NovelToon NovelToon
KALKULASI CINTA TUAN MUDA ELVANO

KALKULASI CINTA TUAN MUDA ELVANO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:20.4k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​Bagi Elvano Diwantara, hidup adalah tentang Return on Investment (ROI).

​Mewarisi ketampanan Kairo dan otak jenius Elena, Elvano tumbuh menjadi "Hiu Muda" yang lebih kejam dari ayahnya. Di usia 27 tahun, dia sudah melipatgandakan aset Diwantara Group. Motonya sederhana: "Kalau tidak menghasilkan uang, buang."

​Satu-satunya makhluk di bumi yang bisa membuat Elvano rugi bandar hanyalah Elora, adik perempuannya yang manja dan boros. Elvano rela membakar satu kota demi melindungi sang adik, tapi dia juga akan menagih utang jajan adiknya dengan bunga majemuk.

​Namun, kalkulasi Elvano mendadak error ketika dia bertemu wanita itu. Seorang wanita yang berani menawar harga dirinya, mengacaukan neraca keuangannya, dan membuat detak jantungnya berfluktuasi seperti saham gorengan.

​"Menikahimu adalah investasi risiko tinggi dengan probabilitas kerugian 90%," kata Elvano dingin.

Wanita itu tersenyum miring, "Kalau begitu, kenapa Tuan Muda tidak berani cut loss dan melepaskan saya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Pengejaran Ojol

​​"Angkat dong, Pak! Ya ampun, ini orang apa mayat hidup sih?!"

​Aluna berteriak frustasi ke arah ponselnya sambil memacu motor bututnya membelah jalanan Jakarta yang macet. Angin malam menampar wajahnya yang tidak tertutup kaca helm—karena kaca helmnya sudah copot entah ke mana.

​Di telinganya, nada sambung telepon berbunyi panjang tanpa henti.

​Tut... Tut... Tut...

​Lalu suara operator yang menyebalkan terdengar.

​"Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi. Cobalah beberapa saat lagi."

​"Dasar CEO kebo!" umpat Aluna, menyelipkan ponselnya ke dalam helm yang sempit. "Jam sembilan malam udah tidur?! Situ Cinderella apa balita?!"

​Aluna lupa kalau bosnya itu adalah Elvano Diwantara, manusia paling disiplin sedunia yang menganggap begadang adalah "depresiasi kesehatan yang merugikan aset tubuh". Bagi Elvano, tidur jam sembilan tepat adalah investasi jangka panjang agar umur panjang dan bisa cari duit lebih lama.

​Tapi bagi Aluna yang sedang panik mengejar adiknya yang kabur, kebiasaan tidur Elvano ini bencana.

​Motor Aluna mencicit rem di depan sebuah bangunan megah dengan lampu neon ungu berkedip-kedip. Club X. Tempat nongkrong paling elit, paling mahal, dan paling penuh dosa di ibu kota.

​Deretan mobil mewah, berjejer di area valet. Aluna dengan santainya memarkir motor matic bututnya yang berbunyi krek-krek tepat di samping sebuah Rolls Royce mengkilap.

​Tukang parkir valet yang berseragam rapi langsung melotot. Dia berlari mendekat sambil melambaikan tangan.

​"Woy, Mbak! Minggir! Jangan parkir rongsokan di sini! Ini area VIP!"

​Aluna membuka helmnya kasar, rambutnya lepek dan berantakan. Dia menatap tukang parkir itu dengan mata melotot, nyalinya sedang di puncak karena adrenalin.

​"Motor gue emang rongsokan, tapi urusan gue di dalem harganya miliaran! Minggir atau gue laporin lo menghalangi penyelamatan aset negara!"

​Tukang parkir itu kicep melihat kegalakan Aluna. Dia mundur teratur, membiarkan gadis itu lari menuju pintu masuk.

​Masalah kedua muncul di pintu masuk. Dua orang bouncer (penjaga keamanan) bertubuh raksasa dengan jas hitam menghadang jalan Aluna. Mereka menatap penampilan Aluna dari atas ke bawah dengan tatapan jijik.

​Dan wajar saja mereka jijik.

​Aluna mengenakan celana piyama bermotif tokoh kartun spon kuning (karena tadi dia sudah siap tidur), atasan kaos belel, dan ditutupi jaket ojek online warna hijau yang kebesaran milik tetangga kosnya. Kakinya? Memakai sandal jepit karet warna merah.

​Benar-benar kostum anti-dugem.

​"Maaf, Mbak. Salah alamat," kata bouncer yang botak sambil bersedekap dada. "Pintu masuk pasar induk ada di perempatan depan. Di sini dress code-nya glamour, bukan gembel."

​"Gue nggak mau dugem, Bang! Gue mau jemput adik bos gue!" seru Aluna ngotot. Dia mencoba menerobos, tapi bouncer itu menahannya dengan satu tangan kekar.

​"Nggak ada tiket, nggak boleh masuk. Pulang sana, cuci kaki, tidur."

​"Denger ya, Bang!" Aluna menunjuk hidung bouncer itu. "Di dalem sana ada Elora Diwantara. Tahu kan? Anak pemilik gedung ini? Dia kabur dari rumah! Kalau sampai dia kenapa-napa di dalem, dan Abangnya tahu gue ditahan di pintu sama kalian, besok pagi tempat ini bakal diratain jadi lahan parkir! Mau lo?!"

​Dua bouncer itu saling pandang. Nama Diwantara adalah kartu sakti di kota ini. Tidak ada yang berani main-main dengan keluarga itu.

​"Elora Diwantara?" tanya bouncer yang satunya ragu. "Tadi emang ada rombongan VIP masuk. Cewek baju silver..."

​"Nah itu dia! Itu buronan gue!" potong Aluna cepat. "Minggir! Kalau dia lecet dikit aja, gaji lo seumur hidup nggak bakal cukup buat bayar ganti ruginya!"

​Ancaman soal gaji selalu efektif. Kedua raksasa itu akhirnya menyingkir, membukakan pintu beludru merah untuk Aluna si gadis celana piyama.

​"Masuk, Mbak. Tapi jangan bikin keributan."

​"Tergantung situasi," gumam Aluna sambil melesat masuk.

​Begitu pintu terbuka, dentuman musik jedag-jedug langsung menghantam gendang telinga Aluna. Lampu sorot warna-warni menyilaukan mata. Bau alkohol, parfum menyengat, dan keringat manusia bercampur jadi satu.

​Aluna merasa pusing seketika. Dia benci tempat ini. Baginya, ini adalah tempat pembakaran uang massal. Satu botol minuman di sini harganya bisa buat bayar listrik satu kampung.

​"Elora... lo di mana sih, bocah nakal..." gumam Aluna sambil menyipitkan mata, memindai lautan manusia yang sedang berjoget tidak jelas.

​Dia menerobos kerumunan. Beberapa orang menatapnya aneh. Ada yang tertawa menunjuk jaket ojolnya. Ada yang mengira dia pengantar makanan nyasar.

​"Misi! Misi! Paket!" teriak Aluna asal biar dikasih jalan.

​Matanya terus mencari ke arah lantai dua, area VIP yang balkonnya menghadap ke panggung DJ. Elora bilang dia dapat undangan VIP. Pasti dia ada di sana.

​Aluna menaiki tangga dengan cepat, menyenggol pelayan yang membawa nampan berisi gelas-gelas tinggi.

​"Woah! Hati-hati dong!" protes pelayan itu.

​"Maaf, Mas! Darurat!"

​Sampai di lantai dua, Aluna mengedarkan pandangan. Di sudut paling gelap namun strategis, ada sebuah sofa kulit besar berbentuk U. Di sana duduk segerombolan anak muda dengan pakaian super branded.

​Dan di tengah-tengah mereka, duduklah Elora Diwantara.

​Gadis itu terlihat mencolok dengan mini dress peraknya. Dia sedang tertawa lepas, memegang gelas ramping berisi cairan berwarna biru. Wajahnya sudah agak merah, matanya sayu. Jelas dia sudah minum beberapa gelas.

​"Ketemu lo," desis Aluna. Dia bersiap melangkah untuk menyeret Elora pulang.

​Tapi langkah Aluna terhenti mendadak. Matanya menangkap sesuatu yang mencurigakan.

​Di kiri dan kanan Elora, duduk dua orang laki-laki asing. Mereka bukan teman-teman sosialita Elora yang biasa. Penampilan mereka rapi tapi tatapan matanya liar dan licik. Salah satu pria itu, yang memakai kemeja hitam kancing terbuka, sedang membisikkan sesuatu ke telinga Elora, membuat Elora tertawa kegelian.

​Sementara itu, pria yang satu lagi—yang memakai topi—sedang memegang botol minuman.

​Tangan pria bertopi itu bergerak mencurigakan.

​Saat Elora menoleh ke arah pria berkemeja hitam karena diajak ngobrol, pria bertopi itu dengan cepat menggerakkan tangannya di atas gelas Elora yang ada di meja.

​Gerakannya sangat halus. Sangat cepat.

​Tapi mata Aluna yang terbiasa mengawasi gerak-gerik copet di pasar, bisa melihatnya dengan jelas.

​Serbuk putih.

​Pria itu menjatuhkan serbuk putih dari balik cincinnya ke dalam minuman Elora. Serbuk itu langsung larut dalam hitungan detik, menyatu dengan cairan biru tersebut.

​Pria bertopi itu lalu mengaduk gelas itu pelan, tersenyum menyeringai pada temannya. Kode mata mereka jelas: Mangsa sudah siap.

​"Ini, El. Minum lagi dong biar makin happy," kata pria bertopi itu sambil menyodorkan gelas beracun itu ke tangan Elora.

​Elora, yang sudah setengah sadar, menerimanya dengan senyum lebar.

​"Gila, kalian asik banget!" seru Elora dengan suara yang mulai melantur. "Bersulang!"

​Elora mengangkat gelas itu. Dia mendekatkan bibir gelas ke mulutnya.

​Jantung Aluna berhenti berdetak.

​"JANGAN!!!"

​Teriakan batin Aluna meledak. Dia tidak punya waktu untuk berpikir. Dia tidak punya waktu untuk menelepon polisi atau satpam.

​Dalam hitungan detik, Elora akan menenggak racun itu. Dan setelah itu... Aluna tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi pada gadis manja itu di tangan dua predator ini.

​Tanpa memedulikan sandal jepitnya yang licin, Aluna berlari sekencang tenaga menerjang masuk ke area VIP. Dia melompati meja kecil, menubruk sofa, dan meluncur ke arah Elora seperti peluru kendali.

1
Yeni Puspitasari
baru kali ini aku baca novel berasa banget capeknya
Muft Smoker
baru bangun yx bos ,,
makany baru bisa liat Dunia yg nyata ,,
🤭🤭🤭🤭🤭
kutukan sedang berjalan pak bos ,,
kutukan adik mu🤣🤣🤣🤣🤣
Pa Muhsid
ye baru sadar lo
nanti cinbu dan bucin mas kalkulator
Yeni Puspitasari
🤣🤣 cocok lu bedus
Nana Colen
Allohuakbar keluarga medit keked mengkene cap jahe
Nana Colen
ampuuun deh El 🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️.. kalau beneran ada di dunia nyata manusia seperti El 🤣🤣🤣🤣
Nana Colen
naaaah tahu rasa jan lhoooooo... satu kata MAMPUS 👎👎👎👎
Nana Colen
adik kakak sebelas duabelas.. cuman bertolak belakang
Nana Colen
ya jelas lah suka.... karena sesama orang perhitungan ya gitu 🤣🤣🤣🤣


pinter bener nih yang nulis skenario 😍😍😍😍
Nana Colen
🤣🤣🤣🤣🤣 jawaban yang mantap
Hary Nengsih
akhirnya kelar jg nego nya🤣🤣
Murni Binti sulaiman
tuh kan baru sadar ya El... Aluna tuh paket lengkap 😁
Eli Rahma
jgn ditatap lama² nanti ada love merah jambu yg nyangkut..😂
Muft Smoker: udh nyangkut kak tp si pak bos pelit bin medit belum sadar🤭🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
Meliandriyani Sumardi
baru sadar dia🤣🤣 kutukan elora jadi kenyataan ternyata🤣🤣 lanjut kak
Mineaa
weeeehhh.....
Tersepona...... akuhh.....tersepona.....
asyik.... asyiiiikk.....joossss......😁
Murni Binti sulaiman
lama" darah tinggi ya luna😁, boss modelan gitu😂
K4RL4
motel onyo-onyo....luarrrr biasa medit pak boss ni. bsk sarapan nasi uduk hrg goceng y... murmer tp bikin kenyang.
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
kyknya klo udah kinerja, ga perlu lg pake kata kerja tor
Pa Muhsid
kelas paud mungkin hotel nya 0kecil
Muft Smoker
pak bos mending nginep di kandang ayam aj gratis pling harus gelut dlu sama ayam ny ,, 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
Muft Smoker: 🤭🤭🤭🤭😁😁😁😁😁😁
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!