"Salah klik jurusan saat kuliah adalah bencana, tapi bangun dari koma dan bisa melihat hantu adalah petaka!"
Arini, dokter forensik yang aslinya clumsy dan penakut, harus menerima kenyataan pahit: ia terbangun dari koma dengan "bonus" mata batin terbuka. Kini, ruang otopsinya jadi ramai! Ia harus membedah mayat sambil mendengarkan curhat para arwah yang menuntut keadilan (dan permintaan konyol lainnya).
Untungnya, ada Mika—hantu gadis Tionghoa yang centil dan bar-bar—yang setia membantu Arini mengungkap fakta medis lewat "jalur gaib".
Masalahnya satu: Tunangan Arini, Baskara, adalah Jaksa kaku yang skeptis dan hanya percaya logika. Baskara memang bucin parah, tapi bagaimana jadinya jika sang Jaksa tahu bahwa bukti-bukti kemenangan kasusnya berasal dari bisikan makhluk halus?
Di tengah konspirasi maut yang mengancam nyawa, Arini harus memilih: Tetap waras di antara para hantu, atau terjebak dalam pelukan posesif sang Jaksa yang benci takhayul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Tatapan yang Terhalang
Bunyi detak jam dinding di ruang forensik RS Medika terasa begitu nyaring, memecah kesunyian ruangan yang suhunya selalu dijaga tetap dingin. Arini menghela napas panjang, menyesuaikan kembali indranya dengan bau khas formalin dan alkohol setelah seminggu menghirup segarnya udara laut Yogyakarta.
"Selamat bekerja kembali, Dokter Arini," sapa perawat jaga sambil meletakkan beberapa berkas laporan otopsi di meja.
"Terima kasih, Sus," jawab Arini dengan senyum tipis.
Saat suster itu keluar, Arini merasakan hembusan angin dingin yang tidak biasa. Ia teringat pesan Sang Ratu: Jangan berikan perhatianmu. Anggap mereka tidak ada.
Tiba-tiba, di sudut ruangan dekat lemari pendingin jenazah, muncul sosok pria. Ia tidak seperti hantu pasien pada umumnya yang tampak mengerikan atau penuh luka. Pria ini mengenakan kemeja putih klasik dengan gaya rambut yang rapi, wajahnya sangat tampan dengan garis rahang yang tegas dan tatapan mata yang teduh.
"Rin! Rin! Lihat itu!" Mika mendadak muncul dari balik jas putih Arini, matanya membelalak lebar. "Ya Tuhan, ada model internasional nyasar ke kamar mayat kita! Ganteng banget, Rin! Lebih ganteng dari aktor drakor yang kemarin kita tonton!"
Arini tetap diam. Ia fokus membuka berkas di depannya, tangannya sedikit gemetar tapi ia berusaha keras untuk tidak melirik ke arah sudut ruangan. Ia berpura-pura sangat sibuk mencatat, meskipun ia tahu pria itu mulai melangkah mendekat.
Pria itu berdiri tepat di samping meja Arini. "Kamu... sangat mirip dengannya," suara pria itu terdengar sangat lembut, bergema pelan di ruangan yang sunyi itu.
Mika hampir pingsan gaib di tempat. "Rin! Dia bicara padamu! Suaranya... aduh, bikin merinding tapi enak didengar! Ayo dong respon sedikit!"
Arini tetap bergeming. Ia teringat nasehat Sang Ratu. Jangan berikan perhatianmu. Jika pria ini tahu Arini bisa melihatnya, ia mungkin tidak akan pernah pergi.
"Namaku Satria," pria itu kembali bicara, tangannya seolah ingin menyentuh rambut Arini namun tertahan oleh batas dimensi. "Aku datang jauh dari sebuah museum tua di Yogyakarta, dekat Malioboro. Aku terbangun karena aroma parfum melatimu yang terbawa angin... kamu benar-benar mirip dengan kekasihku yang dulu sering menungguku di sana."
Mika langsung terbang berputar-putar di sekitar Satria. "Wah, jadi ini hantu Jogja yang ikut kita pulang? Rin, pantesan kakek di Taman Sari bilang kamu punya daya tarik. Lihat nih, hantu ganteng dari museum Malioboro aja sampai ngejar kamu ke Jakarta!"
Arini menggigit bibir dalamnya. Godaan untuk menoleh sangat besar, apalagi Satria tidak tampak mengancam. Namun, ia tidak boleh lengah. Energi setenang Satria pun bisa menjadi beban jika ia mulai bergantung pada Arini.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Baskara masuk dengan setelan jas kerjanya yang rapi. Ia baru saja menjemput Arini untuk makan siang bersama di sela waktu istirahat.
"Arini? Sudah selesai?" tanya Baskara.
"Sedikit lagi, Bas," sahut Arini cepat, merasa lega dengan kehadiran suaminya.
Baskara berjalan mendekat, ia berdiri tepat di mana sosok Satria berada. Tentu saja, tubuh Baskara menembus sosok Satria begitu saja. Baskara mengernyit, ia merasakan hawa dingin yang menusuk di bahunya.
"Ruangan ini terasa lebih dingin dari biasanya," gumam Baskara sambil merangkul bahu Arini secara posesif.
Arini berdiri, ia segera merapikan mejanya tanpa berani menatap ke arah Satria yang kini berdiri di belakang Baskara, menatap mereka berdua dengan tatapan melankolis.
"Ayo, Bas. Aku tiba-tiba merasa sangat lapar," ajak Arini sambil menarik tangan suaminya keluar.
"Rin! Masa ditinggal gitu aja?!" protes Mika yang masih sibuk memandangi Satria. "Tunggu aku! Eh, tapi ganteng banget... Aduh, dilema!"
Arini terus melangkah, mengabaikan kehadiran Satria yang masih mematung di ruang forensik. Ia berhasil mempraktekkan nasehat Sang Ratu untuk pertama kalinya, meski hatinya sedikit terusik oleh cerita pria itu. Mengapa pria itu merasa Arini mirip dengan kekasihnya? Dan apakah kedatangannya dari Jogja hanya kebetulan semata?
Baskara yang menyadari kegelisahan istrinya, mempererat genggamannya. "Ada yang mengganggumu? Kamu tampak... menghindari sesuatu."
"Hanya menyesuaikan diri lagi dengan pekerjaan, Bas," jawab Arini pelan.
Di belakang mereka, Mika akhirnya menyusul dengan wajah cemberut. "Kamu jahat, Rin. Nanti kalau dia hilang gimana? Tapi beneran deh, hantu itu beda banget auranya. Kayak ada rahasia besar yang dia bawa dari Jogja."
lanjut thorr
lagian botol parfum taro diluar dulu deh rin kalo mau bikin anak. hantu lu resek🤭🤣🤣🤣