operasional ke ruangan ini sekarang juga!"
Dalam hitungan detik, tiga orang pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam rapi melangkah masuk. Dipimpin oleh Baskoro—kepala operasional lapangan kepercayaan Victor—mereka membungkuk hormat dengan raut wajah dingin tanpa ekspresi.
Kehadiran mereka membawa aura intimidasi yang makin pekat ke dalam ruang VIP yang makin gerah itu.
"Semua instruksi sudah siap, Pak Victor," ujar Baskoro dengan suara berat.
Victor berdiri membelakangi Clarissa, menatap tiga anak buahnya dengan pandangan mengintimidasi.
"Baskoro," perintah Victor tegas, "pastikan tim media independen yang kita bayar sudah menerima draf rilis pers mengenai tuntutan hak cipta Arum House atas Studio Nilakandi. Tepat saat gaun Maya menyentuh ujung runway final, sebar luaskan rilis itu ke seluruh kanal berita nasional. Buat publik menyergapnya sebagai pencuri karya sebelum dia sempat membela diri!"
"Siap, Pak. Tim media sudah mengunci slot publikasi," jawab Baskoro mantap tanpa keraguan sedikit pun.
"Oh ya, Baskoro, pastikan sekali lagi untuk Konsorsium Bima, sudah memborong habis seluruh pasokan benang tenun alam kelas wahid di pasar lokal malam ini," tandas Victor penuh tekanan. "Besok pagi, saat tim Maya butuh bahan tambahan untuk koreksi fisik, mereka hanya akan menemukan kain kelas dua yang mudah berserabut di bawah lampu panggung."
Victor tersenyum sinis sebelum melanjutkan, "Sedangkan untuk Vano & Co., tim peretasku sedang menyuntikkan dokumen palsu terkait tuduhan penggelapan pajak studio mereka ke meja panitia. Begitu sidang kurasi dibuka besok, fokus mereka akan hancur untuk mengurus verifikasi legalitas," lanjut Victor seraya berpaling menatap Clarissa.
"Luar biasa..." bisik Clarissa, matanya berbinar riang membayangkan kehancuran para pesaingnya. "Semua kompetitor ditiadakan dari belakang panggung!"
Victor lalu kembali beralih menatap dua anak buah di belakang Baskoro. Manik matanya menyipit, memancarkan intrik yang jauh lebih gelap. "Dan kalian berdua, awasi bengkel Pencagai di kawasan industri utara. Maya dan Rendra ada di sana malam ini. Pastikan pasokan listrik atau jalur logistik pengiriman kerangka ukiran logam pahatan mereka menuju gedung kompetisi besok mengalami... hambatan teknis yang terukur. Jangan buat keributan, cukup pastikan mereka terlambat masuk ke ruang persiapan kompetisi."
"Mengerti, Pak. Kami akan pastikan logistik mereka tersendat," tanggap anak buahnya tegas sebelum membungkuk dan berbalik meninggalkan ruangan bersama Baskoro.
Pintu kembali tertutup rapat. Clarissa tertawa pelan—sebuah tawa renyah yang sarat akan dendam yang akhirnya mendapati muara pembalasan. Rasa tertekan yang mengimpit dadanya sejak sore tadi menguap sepenuhnya, tergantikan oleh kepuasan jahat yang meletup-letup di dalam dadanya.
"Di masa kuliah dia mungkin bisa mencuri panggung dariku dengan idealismenya," desis Clarissa seraya meremas flashdisk di tangannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Tapi di dunia nyata, aku yang punya uang, aku yang punya hukum, dan aku yang bakal memastikan Maya Nilakandi tidak akan pernah bangkit lagi dari lumpur kebangkrutan!"
Victor menatap Clarissa dengan puas. Ia menyunggingkan senyum tipis, menyerap seluruh gairah dendam yang terpancar dari wanita di hadapannya. "Bagus. Pertahankan api dendam itu untuk peragaan final. Biarkan Maya dan Rendra sibuk menempa besi dan menenun kain di bengkel kumuh mereka. Mereka tidak tahu... bahwa panggung yang sedang mereka siapkan sudah kupasangi perangkap yang akan menjerat leher mereka sendiri."
Namun, tepat di saat Victor mengakhiri ucapannya, lampu hias kristal di ruangan VIP itu mendadak padam secara total. Ruangan menjadi gelap.
Clarissa menjerit kaget, secara refleks ia melompat dan mencengkeram lengan jas Victor.
"Victor! Ada apa ini?! Kenapa listriknya padam?!" pekik Clarissa dengan suara bergetar panik.
"Tenang, jangan berisik! Ini cuma gangguan panel daya biasa!" bentak Victor seraya meraba-raba saku jasnya untuk mengambil telepon genggam.
Belum sempat ia menyalakan lampu kilat ponselnya, deretan bunyi klik elektronik terdengar dari arah pintu darurat VIP. Lampu Kembali menyala. Satu per satu, selot pintu otomatis kunci elektronik di ruangan itu, yang barusan mengunci sendiri secara otomatis, kembali terbuka.
Layar telepon genggam Victor mendadak menyala benderang—menampilkan satu pesan masuk dari nomor terenkripsi anonim.
"Papan caturmu sudah retak, Victor. Sabotase logistik, dan klaim paten bodong yang kau rancang malam ini sudah tidak ada lagi gunanya"
Seketika, napas Victor tertahan di tenggorokan. Telepon genggam di genggamannya hampir saja terjatuh. Victor syok. Tapi egonya tetap menolak untuk menyerah.
Dengan rahang menegang dan mata memerah, Victor menempelkan ponselnya ke telinga lalu memanggil nomor Baskoro.
"Gunakan jalur darurat untuk memblokir pasokan besi dan kain mereka malam ini juga, tanpa ragu!" perintahnya tajam. "Lakukan sekarang!" pungkas Victor dingin, lalu mematikan telponnya sebelum anak buahnya sempat menjawab.