Dulu, Alena percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya—bahkan kesombongan seorang pria yang dingin dan tak tersentuh seperti Arkan. Ia menyerahkan hati, harga diri, bahkan masa depannya demi pernikahan yang ternyata hanya dianggap sebagai kesalahan oleh suaminya sendiri.
Di hari ia kehilangan segalanya, Alena tidak hanya diusir dari rumah—ia juga dikhianati, dipermalukan, dan ditinggalkan dalam kehancuran yang nyaris merenggut nyawanya.
Namun, takdir belum selesai menulis kisahnya.
Lima tahun kemudian, Alena kembali.
Bukan sebagai wanita lemah yang dulu diremehkan, melainkan sebagai sosok baru—misterius, elegan, dan berkuasa. Di balik senyumnya yang tenang, tersimpan rencana yang telah ia bangun dengan sabar: menghancurkan satu per satu kehidupan
orang-orang yang pernah menjatuhkannya… termasuk Arkan.
Ketika Arkan kembali bertemu dengan wanita yang dulu ia buang, ada sesuatu yang berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 — THE FOUNDER
Langkah itu menggema pelan di lorong bawah tanah.
Tok.
Tok.
Tok.
Tidak terburu-buru.
Tidak panik.
Seolah pria itu tahu…
semua orang di ruangan ini tidak akan bisa lari darinya.
Udara terasa berubah.
Bahkan Mahesa—
yang sejak tadi terlihat paling tenang—
sekarang berdiri lebih tegak.
Lebih waspada.
Dan itu membuat perutku semakin tidak nyaman.
Sosok pria itu akhirnya muncul dari lorong gelap.
Jas hitam.
Sarung tangan kulit.
Tubuh tinggi.
Rapi.
Wajahnya tidak tua.
Tidak juga muda.
Mungkin sekitar akhir empat puluhan.
Tapi matanya…
dingin sekali.
Mata seseorang yang terlalu lama melihat manusia seperti bidak.
Dia berhenti beberapa langkah dari kami.
Tatapannya langsung jatuh ke arahku.
Dan pria itu tersenyum kecil.
“Jadi ini anak yang membuat semuanya berantakan.”
Dadaku langsung menegang.
Ayahku langsung berdiri di depanku.
Protektif.
“Jangan dekat-dekat dia.”
Pria itu tertawa kecil.
“Kau masih sama.”
Tatapannya beralih ke ayahku.
“Selalu emosional saat menyangkut keluarga.”
Aku menatap pria itu tajam.
Dan entah kenapa—
aku merasa pernah melihatnya.
Bukan wajahnya.
Tapi caranya bicara.
Cara dia menatap orang.
Seperti seseorang yang terbiasa menang.
“Jadi…”
Aku akhirnya bicara.
“Kamu The Founder?”
Pria itu menoleh perlahan ke arahku.
“Orang-orang suka memberi nama berlebihan.”
“Jawab saja.”
Dia tersenyum tipis lagi.
“Ya.”
Sunyi.
Tidak ada ledakan.
Tidak ada drama besar.
Dan justru itu yang mengerikan.
Karena monster paling berbahaya memang biasanya terlihat biasa saja.
“Kamu membunuh keluargaku.”
Suaraku mulai dingin.
“Tidak.”
Jawabannya cepat.
Tenang.
“Aku hanya memberi perintah.”
Jawaban itu langsung membuat darahku mendidih.
Arkan langsung menahan lenganku sebelum aku maju.
“Jangan terpancing.”
Bisiknya pelan.
Tapi pria itu mendengarnya.
Dan dia tersenyum kecil.
“Dia pintar.”
Tatapannya ke Arkan sekarang.
“Jauh lebih pintar daripada ayahmu.”
Ayah Arkan langsung mengeras.
“Kau tidak pantas menyebut dia.”
The Founder menghela napas pelan.
“Padahal aku menyukai kalian dulu.”
Aku hampir muak mendengarnya.
“Kamu psikopat.”
Dia tertawa kecil.
“Semua orang selalu menyebut begitu pada orang yang tidak bisa mereka kendalikan.”
Ruangan kembali sunyi.
Lalu—
The Founder mulai berjalan pelan mengelilingi kami.
Seolah sedang mengamati.
Menilai.
“Ayahmu…”
Tatapannya kembali ke arahku.
“…adalah pria yang sangat berbakat.”
Aku tidak menjawab.
“Dia menciptakan sistem luar biasa.”
“Tapi dia melakukan kesalahan.”
“Apa?”
Pria itu berhenti tepat di depanku.
“Dia mulai punya hati.”
Aku langsung menatapnya penuh jijik.
“Dan menurutmu itu kesalahan?”
“Dalam dunia kami?”
Dia tersenyum tipis.
“Ya.”
Sunyi.
“Ayahmu lupa satu aturan penting.”
Tatapannya berubah dingin.
“Orang yang ingin mengubah dunia…”
Dia mendekat sedikit.
“…tidak boleh mencintai siapa pun.”
Kalimat itu membuat tenggorokanku terasa sesak.
Karena sekarang aku mulai mengerti sesuatu.
Orang-orang seperti mereka…
menganggap perasaan sebagai kelemahan.
Dan mungkin—
itu sebabnya hidupku dihancurkan.
“Aku tidak akan kasih apa pun ke kamu.”
Kataku dingin.
The Founder tertawa kecil.
“Kamu pikir kamu punya pilihan?”
“Tentu.”
Aku menatapnya tajam.
“Aku bisa mati.”
Ruangan langsung sunyi.
Mahesa langsung menegang.
Ayahku juga.
Tapi The Founder…
malah tersenyum.
“Tidak.”
Tatapannya terasa
menyeramkan sekarang.
“Kamu tidak akan bunuh diri.”
“Kenapa kamu yakin?”
“Karena kamu terlalu mirip ayahmu.”
Dadaku langsung terasa panas.
“Kalian semua keras kepala.”
Dia melangkah mundur pelan.
“Dan kalian semua selalu berpikir bisa menyelamatkan semua orang.”
Arkan berdiri sedikit lebih depan sekarang.
Melindungiku tanpa sadar.
“Kita selesai ngobrol.”
Suaranya dingin.
“Aku rasa tidak.”
The Founder mengangkat tangan sedikit.
Dan di detik berikutnya—
lebih banyak orang bersenjata muncul dari lorong belakang.
Sial.
Kami langsung dikepung.
Leon mengumpat pelan.
“Jumlah mereka terlalu banyak.”
Ayahku terlihat frustrasi.
“Seharusnya aku menghancurkan sistem itu dulu…”
“Tapi kau tidak bisa.”
The Founder memotong santai.
“Karena jauh di dalam dirimu…”
Tatapannya tajam.
“…kau juga ingin dunia tahu siapa kami.”
Sunyi.
Dan ayahku…
tidak menyangkal.
Aku langsung sadar sesuatu.
Dia memang berniat membongkar semuanya.
Bahkan kalau harus menghancurkan dirinya sendiri.
“Alena.”
Suara ayahku tiba-tiba berubah serius.
Aku menoleh cepat.
“Dengar baik-baik.”
Nada suaranya membuat jantungku menegang.
“Kalau nanti terjadi sesuatu…”
“Jangan.”
Aku langsung menggeleng.
“Ayah tidak bisa buka sistem itu.”
The Founder tersenyum kecil.
“Benar.”
“Karena sistem itu sekarang sudah terikat penuh ke kamu.”
Aku langsung menatap ayahku.
“Bagaimana cara menghancurkannya?”
Sunyi.
Ayahku terlihat ragu.
“AYAH.”
Dia menutup mata sebentar.
“Kalau sistem aktif penuh…”
Suaranya pelan.
“…otakmu akan jadi jalur utamanya.”
Tubuhku langsung terasa dingin.
“Apa maksudnya?”
“Akses data itu akan memakai respons neuralmu.”
Aku makin tidak mengerti.
Ayahku terlihat hancur saat menjelaskan.
“Dan kalau dipaksa terlalu jauh…”
Tatapannya bergetar.
“…kamu bisa mati.”
Sunyi total.
Aku bahkan tidak bisa bernapas beberapa detik.
Jadi ini alasan mereka menjagaku tetap hidup.
Karena aku bukan cuma kunci.
Aku juga wadahnya.
“Brengsek…”
Bisik Arkan pelan di sampingku.
Aku bisa merasakan tangannya mengepal keras.
The Founder justru terlihat tenang.
“Kami sebenarnya tidak ingin menyakitimu.”
Aku langsung tertawa kecil.
“Lucu sekali.”
Tatapanku penuh kebencian sekarang.
“Kalian menghancurkan seluruh hidupku.”
Dia mengangguk kecil.
“Dan tetap saja kamu masih berdiri.”
Ada sesuatu aneh di matanya saat melihatku.
Kagum.
Dan itu membuatku semakin muak.
“Serahkan dirimu.”
“Aku lebih pilih mati.”
Tatapan The Founder langsung berubah.
Sedikit.
Tipis sekali.
Tapi aku melihatnya.
Marah.
Akhirnya.
Monster itu punya emosi juga rupanya.
Dan di detik itulah—
lampu lorong tiba-tiba mati total.
Gelap.
Seketika.
Suara tembakan langsung pecah di mana-mana.
DUAK!
DUAK!
DUAK!
Teriakan terdengar.
Langkah kaki kacau.
Seseorang menarik tanganku keras.
“Lari!”
Suara Arkan.
Aku langsung ikut bergerak dalam gelap.
Tapi sebelum kami jauh—
suara The Founder terdengar dari belakang.
Tenang.
Sangat tenang.
“Kamu boleh lari sekarang, Alena.”
Langkahku langsung melambat sepersekian detik.
Dan kalimat berikutnya—
membuat darahku membeku.
“Karena cepat atau lambat…”
Suara itu menggema di lorong gelap.
“…kamu sendiri yang akan datang kepadaku.”