Lima tahun menikah, Kanisha Rayya Shanika selalu percaya bahwa rumah tangganya bersama sang suami, Arven Mahendra, akan berjalan harmonis untuk selamanya. Ia rela menekan mimpinya sendiri demi menjadi istri sempurna dan ibu terbaik bagi anak angkat yang sangat ia cintai. Namun semua kepercayaan itu runtuh dalam satu malam.
Kanisha memergoki Arven berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri—wanita yang selama ini ia anggap hanya rekan kerja biasa. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, kenyataan yang jauh lebih kejam kembali menghantamnya. Anak angkat yang ia rawat dengan penuh kasih ternyata adalah darah daging hasil hubungan terlarang suaminya dengan sang selingkuhan.
Dikhianati sebagai istri sekaligus dipermainkan sebagai seorang ibu, Kanisha memilih pergi dan mengakhiri pernikahan yang telah menghancurkan hidupnya. Dengan tekad untuk bangkit, Kanisha mulai membangun hidup baru dan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak begitu saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Putri yang sejak kecil selalu mereka jaga, putri yang tidak pernah mereka biarkan menangis sendirian. Dan sekarang entah kenapa firasat mereka terasa sangat buruk.
"Ayo ma, kita temui Kanisha sekarang."
Rendra segera melangkah keluar kamar yang membuat Dahlia langsung mengikuti di sampingnya. Keduanya berjalan cepat menyusuri koridor rumah yang panjang. Langkah mereka terdengar tergesa-gesa. Tidak ada percakapan, tidak ada candaan seperti biasanya, yang ada hanya kekhawatiran. Tangga menuju lantai dua segera mereka lewati. Semakin dekat menuju kamar Kanisha, semakin kuat perasaan tidak nyaman yang memenuhi dada mereka. Dahlia bahkan mulai menggenggam tangannya sendiri, berusaha menenangkan kecemasannya yang terus bertambah.
"Pa..."
Rendra menoleh.
"Ya?"
"Mama takut."
Pria itu menghela napas pelan lalu menggenggam tangan istrinya.
"Semoga kita cuma terlalu khawatir sama Kanisha, ma. Papa harap nggak akan terjadi sesuatu yang buruk sama Kanisha."
Namun jauh di dalam hati, Rendra sendiri tidak yakin dengan ucapannya karena tidak mungkin seorang wanita yang sudah menikah pulang tengah malam dalam keadaan basah kuyup tanpa alasan. Tidak mungkin. Mereka akhirnya tiba di depan kamar Kanisha. Lampu kamar itu masih menyala, dari balik pintu tidak terdengar suara apa pun. Rendra dan Dahlia saling bertukar pandang sekali lagi lalu tanpa menunggu lebih lama, Rendra memutar gagang pintu.
Klik.
Pintu kamar perlahan terbuka dan tepat pada saat itu keduanya langsung membeku. Di dalam kamar, Kanisha berdiri di depan lemari pakaiannya yang terbuka. Di tangannya ada beberapa helai pakaian ganti yang baru saja ia ambil. Rambut panjangnya masih basah sementara air terus menetes dari ujung rambutnya hingga membasahi lantai. Pakaiannya kusut, wajahnya pucat, matanya merah dan penampilannya benar-benar berantakan, sangat jauh berbeda dari Kanisha yang selalu mereka kenal.
Untuk sesaat Rendra dan Dahlia hanya mampu berdiri diam di ambang pintu. Mereka dibuat syok, tidak percaya dan panik melihat kondisi putri mereka, sementara Kanisha yang baru menyadari kehadiran kedua orang tuanya perlahan menoleh ke arah pintu. Tatapan mata mereka bertemu dan saat itulah, baik Rendra maupun Dahlia dapat melihat dengan jelas bahwa ada sesuatu yang telah menghancurkan putri mereka malam ini.
Sesuatu yang sangat besar, sesuatu yang membuat Kanisha pulang ke rumah dalam keadaan seperti sekarang.
"Ya Allah, Kanisha." Dahlia langsung berjalan cepat menghampiri putrinya. Suara wanita terdengar itu bergetar, tangannya segera memegang kedua bahu Kanisha. Begitu menyentuh tubuh putrinya, Dahlia langsung terkejut. Tubuh Kanisha terasa dingin. "Astaga..." ucap Dahlia panik. "Kamu kehujanan sampai segini parahnya?" Kanisha hanya diam, tatapannya kosong dan itu membuat Dahlia semakin panik. "Kamu kenapa, Nak?" Tanya ibunya namun tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Kanisha. "Kenapa kamu datang malam-malam begini?Kenapa kamu basah kuyup seperti ini?"
Dahlia menggenggam wajah putrinya pelan.
"Tolong jawab pertanyaan mama, nak." Pinta Dahlia namun tetap tidak ada jawaban.
Mata Kanisha hanya menatap wajah ibunya tanpa fokus seolah pikirannya sedang berada di tempat lain dan justru karena itulah Dahlia semakin takut karena selama hidupnya, ia belum pernah melihat Kanisha seperti ini.
"Kamu bikin mama takut..." Suara Dahlia mulai bergetar. "Arven mana?"
Pertanyaan itu menggantung di udara dan untuk pertama kalinya, kelopak mata Kanisha bergerak sedikit namun tetap saja ia tidak menjawab. Melihat itu, Dahlia semakin dibuat gelisah.
"Kanisha... Kamu berantem sama Arven?Arven nyakitin kamu ya? Kanisha jawab pertanyaan mama!"
Kali ini suara Dahlia mulai meninggi karena panik namun Kanisha tetap tidak menjawab. Ia hanya berdiri mematung sementara di belakang mereka, Rendra masih berdiri dengan rahang mengeras. Berbeda dengan Dahlia yang panik dan terus bertanya, pria itu justru memilih diam, mengamati, memperhatikan, dan semakin lama ia melihat putrinya, semakin buruk firasatnya. Rendra mungkin bukan tipe ayah yang banyak bicara. Ia juga bukan ayah yang terlalu menunjukkan perasaannya namun satu hal yang pasti, Ia mengenal Kanisha dengan sangat baik.
Ia tahu bagaimana sifat putrinya. Kanisha bukan perempuan yang suka membuat masalah, bukan perempuan yang akan pulang ke rumah orang tuanya tengah malam hanya karena pertengkaran kecil, bukan juga perempuan yang akan menangis tanpa alasan. Sejak kecil Kanisha selalu kuat, selalu berusaha menyelesaikan semuanya sendiri.
Bahkan setelah menikah dengan Arven pun, Kanisha hampir tidak pernah mengeluh. Kalau ada masalah, ia menyimpannya sendiri. Kalau sedang sedih, ia tersenyum. Kalau sedang terluka, ia tetap bilang baik-baik saja. Karena itulah melihat putrinya berdiri dalam keadaan seperti ini membuat hati Rendra terasa tidak tenang.
Mata sembab, pakaian basah, tatapan kosong dan yang paling membuatnya curiga, Kanisha datang sendirian tanpa Arven. Perlahan rahang Rendra mengeras. Ada sesuatu yang terjadi dan entah kenapa ia mulai memiliki dugaan yang sangat buruk.
"Kanisha."
Suara Rendra akhirnya terdengar. Berat, tegas dan membuat Dahlia langsung menoleh ke arahnya. Kanisha juga perlahan mengangkat wajahnya yang membuat Rendra menatap putrinya lurus-lurus.
"Papa cuma mau tanya satu hal." Suasana kamar langsung terasa semakin hening. "Bilang yang jujur." Kanisha tidak menjawab namun matanya mulai berkaca-kaca lagi. Melihat itu, firasat buruk Rendra semakin menguat. Pria itu menarik napas panjang lalu bertanya dengan suara yang jauh lebih tegas.
"Apakah Arven yang bikin kamu jadi begini?"
Deg, Dahlia langsung menoleh cepat ke arah suaminya. Matanya membelalak.
"Pa..."
Wanita itu terlihat tidak percaya namun Rendra tidak mengalihkan pandangannya dari Kanisha sedetik pun karena sekarang ia ingin tahu jawabannya. Ia harus tahu.
"Jawab papa." Suara Rendra terdengar pelan. "Apakah Arven yang sudah bikin kamu jadi seperti ini?"
Dan untuk beberapa detik tidak ada jawaban.
Kanisha hanya menatap ayahnya. Tatapannya bergetar, bibirnya ikut bergetar sementara air matanya mulai kembali memenuhi kedua matanya. Dahlia ikut menahan napas. Entah kenapa ia takut mendengar jawabannya. Lalu perlahan Kanisha menganggukkan kepalanya sekali namun cukup untuk membuat dunia kedua orang tuanya terasa berhenti.
Dahlia langsung membekap mulutnya sendiri, matanya membelalak lebar, tubuhnya terasa lemas, sementara Rendra membeku di tempatnya. Meski wajahnya tetap terlihat tenang, namun rahangnya mengeras begitu kuat hingga membuat urat di lehernya bahkan mulai terlihat karena sekarang dugaannya benar. Putrinya benar-benar disakiti dan yang melakukannya adalah suaminya sendiri.
"Ya Allah..." Air mata Dahlia langsung jatuh. Wanita itu menatap putrinya dengan hati yang hancur. "Arven?" Suaranya bergetar. "Arven yang nyakitin kamu?"
Kanisha kembali mengangguk dan membuat tangis Dahlia langsung pecah. Ia segera memeluk putrinya erat seolah ingin melindungi Kanisha dari semua rasa sakit yang sudah dialaminya.
"Ya Allah, Nak..." Tangis Dahlia semakin menjadi. "Apa yang dia lakukan sama kamu?"
Aku udh mmpir....slm knal....
dr awl aku udh gedek sm s pcundang...kya'nya dia emng ga pnya hti,smp tega ngucapin kta2 mnyakitkn sm istrinya...mnimal kl dia pnya hti,diem aja....kl mau psah,tnggal psah.....yg bkin dngkol,ga ngrsa brslah sm skli.....sntai bgt mlah....
tp abs ni prshaannya bkln hncur,scra pd tngkt dewa kl slma ni bs skses krna usaha sndri....pdhl tnp bntuan istrinya,udh bmgkrut dr dlu kaleee.....😡😡😡
dari semua karyamu , aku selalu suka dengan semua jalan ceritanya kak. Alurnya pas, konfliknya ada, jalan ceritanya rapi dan nggak putus di tengah jalan.
terus tingkatkan semua ceritanya supaya lebih baik kak, aku suka semua🤭☺️