Apa yang paling menyakitkan dari pengkhianatan?
Bukan saat musuh menusukmu dari belakang, tapi saat orang yang kau anggap saudara justru merebut duniamu.
Kinanti harus menelan kenyataan pahit bahwa suaminya, Arkan, telah menikahi sahabatnya sendiri yang bernama Alana, di belakang punggungnya. Kini, dengan kehadiran anak di rahim Alana, Kinanti dipaksa untuk berbagi segalanya.
Tapi, Kinanti bukan wanita yang akan diam saja. Jika mereka ingin berbagi, Kinanti akan memastikan mereka menyesali keputusan itu.
Kita simak kisah selanjutnya di Cerita Novel => Duri Dalam Pernikahan.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 15
Pagi menyapa Jakarta dengan kabut tipis yang menyelimuti gedung-gedung pencakar langit, namun di kediaman mewah Kinanti, suasana terasa jauh lebih dingin daripada udara luar.
Di tengah ruang keluarga yang luas dan sunyi, sebuah boks bayi bermerek ternama dengan rangka emas berdiri megah. Di dalamnya, bayi laki-laki itu tertidur setelah melewati masa kritis semalam di NICU.
Kinanti berdiri di samping boks itu, masih mengenakan jubah sutra berwarna mutiara. Ia menatap wajah bayi itu, wajah yang merupakan perpaduan sempurna antara pria yang mengkhianatinya dan wanita yang mencoba merampas dunianya.
"Nama belakangmu adalah Wiratama," bisik Kinanti, suaranya sedatar es. "Kamu akan memiliki segalanya, kecuali satu hal, cinta yang tulus dari seorang ibu. Karena ibumu yang asli telah menukarmu dengan nyawanya sendiri, dan aku... aku hanyalah pemilikmu."
Langkah kaki yang ragu terdengar dari arah tangga. Arkan muncul dengan kemeja yang kusut dan lingkaran hitam di bawah mata. Ia tidak tidur sedetik pun. Pikirannya masih membayangkan Alana yang pergi tanpa arah dengan tas plastik di tangannya.
"Dia sudah bangun?" tanya Arkan parau, mencoba mendekati boks bayi itu.
"Baru saja tidur," jawab Kinanti tanpa menoleh. "Dokter dan Perawat yang kupesan akan datang satu jam lagi untuk melakukan pemeriksaan rutin di rumah. Aku tidak ingin dia dirawat di rumah sakit terlalu lama. Terlalu banyak mata yang bertanya."
Arkan menatap bayinya, tangannya gemetar ingin menyentuh jemari kecil itu, namun ia merasa tangannya terlalu kotor oleh pengkhianatan. "Kin, soal Alana... apa kamu benar-benar tidak akan membiarkan aku tahu di mana dia?"
Kinanti berbalik perlahan, menatap Arkan dengan tatapan yang membuat suaminya itu merasa seperti serangga kecil. "Alana sudah mati dalam hidupmu, Arkan. Bukankah itu yang tertulis di dokumen yang kamu tanda tangani semalam? Jika kamu mencoba mencarinya, atau jika satu rupiah saja mengalir ke arahnya, bayi ini akan berada di panti asuhan di luar negeri sebelum matahari terbenam. Apakah kamu ingin bertaruh?"
Arkan menelan ludah. Rasa sesak di dadanya semakin menghimpit. "Aku hanya... aku hanya takut dia melakukan sesuatu yang nekat."
"Dia terlalu pengecut untuk mati, Arkan. Dia akan bertahan hidup di suatu tempat, membawa kebencian yang akan membakarnya setiap hari. Dan itu adalah hukuman yang jauh lebih baik daripada kematian," Kinanti melangkah menuju meja makan, di mana Bi Ijah sudah menyiapkan sarapan yang sempurna. "Sekarang, mandi dan bersiaplah. Kita ada janji dengan pengacara pukul sepuluh pagi. Aku ingin akta kelahiran bayi ini segera diproses dengan namaku sebagai ibunya."
~~
Sementara itu, ratusan kilometer dari kemewahan Jakarta, sebuah bus antarkota berhenti di sebuah terminal kecil yang berdebu di pinggiran Jawa Tengah.
Alana turun dengan kaki yang terasa berat dan perut yang terasa sangat kosong, sebuah kekosongan yang bukan hanya karena lapar, tapi karena rahimnya yang kini tak lagi menyimpan kehidupan.
Ia berjalan menyusuri pasar tradisional yang mulai ramai. Bau ikan asin dan bensin menyengat indranya. Ia berhenti di sebuah warung kecil, merogoh tas plastiknya, dan mengeluarkan selembar cek sepuluh juta pemberian Kinanti yang kini sudah lecek.
Ia menatap cek itu. Cek yang sebelumnya ingin ia ludahi, kini menjadi satu-satunya jembatan agar ia tidak mati di pinggir jalan. Dengan rasa malu yang mencekik, ia melangkah menuju sebuah bank kecil di sudut pasar.
Saat kasir bank mencairkan uang tersebut dan memberikan tumpukan uang tunai kepadanya, Alana merasa jiwanya benar-benar telah terjual. Ia melangkah keluar, menyewa sebuah kamar kos kecil di atas toko kelontong. Kamar itu hanya berisi sebuah kasur lantai dan lemari kayu tua.
Alana duduk di lantai, menatap tumpukan uang di depannya. Air matanya jatuh satu per satu, membasahi lembaran rupiah itu.
"Aku akan kembali," bisiknya dengan suara yang serak dan penuh dendam. "Kinanti, kamu bisa merampas anakku sekarang. Kamu bisa merantai Arkan dengan hartamu. Tapi suatu hari nanti, saat anak itu besar, aku akan menjadi hantu yang menghancurkan kedamaianmu."
Namun, di tengah sumpah serapahnya, Alana menyadari satu kenyataan pahit, ia tidak punya siapa-siapa. Teman-teman sosialitanya telah memblokir nomornya. Orang tuanya telah menganggapnya mati. Ia hanyalah wanita tanpa identitas yang mencoba bertahan hidup di kota yang asing.
~~
Kembali ke Jakarta, di kantor notaris ternama, Arkan duduk di samping Kinanti. Ia merasa seperti robot saat membubuhkan tanda tangannya di atas berbagai dokumen hukum. Di depannya, sebuah akta kelahiran sementara menunjukkan nama bayi itu - Arjuna Wiratama.
Anak dari Arkan Wiratama dan Kinanti Wiratama.
Nama Alana tidak tertulis di sana. Seolah-olah wanita itu tidak pernah mengandung selama sembilan bulan. Seolah-olah rasa sakit persalinan di rumah kontrakan sempit itu tidak pernah terjadi.
"Selamat, Pak Arkan, Ibu Kinanti. Secara hukum, hak asuh dan status anak ini sudah mutlak," ujar sang pengacara sambil menjabat tangan Kinanti.
Kinanti tersenyum, sebuah senyum kemenangan yang sempurna. "Terima kasih. Arkan, ayo pergi. Kita harus mampir ke butik bayi untuk membeli perlengkapan tambahan. Aku ingin Arjuna memiliki yang terbaik."
Di dalam mobil, Arkan hanya menatap keluar jendela. Ia melihat deretan toko dan orang-orang yang berjalan bebas, dan ia menyadari bahwa kebebasannya telah berakhir sejak hari ia memilih untuk bermain api dengan Alana.
"Kenapa diam saja, Arkan? Kamu tidak senang?" tanya Kinanti sambil mengelus tas kulitnya yang mahal.
"Aku hanya berpikir... bagaimana kalau suatu hari Arjuna tahu?"
"Dia tidak akan tahu. Kecuali kamu yang memberitahunya. Dan jika itu terjadi, kamu tahu risikonya," Kinanti menoleh, menatap Arkan dengan kelembutan yang palsu. "Jangan merusak suasana, Sayang. Kita adalah keluarga sempurna sekarang. Seorang suami yang sukses, seorang istri yang berpengaruh, dan seorang putra mahkota."
Arkan memejamkan mata. Ia merasa seperti sedang berjalan di atas tali tipis di atas jurang yang dalam. Di satu sisi ada Kinanti yang memberinya segalanya namun merampas jiwanya, di sisi lain ada bayangan Alana yang hancur.
Malam harinya, rumah utama Wiratama kembali sunyi. Bi Ijah sedang menggendong Arjuna di kamar bayi, sementara Kinanti sedang mengadakan panggilan kerja dengan klien di London.
Arkan berdiri di balkon kamarnya, tempat yang dulu sering ia gunakan untuk berdiskusi tentang masa depan dengan Kinanti sebelum pengkhianatan itu terungkap. Ia mengeluarkan ponselnya, mencoba mencari nama Alana di media sosial, namun akun wanita itu sudah menghilang.
Tiba-tiba, ia mendengar suara tangisan Arjuna dari lantai bawah. Tangisan yang kencang dan menuntut. Arkan segera turun, namun ia berhenti di ambang pintu kamar bayi.
Ia melihat Kinanti sudah berdiri di sana. Kinanti tidak menggendong bayi itu, ia hanya berdiri menatap Arjuna yang menangis dengan tangan bersedekap.
"Bi, buatkan susunya," perintah Kinanti pada Bi Ijah.
"Tapi Non, sepertinya Den Arjuna ingin dipeluk," ujar Bi Ijah ragu.
"Dia harus belajar mandiri sejak bayi, Bi. Jangan terlalu sering memanjakannya dengan pelukan. Dia adalah pewaris Wiratama, bukan anak cengeng," sahut Kinanti dingin.
Arkan merasa dadanya sesak melihat pemandangan itu. Ia sadar, Arjuna mungkin akan tumbuh dalam kemewahan, tapi ia akan tumbuh di bawah asuhan wanita yang tidak memiliki kehangatan di hatinya.
Kinanti tidak menginginkan seorang anak untuk dicintai, ia menginginkan seorang anak untuk membuktikan bahwa ia adalah pemenang mutlak atas Alana.
Arkan melangkah masuk, mengambil Arjuna dari boksnya dan mendekapnya. Bayi itu perlahan tenang saat merasakan detak jantung ayahnya.
Kinanti menatap Arkan dengan alis bertaut. "Jangan membiasakannya, Arkan."
"Dia hanya bayi, Kin. Dia butuh ayahnya," jawab Arkan dengan sedikit keberanian yang tersisa.
Kinanti terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis yang mengerikan. "Benar. Dia butuh ayahnya yang bekerja keras untuk memberinya tahta. Letakkan dia kembali setelah dia tenang. Aku menunggumu di ruang kerja. Kita perlu membahas rencana ekspansi ke luar kota bulan depan."
Kinanti keluar dari ruangan, meninggalkan Arkan dengan bayi yang baru saja ia beli dari ibunya. Arkan mencium kening Arjuna, air matanya jatuh di pipi bayi itu.
"Maafkan Papa, Nak. Maafkan Papa karena membawamu ke dunia yang seperti ini," bisik Arkan dalam isak yang tertahan.
Di luar, bulan bersinar terang, namun di dalam rumah itu, kegelapan baru saja menetap. Penjara emas itu kini telah memiliki penghuni baru, dan Kinanti adalah sipirnya yang paling setia.
...----------------...
To Be Continue ....

**Blurb -**
**Dicap sebagai janda rendahan, dipermainkan oleh pria tak bertanggung jawab, dan dicemooh oleh keluarga sendiri karena kemiskinannya, Arumi memiliki segalanya untuk hancur. Namun, Arumi memilih untuk bangkit dari abu.**
**Ia mematikan hatinya, menolak bantuan siapa pun, dan bekerja dalam diam hingga namanya disegani.**
**Saat ia kembali, ia tidak datang untuk memohon. Ia datang untuk menagih setiap air mata yang pernah ia jatuhkan.**
**Karena pembalasan yang paling manis adalah kesuksesan yang membuat musuhmu tidak mampu lagi menatap matamu.**
**Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel \=\> Arumi.**
**By - Miss Ra**
**~~~~~~**
**Yuk guys mampir dikarya Arumi, si Janda tangguh yang tidak mudah dijatuhkan oleh kekejaman dunia, ini kisah nyata seorang janda yang sukses tanpa bantuan siapapun...**
**Tidak dianggap oleh keluarga sendiri, dijauhi oleh semua teman, bahkan sulit untuk mencari pekerjaan demi sesuap nasi, Arumi mampu membuat semua orang bungkam dengan kesuksesan yang dia jalani dalam diam.**
**Yang penasaran bagaimana kisah nyata si janda ini, yuk mampir dikarya Miss Ra yang tak kalah hebat nya dari kisah yang lain...**
**Okey, selamat membaca semuanya, semoga suka dengan ceritanya..**
**See You**....
jng sampai pezina Dan pelakor menang. mereka hrs ttp di injak kinanti.
berarti yudha mendukung per selingkuh an dong, wah semoga ikut dpt karma km yudha.
nnti kl Arjuna sdh besar Dan tau semua bilang saja ibu kandung mu Alana wanita murahan, ngangkang ma laki orang jd pelakor yakin lah Arjuna akn malu krn anak hasil zina 🤣 alias anak haram 🤣
jelas kinanti dadi moster Wong koe selingkuh kr konco ne. Wong ra sadar diri.
mkne kondosikan burung mu itu arkan jng masuk Goa pelakor.
pingin Kaya Raya Dua istri.
Wes selingkuh tp gk ngroso Salah.
Arkan itu ingine hidup mewah dng Istri sah Dan pelakor e iuhhh mnjijikkan.
Dan Satu lagi pelakor Alana juga gk tobat mlh ingin balas dendam. aneh pelakor kalah kok sakit hati.
Arkan Dan Alana itu ciri ciri manusia gk punya hati, dah selengki tp merasa korban waktu di balas kinanti. tp pas bhgia gk ingat nyakiti hati kinanti.
mnding hancurkan arkan Dan Alana sekarang drpd nnti membalas.
mnding hancurkan arkan Dan Alana sekarang drpd nnti membalas.