Aira Maharani, 28 tahun, dikenal sebagai gadis mungil dan cantik dengan dedikasi tinggi di bidang keuangan. Kariernya di salah satu anak perusahaan Satria Group berjalan stabil hingga ia dipindahkan ke unit yang lebih besar, sebuah kesempatan yang seharusnya menjadi langkah maju. Namun, harapan itu berubah menjadi kecanggungan ketika ia mengetahui bahwa direktur barunya adalah Bimantara Dwi Cahyo, putra pemilik Satria Group sekaligus mantan kekasihnya di masa SMA.
Dulu, Aira memilih mengakhiri hubungan mereka karena merasa prestasinya menurun sejak berpacaran dengan Bima. Keputusan itu meninggalkan luka yang tampaknya belum sepenuhnya sembuh bagi Bima. Kini, dalam posisi sebagai atasan, Bima kerap memberi tekanan dan tugas berlebihan kepada Aira, seolah membalas masa lalu yang belum selesai.
Meski awalnya dipenuhi ketegangan dan konflik, interaksi mereka mulai berubah seiring berjalannya waktu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14
Pagi itu, suasana di pos satpam perusahaan berubah menjadi kacau. Teriakan penuh amarah memecah rutinitas yang biasanya tertib dan dingin. Dua orang paruh baya, bibi dan paman Aira, berdiri di depan gerbang dengan wajah merah padam, emosi mereka meluap tanpa sisa.
“PANGGIL PANDU! SURUH DIA KELUAR!” teriak sang paman, suaranya menggema hingga ke halaman dalam.
Beberapa satpam berusaha menenangkan situasi, namun jelas mereka kewalahan menghadapi kemarahan yang tidak lagi bisa dikendalikan.
“Pak, Bu, mohon tenang dulu. Ini area kerja, tidak boleh membuat keributan seperti ini,” salah satu satpam mencoba berbicara dengan hati-hati.
Namun ucapan itu justru seperti menyiram bensin ke api.
“Tenang?” bibi Aira tertawa getir. “Keponakan kami hampir mati! Kalian minta kami tenang?!”
Paman Aira melangkah maju, mendorong salah satu satpam hingga terhuyung. “Kami tidak akan pergi sebelum bertemu Pandu! Dia harus bertanggung jawab!”
Para satpam mulai kehilangan kesabaran. Salah satu dari mereka mengangkat tangan, memberi isyarat pada rekannya.
“Kalau Bapak dan Ibu tidak mau bekerja sama, kami terpaksa akan membawa kalian ke kantor polisi.”
Ancaman itu tidak membuat mereka mundur sedikit pun.
“Silakan!” balas paman Aira dengan tajam. “Biar sekalian kami laporkan perusahaan kalian yang membiarkan pegawainya ditindas sampai hampir bunuh diri!”
Ketegangan semakin memuncak. Beberapa karyawan yang baru datang hanya bisa berhenti di kejauhan, menyaksikan drama yang terasa terlalu nyata dan terlalu menyakitkan untuk diabaikan.
Di tengah keributan itu, sebuah suara tenang namun tegas terdengar.
“Biarkan mereka.”
Semua kepala menoleh. Bima berjalan mendekat, langkahnya mantap, wajahnya dingin namun jelas menyimpan sesuatu yang berat.
Para satpam langsung menunduk. “Maaf, Pak. Kami akan segera mengusir—”
“Tidak perlu,” potong Bima singkat. “Biarkan mereka masuk ke ruang tunggu. Saya yang akan bicara.”
Namun paman Aira tidak bergeming. Tatapannya tajam menembus Bima, penuh kebencian yang tidak disembunyikan sedikit pun.
“Saya tidak mau ruang tunggu,” katanya dingin. “Saya mau Pandu keluar. Sekarang.”
Bima terdiam sejenak. Ada sesuatu dalam sorot mata pria itu yang membuatnya tidak bisa sekadar memberikan jawaban formal.
Ia menarik napas pelan, lalu berkata, “Saya minta maaf.”
Kata-kata itu terdengar sederhana, tapi beratnya terasa jelas.
“Saya yang seharusnya menjaga para pegawai di sini. Saya yang seharusnya bertindak. Tapi saya… diam.”
Paman Aira menyipitkan mata. “Jadi… kamu tahu?”
Bima menunduk. Lalu, dengan pelan, ia mengangguk.
Satu detik.
Dua detik.
Dan kemudian—
BUK!
Tinju keras mendarat di wajah Bima. Tubuhnya sedikit terdorong ke belakang, namun ia tidak melawan.
Para satpam refleks ingin bergerak, namun Bima mengangkat tangan, menghentikan mereka.
“Jangan ikut campur,” katanya singkat.
Paman Aira tidak berhenti. Ia menarik kerah jas Bima dengan kasar.
“Kamu tahu… tapi kamu diam?” suaranya bergetar, bukan karena lemah, tapi karena terlalu banyak emosi yang tertahan. “Kamu lihat keponakan saya diperlakukan seperti itu… dan kamu tidak melakukan apa-apa?!”
Bima tidak menjawab.
“Dia cuma ingin hidup mandiri!” lanjutnya, suaranya meninggi. “Dia kerja! Dia bertahan! Tapi kalian… kalian hina dia! Kalian hancurkan dia!”
Bima tetap diam. Rahangnya mengeras, namun ia tidak menepis tangan yang mencengkeramnya.
“Perusahaan besar,” paman Aira meludah ke samping. “Katanya profesional. Katanya berkelas. Tapi ternyata… cuma tempat orang-orang berkuasa menindas yang lemah.”
Bima menutup mata sejenak.
“Saya minta maaf,” ucapnya lagi, lebih pelan.
“Maaf?” Paman Aira tertawa pahit. “Maaf tidak akan menghapus apa yang kalian lakukan.”
Ia mendorong Bima dengan keras hingga pria itu jatuh ke lantai.
Suasana hening sejenak.
Bibi Aira memegang lengan suaminya. “Sudah… percuma,” katanya lirih, meski air mata mengalir di pipinya. “Kita tidak akan menang melawan orang seperti mereka.”
Paman Aira terdiam, napasnya masih memburu.
Dia menatap Bima untuk terakhir kali.
“Kami mungkin tidak punya kekuatan,” katanya pelan namun penuh tekanan. “Tapi ingat satu hal… saya berharap kamu hancur. Sama seperti keponakan saya.”
Kalimat itu jatuh seperti vonis.
Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik, menggandeng istrinya pergi meninggalkan tempat itu.
Langkah mereka terdengar berat. Bukan karena lelah, tapi karena harapan yang sudah benar-benar mati.
Bima tetap diam di lantai beberapa detik. Lalu perlahan, ia bangkit.
Tidak ada ekspresi marah. Tidak ada pembelaan.
Hanya kosong.
Ia berjalan menuju kantornya tanpa berkata apa pun lagi.
Di dalam ruangan, suasana terasa jauh lebih sunyi. Terlalu sunyi.
Bima berdiri di depan mejanya, menatap tumpukan dokumen tanpa benar-benar melihat isinya.
Pikirannya berisik.
Kata-kata paman Aira terus terulang.
“Kamu diam…”
Tangannya mengepal.
“Atasan seperti saya…” gumamnya pelan, “tidak pantas memimpin apa pun.”
Pintu terbuka tanpa ketukan.
Pandu masuk dengan santai, seolah dunia di luar tidak sedang runtuh.
“Saya dengar ada keributan di bawah,” katanya ringan. “Bibi dan pamannya Aira, ya?”
Bima tidak menjawab.
Pandu melangkah lebih dekat, bahkan tersenyum tipis. “Harusnya kamu suruh satpam mengusir mereka. Orang seperti itu tidak perlu dilayani.”
Masih tidak ada respon.
Pandu menghela napas, seolah merasa dirinya paling benar. “Kalau kamu mau, saya bisa bantu. Kita tuntut mereka balik. Biar kapok.”
Kalimat itu—
Seperti percikan terakhir.
Bima bergerak cepat. Ia berdiri dan langsung menarik kerah baju Pandu dengan kasar.
“Kamu…” suaranya rendah, tapi penuh tekanan. “Diam.”
Pandu terkejut. “Apa—”
“Selama ini,” potong Bima, matanya tajam seperti pisau, “saya terlalu bodoh.”
Cengkeramannya semakin kuat.
“Saya pikir kamu teman.”
Pandu mulai kesal. “Lepaskan saya.”
“Tapi ternyata…” Bima mengabaikannya, “saya hanya menutup mata untuk seorang pengecut.”
Pandu mendorong tangan Bima. “Jangan bertindak seolah kamu paling benar. Kita sama.”
“Tidak,” balas Bima tegas.
Ia mendorong Pandu ke dinding dengan keras.
“Saya memang salah,” lanjutnya. “Saya diam. Saya membiarkan semuanya terjadi.”
Ia menatap langsung ke mata Pandu.
“Tapi kamu…” suaranya berubah dingin, “kamu menikmati itu.”
Pandu tertawa sinis. “Dan kenapa tidak? Mereka cuma—”
“Jangan lanjutkan.”
Nada suara Bima membuat udara di ruangan itu terasa berat.
“Kenapa kamu tiba-tiba peduli?” sindir Pandu. “Hanya karena satu orang hampir mati?”
Bima tidak langsung menjawab.
Lalu, pelan, ia berkata, “Karena saya akhirnya sadar… saya sudah melindungi orang yang salah.”
Pandu mendengus. “Jangan lebay. Mereka itu cuma orang kecil yang berharap bisa naik dengan cara memanfaatkan kita.”
“Cukup.”
Bima menekan bahu Pandu ke dinding.
“Bagi kamu mungkin mereka tidak berarti,” katanya tajam. “Tapi bagi saya… kesalahan ini cukup untuk menghancurkan semuanya.”
Pandu menatapnya dengan jijik. “Kamu berubah hanya karena perempuan itu?”
Bima terdiam sejenak.
Lalu jawabannya keluar dengan tenang, tapi menghantam.
“Saya berubah karena saya melihat diri saya sendiri… dan saya muak.”
Hening.
Untuk pertama kalinya, Pandu tidak langsung membalas.
Namun hanya sebentar.
“Kamu lemah,” katanya akhirnya.
“Mungkin,” jawab Bima. “Tapi setidaknya saya tidak serendah kamu.”
Kalimat itu seperti tamparan.
Bima melepaskan kerah Pandu dengan kasar.
“Mulai sekarang,” katanya dingin, “saya tidak ingin melihat kamu lagi.”
Pandu merapikan bajunya, matanya penuh amarah.
“Kamu akan menyesal,” ancamnya.
Bima tidak bereaksi.
“Keluar.”
Satu kata.
Dingin. Tegas. Final.
Pandu menatapnya beberapa detik, lalu berbalik dan pergi, membanting pintu dengan keras.
Suara itu menggema.
Namun setelahnya…
Sunyi kembali menguasai ruangan.
Bima berdiri sendirian.
Untuk pertama kalinya, tidak ada yang bisa ia salahkan selain dirinya sendiri.
Dan untuk pertama kalinya juga—
Ia tidak mencoba menghindarinya.