NovelToon NovelToon
Segel Kekosongan Abadi : Iblis Berbaju Dewa

Segel Kekosongan Abadi : Iblis Berbaju Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Misteri / Iblis
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Di bawah langit yang memisahkan tiga alam: Surga, Bumi, dan Neraka, lahir seorang anak yang sejak dalam kandungan telah menjadi bahan percobaan para tetua kultivasi terlarang.

Wei Mou Sha tidak pernah meminta untuk lahir. Ia tidak pernah meminta untuk menjadi percobaan. Dan ia tidak pernah meminta untuk merasakan ribuan kematian dalam satu jiwa.

Sejak usia tujuh tahun, tubuhnya ditanamkan Segel Kekosongan Abadi, sebuah kutukan kuno yang memakan sedikit demi sedikit rasa kemanusiaannya setiap kali ia menggunakan kekuatannya. Semakin kuat ia bertarung, semakin kosong jiwanya. Semakin kosong jiwanya, semakin brutal ia membunuh.

Yang mengerikan bukan caranya membunuh.

Yang mengerikan adalah ekspresinya yang tidak pernah berubah.

Ia tersenyum lembut saat menghabisi seorang jenderal dewa. Ia mengangguk sopan sebelum menghancurkan tulang seorang iblis betina. Tidak ada kebencian. Tidak ada kepuasan. Hanya kekosongan yang sempurna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 : Api yang Sesungguhnya

Hari final datang, Wei Mou Sha berdiri di luar penginapannya sebelum fajar, merasakan udara pagi yang masih dingin di telapak tangannya yang terbuka ke atas.

Bahu kirinya masih berdenyut pelan dari kemarin. Segel stabil, lebih stabil dari beberapa hari terakhir.

Ia menggenggam tangannya.

Chen Liang Huo.

Dua minggu pengamatan, beberapa sesi latihan bersama, satu semifinal yang menunjukkan bahwa apa yang terlihat dari Chen Liang Huo selama ini hanyalah sebagian kecil dari yang sesungguhnya.

Api yang sesungguhnya.

Wei Mou Sha berjalan ke arena.

Tribun sudah hampir penuh sejak pagi.

Bukan hanya penduduk kota dan kultivator biasa, ada wajah-wajah baru yang lebih banyak dari kemarin, dengan pakaian yang menunjukkan mereka datang dari luar Wanhua.

Wei Mou Sha melewati semua itu tanpa memperlambat langkahnya.

Di area peserta, hanya mereka berdua yang tersisa.

Chen Liang Huo sudah ada, duduk di bangku dengan siku di lutut dan dagu di tangan, menatap ke depan dengan ekspresi orang yang sudah lama berada di dalam kepalanya sendiri. Tiga luka goresan tipis di lengan kirinya dari kemarin sudah dibalut rapi.

Ia mendongak saat Wei Mou Sha masuk.

"Apakah tidurmu nyenyak?"

"Cukup."

"Aku tidak." Chen Liang Huo berdiri, dan meregangkan bahunya. "Terlalu banyak yang kupikirkan."

Wei Mou Sha duduk di bangku yang berlawanan. "Tentang pertandingan ini?"

"Tentang pertandingan ini. Tentang teknikmu. Tentang cara kamu bertarung yang tidak masuk akal." Chen Liang Huo menatapnya langsung dengan lebih serius dari biasanya, "Aku tidak mau menang dengan cara yang tidak benar."

"Cara yang benar?"

"Kalau kamu tidak mengeluarkan semuanya, kemenanganku tidak berarti apa-apa. Dan kalau aku tidak mengeluarkan semuanya, hasilnya juga tidak berarti apa-apa."

Wei Mou Sha menatapnya.

"Aku tidak bisa menjamin semuanya," katanya akhirnya. "Ada sesuatu di dalam diriku yang tidak sepenuhnya bisa ku kendalikan."

"Aku tahu." Chen Liang Huo mengangguk. "Sudah kurasakan sejak latihan pertama. Qi yang dibatasi sesuatu dari dalam." Ia berhenti sebentar. "Tunjukkan sebanyak yang bisa kamu tunjukkan. Itu sudah cukup."

Mereka duduk dalam diam sampai nama mereka dipanggil.

Saat Wei Mou Sha dan Chen Liang Huo memasuki arena dari pintu yang sama, ada sesuatu yang berubah di tribun.

Bukan tepuk tangan dan juga bukan teriakan.

Tetapi keheningan yang terjadi. Keheningan ratusan orang yang secara kolektif merasakan bahwa apa yang akan mereka saksikan berikutnya berbeda dari semua yang sudah mereka lihat.

Wei Mou Sha dan Chen Liang Huo berjalan ke sisi masing-masing.

Berbalik.

Saling menatap di jarak dua puluh meter.

"Peserta nomor dua belas melawan peserta dengan status murid inti khusus, Chen Liang Huo dari Aula Api Sejati."

Penjaga mengangkat tangannya, kemudian menurunkannya.

Lonceng berbunyi.

Chen Liang Huo tidak bergerak selama tiga detik pertama.

Berdiri dengan tangan di sisi tubuh, mata emasnya menatap Wei Mou Sha dengan cara yang sudah Wei Mou Sha kenali.

Wei Mou Sha juga tidak bergerak.

Detik keempat, Chen Liang Huo mengangkat tangannya.

Api tidak keluar dari telapak tangan nya, melainkan aura panasnya. Panas yang terasa di kulit dari dua puluh meter jauhnya, yang membuat udara di antara mereka tampak bergelombang tipis.

Lalu ia melangkah maju.

Serangan pertama datang seperti yang pernah Wei Mou Sha rasakan di Lembah Batu Merah, cepat, tanpa kuda-kuda dan langsung dari posisi berdiri ke serangan penuh. Tapi kali ini ada yang berbeda.

Setiap langkah Chen Liang Huo meninggalkan bekas di lantai arena. Dan ketika kepalan tangannya mendekati Wei Mou Sha.

Wei Mou Sha langsung miring. Panas itu lewat di sampingnya, sementara wajahnya merasakan terbakar yang cukup untuk meninggalkan kemerahan.

Dua menit pertama adalah Wei Mou Sha yang terus bergerak dan Chen Liang Huo yang terus maju.

Tidak seperti pertandingan sebelumnya di mana Wei Mou Sha bisa mengontrol ritme dengan memilih kapan masuk ke jarak dekat, Chen Liang Huo tidak memberinya ruang untuk itu.

Setiap kali jarak di antara mereka cukup dekat untuk teknik titik qi, panas yang memancar dari tubuh Chen Liang Huo menciptakan hambatan tersendiri.

Jarak optimalnya menjadi lebih sempit dari biasanya.

Dan Chen Liang Huo tahu itu.

Di menit ketiga, Wei Mou Sha berhenti mundur.

Ia berdiri diam di tengah arena dan membiarkan Chen Liang Huo mendekatinya.

Chen Liang Huo memperlambat langkahnya, bukan karena ragu, tapi karena lawan yang tiba-tiba berhenti mundur adalah sinyal untuk waspada.

Tiga meter. Dua meter. Satu meter.

Kepalan tangan kanannya meluncur.

Wei Mou Sha tidak menghindar.

Ia bergerak ke dalam serangan itu dan melangkah maju setengah langkah sehingga kepalan itu mendarat di dada kirinya.

Wei Mou Sha terdorong dua langkah ke belakang. Dadanya terbakar di titik kontak. Dan di dalam dadanya, sesuatu bergetar.

Segel berdenyut keras. Sangat keras. Dengan cara yang berbeda dari semua denyutan sebelumnya.

Tapi tangannya sudah bergerak.

Empat titik di lengan kanan Chen Liang Huo—Chize, Hegu, Jianjing, Quepen digunakan dalam urutan terbalik dari yang ia gunakan pada Lu Tian.

Efek yang berbeda. Bukan aliran qi yang terbalik, tapi ledakan kecil dari dalam, seperti membalik jalur qi yang sedang mengalir penuh dan membiarkan tekanannya keluar ke segala arah sekaligus.

Chen Liang Huo menarik tangannya kembali dengan cepat, cukup untuk mencegah efek penuhnya, tapi tidak cukup untuk tidak merasakannya sama sekali. Lengan kanannya menggigil selama satu detik, jari-jarinya meregang tanpa ia perintahkan.

Mereka mundur ke jarak aman secara bersamaan.

Di tribun, Suara ratusan orang—berbicara, berteriak, menghela napas serentak setiap kali ada kontak.

Wei Mou Sha tidak memperhatikannya.

Yang ia perhatikan adalah denyutan di dalam dadanya yang belum mereda.

Segel bereaksi terhadap serangan Chen Liang Huo dengan cara yang tidak pernah terjadi sebelumnya, bukan karena kekuatannya saja, tapi karena sifat kekuatan itu.

Api yang sesungguhnya dari Aula Api Sejati ternyata beresonansi dengan sesuatu di dalam segel, dengan cara yang berbeda dari teknik kultivasi lain mana pun yang pernah menyentuhnya.

Retakan yang sudah ada di dalam segel terasa seperti melebar satu milimeter.

Sangat kecil. Tapi terasa.

Chen Liang Huo mengamatinya dari jarak yang aman.

"Kamu baik-baik saja?"

Pertanyaan yang tidak biasa di tengah pertandingan. Tapi Wei Mou Sha sudah cukup mengenalnya untuk tahu itu bukan basa-basi.

"Belum tahu," jawabnya jujur.

Chen Liang Huo mengerutkan dahinya, "Sesuatu di dalam dirimu bereaksi."

"Ya."

"Apakah itu berbahaya?"

Wei Mou Sha mempertimbangkan pertanyaan itu dengan serius, karena Chen Liang Huo mengatakannya dengan serius.

"Belum," katanya akhirnya. "Tapi mungkin kalau dilanjutkan."

Chen Liang Huo diam selama dua detik.

Kemudian ia melakukan sesuatu yang mengejutkan Wei Mou Sha lebih dari semua serangannya, ia tertawa. Tawa kecil yang lepas, tanpa lapisan kalkulasi di dalamnya.

"Kamu mengatakan itu di tengah final."

"Kamu bertanya."

"Iya." Chen Liang Huo menggelengkan kepalanya sedikit, ekspresinya antara tidak percaya dan sesuatu yang lain. "Baik. Kalau berbahaya, katakan."

"Kamu akan berhenti menyerang kalau aku bilang berbahaya?"

"Tentu tidak." Chen Liang Huo memasang kuda-kudanya lagi. "Tapi aku ingin tahu."

1
Romansah Langgu
Cerita tentang apa nhe??? Novel yg pelik pula nhe..
Budi Xiao
Luar Biasa
Green Boy
ditunggu up nya thor👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!