Tidak ada yang tahu, Ratu pergi bukan karena ingin meraih cita-cita, namun untuk lari dari perasaannya kepada sosok laki-laki yang ternyata telah memiliki tunangan.
Dia adalah Ardiansyah, putra kedua dari keluarga Suhadi, seorang CEO yang baru saja di Lantik setahun yang lalu setelah menyelesaikan pendidikannya,dan fokus memimpin perusahaan raksasa. namun fakta yang membuat Ratu pergi, Ardiansyah telah bertunangan dengan seorang gadis salehah, teman Adiknya saat berada di pesantren dan memutuskan untuk pergi ke kota dengan misi tersembunyi.
yuk ikuti kisah Ratu di sini....
kawal sampai akhir ya...
apakah sad ending, atau happy ending...
terimakasih atas dukungannya selama ini...
🥰🥰🥰🥰🙏🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Pramuji tidak tahu bahwa mawar putih itu adalah simbol cinta abadi yang menjadi kode rahasia antara Angga dan Nisya saat mereka masih remaja. Ia hanya melihat nilai rupiah di balik keindahan kelopak bunga tersebut.
Di saat yang sama, Nisya yang baru saja turun dari mobil jemputan melangkah masuk ke rumah dengan wajah lelah. Ia melihat ayahnya yang tersenyum lebar dan ibunya yang menunjuk-nunjuk buket bunga di meja.
"Nisya! Lihat, calon suamimu mengirimkan ini. Begitu romantisnya Ardiansyah, sampai Ayah jadi iri melihatnya!" ucap Pramuji dengan bangga.
Nisya mendekat, namun bukannya tersenyum, wajahnya justru memucat. Ia mengenali jenis mawar dan cara pengikatan buket itu. Ia meraih kartu ucapan tanpa nama di dalamnya yang hanya bertuliskan "Janji putih itu tidak pernah layu." Nisya tahu betul siapa yang mengirim bunga tersebut, Nisya masih sangat mengenal tulisan Angga, karena saat ia masih duduk di bangku SMP, Angga selalu mengiriminya surat cinta,namun saat itu Nisya memang tidak boleh berpacaran,jadi ia hanya menganggap Angga sebagai teman dekat , meski saat itu ia juga sangat mengagumi sosok Angga yang baik dan penyabar.
Tangan Nisya gemetar. Ia segera mengambil ponselnya dari tas, seolah ingin mencari kesibukan agar ayahnya tidak melihat ekspresi ketakutannya. Ia tahu mawar ini bukan dari Ardiansyah. Ardiansyah adalah pria yang praktis, Ia juga kaku, tidak pernah melakukan hal-hal romantis, Ardiansyah hanya memberikan uang untuk memenuhi kebutuhan Nisya.
"I-iya, Yah... bunganya bagus. Nisya bawa ke kamar dulu ya, mau ditaruh di vas." sahut Nisya dengan suara seraknya.
"Jangan di kamar saja! Taruh di ruang tamu supaya tetangga yang lewat bisa lihat kalau menantu kita itu pria nomor satu!" celetuk Pramuji dengan bangga.
Nisya hanya mengangguk pasrah. Nisya memijit kepalanya untuk meredakan sakit kepala yang tiba-tiba menyerang. Ia merasa seperti sedang berjalan di atas tali tipis, di satu sisi ada ambisi ayahnya yang memanfaatkan Ardiansyah, di sisi lain ada Angga yang mulai menariknya kembali ke masa lalu.
Tanpa mereka sadari, sebuah mobil sedan hitam terparkir di ujung gang. Angga duduk di dalamnya, mengamati dari kejauhan. Ia tersenyum tipis saat melihat Pramuji membawa bunga itu masuk dengan penuh semangat.
Angga bergumam sendiri "Pancingan sudah masuk. Sekarang kita lihat, sampai kapan Ardiansyah bisa bertahan dalam ketidaktahuannya." Angga melajukan mobilnya kembali, untuk pulang ke mansion nya yang baru beberapa hari ia beli, sementara orang tuanya masih berada di Jerman.
Sementara itu, Ardiansyah yang sedang di rumahnya sendiri, baru saja selesai mandi dan merasa gelisah. Ia merasa perlu menelepon Nisya untuk menanyakan kabarnya, tanpa tahu bahwa ada kiriman mawar yang kini sedang membuat tunangannya dilanda ketakutan luar biasa.
___
Rencana Angga mulai tersusun rapi. Ia tahu persis di mana letak kelemahan benteng pertahanan keluarga Nisya, bukan pada ibunya yang pasrah, bukan pula pada Nisya yang teguh, melainkan pada Pramuji, pria yang memuja angka di saldo bank lebih dari apa pun.
Sambil menyesap kopi pahitnya Angga teringat memori pahit sepuluh tahun lalu. Saat itu, ia hanyalah anak SMA yang datang dengan motor bebek butut. Pramuji bahkan tidak sudi menatap matanya, hanya memberikan perintah ketus agar ia menjauhi Nisya. Namun, begitu Angga datang membawa mobil mewah milik ayahnya sebulan kemudian, wajah Pramuji berubah seketika, menjadi manis bak madu, bahkan memintanya menunggu Nisya lulus.
"Orang tua itu tidak pernah berubah," gumam Angga dengan senyum sinis. "Hanya nilai mahar-nya saja yang naik."
***
Keesokan paginya, alih-alih menghubungi Nisya, Angga sengaja memarkir mobil mewahnya tepat di depan gang rumah Nisya, bertepatan dengan waktu Pramuji biasanya keluar untuk sekadar pamer wajah pada tetangga.
Angga menurunkan kaca mobil, mengenakan kacamata hitam dengan gaya elegan "Assalamualaikum, Selamat pagi, Pak Pramuji. Masih ingat saya? Angga."
Pramuji yang sedang merapikan baju kokonya langsung terpaku. Ia memicingkan mata, mencoba menggali memori lama sampai akhirnya matanya membelalak melihat logo mobil di depan matanya.
"Waalaikumsalam.....Angga? Angga yang dulu... yang mau kuliah di luar negeri itu? Wah, pangling saya! Makin gagah saja kamu, Nak Angga." jawab Pramuji dengan nada bahagia.
Angga keluar dari mobil, menjabat tangan Pramuji dengan angkuh namun tetap terlihat sopan "Iya, Pak. Baru kembali dari Jerman. Saya dengar Nisya sudah kembali dari pesantren dan akan segera menikah?"
Wajah Pramuji sedikit berubah canggung, namun segera ditutupi "Ah, itu... iya, ada rencana begitu. Tapi ya namanya rencana manusia, kan bisa saja bergeser kalau ada peluang yang lebih baik. Mari mampir dulu, Nak Angga. Kebetulan Ibu Siska masak nasi uduk enak hari ini."
Di dalam rumah, Angga sengaja meletakkan kunci mobilnya yang bermerk mahal di atas meja, tepat di depan mata Pramuji yang langsung berbinar.
"Saya dengar calon menantu Bapak itu CEO Suhadi Group. Hebat sekali. Tapi saya dengar, perusahaannya sedang sibuk sekali sampai mungkin lupa memberikan perhatian lebih pada Bapak dan Ibu?"
Pramuji mulai terpancing, langsung menuangkan teh untuk Angga "Ya begitulah, Nak Angga. Ardiansyah memang kaya, tapi dia kaku sekali. Kadang saya merasa seperti bicara dengan patung es. Padahal saya ini orang tua yang butuh bimbingan dan... yah, perhatian lebih." sahut Pramuji terkekeh.
"Sayang sekali. Padahal saya baru saja membuka proyek hotel dan butuh mitra yang bisa saya percayai secara pribadi. Saya sempat berpikir untuk melibatkan keluarga Nisya dalam beberapa investasi tanah saya di Jakarta Pusat. Nilainya mungkin... puluhan kali lipat dari apa yang bisa diberikan gaji staf kantoran." tutur Angga membuat Pramuji nyaris tersedak tehnya. Puluhan kali lipat? Otaknya mulai menghitung cepat. Ardiansyah memberi cek 50 juta saja sudah membuat hatinya melompat, apalagi jika bicara soal investasi tanah Jakarta Pusat.
Di kamarnya, Nisya sedang bersiap berangkat kantor. Ia mendengar suara yang sangat ia kenal dari ruang tamu. Jantungnya berdegup kencang. Ia meremas ponsel nya dengan cemas.
Nisya berbisik parau "Apalagi yang Bang Angga lakukan? Kenapa dia harus menemui Ayah?"
Ia segera merapikan jilbabnya mencoba terlihat tenang meski tangannya gemetar. Sebelum keluar, ia mengoleskan aroma terapi di pergelangan tangannya, berharap aromanya bisa meredakan kecemasan yang luar biasa.
Nisya keluar dari kamar dan mendapati Angga sedang tertawa akrab dengan ayahnya.
"Nah, ini dia Nisya! Nisya, lihat siapa yang datang. Nak Angga ini sukses sekali sekarang, dia bilang kangen masakan Ibu."
Angga berdiri, menatap Nisya dengan tatapan yang dalam dan penuh klaim "Selamat pagi, Nisya. Kebetulan sekali, saya baru saja menawarkan Ayahmu untuk melihat lokasi proyek hotel saya. Mungkin kamu bisa ikut sekalian berangkat kantor dengan saya?"
Nisya menatap ayahnya, berharap Pramuji menolak. Namun Pramuji justru mendorongnya pelan. "Sudah, ikut Nak Angga saja. Supir Ardiansyah suruh pulang saja, bilang kamu sudah berangkat duluan. Tidak enak menolak rezeki tumpangan mobil sebagus ini!"