NovelToon NovelToon
Romansa Malam Di Jogjakarta

Romansa Malam Di Jogjakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintapertama / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:351
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Di tengah guyuran hujan Kota Senja, Arya menemukan lebih dari sekadar buku sejarah di perpustakaan tua—ia bertemu dengan Naya, seorang gadis misterius yang secara tak terduga membuat hatinya berdebar. Pertemuan yang terasa seperti kebetulan itu berubah menjadi awal dari sebuah misteri besar, ketika Arya menemukan foto tua tersembunyi yang mengungkapkan hubungan tak terduga: wajah Naya sangat mirip dengan wanita yang terlihat bersama ibunya, yang menghilang secara misterius setahun lalu tanpa meninggalkan jejak.

Dibakar oleh rasa penasaran dan keinginan untuk menemukan kebenaran di balik hilangnya ibunya, Arya mulai menyelidiki masa lalu keluarga-keluarga besar di kota itu. Semakin ia menggali, semakin ia menyadari bahwa pertemuan dengan Naya bukanlah kebetulan belaka. Di balik ketenangan Kota Senja, tersimpan rahasia kelam, persekutuan tersembunyi, dan kekuatan yang selama ini berusaha ditutup-tutupi. Arya harus berhati-hati, karena setiap langkahnya menuntunnya lebih dekat pada bahaya—dan pada kenyataan yang bisa mengubah seluruh hidupnya selamanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

12 Tahun Kemudian...

Waktu berlari lebih cepat dari kilat. Dua belas tahun adalah waktu yang cukup lama untuk menyembuhkan luka, menghapus jejak, dan mengubah wajah dunia.

Kota Senja kini tumbuh menjadi kota metropolitan yang modern, ramai, dan gemerlap. Gedung-gedung tinggi menjulang, jalanan diperlebar, dan udaranya terasa lebih segar. Namun di sudut pinggiran timur, di kawasan hijau yang tenang, masih berdiri rumah itu. Rumah yang dulu hampir jadi kuburan bagi mereka, kini telah berubah menjadi tempat paling hidup, paling hangat, dan paling bahagia di dunia.

Rumah itu sudah direnovasi total. Dinding kayunya diganti beton kokoh, halamannya luas penuh taman bunga mawar merah dan putih—warna keberanian dan kemurnian. Di sudut taman, ada sebuah pohon beringin tua yang rindang, di bawahnya terpasang ayunan kayu besar. Di sana, setiap sore, terdengar suara tawa renyah yang menggetarkan hati.

Sari Dewi.

Gadis kecil yang dulu terlahir di tengah badai darah dan air mata, kini tumbuh menjadi remaja berusia 13 tahun.

Ya, 13 tahun.

Dan Tuhan... gadis itu luar biasa.

Sari Dewi Pratama mewarisi segalanya yang terbaik dari kedua orang tuanya. Ia memiliki mata besar berbentuk almond berwarna cokelat madu yang tajam dan cerdas—persis mata Naya saat sedang serius. Kulitnya putih bersih kemerahan, rambut hitam panjang ikal bergelombang jatuh indah di punggungnya. Tapi yang paling mencolok adalah senyumnya. Senyum Arya. Senyum yang hangat, tulus, dan mampu mencairkan hati siapa saja yang melihatnya.

Namun, ada satu hal yang membuat Arya dan Naya sering menatap putri tunggal mereka dengan perasaan campur aduk: Sifatnya.

Sari Dewi bukan gadis remaja biasa. Dia bukan tipe gadis manja yang suka riasan atau gosip. Dia pendiam, observan, sangat cerdas, tapi punya rasa penasaran yang setinggi langit. Dia suka menyendiri, suka membaca buku-buku tua, suka berjalan-jalan sendirian di taman, dan yang paling aneh... dia sering berbicara sendiri. Atau setidaknya, terlihat seperti sedang berbicara dengan seseorang yang tidak terlihat.

Sore itu, matahari mulai terbenam, melukis langit dengan warna jingga, ungu, dan merah darah. Sari Dewi duduk sendirian di ayunan kayu bawah pohon beringin, mengayun pelan sambil memeluk sebuah buku tua bersampul kulit hitam. Buku harian. Buku milik neneknya, Sari Wijaya. Buku yang diselamatkan dari masa lalu, yang disimpan Arya di kotak besi terkunci, tapi entah bagaimana, Sari Dewi menemukannya dan membacanya berulang kali sampai hafal di luar kepala.

"Kamu benar, Nenek," bisik Sari Dewi pelan ke arah angin, matanya menatap halaman buku yang penuh tulisan tangan halus itu. "Cinta itu memang bisa jadi neraka. Tapi kebencian... kebencian itu jauh lebih menyakitkan."

"Siapa yang kamu ajak bicara, Sayang?"

Suara lembut Naya terdengar dari teras. Wanita itu kini berusia 34 tahun. Kecantikannya tidak luntur, malah makin memancarkan aura kedewasaan, kekuatan, dan ketenangan. Bekas-bekas trauma di wajahnya sudah lama hilang, digantikan kedamaian yang abadi. Naya berjalan mendekat membawa nampan berisi teh hangat dan kue cokelat kesukaan putrinya.

Sari Dewi menutup bukunya cepat, tersenyum polos ke arah ibunya.

"Tidak ada, Bunda. Aku cuma... berpikir keras saja," jawabnya manis.

Naya duduk di ayunan sebelah putrinya, menyisir rambut panjang anaknya dengan jari-jarinya. Saat menatap wajah Sari Dewi, seringkali Naya merasa seperti melihat cermin. Tapi bukan cermin dirinya sendiri. Melainkan cermin masa lalu. Kadang Sari Dewi terlihat persis seperti Sari Wijaya—lembut tapi baja. Kadang dia terlihat persis seperti Dewi—tenang tapi penuh rahasia. Dan kadang... jujur saja, Naya sering merinding karena Sari Dewi punya tatapan mata yang tajam, dingin, dan analitis... persis seperti tatapan Hendrawan Wijaya saat masih muda.

Genetik itu hal yang misterius dan menakutkan.

"Kamu lagi baca buku itu lagi?" tanya Naya lembut, menunjuk buku kulit hitam itu. Ia menghela napas panjang. "Sari, Bunda sudah bilang kan? Buku itu isinya sedih. Isinya penuh rasa sakit. Kamu masih kecil, tidak perlu tahu hal-hal gelap itu."

Sari Dewi menatap ibunya lurus-lurus. Matanya cokelat madu itu dalam dan dewasa, jauh melampaui usia 13 tahunnya.

"Bunda, aku bukan anak kecil lagi. Dan aku berhak tahu siapa aku. Dari mana aku berasal. Nenek Sari mati demi kebenaran. Kakek Andi mati karena dia jujur. Kalau aku lupa mereka, berarti mereka mati sia-sia kan?" ucap Sari Dewi tenang, tapi kata-katanya menohok tepat di jantung Naya.

Naya terdiam. Ia tidak bisa membantah logika tajam putrinya. Gadis ini memang istimewa.

"Selain itu..." tambah Sari Dewi, suaranya turun menjadi bisik, matanya kembali menatap buku harian itu. "Ada banyak hal yang belum selesai, Bunda. Banyak pertanyaan yang tidak terjawab. Misalnya... kenapa Nenek Sari menulis di halaman terakhir: 'Hati-hati dengan Air Mata Ketiga.' Apa maksudnya? Dan kenapa Kakek Hendrawan, sebelum meninggal lima tahun lalu, sempat meminta bertemu aku dan bilang: 'Kamu adalah kuncinya. Kamu lahir untuk menyeimbangkan timbangan.'"

Jantung Naya seolah berhenti berdetak. Tangannya mencengkeram kayu ayunan erat-erat.

"Kamu... kamu bertemu Kakek Hendrawan?!" seru Naya kaget dan panik bercampur marah. Hendrawan meninggal di penjara lima tahun yang lalu, di usia tua dan sakit parah. Naya pikir putrinya tidak pernah bertemu pria itu seumur hidupnya.

Sari Dewi mengangguk pelan, wajahnya datar.

"Waktu aku umur 8 tahun. Ayah sedang kerja di luar kota. Bunda sedang sakit demam tinggi. Ada seorang biarawati tua datang ke sini, bilang dia utusan dari penjara, bawa pesan terakhir. Aku ikut dia diam-diam. Aku pergi ke rumah sakit penjara. Dan aku bertemu dia."

"YA TUHAN..." Naya menutup mulutnya, air mata langsung menggenang. Bayangan putri kecilnya berjalan sendirian masuk ke sarang ular, masuk ke tempat di mana monster itu mati perlahan... rasanya seperti ditusuk ribuan jarum. "Kenapa kamu tidak bilang sama Bunda?! Kenapa kamu sembunyi?!"

"Karena aku tahu Bunda akan melarang. Aku tahu Bunda takut," jawab Sari Dewi tenang, tanpa rasa bersalah. "Dan aku ingin tahu. Aku ingin melihat wajah orang yang membuat Bunda menangis setiap malam saat aku masih kecil. Aku ingin melihat wajah monster itu."

"Dan... apa yang kamu lihat?" suara berat Arya terdengar dari belakang mereka.

Arya berdiri di sana. Pria itu kini berusia 36 tahun. Tampan, tegap, aura pemimpin dan pelindungnya makin kuat. Bekas luka di wajahnya samar tapi masih terlihat, menambah karisma misteriusnya. Ia baru pulang dari kantor arsitekturnya. Ia mendengar seluruh percakapan itu.

Sari Dewi menoleh ke ayahnya. Tatapannya melembut.

"Aku melihat seorang pria tua, kurus, keriput, penuh luka, yang sepertinya sudah mati jauh sebelum jantungnya berhenti berdetak, Ayah," jawab Sari Dewi jujur. "Dia tidak menyeramkan. Dia menyedihkan. Dia menangis saat melihat aku. Dia bilang aku cantik. Dia bilang aku adalah satu-satunya hal indah yang dia ciptakan di dunia ini. Dia bilang dia menyesal. Sangat menyesal. Terutama soal Paman Raga."

Naya dan Arya saling pandang. Udara di taman itu tiba-tiba terasa berat.

Raga Wijaya. Nama itu jarang sekali disebut. Setelah kejadian malam berdarah itu 12 tahun lalu, Raga divonis penjara seumur hidup di penjara keamanan maksimum di pulau terpisah, jauh dari Kota Senja. Dia dikunci rapat, tidak boleh menerima tamu, tidak boleh berkomunikasi dengan dunia luar. Dia dianggap psikopat berbahaya, meski tidak pernah lagi melakukan kekerasan sejak hari ayahnya menyerahkannya.

"Dan apa lagi yang dia katakan, Sari?" tanya Arya, mendekat, suaranya serius dan rendah.

Sari Dewi mengangkat bahu, tapi matanya berkilat aneh.

"Dia bilang: 'Raga bukan jahat, Sari. Dia cuma rusak. Dan yang rusak bisa diperbaiki, kalau ada yang mau mendengarnya.'"

Tepat saat kalimat itu keluar dari mulut anak itu, ponsel Arya di saku jasnya bergetar hebat. Bukan getaran biasa. Itu nada dering khusus—nada dering yang Arya atur hanya untuk satu nomor. Nomor yang sudah mati, nomor yang tidak pernah berdering selama 10 tahun terakhir.

Arya mengeluarkan ponselnya. Tangannya gemetar. Di layar, satu pesan masuk. Tidak ada nomor pengirimnya. Hanya tulisan singkat:

"ANGIN BERUBAH ARAH. DIA LEPAS. HATI-HATI. - B."

B.

Huruf B.

Satu huruf yang membuat darah Arya dan Naya langsung membeku.

Bimo.

"Tidak mungkin..." bisik Arya pucat. "Bimo mati. Dia dieksekusi mati 10 tahun lalu. Kita lihat beritanya."

"Tidak," suara Naya bergetar, ingatannya kembali melayang ke malam pembunuhan di toko Pak Hadi, ke rekaman kaset tua itu, ke tatapan mata dingin tangan kanan ayahnya. "Bimo tidak pernah mati. Bimo itu seperti kecoa, Arya. Dia punya banyak kembaran, banyak orang yang dia bayar pakai namanya. Dia cuma palsukan kematiannya supaya kita berhenti mencari."

"Dan sekarang dia kirim pesan ini... kenapa? Mengancam? Atau memperingatkan?" Arya berpikir cepat, otak arsitekturnya bekerja menyusun pola. "Kalau dia mau bunuh kita, dia tidak perlu kirim pesan. Dia akan datang diam-diam seperti dulu. Ini peringatan. Tapi peringatan soal apa?"

Jawabannya datang lebih cepat dari yang mereka duga.

Suara deru mesin mobil besar, berat, dan rendah terdengar masuk ke halaman rumah mereka. Suara ban berdecit kasar di aspal.

Semua orang menoleh. Di gerbang besi besar yang terbuka otomatis, masuklah sebuah mobil SUV hitam legam, model terbaru, kaca depannya gelap tak tembus pandang, tanpa pelat nomor. Mobil itu berhenti tepat di depan teras.

Pintu pengemudi terbuka.

Seorang pria turun.

Tinggi besar, bahu lebar, tubuh kekar, wajahnya tajam, dingin, rahangnya keras, kulitnya sawo matang, matanya hitam pekat tanpa pantulan cahaya. Rambutnya pendek, cepak militer. Di wajahnya, ada bekas luka panjang putih melintang dari pelipis kiri turun ke rahang—bekas tembakan Arya 12 tahun lalu.

Dia terlihat jauh lebih tua, jauh lebih keras, jauh lebih berbahaya daripada ingatan mereka. Dia bukan lagi anak muda yang penuh amarah dan bingung. Dia adalah pria yang matinya jiwanya, pria yang ditempa oleh besi, kelaparan, kesepian, dan kebencian selama 12 tahun di dalam sel beton bawah tanah.

Dia adalah Raga Wijaya.

Bebas.

Naya langsung menarik Sari Dewi ke belakang tubuhnya, melindungi putrinya dengan seluruh tubuhnya, napasnya tersedak.

"Raga..." bisik Naya parau. "Kamu... kamu kabur?"

Raga tidak menjawab langsung. Matanya yang tajam dan kosong menatap Arya dulu. Ada kilatan pengakuan hormat, tapi juga kebencian yang masih membara di dasar sana. Lalu matanya beralih ke Naya. Tatapan itu... aneh. Bukan benci. Bukan cinta. Tapi rasa memiliki yang gila. Seolah Naya adalah bagian dari dirinya yang hilang.

Terakhir, matanya jatuh ke gadis kecil di belakang Naya.

Sari Dewi.

Untuk pertama kalinya sejak turun dari mobil, ekspresi wajah batu Raga berubah. Mata hitamnya melebar sedikit. Rahangnya yang keras melonggar. Napasnya tertahan.

Dia melihat dirinya sendiri. Dia melihat Naya. Dia melihat Sari Wijaya. Dia melihat Dewi. Semua digabung jadi satu dalam sosok remaja 13 tahun yang berdiri tegak, tidak takut, malah menatap baliknya dengan rasa ingin tahu yang intens.

Sari Dewi mendorong tangan ibunya perlahan, melangkah maju satu langkah keluar dari perlindungan.

"Sari! JANGAN!" teriak Arya panik, hendak menarik putrinya kembali.

Tapi Sari Dewi menggeleng. Gadis itu berjalan santai, langkahnya mantap, sampai ia berdiri hanya berjarak dua meter dari Raga Wijaya—pembunuh berdarah dingin, kakak kandung ibunya sendiri, pria yang dulu ingin membantai seluruh keluarganya.

Sari Dewi mendongak, menatap mata pria raksasa itu tepat di manik matanya.

"Halo, Paman Raga," ucap Sari Dewi lembut, suaranya jernih dan tenang, tidak gemetar sedikitpun. "Aku sudah lama menunggu kamu datang."

Raga tertegun. Ia menunduk perlahan, menatap wajah polos namun matang itu. Hatinya yang sudah membatu, yang sudah mati rasa selama belasan tahun, tiba-tiba terasa seperti ditusuk jarum panas. Ada rasa sakit. Ada rasa aneh.

"Kamu..." suara Raga parau, serak, jarang dipakai. "Kamu tahu siapa aku?"

"Tentu saja. Kamu kakak Bunda. Kamu darah daging Nenek Sari sama seperti Bunda. Dan kamu adalah satu-satunya orang yang bisa menjawab pertanyaan terbesar aku," jawab Sari Dewi mantap.

"Pertanyaan apa?"

Sari Dewi menunjuk tepat ke dada kiri Raga, tempat jantungnya berdetak.

"Apakah di sini, di dalam dada batu ini, masih ada hati? Atau memang monster tidak punya hati?"

Diam.

Suasana di halaman rumah itu membeku. Arya dan Naya kaku ketakutan, jantung mereka mau copot. Mereka yakin detik berikutnya Raga akan marah, akan mencengkeram leher putri mereka, akan menghancurkan gadis kecil itu.

Tapi tidak.

Raga tidak marah. Matanya yang dingin tiba-tiba berair. Sudut bibirnya yang keras perlahan terangkat, membentuk senyum yang sangat tipis, sangat sedih, dan sangat mengerikan. Senyum orang yang sudah lama lupa cara tersenyum.

"Kamu berani, anak kecil," gumam Raga pelan. "Berani banget. Persis seperti nenekmu. Persis seperti ibumu."

Ia melirik tajam ke arah Arya dan Naya yang masih waspada siap menyerang atau lari.

"Tenang. Aku tidak datang buat bunuh kalian. Kalau aku mau bunuh, kalian sudah mati sebelum mobil ini masuk gerbang," ucap Raga dingin, kembali ke mode seramnya. Ia merogoh saku jaket kulit hitamnya, mengeluarkan sebuah amplop tebal, cokelat, kusam, tertutup segel lilin merah.

Ia menyodorkan amplop itu ke arah Sari Dewi, bukan ke Arya atau Naya.

"Ini buat kamu. Dari Ayahku. Dari Hendrawan Wijaya. Dia titip ini sama aku sebelum dia mati. Dia bilang hanya kamu yang boleh buka. Bukan orang tua kamu. Hanya kamu."

Sari Dewi mengambil amplop itu. Terasa berat, dingin, dan tua di tangannya.

"Kenapa kamu? Kenapa kamu bawa ini?" tanya Sari Dewi.

"Karena aku berhutang nyawa sama dia," jawab Raga jujur, matanya menggelap. "12 tahun lalu, dia yang menembak aku. Dia yang menghentikan aku. Dia yang menyerahkan diri buat gantiin aku, supaya aku tidak ditembak mati polisi malam itu. Dia bilang dia punya rencana buat aku. Dia bilang aku harus hidup, belajar, berubah, dan menunggu sampai waktu yang tepat buat kasih ini ke kamu."

"Dan kenapa kamu bebas sekarang?" potong Arya tajam, matanya tidak lepas dari pergerakan otot Raga.

"Karena aku bukan lagi tahanan, Arya," Raga menatap tajam mantan musuh bebuyutannya itu. "Aku bekerja buat negara sekarang. Selama 10 tahun di penjara, aku ikut pelatihan khusus. Aku jadi aset intelijen. Aku jadi pemburu penjahat, bukan penjahatnya. Aku belajar membunuh orang jahat, bukan orang baik. Aku belajar hukum, aku belajar etika, aku belajar apa artinya benar dan salah. Ayahmu benar, Naya... aku rusak. Tapi rusak bisa diperbaiki. Meski bekas retakannya selamanya akan ada."

Naya masih tidak percaya. Ia masih ingat pisau di tangan Raga, darah Arya di lantai, teriakan minta tolongnya dulu.

"Kenapa kita harus percaya kamu? Kamu cuma pandai berakting seperti ayahmu," tuduh Naya dingin.

Raga mengangguk, menerima tuduhan itu dengan tenang.

"Aku tidak minta dipercaya. Aku cuma minta didengar. Dan satu hal lagi..." Raga melangkah mundur, kembali ke mobilnya, tapi sebelum masuk, ia berbalik sekali lagi. Wajahnya serius, sangat serius, matanya menyiratkan bahaya nyata.

"Pesan dari Bimo itu benar. Angin sedang berubah. Warisan Wijaya ternyata lebih besar, lebih kotor, dan lebih berbahaya dari yang kita semua tahu. Hendrawan Wijaya bukan cuma pengusaha korup. Dia pemimpin sindikat rahasia. Dia punya anak-anak buah di seluruh dunia, yang tidak tahu dia sudah jatuh. Mereka mengira dia masih hidup, mereka mengira aku masih penerus sah. Dan sekarang, mereka tahu aku keluar. Dan mereka tahu Sari Dewi ada."

Jantung Arya mencelos ke perut.

"Maksud kamu?"

"Mereka mengira Sari Dewi adalah pewaris tunggal, pemegang kode, pemilik kekayaan gelap triliunan rupiah yang tersembunyi. Mereka mengira dia kunci emas. Dan mereka akan datang mengambilnya. Bukan buat kebaikan. Tapi buat menghancurkan dunia. Kalian pikir kita sudah menang? Kita baru saja selesai babak pertama, teman-teman. Babak kedua... baru saja dimulai."

Raga masuk ke mobilnya, pintu tertutup rapat dengan bunyi BLAM berat. Mobil hitam itu memutar balik, melaju cepat keluar gerbang, meninggalkan debu dan kepanikan luar biasa di belakangnya.

Arya, Naya, dan Sari Dewi berdiri diam terpaku di halaman rumah. Angin sore berhembus dingin, menggoyangkan ranting pohon beringin tua.

Sari Dewi menatap amplop cokelat di tangannya. Segel lilin merah dengan lambang singa berkepala dua—lambang keluarga Wijaya. Perlahan, ia merobek segel itu.

Di dalamnya ada:

1. Sebuah peta tua dengan tanda silang merah di hutan belantara di pegunungan selatan.

2. Sebuah kalung kunci emas tua, persis pasangan dengan kalung bulan sabit milik Naya.

3. Dan sebuah surat tulisan tangan getar, terakhir dari Hendrawan Wijaya.

Sari Dewi membacanya pelan, suara jernihnya memecah keheningan sore itu:

"Cucuku tersayang,

Jika kamu membaca ini, berarti aku sudah mati, dan Raga sudah menemukanmu. Maafkan aku. Maafkan aku untuk semua darah, air mata, dan dosa yang aku wariskan padamu. Aku tahu kamu membenci namaku. Aku tahu kamu menganggapku monster. Dan aku pantas mendapatkannya.

Tapi dengar aku. Ada rahasia yang aku kubur lebih dalam dari kuburan ibumu, lebih gelap dari neraka tempatku tinggal. Dua puluh delapan tahun lalu, saat aku menjebak Andi, saat aku membunuh Sari, aku tidak bekerja sendiri. Aku bekerja untuk seseorang. Seseorang yang jauh lebih tua, jauh lebih kaya, jauh lebih jahat, dan jauh lebih berkuasa dari siapapun. Dia adalah 'Bayangan'. Dia yang memerintah aku mencuri uang, dia yang memerintah aku menghancurkan Andi, dia yang membuatku jadi iblis.

Dia memakai aku. Dan sekarang, dia akan memburu kamu. Karena kamu membawa darahku. Karena kamu membawa kode di dalam DNAmu sendiri.

Satu-satunya cara untuk mengakhiri ini semua, benar-benar sampai ke akar, bukan cuma memotong ranting seperti yang orang tuamu lakukan... adalah kamu harus pergi ke Puncak Kelabu, di Gunung Merah. Di sana ada sarang aslinya. Di sana ada bukti mutlak. Di sana ada kebenaran asal mula semuanya.

Bawa Raga. Dia satu-satunya yang tahu jalan. Dia satu-satunya yang punya keahlian. Dia rusak, ya. Tapi dia rusak karena aku. Dan rusak bisa jadi tajam, kalau dipakai di jalan yang benar.

Kamu lahir di badai, Sari Dewi. Kamu lahir untuk menjadi Badai itu sendiri. Hancurkan mereka. Hancurkan warisanku yang busuk ini. Bebaskan nama Wijaya. Bebaskan jiwa kami semua.

Aku mencintaimu, lebih dari apapun di dunia ini. Maafkan kakekmu yang bodoh ini.

Selalu,

Kakek Hendrawan."

Surat itu jatuh dari tangan Sari Dewi, melayun jatuh ke rumput hijau basah.

Naya limbung, bersandar kuat pada suaminya. Dunia yang mereka bangun dengan susah payah, kedamaian 12 tahun itu, ternyata hanya ilusi. Ancaman bukan hilang. Dia cuma sedang tidur, menunggu pewarisnya tumbuh dewasa.

Arya menatap putrinya. Di mata gadis 13 tahun itu, dia melihat perubahan drastis. Ketakutan tidak ada. Rasa bingung tidak ada. Yang ada hanya tekad dingin, logika tajam, dan keberanian yang mengerikan.

Sari Dewi mengangkat wajahnya, menatap ayah dan ibunya bergantian.

""Ayah, Bunda," ucapnya tenang, matanya berkilat tajam persis seperti Sari Wijaya di rekaman kaset 28 tahun lalu. "Kita tidak bisa lari lagi. Lari tidak akan menyelesaikan ini. Kalau kita lari, mereka akan terus mengejar, dan nanti anak cucuku akan kena masalah ini lagi. Ini warisanku. Ini masalah darahku. Dan aku yang harus selesaikan."

"Jangan bicara seperti itu! Kamu masih anak-anak! Kamu tidak tahu bahayanya!" bentak Naya menangis.

"Aku anakmu, Bunda. Anak Arya. Cucu Sari dan Andi. Aku lahir dari api, aku dibesarkan di kedamaian, dan aku diciptakan untuk pertempuran ini," potong Sari Dewi tegas, lalu ia menunjuk ke arah gerbang tempat Raga tadi pergi.

"Dan kita butuh dia. Kita butuh Paman Raga. Musuh dari musuhku adalah temanku. Dan dia tahu semua rahasia dunia gelap itu. Tanpa dia, kita mati."

Arya menghela napas panjang, napas yang terasa berat seolah memikul gunung. Ia melihat api yang sama yang dulu ada di matanya sendiri, dulu ada di mata Naya, kini menyala terang di mata putri kesayangannya.

Perang baru sudah dimulai. Tapi kali ini, pemimpinnya bukan lagi Arya atau Naya.

Pemimpinnya adalah Sari Dewi Pratama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!