Lin Feng, seorang Kaisar Abadi yang tak tertandingi di generasinya, yang dikenal sebagai "Penguasa Abadi," tewas dalam sebuah pengkhianatan keji. Murid terdekat dan wanita yang paling dicintainya bersekongkol untuk merebut Kitab Suci Kekacauan Abadi miliknya, sebuah teknik kultivasi tertinggi, tepat saat ia mencoba naik ke Alam Dewa. Meskipun raganya hancur, seutas jiwa ilahinya berhasil lolos dan bereinkarnasi ke dalam tubuh seorang pemuda yang baru saja mati di dunia fana yang terpencil.
Tubuh baru ini, yang juga bernama Lin Feng, dianggap sebagai "sampah" dengan meridian yang hancur, dikucilkan oleh klannya sendiri, dan dihina oleh tunangannya. Berbekal ingatan dan pengetahuan dari kehidupan masa lalunya yang gemilang, Lin Feng harus memulai segalanya dari nol. Dia akan menggunakan pemahamannya yang tak tertandingi tentang Dao agung untuk menempa kembali takdirnya, menantang langit, dan menapaki jalan menuju puncak kekuasaan sekali lagi, sambil merencanakan balas dendam yang akan m
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Sang Juara dan Tatapan Penuh Janji
Keheningan yang mencekam itu berlangsung selama hampir sepuluh detik penuh. Sepuluh detik di mana puluhan ribu orang mencoba memproses pemandangan yang baru saja mereka saksikan.
Kemudian, seolah-olah sebuah bendungan akhirnya jebol, keheningan itu pecah menjadi raungan yang mengguncang langit.
"LIN FENG! LIN FENG! LIN FENG!"
Sorakan itu bukan lagi sorakan biasa. Itu adalah pemujaan. Para murid muda berdiri di kursi mereka, melambaikan tangan dengan panik, wajah mereka memerah karena kegembiraan. Mereka telah menyaksikan kelahiran sebuah legenda. Mereka telah melihat seorang pria yang dicap sebagai sampah bangkit dari abu dan berdiri di puncak tertinggi dengan cara yang paling dominan.
Di bawah panggung, wajah Lin Wei pucat seperti mayat. Dia tersandung mundur, jatuh terduduk di tanah, matanya dipenuhi teror murni. "Tidak... tidak mungkin..." gumamnya berulang kali, pikirannya hancur.
Di dekat panggung tetua, Lin Hu gemetar tak terkendali. Kakinya lemas seolah-olah semua tulangnya telah dicabut. Dia menatap sosok Lin Feng di atas panggung, dan yang dia rasakan bukanlah kebencian lagi, melainkan ketakutan yang menusuk hingga ke sumsum tulangnya. Dia akhirnya mengerti. Dia tidak memprovokasi seekor domba yang lemah; dia telah mencoba membunuh seekor naga purba yang sedang menyamar.
Di panggung utama, Kepala Klan Lin Zhennan adalah yang pertama pulih dari keterkejutannya. Matanya bersinar dengan cahaya yang belum pernah ada sebelumnya. Dia tertawa terbahak-bahak, tawa yang bergema dan penuh kebahagiaan.
"BAGUS! SANGAT BAGUS!" teriaknya, suaranya dipenuhi kegembiraan yang tak terselubung.
Dia melompat dari panggungnya dan mendarat dengan ringan di arena, berjalan menuju Lin Feng. Para tetua lainnya, termasuk Tetua Pertama yang wajahnya kini sepucat kertas, mengikutinya dengan ekspresi rumit.
Beberapa diaken dengan cepat berlari untuk memeriksa kondisi Lin Tian. Mereka menemukan bahwa meskipun lengannya hancur dan dia menderita luka dalam yang parah, meridiannya secara ajaib tidak rusak. Ini adalah bukti kontrol menakutkan yang dimiliki Lin Feng—dia bisa menghancurkan lawannya tanpa melumpuhkannya secara permanen.
Lin Zhennan berdiri di depan Lin Feng. Dia menatap pemuda di hadapannya, bukan lagi sebagai seorang junior, tetapi sebagai pilar masa depan klannya.
"Atas nama seluruh Klan Lin," katanya dengan suara yang dalam dan tulus, "Aku, Lin Zhennan, menyatakan bahwa Juara Kompetisi Klan Lin tahun ini adalah... LIN FENG!"
Raungan sorak-sorai kembali meledak, lebih keras dari sebelumnya.
Lin Zhennan memberi isyarat, dan Tetua Ketiga, Lin Bao, maju dengan senyum lebar, membawa sebuah kotak giok yang indah.
"Sesuai janji kami," kata Lin Zhennan, mengambil kotak itu dan membukanya. "Ini adalah hadiahmu."
Di dalam kotak, sebuah pil seukuran ibu jari tergeletak dengan tenang. Pil itu berwarna biru kehijauan dan memancarkan cahaya lembut serta aroma herbal yang menyegarkan. Fluktuasi energi spiritual yang padat bisa dirasakan darinya. Itulah Pil Yayasan Roh.
Lin Zhennan menyerahkan kotak itu kepada Lin Feng. "Kau pantas mendapatkannya."
Di bawah tatapan iri semua orang, Lin Feng menerima kotak itu dengan ekspresi tenang. Dia hanya meliriknya sekilas sebelum menyimpannya. "Terima kasih, Kepala Klan."
Sikapnya yang tenang dan acuh tak acuh ini sekali lagi membuat para tetua terkesan. Di hadapan harta karun yang bisa membuat siapa pun menjadi gila, dia tetap tenang seperti sumur kuno.
Setelah menerima hadiahnya, tatapan Lin Feng menyapu kerumunan. Tatapannya berhenti sejenak, bertemu langsung dengan mata Lin Hu yang gemetaran dan Lin Wei yang meringkuk di tanah.
Dia tidak mengatakan apa-apa. Dia tidak membuat ancaman. Dia hanya menatap mereka dengan dingin selama satu detik.
Namun, satu detik itu terasa seperti keabadian bagi ayah dan anak itu. Tatapan itu adalah sebuah janji. Sebuah janji bahwa masalah di antara mereka belum selesai. Ini hanyalah awal dari perhitungan mereka.
Lin Hu merasakan hawa dingin menjalari tulang punggungnya dan hampir pingsan di tempat.
Setelah memberikan tatapan penuh makna itu, Lin Feng berbalik, siap untuk meninggalkan panggung. Kompetisi telah berakhir, dan dia tidak punya alasan lagi untuk tinggal.
"Tunggu, Lin Feng," panggil Lin Zhennan.
Lin Feng berhenti dan menoleh.
"Aku dan Tetua Ketiga ingin berbicara denganmu secara pribadi," kata Kepala Klan dengan nada serius. "Ada beberapa hal yang perlu kita diskusikan. Ini menyangkut masa depanmu, dan juga masa depan Klan Lin."
Mata Tetua Lin Bao juga bersinar penuh harap. Mereka tahu bahwa pemuda di hadapan mereka ini bukan lagi sekadar murid biasa. Dia adalah sebuah fenomena yang membutuhkan perhatian khusus. Mereka harus memahami apa yang terjadi padanya dan bagaimana cara terbaik untuk membinanya.
Lin Feng berpikir sejenak. Dia tahu bahwa kebangkitannya yang tiba-tiba pasti akan menimbulkan banyak pertanyaan. Daripada membiarkan mereka menebak-nebak, lebih baik menghadapinya secara langsung.
Dia mengangguk perlahan. "Baiklah."