Elara Safira Nirmala hanyalah gadis yatim piatu biasa di dunia modern, ia ditinggal oleh orang tuanya sejak kecil dan dia tinggal di kos-kos an sederhana di salah satu kota. Pagi itu Elara hanya ingin pergi ke sekolahnya tetapi ada suatu yang terjadi padanya, ada sebuah tragedi membuatnya terbangun sebagai Elara Mirabel Astoria, lady terbuang dan tak berguna di kerajaan kuno, dengan kemampuan modern yang canggung dan komentar sarkastiknya Elara harus bertahan di tengah drama keluarga bangsawan, intrik politik, dan mungkin sedikit cinta yang tak terduga. Langsung baca aja yuk ceritanya daripada penasaran!!!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ꧁Diajeng rini꧂, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Di dunia ini elemen bukan sekadar kekuatan, ia adalah identitas, kasta dan harga diri. Secara umum, alam hanya membagikan enam warna dasar kepada manusia yaitu Api yang membakar, Air yang mengalir, Udara yang bebas, Petir yang menghakimi, serta Kegelapan dan Cahaya yang agung dan sihir Kegelapan atau sihir hitam inilah yang dilarang keras orang menggunakan nya di kerajaan Heist karena dianggap pantang.
Mayoritas penyihir berbakat hanya diberkati dengan satu elemen dan itu sudah cukup untuk menjamin hidup mewah sebagai bangsawan. Namun, memiliki dua elemen adalah tiket menuju puncak hierarki, seorang jenius yang dianggap sebagai pilar kerajaan.
Di Kerajaan Heist yang luas, pemegang tiga elemen adalah legenda hidup, sosok yang kekuatannya dianggap setara dengan bencana alam. Hanya ada dua orang yang menduduki takhta tertinggi itu yaitu sang penguasa tertinggi, Raja Heist dan penyihir tua eksentrik yang kini berada di depan Elara yaitu Kakek Zoff.
Bagi keluarga Astoria, elemen adalah segalanya. Duke Astoria berdiri angkuh dengan kombinasi Api dan Udara yang mematikan. Anak-anaknya pun tidak mengecewakan, Julian mewarisi Api, Cassian menguasai Udara dan berpedang, sementara Beatrice dan Lilian memiliki Air yang anggun namun penuh racun. Di tengah kumpulan monster berbakat itu Elara adalah satu-satunya "noda". Makanya ia diasingkan dan tidak diperkenalkan ke publik sehingga yang orang lain tahu bahwa anak gadis dari Duke Astoria hanyalah Lilian.
Namun sekarang di dalam gua yang lembap dan tersembunyi dari mata dunia, sejarah sedang ditulis ulang.
"Letakkan tanganmu Elara" perintah Kakek Zoff dan suaranya berat dengan antisipasi.
Elara menarik napas panjang. Ia mengangkat telapak tangannya membiarkannya melayang tepat di atas Cermin Obsidian. Untuk sesaat tidak terjadi apa-apa. Jantung Elara berdegup kencang takut jika cermin itu memakannya hidup-hidip. Namun tiba-tiba permukaan cermin itu bergetar.
Wush!!!!!!!!
Warna Biru Jernih yang sangat pekat muncul pertama kali, berputar-putar seperti pusaran samudera di dalam kaca hitam tersebut. Itu adalah Elemen Air, belum sempat Rhea dan Mina bernapas lega cermin itu berdenyut lagi. Di tengah pusaran air muncul lidah Api Merah yang berkobar dahsyat. Logikanya api seharusnya padam oleh air namun di dalam cermin itu, keduanya justru berdansa dalam harmoni yang mustahil. Rhea dan Mina dibuat terkejut karena kenapa bisa Lady Elara memiliki 2 elemen sekaligus, sedangkan para kesatria dan penyihir rata-rata hanya memiliki 1 elemen sihir termasuk Rhea dan Mina.
Lalu puncaknya terjadi. Sebuah ledakan Cahaya Putih menyambar dari pusat cermin memancarkan sinar yang begitu terang hingga menerangi setiap sudut gelap gua dan memaksa Kakek Zoff menutupi matanya.
Tiga warna, tiga elemen murni. Air, Api dan Cahaya.
Rhea ternganga dan tangannya lemas hingga hulu pedangnya beradu dengan lantai batu. Mina bahkan hampir menjatuhkan botol ramuan di tangannya dan matanya membelalak tak percaya. Lady mereka si "produk gagal" Astoria baru saja menunjukkan spektrum kekuatan yang hanya dimiliki oleh Raja!!!!
Kakek Zoff mundur dua langkah hingga menabrak rak bukunya, wajah tuanya pucat pasi "Tiga... tidak mungkin. Bagaimana bisa sirkuit yang baru terbuka sehari langsung memproses tiga partikel berbeda secara bersamaan?" gumamnya dengan suara bergetar antara ngeri dan kagum.
Di tengah suasana yang sangat serius, tegang dan penuh keajaiban itu, pikiran Elara justru berkelana ke arah yang sangat berbeda. Di balik wajahnya yang terlihat tenang dan terpaku otaknya sedang berfikir dengan kecepatan penuh.
"Eh buset... tiga? Seriusan inii? " batin Elara dan matanya menatap cermin itu tanpa berkedip "Wah kalau gini sih aku bukan cuma bisa bikin teh panas pakai api tapi bisa langsung didinginin jadi es teh pakai elemen air. Terus cahaya ini buat apa? Buat lampu tidur kalau malam biar ngga usah beli lilin? Lumayan banget hemat biaya operasional kalau nanti aku beneran pengen usaha. Kayanya mana ini numpuk gara-gara dulu di rumah Duke aku sering makan hati dan nahan emosi, makanya pas keluar langsung meledak gini, eh tapi katanya mana punya Elara dikurung sama seseorang... Ah besok aja cari orang itu, sekarang fokus latihan dulu"
Pikiran konyol itu terus berputar membuat Elara hampir ingin tersenyum sendiri jika saja ia tidak menyadari betapa pucatnya wajah Kakek Zoff saat ini.
"Tarik tanganmu Elara!!!! Sekarang!!!!" bentak Kakek Zoff tiba-tiba dan suaranya memecah keheningan.
Elara tersentak dan segera menarik tangannya. Seketika cahaya di dalam gua meredup kembali menjadi tentram dengan sinar api obor. Kakek Zoff mendekat lalu mencengkeram bahu Elara dengan tangan yang sedikit bergetar.
"Dengar Elara. Apa yang kau lihat hari ini tidak boleh keluar dari gua ini. Tidak kepada siapa pun bahkan kepada dinding rumahmu sendiri" bisik Kakek Zoff dengan nada yang sangat tajam "Memiliki tiga elemen berarti kau adalah ancaman bagi takhta. Jika Raja tahu kau akan dijinakkan. Jika musuh kerajaan tahu kau akan dibunuh sebelum sempat tumbuh. Kau harus belajar menyembunyikan dua warna lainnya. Di mata dunia mulai hari ini kau adalah pengguna elemen tunggal yang paling lemah"
Elara mengangguk mantap mski di dalam kepalanya ia masih berpikir "Lemah sih lemah Kakek... tapi kalau nanti si Lilian macam-macam, aku bakal balas, kalau bisa kupukul ubun-ubunnya pakai linggis paporid"
___
Sementara itu di kediaman utama Astoria yang dingin suasana tampak jauh lebih sibuk dari biasanya. Duke Astoria berdiri di depan cermin besar merapikan jubah kebesarannya yang berwarna biru tua dengan sulaman emas.
Wajahnya yang biasanya kaku kini tampak sedikit lebih cerah. Undangan rapat darurat dari Raja Heist baru saja tiba dan bagi sang Duke ini adalah kesempatan emas. Ia yakin jika Raja masih memanggilnya untuk urusan penting kerajaan maka peluang untuk mengembalikan martabat keluarganya yang sempat tercoreng masih terbuka lebar.
"Ayah! Aku mau ikut! Aku tidak mau hanya mengurung diri di kamar!" Suara melengking Lilian memecah keheningan koridor.
Duke Astoria menoleh "Lilian ini rapat penting para bangsawan dan pengurus kerajaan. Setelah kekacauan yang kau buat kau seharusnya tetap di rumah"
Lilian menghentakkan kakinya ke lantai marmer dan matanya mulai berkaca-kaca, itu adalah sebuah senjata andalannya "Tapi Ayah aku ingin meminta maaf langsung pada Pangeran Kaelen karena kemarin telah lancang dihadapan Yang Mulia Raja"
Duke Astoria mendengus kasar hampir saja ia membentak putrinya jika saja Duchess Beatrice tidak muncul dari balik pintu dan mengusap bahu suaminya dengan lembut "Suamiku biarkan dia ikut. Lilian butuh menunjukkan wajahnya di publik agar rumor buruk itu perlahan mereda. Jika dia terus bersembunyi orang-orang akan mengira keluarga Astoria benar-benar sudah tamat. Aku akan memastikan dia bersikap anggun kali ini, aku sudah mengajarinya dengan baik"
Melihat istrinya membujuk dengan nada tenang pertahanan Duke akhirnya runtuh. Ia menghela napas panjang sembari membetulkan posisi lencana di dadanya "Baiklah Kau boleh ikut Lilian. Tapi ingat satu hal, jangan berulah kau mengerti?"
Lilian langsung tersenyum lebar, rasa senangnya tak terbendung. Di dalam pikirannya ia sudah membayangkan akan bersandar di lengan Pangeran Kaelen dan mendapat perhatian sang Pangeran. Dan satu hal lagi, dia berniat untuk memberi Elara pelajaran di kerajaan nanti (karena dia mikirnya Elara ada disana padahal mah ngga, kocak lu Lilian).......
kayaknya gak bakal pilih dua2nya🤣🤣🤣