NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Untuk Sang Jendral

Pengantin Pengganti Untuk Sang Jendral

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Keluarga / Cinta Terlarang / Cinta Seiring Waktu / Era Kolonial / Mengubah Takdir
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jeju Oranye

"Aku tidak mau menikah dengan laki-laki itu, Kak. Tolong gantikan aku."

Violet tahu ia seharusnya menolak. Tapi dua puluh dua tahun ia menjadi anak pungut di rumah orang mengajarinya satu hal: hutang budi tidak pernah benar-benar lunas.

Maka ia berdiri di pelaminan itu. Mengenakan gaun yang bukan untuknya, membawa nama yang bukan miliknya sejak lahir, menikahi laki-laki yang bahkan tidak menoleh padanya sampai akad selesai diucapkan.

Jenderal Muda Adriel Voss. Kejam, dingin, dan menyimpan kehancuran di balik setiap keputusannya. Pernikahan ini seharusnya menjadi awal penderitaan Violet.

Yang tidak ia duga, justru di rumah laki-laki itulah untuk pertama kali ada seseorang yang melihatnya sebagai manusia, bukan sekadar bayangan yang mengisi ruang kosong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#22

"Apa kau yang meminta ibu Ayln untuk datang? " Pertanyaan itu cepat dan to the point.

Violet membeku di tempatnya, mendadak otaknya blank untuk menjawab karena tak menyangka Adriel akan langsung mencerca nya.

"Cepat jawab, atau bungkam mu ini ku anggap sebagai jawaban kalau kau memang yang meminta ibu Ayln untuk kesini. " mata elang Adriel tajam menatap membuat seluruh ruangan terasa pengap untuk Violet.

Violet membuka mulutnya, lalu menutup nya kembali, otaknya berputar cepat untuk memilih kata-kata yang tepat, namun sebelum ia mengeluarkan satu patah pun, suara cempreng Nadia berhasil mengalihkan atensi keduanya.

"Ady, tolong aku pliss! " wanita itu berlari ke arah Adriel dengan tergesa-gesa.

"Nadia." gumam Adriel, merasa terganggu dengan kedatangan wanita itu namun ia sembunyikan. "ada apa? "

"Aku tadi niatnya mau jalan- jalan menggunakan sepeda yang baru kubeli, tapi rantainya tiba-tiba copot, tolong aku ya. " mata Nadia berbinar seperti puppy eyes berharap dengan itu Adriel langsung luluh.

Mendadak hawanya tidak nyaman, dengan Adriel di tengah sementara di sebelah kanannya violet dan sebelah kirinya Nadia.

Menyadari Adriel tak langsung luluh, Nadia tak menyerah. Mendekat dan sengaja menggelayutkan tangannya dengan manja di pundak Adriel, menaruh dagunya di sana. Seolah-olah hanya ada mereka berdua, tak menganggap Violet sama sekali padahal Nadia jelas tahu status violet sebagai istri Adriel.

"Aku mohon ya... sejak kecil kan selalu kamu yang ngebantu aku kalau ada masalah pada sepeda ku. Kamu ingat kan? kita selalu sepedaan sampai ke desa sebelah, dan kamu yang selalu menuntun ku. Aku awalnya ingin mengajakmu untuk nostalgia, tapi aku tahu kok kamu udah punya istri," kata perempuan itu dengan manja. Lalu matanya sengaja melirik Violet dengan rasa bersalah yang sebenarnya adalah pura- pura.

"Violet, maaf ya bukan maksud ku untuk membuat mu cemburu. "

Violet langsung mengernyit, meski tergagap sedikit. "Maaf, tapi aku tidak apa- apa."

"Jangan berbohong, Violet. wajahmu mengatakan yang sebaliknya. Maaf ya, mengganggu pembicaraan kalian. Tapi serius deh ini genting banget. "

Adriel menatap Violet lekat, mencari sesuatu yang dimaksud Nadia. Matanya menyipit saat Violet berusaha menghindari tatapannya.

"Aku sama sekali tidak apa- apa, kalian lanjutkan saja. "

"Beneran? kamu wanita yang luas hati Violet. Oh ya, tapi sebenarnya juga tidak apa- apa ya, toh aku dengar pernikahan kalian juga cuma pura-pura. "

Deg! Violet terkejut. Jadi sebenarnya Nadia juga sudah tahu soal itu. Tapi kenapa tingkahnya aneh dan sungguh menyebalkan seperti itu?

Apa sebenarnya yang wanita ini inginkan?

"Upsss, maaf. " Nadia langsung menutup mulutnya dengan wajah sesal yang lagi- lagi hanya kamuflase. "Aku bukannya mau menyinggung soal ini, maaf ya Violet. "

"Sudahlah! " satu suara berat dan penuh penekanan keluar dari mulut Adriel.

Lalu pria itu menatap Nadia. "Nadia, aku tahu kau wanita yang terdidik, jadinya kau pasti tahu tidak sopan memotong pembicaraan orang. Dan soal rantai sepeda mu yang copot itu, banyak pekerja disini yang bisa membenarkan nya. "

Wajah Nadia tampak terkejut mendengar Adriel mengatakan itu.

"Ady, kok kamu ngomong kaya gitu sih. " nada Nadia langsung dibuat sedih dengan tangannya yang masih menggenggam erat tangan Adriel.

Hingga akhirnya Adriel yang menariknya sendiri.

"Jaga batasan Nadia, aku adalah pria yang beristri. "

Nadia kembali terkejut, kali ini sudah ada kaca- kaca di matanya lalu dia merengek seperti anak kecil.

"Adriel, kamu sungguh jahat! " setelah berteriak itu, dia berlari dan pergi dengan begitu dramatis.

Tapi Adriel tidak peduli, dia kembali menatap Violet.

Sebelum dia mengatakan apa- apa, Violet justru menundukkan wajahnya.

"Maaf, aku harus pergi. "

Dan mau tidak mau Adriel hanya bisa menyaksikan perempuan itu melenggang meninggalkan nya.

Kenapa jadi seperti ini?

Adriel sama sekali tak mengerti.

Dan berdiri di sana, nyonya Ayln memperhatikan semuanya lantas menggeleng pelan.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Malam itu rumah yang biasanya hanya berisi dua orang dan keheningan yang sudah mereka bagi dengan cara masing-masing mendadak berbeda nadanya. Nyonya Ayln di kamar tamu pertama, Nadia di kamar tamu kedua, belum keluar kamar sama sekali sejak Adriel membentak dirinya, bahkan makan pun harus diantarkan dulu oleh bibi Matilda ke kamarnya.

 Sementara Violet di kamarnya sendiri dengan pintu tertutup sejak selesai makan malam.

Ia sedang membuka buku di perpustakaan kecil ketika ketukan di pintunya terdengar.

Bukan tiga ketukan pelan khas Bibi Matilda.

Dua ketukan. Lebih keras.

"Masuk."

Adriel membuka pintu.

Ia tidak duduk. Berdiri di ambang pintu dengan satu tangan bertumpu di kusen dan ekspresi yang sudah sangat Violet kenal sebagai ekspresi seseorang yang sedang menahan sesuatu supaya tidak keluar dengan cara yang tidak ia inginkan.

"Kenapa kamu menghubungi Ibu Ayln."

Bukan pertanyaan. Kalimat itu keluar dengan nada yang sudah memutuskan jawabannya sebelum ditanya.

Ini keduanya, dan seperti nya kali ini Violet harus jujur.

Violet menutup bukunya pelan. "Karena menurut saya itu perlu."

"Apa ini tentang ayahku? " Tebak laki-laki itu, karena kali ini dikamar Violet, mereka jadi leluasa untuk berbicara.

"Tentang banyak hal." jawab Violet.

Rahang Adriel bergerak. "Kalau tentang ayahku, aku sudah bilang sebelumnya. Tidak ada yang perlu diubah. Tidak ada yang perlu diselesaikan. Dan kehadiran Ibu Ayln tidak akan mengubah apapun."

"Sudah berapa lama perang dingin itu?" tanya Violet dengan nada yang tidak menyerang, hanya menanyakan fakta. "Bertahun-tahun? Satu dekade?"

"Itu bukan urusanmu."

"Mungkin tidak." Violet berdiri dari kursinya. "Tapi saya tinggal di rumah ini dan saya melihat bagaimana luka itu bekerja di tubuhmu setiap malam waktu kamu tidur."

Adriel tampak terkejut sesaat lalu melangkah masuk. Satu langkah. Dua langkah.

Violet tidak mundur.

Tangannya yang bergerak cepat mencengkeram pergelangan tangan Violet, bukan menyakiti, tapi cukup untuk menghentikan gerakannya dan menunjukkan bahwa ia sangat serius tentang ini.

"Jangan ikut campur urusan yang bukan urusanmu, Violet." Suaranya turun satu nada. "Kamu tidak tahu apa-apa tentang aku dan ayahku."

"Saya tahu cukup banyak."

"Dari mulut orang lain."

"Dari bekas luka di punggungmu yang saya lihat waktu kamu mimpi buruk dan bajumu terangkat." Violet menatapnya langsung. "Itu bukan bekas latihan, Adriel."

Sesuatu bergerak di wajah Adriel.

Bukan marah. Sesuatu yang lebih dalam dari itu dan jauh lebih sulit ditangani daripada amarah biasa.

"Kamu harus belajar menerima luka itu," kata Violet pelan. "Bukan melupakan. Bukan memaafkan kalau belum siap. Tapi menerima bahwa itu terjadi dan kamu masih di sini."

Adriel tertawa.

Bukan tawa yang hangat. Tawa sinis yang pendek dan tajam.

"Kenapa kamu begitu peduli?" tanyanya.

Satu pertanyaan.

Empat kata.

Dan Violet terdiam.

Bukan karena tidak punya jawaban. Tapi karena jawaban yang pertama kali muncul di kepalanya adalah jawaban yang tidak ia rencanakan untuk ada di sana dan ia tidak tahu sejak kapan ia mengizinkan sesuatu itu tumbuh tanpa ia sadari.

Adriel melihat wajahnya.

Melihat sesuatu di sana yang tidak bisa Violet sembunyikan cukup cepat.

Dan laki-laki itu melakukan sesuatu yang tidak Violet antisipasi.

Ia mencium Violet.

Bukan seperti malam pertama yang berantakan dan penuh alkohol. Ini berbeda. Singkat tapi penuh, seperti pertanyaan dan pernyataan sekaligus, seperti seseorang yang akhirnya berhenti berpura-pura tidak ingin melakukan sesuatu yang sudah ia tahan terlalu lama.

Ketika mereka terpisah, jarak mereka tidak lebih dari satu jengkal.

Mata Adriel memandang Violet dengan tatapan yang untuk pertama kali sejak Violet mengenalnya tidak menyembunyikan apapun. Lembut, dan sendu sekaligus.

"Apakah ini karena cinta?" suaranya rendah, hampir berbisik. "Katakan kalau kau mencintaiku."

Ruangan kecil itu sunyi.

Violet menatapnya dengan napas yang tidak teratur dan sesuatu di dadanya yang tidak bisa lagi berpura-pura tidak ada.

Tapi sebelum satu kata pun keluar dari mulutnya, dari sudut pandangannya ia menangkap sesuatu di ambang pintu yang tadi tidak tertutup rapat.

Siluet seseorang yang berdiri di sana.

Nadia.

Berdiri dengan tangan di sisi tubuhnya dan ekspresi di wajahnya yang tidak bisa disebut lain selain satu kata.

Marah.

****

BERSAMBUNG

1
Arai Cadella
Aku tinggalkan jejak. Aku suka pemilihan kata-katanya, sederhana namun sampai.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!