Janitra Widari Pramudya memutuskan kembali ke Tanah Air. Sebelumnya, ia tinggal di luar negeri selama lima tahun karena melanjutkan kuliah. Orang tuanya telah meninggal dunia sejak enam tahun yang lalu karena kecelakaan.
Janitra akhirnya menerima perjodohan dari Keluarga Syailendra sesuai wasiat mendiang kakeknya. Janitra baru mengetahui ternyata dirinya dijodohkan dengan Kresna Maharaja Syailendra sejak lama. Bagi Janitra, Kresna adalah cinta pertamanya.
Aku mencintainya sederas hujan. Namun, dia memilih untuk membangun tembok setinggi langit~Janitra.
Jangan pernah melangkah jauh menembus batasan yang sudah aku terapkan karena itu percuma saja. Kita menikah bukan karena cinta. Hanya sebatas utang budi keluarga. Aku harap kamu tidak pikun~Kresna.
Simak kisah mereka.💋💋
Mohon dukungannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 - Meminta Izin
Janitra menganggukkan kepalanya di depan Kresna. Tanda bahwa ia sama sekali tak keberatan saat Kresna mengajaknya berbicara lebih dulu. Terlebih saat ini mereka berdua sudah berstatus sebagai suami-istri.
Kurasakan nuansa kamar pengantin ini tampak dingin. Mirip seperti ruangan horor yang belum mampu aku tebak endingnya seperti apa nantinya, pikir Janitra.
"Silahkan, Mas." Jawabku.
"Jangan panggil aku, Mas!" bentak Kresna.
"Maaf," jawab Janitra dengan suara tetap tenang. Walaupun hatinya mendadak perih seakan tertusuk sembilu tajam dan berda_rah. "Lantas, aku harus memanggilmu dengan sebutan apa?" imbuhnya.
"Panggil aku-Gusti,"
"Baik, Gusti."
Kresna terdiam beberapa saat.
Sedangkan Janitra sedikit merasa canggung karena ini pertama kalinya berada di dalam kamar yang sama dengan seorang pria. Saat ini pria itu adalah Kresna, suami sekaligus cinta pertamanya.
"Jangan pernah melangkah jauh menembus batasan yang sudah aku terapkan karena itu percuma saja. Kita menikah bukan karena cinta. Hanya sebatas utang budi keluarga. Aku harap kamu tidak pikun," tegas Kresna.
Janitra mengangkat pandangannya secara terukur pada Kresna yang sedang berdiri di depannya saat ini. Detik selanjutnya, Janitra tersenyum.
"Sendiko dawuh, Gusti. Dalem akan laksanakan seperti kehendak panjenengan. Semoga hamba tidak pikun dengan titah panjenengan,"
["Baik, saya akan mematuhi dan melaksanakan perintah kamu. Semoga saya tidak pikun dengan perintahmu,"]
"Jangan pernah campuri urusan pribadiku. Mau aku bergaul dengan siapapun. Jika kita sedang berdua, bersikaplah seperti orang asing. Kita bersikap seperti suami-istri pada umumnya hanya saat di depan publik dan keluarga. Setelah satu tahun, kita akan berpisah. Apa kamu mengerti?"
"Jadi, pernikahan kita ini seperti nikah kontrak. Apa benar, Gusti?"
"Hem," jawab Kresna. "Jangan pernah coba mendekatiku, merayuku apalagi menyentuhku," imbuhnya.
"Baiklah, saya juga tidak rugi." Ucap Janitra yang terdengar santai seakan tanpa beban dan tak masalah dengan apapun yang diajukan oleh Kresna.
Justru sekarang wajah Kresna yang tampak memerah menahan kesal karena Janitra seakan bersikap datar dan cuek terhadapnya. Padahal di luar sana banyak wanita yang ingin menjadi istrinya. Bahkan mungkin para wanita itu rela membuka baju hanya untuk mencium kakinya atau merasakan kehangatan tubuhnya sebagai putra mahkota.
"Apa saya boleh meminta sesuatu?" tanya Janitra.
"Katakan. Tapi aku tak menjamin akan mengabulkannya jika permintaanmu aneh-aneh!" seru Kresna.
"Tenang saja. Permintaan saya tidak aneh kok. Justru permintaan Gusti tadi yang aneh, tapi saya maklumi." Balas Janitra seraya tertawa kecil dengan nada mencibir Kresna.
Sontak hal ini membuat wajah Kresna semakin ditekuk dan terlihat geram menahan rasa kesalnya.
"Apa permintaanmu?"
"Saya mau izin melanjutkan Koas,"
"Kenapa kemarin kamu gak selesaikan perkara Koas ini di luar negeri sekalian?"
"Karena pernikahan ini," jawab Janitra.
"Terus kamu mau nyalahin aku begitu?"
"Mboten (tidak), Gusti. Saya gak akan pernah nyalahin Gusti untuk hal ini. Yang lalu, ibu datang menemui saya untuk melaksanakan wasiat mendiang kakek. Saya manut (patuh) saja atas perintah orang tua Gusti,"
"Kenapa kamu gak nolak kalau memang pernikahan ini ganggu studimu?"
"Saya tidak pernah mengatakan pernikahan kita mengganggu studi saya. Apa tadi ada kalimat saya yang mengatakan seperti itu?"
SKAKMAT !!
Kresna mendengus sebal karena ucapannya selalu berhasil dipatahkan oleh Janitra. Ia pikir wanita di depannya ini sama seperti yang ia kenal dulu sewaktu kecil. Gadis riang gembira yang selalu menganggukkan kepala terhadapnya dan mengatakan 'iya' bila diajaknya bermain.
"Kamu Koas dimana?"
"Rumah sakit Satya Medika," jawab Janitra.
"Kenapa tidak di rumah sakit milik Kasepuhan sendiri di Husada Ningrat?"
"Maaf, Gusti. Saya khawatir nanti jika Koas di sana Gusti tidak nyaman atau beredar desas-desus yang kurang menyenangkan. Seperti dianggap saya memanfaatkan fasilitas rumah sakit milik kasepuhan karena sebagai istri putra mahkota," jelas Janitra.
Lagi-lagi jawaban Janitra sedikit mencubit hati Kresna. Janitra telah banyak berubah menjadi sosok wanita yang mandiri dan tegas. Tidak manja lagi seperti dulu saat masih kecil.
"Terserah kamu saja! Yang pasti aku gak mau jadwal Koasmu melebihi jam kerjaku. Sebelum aku pulang ke Kasepuhan, kamu sudah harus ada di Paviliun Teratai ini. Mengerti?"
"Nggih (Ya), Gusti."
"Terserah kamu mau tidur atau begadang sampai pagi. Kita berada di satu paviliun yang sama tapi dengan kamar berbeda. Jangan harap kita satu kamar apalagi satu ranjang. Semoga kamu gak mimpi di siang bo_long!" sarkas Kresna.
"Alhamdulillah kalau Gusti malam ini tidak minta hal itu. Saya sedang datang bulan," balas Janitra.
"Pantas dia menyebalkan sekali malam ini! Ternyata lagi datang bulan. Huft !!" keluh Kresna di hatinya.
BRAKK !!
Suara dentuman pintu kamar Janitra seketika berbunyi cukup keras akibat dibanting Kresna saat keluar.
Perlahan Janitra mendekati pintu kamarnya, lalu ditutup rapat dan dikuncinya.
Janitra menghela nafas beratnya setelah kepergian sang suami dari kamarnya.
"Saya yang lagi datang bulan lah kok panjenengan (kamu) yang uring-uringan dari tadi koyok (seperti) cacing kepanasan. Lucu banget," gumam Janitra.
Bersambung...
🍁🍁🍁
gak bisa tidur karna belum berendam racikan rempah cinta ala janitra
wahhh KY nya ada yang mau unboxing nihh😅😅😅
kresna butuh di ninabobokan sama janitra😄