NovelToon NovelToon
KURUNGAN SANG MAFIA DINGIN

KURUNGAN SANG MAFIA DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Elsa Sefia

Florence, gadis panti yang polos, tak sengaja melihat pembunuhan oleh Lucifer Azrael—miliarder dingin yang diam-diam menguasai dunia hitam. Ia diculik ke pulau pribadi Lucifer dan dijadikan tahanan.

Di sana, Lucifer menerapkan aturan kejam dan menyebut dirinya Tuhan. Tapi di balik sikap beku itu, Florence menemukan luka masa kecilnya: ayahnya melatihnya membunuh dan membunuh ibunya di depan matanya.

Kebaikan Florence mulai meruntuhkan tembok Lucifer. Ia merawat, memasak, bahkan melukis Lucifer sebagai manusia biasa, bukan monster. Namun ketika kedekatan itu tumbuh, Lucifer membohongi dan mengurungnya lagi, takut kelemahan akan membunuhnya.

Kisahnya adalah benturan antara iman dan trauma, belas kasih dan kekuasaan. Mampukah mawar putih yang tumbuh di neraka bertahan, atau justru ikut layu bersama rajanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elsa Sefia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Universitas dan Seribu Kilometer yang Terlalu Jauh

Malam itu Lucifer tidak tidur lagi.

Ia duduk di ruang kerja, cahaya lampu menggores tiga berkas di atas meja. Columbia. NYU. Dan satu lagi—Universitas Indonesia, Jakarta.

Marco sudah mengorek semuanya sejak sore. Sejak Florence mengucap, “Aku... dulu mau kuliah sastra.” Dua kalimat itu menggema di kepalanya, menenggelamkan rapat miliaran dolar dan laporan darah dari kartel Meksiko.

Jakarta. Delapan ribu mil jauhnya. Enam belas jam di udara. Beda waktu sebelas jam. Jika Florence di sana, ia takkan melihat gadis itu bangun, takkan memastikan ia makan, takkan bisa menjangkaunya dalam satu panggilan.

Dadanya sesak. Terlalu jauh. Jika ia pergi lagi, aku runtuh. Sungguh-sungguh runtuh.

Tapi ia mengingat jari kurus itu menyentuh punggung buku. Mengingat bisikan “Terima kasih” yang hampir ditelan angin. Mengingat kertas di sakunya. Aku beri kamu satu kesempatan. Satu. Jangan rusak lagi.

Membiarkan Florence ke Jakarta berarti melepaskan. Menahannya di sangkar berarti merobek kesempatan itu dengan tangannya sendiri.

Pukul 03.00, ia melempar berkas Universitas Indonesia ke tempat sampah. Kasar. Marah pada dirinya sendiri. Egois. Iblis. Tak sanggup melepas sejauh itu.

Lalu ia membuka berkas Columbia. Sastra Inggris. Upper Manhattan. Tiga puluh menit dari mansion jika jalanan bersahabat. Ia bisa mengantar. Atau menyuruh Marco. Atau dua puluh bayangan bersenjata.

Biaya bukan hitungan. Ia bisa membeli kampus itu jika mau. Yang penting Florence tetap di kota yang sama. Di udara yang sama. Dalam jangkauan lima belas menit jika mimpi buruk datang lagi.

Ia menekan interkom.

“Marco. Bangunkan tim legal. Sekarang. Daftarkan Florence Beatrix di Columbia musim semi ini. Sastra. Kelas reguler. Tanpa perlakuan khusus di ruang kuliah. Tapi pengamanan—maksimum. Tak boleh ada yang tahu ia milikku. Paham?”

Di seberang, Marco tersentak bangun.

“S-siapa, Tuan?”

“Florence.” Nama itu meluncur tanpa gelar. Tanpa tameng. Hanya Florence.

“Siapkan sopir. Mobil anti peluru. Jadwal kuliahnya harus di mejaku besok pagi. Biaya, buku, tempat tinggal—aku tanggung. Apartemen jika ia mau, atau kamar di mansion tetap terbuka. Terserah ia.”

“Baik, Tuan. Tapi... apartemen? Apa Nona berencana pisah—”

“TIDAK!” Meja bergetar oleh kepalan. Lalu suaranya merendah, berat.

“...Tanyakan padanya. Bukan aku yang memutuskan. Jika ia ingin di sini, kamarnya tetap ada. Jika ia ingin keluar, beli gedung di sebelah kampus. Kosongkan. Isi dengan pengawal. Tapi jangan sebut namaku.”

Marco terdiam. Bosnya sudah gila. Tapi gilanya berubah arah. Dulu obsesinya mengurung. Sekarang obsesinya memberi, meski tetap dalam radius tiga puluh menit.

“Tuan,” bisik Marco hati-hati, “Anda yakin? Di luar sana risikonya besar. Wartawan. Musuh. Ia bisa lari.”

Lucifer menatap kegelapan di luar jendela.

“Ia bisa lari sejak dulu, Marco. Saat ia memelukku tiga hari lalu. Saat ia merawatku semalam. Saat ia bilang terima kasih tadi. Ia bisa menusukku, meracuniku, menghilang. Tapi ia tidak.”

Ia meremas surat di saku.

“Satu kesempatan itu termasuk ini. Jika aku kurung lagi, artinya aku tak percaya. Dan jika ia pergi...” Ia terdiam.

“...berarti aku memang pantas ditinggal.” lanjutnya.

---

Pukul 07.00 pagi. Ruang makan.

Lucifer sudah duduk di ujung meja. Seperti kemarin. Tanpa sarapan. Hanya kopi. Di depannya tergeletak map coklat polos. Tak ada logo. Tak ada nama.

Florence turun dengan langkah ragu, lalu duduk di ujung lain. Jarak tiga meter itu tetap sakral.

Sunyi. Hingga Lucifer mendorong map itu pelan ke tengah meja. Tidak terlalu dekat. Netral. Florence boleh mengambil, boleh mengabaikan.

“Apa itu?” tanyanya tanpa menatap Lucifer. Matanya tertambat pada map.

Lucifer meneguk kopi. Pahit. Sama seperti kalimat yang akan ia ucapkan.

“Columbia,” katanya akhirnya. “Sastra. Mulai musim semi. Jika... jika kau mau.”

Florence mendongak cepat. Matanya melebar. Kuliah?

“Aku tak bisa melepasmu ke Jakarta,” lanjutnya jujur, kasar, tanpa gengsi. “Terlalu jauh. Aku akan gila. Tapi di sini... aku bisa mengantar. Atau Marco. Atau kau pilih sopir lain. Semua biaya—aku tanggung. Buku. Apa saja.”

Ia berhenti. Rahangnya mengeras. Kalimat terakhir paling menyesak.

“Kau tak harus tinggal di sini jika tak mau. Bisa apartemen dekat kampus. Pengawal takkan mengganggu. Kau... bebas.”

Bebas. Kata itu asing di lidah Lucifer Azrael. Tapi ia mengucapkannya. Untuk Florence.

Florence membiarkan map itu tetap diam di tengah meja. Tangannya menggenggam lipatan gaunnya hingga buku-buku jari memutih. Mimpi yang ia kubur dalam tanah senyap—dan yang terseret paksa keluar saat Lucifer merenggutnya dari Bira Tengah—kini menggeliat pelan di bawah tulang rusuknya, seolah meminta dihidupkan lagi.

Dan kini iblis yang meremukkan hidupnya... mengembalikannya. Tidak sempurna. Tidak di Jakarta. Tapi kembali.

“Kenapa?” bisiknya. Pertanyaan yang sama, tapi bobotnya berbeda.

Lucifer menatapnya. Kali ini penuh. Tidak lama. Tidak menuntut. Hanya lelah.

“Karena kau bilang kau mau jadi guru,” jawabnya. “Dan karena aku... aku janji tidak akan rusak lagi.”

Ia berdiri.

“Pikirkan. Tak ada tenggat. Jika tak mau, bakar saja map itu. Aku takkan bertanya lagi.”

Ia pergi. Meninggalkan map di tengah meja. Meninggalkan pilihan di tangan Florence. Meninggalkan satu kesempatan itu untuk diuji.

Di kamar, Florence membuka map dengan jari gemetar. Brosur Columbia. Formulir pendaftaran. Nama Florence Beatrix sudah tertulis. Tinggal tanda tangan.

Di halaman terakhir, ada coretan kecil. Tulisan Lucifer. Berantakan.

Kau tidak perlu maafkan aku untuk mengambil ini. Ambil saja. Karena kamu. Bukan karena aku.

Florence menutup map itu, mendekapnya ke dada seperti buku kemarin.

Es di dadanya belum cair. Tapi di bawahnya, ada hangat yang mulai mengalir. Pelan. Sakit. Tapi mengalir.

Kesempatan itu—ternyata bukan hanya untuk Lucifer.

Tapi juga untuknya.

Untuk menjadi Florence lagi.

Bukan tahanan. Bukan korban.

1
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
Arista_2
lanjuttttt kakk🥹
Elsa Sefia: siapp 🥰
total 1 replies
Elnata
aaa lanjutttt Thor 😭
jangan tamattt disinii🥺
ditunggu season berikut nya😭👍
Elsa Sefia: santai kakk, Masi lanjut kok🥰
total 1 replies
Nia Nara
Ini kok ceritanya sini sakit situ sakit ya.. Buat lucifer kuat dong thor 🤣
Elsa Sefia: sabar ya kak, raja neraka sedang tidak baik baik saja😭
total 1 replies
Arista_2
anjirrr😭
Arista_2
😭😭
Arista_2
duhh kasian Florence 🥺
Arista_2
jujur sedih, Lucifer ternyata didik dengan kejam 🥺
Arista_2
keren kak😭
Arista_2
luar biasa, cerita nya berbeda dengan yang lain. semangat terus kak🥳👍
Elnata
wahhh ahirnya, setalah banyak bab yang aku tabung, tidak sia sia😭. lanjuttt kakk udah enggak sabarr😍👍
Elsa Sefia: Siap kak🥰
Terimakasih atas dukungannya😍
total 1 replies
Nia Nara
Lanjut thor
Elsa Sefia: siap kakk
total 1 replies
balonku adalima
ya ampunn😭😭 kakk cerita mu buat aku gak sabar buat cepet cepet pulang kerja, trus baca.. aaa sehat sehat orang baik💪
Elsa Sefia: Makasih banyak ya kak 😭🫶 Senang banget ceritaku bisa jadi alasan buat buru-buru pulang dan baca. Oh iya, aku udah update lagi kak! Semoga kamu juga selalu sehat dan lancar kerjaannya ya!
total 1 replies
Nia Nara
Lanjut thor.. Ceritanya bagus, unik. Gak sama dari yg biasa.
Nia Nara: Siap Thor, ditunggu. Jangan lama-lama ya 😅
total 2 replies
Elnata
cepat update lagi, udah tidak sabar dengan kelanjutannya 😭
Elsa Sefia: siap kak, di tunggu ya update selanjutnya 😍
total 1 replies
Elnata
kerenn😍
Elnata
merinding 😭
Elnata
🤭🤭
Elnata
ceritanya bagus, semangat terus kak🥳
Elnata
sadis, Lucifer gilaaa😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!