Di dunia di mana kekuatan kultivasi menentukan segalanya, di mana kemampuan dan kekuasaan menjadi ukuran keberhasilan, ada seorang pemuda yang namanya perlahan mulai menancapkan akarnya dan menimbulkan getaran di seluruh wilayah. Dia adalah Xiao Xuan—pria yang tenang, penuh perhitungan, dengan tatapan mata yang tajam yang bisa menilai setiap situasi dalam sekejap, namun menyimpan kelembutan dan perlindungan yang hanya terlihat bagi orang-orang yang dia sayangi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16.Jerat Tali Sutra di Balik Cawan Teh
Sore hari di kediaman Keluarga Xiao, keheningan terasa begitu pekat di dalam ruang kerja pribadi Xiao Xuan. Angin musim gugur yang berembus rendah menyapu dedaunan kering di halaman, menciptakan derit halus yang berirama. Di dalam ruangan, Xiao Xuan duduk bersandar pada kursi kayu cendana, menatap lurus ke arah cawan tehnya yang telah mendingin.
"Patriark Shen Hong... seorang kultivator di Puncak Emas Hitam," bisik Xiao Xuan pada dirinya sendiri. Suaranya terdengar berat, mengalun pelan di antara pilar-pilar kayu yang gelap. "Di Kota Glory yang terisolasi ini, kekuatan seperti itu memang tidak bisa diremehkan. Sebuah bidak yang terlalu sayang jika langsung dihancurkan tanpa diperas habis kegunaannya."
Otot-otot wajah Xiao Xuan melonggar, membiarkan seulas senyum sinis yang tipis terukir di sudut bibirnya. Setiap langkah telah diatur, setiap bidak telah digeser ke posisi yang tepat. Sekarang, dia hanya perlu duduk dengan tenang, menikmati aroma dupa yang terbakar, dan menunggu rubah tua dari Keluarga Suci itu berjalan masuk ke dalam jaring yang telah ia tebar. Keluarga Suci, dengan segala keangkuhan masa lalu mereka, tidak akan pernah menyadari bahwa tali gantungan telah melingkar di leher mereka sejak lama.
Sementara itu, di kediaman Keluarga Suci, atmosfer terasa jauh dari kata tenang. Ketegangan yang mencekik menyelimuti aula utama, di mana Patriark Shen Hong sedang mondar-mandir dengan gurat kecemasan dan amarah yang samar di dahinya.
Kepalanya terasa seolah ingin pecah setiap kali mengingat laporan tentang cucu perempuannya, Shen Qingqiu. Sejak malam perjamuan itu, gadis itu mengunci diri, menolak menyentuh makanan spiritual, dan fluktuasi energinya menjadi tidak stabil.
Ditambah lagi dengan rumor memalukan yang kini menjadi konsumsi publik di seluruh kedai teh Kota Glory—dua dewi klan agung memperebutkan seorang pemuda—Shen Hong merasa harga diri klannya sedang dipertaruhkan. Kubis segar yang dia rawat dengan susah payah di kebunnya, kini tampaknya telah dengan sukarela menyerahkan diri untuk dipetik oleh Xiao Xuan.
"Melapor, Patriark!" seorang pengawal klan berlutut di ambang pintu, memecah keheningan dengan suara yang agak gemetar. "Tetua Agung Xiao Tian dari Keluarga Xiao telah tiba di gerbang utama. Beliau menyampaikan pesan bahwa Tuan Muda Xiao Xuan memiliki urusan yang teramat krusial untuk dibicarakan dengan Anda."
Shen Hong menghentikan langkahnya. Matanya menyipit, memancarkan kilatan dingin yang mengintimidasi. "Pemuda dari Keluarga Xiao itu... dia telah menjerat cucuku tanpa mengucapkan sepatah kata pun secara jantan kepadaku, dan sekarang dia berani mengirim tetuanya ke mari?"
Shen Hong mendengus dingin, melambaikan lengan jubahnya yang bersulam benang emas dengan kasar. "Biarkan Xiao Tian menunggu di gerbang luar selama satu jam penuh. Katakan padanya aku sedang memimpin rapat penting klan. Jika ada tetua Keluarga Xiao yang keberatan, biarkan mereka datang menghadapku langsung."
"Baik, Yang Mulia Patriark." Pengawal itu membungkuk dalam-dalam dan bergegas mundur, takut terkena imbas amarah sang ahli Puncak Emas Hitam.
Satu jam berlalu seperti tetesan air yang lambat. Shen Hong sengaja mengulur waktu demi menegakkan wibawa Keluarga Suci yang mulai terkikis oleh rumor. Ketika matahari mulai condong ke barat, barulah dia melangkah keluar dengan pembawaan yang tenang, seolah-olah tidak ada beban yang menggelayuti pikirannya.
"Hahaha! Tetua Agung Xiao Tian, angin musim apa yang sudi meniup Anda hingga melangkah ke kediaman kecilku ini?" Suara Shen Hong menggelegar bahkan sebelum sosoknya melewati pintu gerbang, terdengar ramah namun sarat akan subteks yang menekan. "Anda adalah pria yang sangat sibuk, jarang sekali ada urusan yang bisa membuat Anda mengetuk pintu Keluarga Suci."
Xiao Tian, yang telah berdiri di bawah terik matahari selama satu jam, tidak menunjukkan tanda-tanda kemarahan di wajahnya yang telah berkerut oleh usia. Sesuai dengan instruksi tersembunyi yang ditanamkan Xiao Xuan di benaknya, dia menekan ego pribadinya demi gambaran besar. Dia membalas salam Shen Hong dengan busur tubuh yang formal dan sempurna.
"Sungguh sebuah kehormatan yang langka untuk bisa bertemu langsung dengan Anda, Saudara Shen," ujar Xiao Tian setelah mereka berdua melangkah masuk ke dalam ruang tamu yang megah. Nada suaranya terdengar datar, namun ada getaran dingin yang sengaja disisipkan. "Pelayan Anda tadi bersikeras bahwa Patriark Keluarga Suci yang agung sedang tidak dapat diganggu oleh urusan sepele, bahkan tidak mengizinkan saya mencicipi seteguk teh pun di aula depan. Ini adalah sambutan yang... cukup unik bagi seorang utusan resmi."
Shen Hong terkekeh pelan, duduk di kursi utamanya sembari merapikan lengan jubah kultivasinya yang megah. "Begitukah? Sungguh pelayan-pelayan yang tidak berguna. Jangan khawatir, Saudara Xiao. Hanya dengan satu patah kata darimu, pelayan yang tidak tahu aturan itu tidak akan melihat fajar esok hari. Aku pasti akan mendisiplinkan seluruh isi kediaman ini nanti; bagaimana mungkin mereka berani menolak tamu agung seperti Anda?"
"Tidak perlu sampai menumpahkan darah demi seorang pelayan, Saudara Shen. Orang tua ini tidak memiliki energi luang untuk berdebat dengan tingkat bawah; itu hanya akan menurunkan martabat klan saya," jawab Xiao Tian dengan senyum tipis yang sarat akan sarkasme.
"Tentu saja, siapa di Kota Glory ini yang tidak mengenal kemurahan hati dan kebijaksanaan Tetua Agung Xiao Tian?" Nada suara Shen Hong tetap datar, seolah kata-katanya hanyalah basa-basi tanpa jiwa.
Xiao Tian meletakkan cawan teh yang baru saja disajikan oleh pelayan lain, tatapannya menajam. "Patriark Shen, mengapa setiap kata yang keluar dari bibir Anda terasa begitu penuh dengan energi Yin dan Yang? Apakah Keluarga Suci saat ini memiliki pandangan tersendiri terhadap Keluarga Xiao kami?"
Xiao Tian berdiri dari kursinya, jubah abu-abunya berdesir menciptakan tekanan spiritual yang tipis di udara. "Jika memang kehadiran saya di sini dirasa mengganggu, maka saya tidak akan memperpanjang waktu saya. Mengenai rencana kerja sama yang ingin ditawarkan oleh Tuan Muda kami..."
Mendengar kata "kerja sama", kelopak mata Shen Hong berkedut. Di tengah situasi Kota Glory yang semakin tidak menentu karena pergerakan Keluarga Angin Salju, aliansi atau informasi dari Keluarga Xiao yang sedang naik daun bisa menjadi penentu arah angin. Dia buru-buru berdiri, menahan langkah Xiao Tian dengan lambaian tangan yang bersahabat.
"Tetua Agung Xiao, mohon tenangkan diri Anda. Bagaimana mungkin aku, Shen Hong, memiliki pemikiran picik seperti itu?" Shen Hong melangkah maju, secara pribadi meraih teko porselen dan menuangkan teh hangat ke dalam cawan Xiao Tian. "Silakan duduk kembali."
Setelah Xiao Tian kembali tenang, Shen Hong menghela napas panjang, memasang wajah penuh keprihatinan seorang tetua. "Hanya saja... belakangan ini ada rumor yang sangat liar beredar di jalanan kota.
Cucu perempuan saya yang tidak berpengalaman, gadis muda dari Keluarga Angin Salju, dan Tuan Muda Xiao Xuan... mereka semua terlibat dalam narasi yang kurang pantas. Pikiran orang tua ini sempat menjadi kusut karenanya. Jika dalam menyikapi hal ini ada tindakan atau kataku yang menyinggung perasaan Anda, mohon jangan dimasukkan ke dalam hati."
Xiao Tian mendengarkan dengan saksama, menatap cairan teh yang berputar di cawannya. Intuisi tuanya mengenali kepalsuan di balik topeng Shen Hong. "Karena itu hanyalah desas-desus yang disebarkan oleh orang-orang tak bertanggung jawab, bagaimana mungkin seorang pemimpin klan yang bijaksana seperti Anda bisa dengan mudah mempercayainya?
Saya juga mendengar sedikit tentang hal itu, namun di mata saya, itu hanyalah gejolak darah muda yang wajar. Mohon jangan terlalu membebani pikiran Anda, Patriark Shen. Jika sekiranya Tuan Muda kami yang berjiwa bebas telah melakukan tindakan yang kurang berkenan di hati Anda, saya—atas nama tetua klan—meminta maaf secara tulus." Xiao Tian membungkuk sedikit, memberikan ruang bagi harga diri Shen Hong untuk merasa menang.
Melihat Tetua Agung Keluarga Xiao bersikap serendah itu, kecurigaan Shen Hong sedikit mengendur. Harga dirinya sebagai pemimpin salah satu klan utama terpuaskan. "Tetua Agung Xiao terlalu sungkan. Karena Anda sudah berbicara demikian, bagaimana mungkin aku tidak menghormati ketulusan Keluarga Xiao? Hanya saja... mengenai 'kerja sama' yang Anda sebutkan tadi, saya masih sedikit penasaran..."
Xiao Tian menegakkan tubuhnya kembali, matanya memancarkan ketenangan yang menghanyutkan. "Patriark Shen tidak perlu khawatir. Kedatangan saya kali ini murni membawa niat baik dan ketulusan terdalam dari Tuan Muda Xiao Xuan.
Namun, detail dari kerja sama ini melibatkan rahasia kultivasi dan stabilitas wilayah yang sangat sensitif, sehingga saya pribadi tidak memiliki wewenang untuk menjabarkannya di sini. Tuan Muda Xiao Xuan secara khusus meminta saya untuk menyampaikan pesan ini: Beliau mengundang Anda secara pribadi ke paviliun rahasia Keluarga Xiao untuk merumuskan masa depan bersama. Bagaimana menurut Anda, Patriark?"
[ **Sistem Penjahat Takdir:** *Ding! 🦊 Rubah tua di depanmu ini mulai mencium bau umpan, Tuan Rumah! Lihatlah bagaimana matanya berputar mencoba mengalkulasi keuntungan. Dia berpikir dia sedang melangkah menuju meja perundingan, padahal dia sedang berjalan dengan sukarela menuju kandang harimau. Sungguh pertunjukan teatrikal yang menggemaskan dari Tetua Xiao Tian! 🍿👏* ]
Shen Hong terdiam sejenak, janggut panjangnya dielus pelan oleh jemarinya yang dipenuhi cincin giok. Jika Xiao Xuan ingin berbicara dengannya secara empat mata di wilayah Keluarga Xiao, itu berarti ada hal yang sangat besar yang tidak ingin bocor ke telinga Keluarga Angin Salju. Sebagai rubah tua yang haus akan kekuasaan, rasa ingin tahunya mengalahkan kewaspadaannya.
"Jika Tuan Muda Xiao Xuan sendiri yang mengundangku untuk berdiskusi secara pribadi, maka masalah ini pasti akan mengubah peta kekuatan Kota Glory," ucap Shen Hong dengan nada mantap, keyakinannya telah bulat. "Baiklah, aku akan menemani Anda sekarang juga."
Xiao Tian melangkah mundur satu depa, memberikan jalan dengan gestur tangan yang anggun. "Patriark Shen, silakan berjalan di depan."
"Tetua Agung Xiao, silakan bersama-sama," balas Shen Hong dengan tawa kecil yang terdengar akrab.
"Kalau begitu, orang tua ini tidak akan bersikap terlalu sungkan lagi."
Dengan jubah sutra yang berkibar tertiup angin sore, Shen Hong melangkah keluar dari kediamannya sendiri, berjalan beriringan dengan Xiao Tian menuju wilayah Keluarga Xiao. Dia melangkah dengan kepala tegak, sepenuhnya yakin bahwa dia adalah salah satu pengendali takdir di kota ini, tanpa pernah menyadari bahwa di ujung jalan sana, Xiao Xuan telah menyiapkan cawan teh penutup yang akan mengunci kebebasannya untuk selamanya.