Kehidupan kampus Anya yang monoton dan tanpa emosi mendadak runtuh ketika mahasiswa pindahan bernama Devan muncul. Sikap dingin Devan, tatapan penuh kebencian sekaligus kerinduan, dan rahasia kelam tentang kecelakaan masa lalu Anya yang terlupakan, perlahan menyeret gadis itu ke dalam realitas bahwa hidupnya selama ini adalah sebuah kebohongan yang dirancang rapi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Dinding Kaca Baru dan Tetangga di Balik Pintu
Dunia tidak pernah benar-benar berhenti berputar, ia hanya berganti kecepatan.
Setelah hiruk-pikuk sirene dan bau mesiu yang menggantung di udara pegunungan itu menguap, aku menemukan diriku duduk di kursi belakang sebuah SUV hitam milik Kejaksaan Agung. Kabut di luar jendela perlahan menipis seiring kendaraan menuruni lereng bukit, berganti dengan pendaran lampu jalanan kota yang mulai bangkit dari tidurnya. Di sampingku, Devan duduk membisu. Kepalanya bersandar pada sandaran kursi, matanya terpejam, namun aku tahu dia tidak tidur. Setiap kali mobil melindas lubang kecil, rahangnya akan mengeras, menahan nyeri pada lengannya yang baru saja dijahit ulang oleh tim medis Satria.
Aku menggenggam jemarinya yang kasar. Kali ini, dia tidak menarik diri. Dia membalas genggamanku dengan tekanan lemah namun konstan. Kami adalah dua orang asing yang baru saja merebut kembali identitas kami dari tumpukan kebohongan, dan sekarang kami harus belajar bagaimana cara bernapas di dunia yang tidak lagi mengenali kami sebagai "Putri Sempurna" dan "Anjing Jalanan".
"Kita akan sampai dalam sepuluh menit," suara Jaksa Satria memecah keheningan dari kursi depan. Dia menatap kami melalui spion tengah, ekspresinya masih sekeras batu karang. "Mulai saat ini, identitas kalian berada di bawah protokol Perlindungan Saksi Tingkat Satu. Hendra Kusuma dan keluarga Dirgantara memiliki kaki tangan yang tersebar di mana-mana. Penjara tidak menghentikan aliran uang mereka."
"Jadi, kita pindah dari satu penjara ke penjara lain?" suaraku terdengar serak, nyaris asing di telingaku sendiri.
Satria menghela napas panjang. "Ini bukan penjara, Anya. Ini adalah benteng. Tempat yang akan memastikan kalian tetap hidup sampai hari persidangan tiba. Kalian akan tinggal di apartemen Griya Kemang. Lokasinya strategis untuk pemantauan tim kami."
Mobil akhirnya memasuki pelataran sebuah apartemen mewah dengan dinding kaca yang menjulang angkuh ke langit. Namun, kami tidak diarahkan ke lobi utama. SUV itu meluncur masuk ke pintu kargo di rubanah bawah tanah yang dijaga oleh personel bersenjata.
Begitu mesin mati, keheningan yang mencekik kembali menyelimuti kabin. Devan membuka matanya, menatapku dengan sorot mata yang sulit dibaca. Ada kelegaan, namun juga ada kegelisahan yang besar di sana.
Kami dipandu menuju lift khusus. Satria menekan tombol lantai 14. Sepanjang perjalanan naik, tak ada satu pun dari kami yang bicara. Hanya ada suara dengung mesin lift yang halus dan angka-angka digital yang bergerak naik, seperti hitungan mundur menuju babak baru kehidupan kami.
"Unit 1401 untukmu, Anya," ujar Satria saat kami melangkah keluar di lorong yang sunyi dan beraroma pembersih lantai yang tajam. "Dan unit 1402 tepat di sebelahnya, untuk Devan. Tim pengawas kami akan berjaga di unit 1403. Pintu antar unit kalian memiliki sensor; jika salah satu terbuka di luar jam yang ditentukan tanpa laporan, alarm akan menyala."
Aku menatap dua pintu kayu berwarna cokelat gelap yang saling berhadapan. Sebuah ironi yang luar biasa pahit. Devan, pemuda yang selama tiga tahun menjadi bayangan yang mengikutiku dari kejauhan, kini secara resmi menjadi tetanggaku. Bedanya, kali ini tidak ada tembok amnesia yang memisahkan kami. Hanya ada dua lembar pintu kayu dan ribuan memori yang menuntut untuk diproses.
Unit 1401 adalah ruangan yang luas, minimalis, dan sangat steril. Furniturnya bergaya Skandinavia dengan palet warna abu-abu dan putih yang dingin. Tidak ada satu pun foto di dinding, tidak ada bau lavender yang biasa memenuhi kamarku di rumah. Semuanya terasa hampa.
Aku menjatuhkan ranselku di sofa marmer. Langkah kakiku menggema di atas lantai parket. Aku berjalan menuju jendela besar yang menghadap langsung ke arah jantung kota Jakarta. Di kejauhan, gedung-gedung pencakar langit terlihat seperti barisan paku yang menancap di kulit bumi, diterangi oleh lampu-lampu neon yang tidak pernah mati.
Aku meraba pergelangan tangan kiriku. Masih ada sisa rasa perih imajiner dari alkohol medis yang digunakan Ayah untuk menghapus nama Devan dulu. Ingatan itu kini terasa begitu tajam, seperti pecahan kaca yang sengaja kusentuh.
Tok. Tok.
Suara ketukan di pintu balkon membuatku tersentak. Aku menoleh dan melihat siluet Devan di balkon sebelah. Apartemen ini memiliki balkon yang hanya dipisahkan oleh sekat kaca buram setinggi dada—sebuah celah keamanan yang sengaja dibiarkan oleh Satria agar kami bisa tetap berkomunikasi tanpa melewati lorong yang diawasi kamera.
Aku membuka pintu kaca geser dan melangkah keluar. Udara malam kota yang berpolusi langsung menyerbu paru-paruku.
Devan berdiri di sana, menyandarkan lengannya yang tidak terluka di pagar balkon. Dia sudah melepas jaket hitamnya, menyisakan kaus oblong putih yang memperlihatkan otot bahunya. Dia memegang korek api Zippo perak miliknya, memutar-mutarnya di antara jari-jari panjangnya dengan gerakan ritmis.
"Tempat ini... terlalu terang," gumam Devan tanpa menoleh. Matanya menatap lampu-lampu kota. "Aku lebih terbiasa dengan kegelapan di bawah tanah."
"Kau aman di sini, Devan," balasku, berdiri tepat di seberang sekat kaca yang memisahkan kami. "Lenganmu sudah diobati?"
"Sudah. Perawat Satria memberiku dosis antibiotik yang cukup untuk membunuh satu desa kuman," dia terkekeh getir. Kali ini dia memutar tubuhnya menghadapku. Cahaya dari dalam kamarku menyinari separuh wajahnya, mempertegas bekas luka kecil di pelipisnya yang kudapat dari malam kecelakaan itu.
"Apa yang kau pikirkan?" tanyanya lembut.
"Tentang bagaimana hidup kita selalu dikelilingi oleh dinding kaca," aku menempelkan telapak tanganku pada sekat kaca di antara kami. "Dulu, Ayah mengurungku dalam amnesia. Sekarang, Jaksa Satria mengurung kita dalam perlindungan saksi. Kapan kita benar-benar bisa berdiri di tempat terbuka, Van?"
Devan meletakkan tangannya di atas sekat kaca itu, tepat di titik yang sama dengan tanganku, hanya terhalang oleh lapisan material buram. "Sampai mereka semua membayar harganya, Anya. Sampai kaset rusak ini benar-benar dihancurkan dan kita bisa merekam lagu yang baru."
Keheningan yang intim turun di antara kami. Di lantai 14 ini, jauh di atas kemacetan dan kebisingan kota, aku merasa kami adalah dua astronot yang terdampar di stasiun ruang angkasa yang sama namun di modul yang berbeda.
"Anya," panggilnya serak.
"Ya?"
"Aku masih belum percaya kau mengingat semuanya," Devan menundukkan kepalanya sedikit, suaranya bergetar oleh emosi yang selama tiga tahun dia pendam sendirian. "Aku menghabiskan seribu hari dengan membayangkan momen ini. Membayangkan kau menatapku tanpa keraguan. Tapi sekarang, saat itu terjadi... aku merasa seolah dunia ini akan pecah lagi jika aku bernapas terlalu keras."
"Dunia ini tidak akan pecah, Devan. Aku yang akan menjaganya agar tetap utuh untukmu," balasku mantap. Aku menatap matanya yang kelam, mencari anak laki-laki yang dulu selalu menungguku di gerbang sekolah. "Ingat janji kita di bawah pohon beringin?"
"Aku ingat setiap detiknya," bisik Devan.
Tiba-tiba, kepalaku kembali berdenyut. Bukan pening karena obat, melainkan gema dari memori yang akhirnya menemukan jalannya pulang ke permukaan. Memori tentang sebuah percakapan rahasia di balkon sekolah, jauh sebelum kecelakaan terjadi—percakapan yang menjadi benih dari seluruh perjuangan Devan untuk menjadi "tetangga" yang melindungiku.
[KILAS BALIK SINEMATIK]
FADE IN:
EXT. BALKON GEDUNG LAMA SMA PELITA - SORE HARI (MASA LALU)
Warna visual sangat hangat, didominasi oleh cahaya matahari senja yang berwarna madu. ANYA (16 tahun) dan DEVAN (17 tahun) sedang duduk di atas pagar beton balkon lantai dua yang menghadap ke arah lapangan sekolah yang sudah sepi.
Devan sedang mencoba memperbaiki gantungan kunci berbentuk kucing oranye milik Anya yang patah menggunakan lem super.
ANYA
"Hati-hati, Van. Nanti jarimu malah nempel ke ekor kucingnya."
DEVAN
(Sambil fokus bekerja)
"Biar saja. Kalau jariku nempel ke barang milikmu, itu artinya kau tidak akan bisa membuangku, kan?"
Anya tertawa, sebuah tawa yang jernih dan penuh kebahagiaan. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Devan yang masih mengenakan seragam sekolah yang kusut.
ANYA
"Kamu tahu nggak apa mimpi terbesarku nanti kalau kita sudah kuliah?"
DEVAN
(Menoleh sedikit, tersenyum miring)
"Jadi penulis novel terkenal?"
ANYA
"Itu nomor dua. Nomor satu adalah... aku ingin kita punya apartemen sendiri yang bersebelahan. Di mana aku bisa mengetuk dinding kamarmu kalau aku sedang mimpi buruk, dan kamu akan datang membawakan cokelat hangat."
Gerakan tangan Devan berhenti. Ia menatap Anya dengan tatapan yang sangat dalam, tatapan yang melampaui kepolosan remaja seusianya.
DEVAN
"Hanya bersebelahan? Kenapa tidak satu pintu saja?"
ANYA
(Wajahnya memerah)
"Supaya ada tantangannya! Aku ingin tahu seberapa jauh kamu mau melangkah hanya untuk menyeberang pintu untukku."
Devan tertawa rendah. Ia menyerahkan gantungan kunci yang sudah diperbaiki itu kepada Anya. Kemudian, ia menggenggam tangan gadis itu, jemarinya bertaut erat.
DEVAN
"Aku akan selalu ada di sampingmu, Anya. Biarpun ada dinding beton setebal apa pun di antara kita, aku akan selalu menjadi tetangga yang menjagamu. Itu janji montir."
Kamera fokus pada gantungan kunci kucing oranye yang berkilau terkena cahaya senja, sebelum layar perlahan-lahan memudar menjadi pendaran lampu apartemen masa kini yang dingin.
FADE OUT.
Aku tersentak dari lamunan masa laluku saat merasakan dinginnya pagar balkon di telapak tanganku. Aku menatap Devan di balkon sebelah. Dia masih di sana, memperhatikanku dengan sabar, seolah dia tahu persis ke mana pikiranku baru saja melayang.
"Ternyata mimpi kita terwujud dengan cara yang sangat aneh, ya?" gumamku pelan, menunjuk pada pintu unit kami masing-masing.
Devan tersenyum tipis—sebuah senyum yang murni, tanpa beban dendam untuk sesaat. "Mimpi yang dimodifikasi oleh takdir. Tapi setidaknya, bagian 'menjaga'-nya akan tetap sama."
"Cokelat hangatnya mana?" godaku, mencoba mencairkan ketegangan.
"Tunggu di sana," jawab Devan singkat.
Dia masuk ke dalam unitnya. Aku menunggu di balkon, merasakan angin malam menerpa wajahku. Tak lama kemudian, pintu unitku berbunyi. Klik.
Aku berlari ke pintu depan dan membukanya. Devan berdiri di sana, memegang dua gelas kertas berisi cokelat instan yang ia temukan di welcome kit apartemen. Dia tidak masuk. Dia hanya berdiri di ambang pintu, menghormati batas yang ditetapkan Satria.
"Instruksi Satria bilang dilarang masuk ke unit lain setelah pukul sembilan malam," ujar Devan, menyodorkan satu gelas padaku. "Tapi dia tidak bilang dilarang minum di ambang pintu."
Aku mengambil gelas itu, merasakan kehangatannya merambat ke jemariku. "Terima kasih, Tetangga."
Kami duduk di lantai lorong, saling bersandar pada bingkai pintu unit kami masing-masing yang bersebelahan. Di lorong apartemen yang steril dan sunyi ini, di bawah pengawasan kamera CCTV dan tim intelejen, kami memulai malam pertama kami sebagai sekutu yang utuh.
Namun, saat aku menyesap cokelat panas itu, mataku tertuju pada sebuah bayangan di ujung koridor dekat lift. Sebuah bayangan yang bergerak sangat cepat sebelum menghilang di balik dinding. Jantungku berdegup kencang.
Apakah itu anggota tim Satria? Ataukah "penjara" baru ini sudah mulai bocor?
Aku melirik Devan. Dia tampak tenang, namun tangannya yang memegang gelas kertas itu terlihat sedikit menegang. Instingnya pasti merasakan hal yang sama.
Permainan ini belum berakhir. Kami baru saja menggali pecahan kaca pertama, dan masih banyak lagi yang terkubur di bawah kaki kami.
[BERSAMBUNG KE BAB 17]
apa ayah Devan yg membunuh ibu Anya ??