NovelToon NovelToon
Pendekar API Dan ES

Pendekar API Dan ES

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:28.6k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Terlahir dengan dua elemen sekaligus, Yan Bingchen justru harus menanggung kutukan yang membuatnya kesulitan mengendalikan kekuatannya sendiri.

Dianggap berbahaya bahkan oleh keluarganya, ia tumbuh dalam kesepian dan penolakan sejak kecil.

Namun, ketika kesedihan dan amarahnya mencapai puncak, Yan Bingchen memilih meninggalkan klannya. Pada saat itulah, kekuatan sejatinya akhirnya bangkit sepenuhnya.

Kini, di dunia yang memandangnya sebagai ancaman, mampukah ia membuktikan bahwa dirinya bukanlah bencana … melainkan calon yang akan berdiri di puncak kekuatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Ketegangan

Gerbang emas Aula Agung Kekaisaran Shan terbuka perlahan, mengeluarkan aroma dupa cendana yang menenangkan namun sarat dengan tekanan Qi yang menyesakkan.

Yan Bingchen melangkah masuk dengan ketenangan yang luar biasa.

Meski di belakangnya Mo Ran terus gemetar dan Si Hitam hanya berani menunduk, Yan Bingchen menunjukkan tata krama seorang bangsawan tinggi yang sempurna—warisan didikan keras di masa kecilnya yang tak bisa dihapus begitu saja.

​Aula itu sangat luas, dengan pilar-pilar naga yang melilit hingga ke langit-langit yang tinggi.

Di ujung aula, di atas takhta emas yang memancarkan cahaya menyilaukan, duduklah Kaisar Shan.

​Pria itu tampak berusia empat puluhan, namun auranya begitu agung hingga udara di sekitarnya seolah tunduk.

Di sekelilingnya, belasan selir cantik berpakaian sutra tipis bersandar dengan anggun, namun mata mereka semua tertuju pada sosok pemuda berambut dualitas yang baru saja masuk.

​Yan Bingchen berhenti tepat di batas jarak yang ditentukan oleh protokol kekaisaran.

Ia tidak bersujud, namun ia membungkukkan tubuhnya dengan sudut yang sempurna—menunjukkan rasa hormat tanpa merendahkan martabatnya.

​"Hamba, Bingchen, menghadap Yang Mulia Kaisar Shan," suaranya tenang, bergema di aula yang sunyi.

​Kaisar Shan tidak langsung menjawab. Matanya yang tajam menatap Yan Bingchen dengan intensitas yang mengerikan.

Sebagai pendekar Tahap Pemutus Belenggu (Ranah ke-7), sang Kaisar bisa merasakan setiap getaran energi di tubuh Yan Bingchen.

Ia melihat potensi yang menakutkan, sebuah kekuatan yang belum pernah ia temui dalam berabad-abad sejarah Kekaisaran Shan.

​"Angkat kepalamu, Anak Muda," suara Kaisar berat dan berwibawa.

​Yan Bingchen mendongak. Mata merah-birunya bertemu langsung dengan tatapan sang Kaisar.

Keheningan yang mencekam menyelimuti aula selama beberapa saat. Para selir menahan napas; belum pernah ada yang berani menatap mata Kaisar secara langsung tanpa gemetar.

​"Aku melihat keberanianmu di arena," lanjut Kaisar. "Kau membantai para pembunuh itu seolah mereka hanya ilalang. Katakan padaku, apa yang diinginkan oleh seorang putra dari klan besar Benua Binghuo di tanahku ini?"

​Yan Bingchen tidak terkejut mendengar Kaisar mengetahui asal-usulnya. Di ranah ke-7, informasi dan intuisi kaisar sudah melampaui logika manusia biasa.

​"Hamba hanyalah seorang pengembara yang mencari jalan kebenaran, Yang Mulia," jawab Yan Bingchen dengan kata-kata yang sangat tertata. "Kekaisaran Shan adalah tempat di mana energi langit dan bumi bertemu, hamba hanya ingin belajar dari keseimbangan tersebut."

​Kaisar terkekeh, suara tawa yang mengandung getaran energi hingga membuat kaca-kaca aula bergetar. "Jawaban yang cerdas. Namun, aku tidak bisa membiarkan permata sepertimu berkeliaran tanpa arah. Kekaisaran Shan membutuhkan 'Pedang' baru. Jika kau bersumpah setia menjadi bawahan langsungku, aku akan memberimu sumber daya tak terbatas untuk mencapai Tahap Inti Sejati dalam waktu satu bulan."

​Yan Bingchen bisa merasakan niat tersembunyi di balik tawaran itu. Kaisar ingin mengikatnya, menjadikannya anjing perang yang kuat.

Kaisar sadar bahwa membunuh Yan Bingchen atau mencoba mengekstraksi kekuatannya akan memicu perang total dengan dua klan raksasa di Benua Binghuo—sesuatu yang bahkan Kaisar Shan pun ingin hindari.

Namun, menjadikan Yan Bingchen sebagai bawahan resmi adalah cara paling elegan untuk menguasai kekuatan tersebut tanpa memicu konflik diplomatik.

​"Suatu kehormatan besar menerima tawaran Yang Mulia," Yan Bingchen menjawab dengan tenang, matanya tak berkedip. "Namun, hamba masih memiliki belenggu di dalam hati yang belum terputus. Menjadi bawahan saat ini hanya akan mengotori nama besar Kekaisaran jika hamba gagal mengendalikan gejolak energi hamba sendiri."

​Para selir berbisik-bisik. Berani menolak tawaran Kaisar adalah tindakan yang sangat berisiko.

​Kaisar Shan menyipitkan mata. Tekanan di ruangan itu mendadak meningkat sepuluh kali lipat.

Mo Ran hampir jatuh pingsan di belakang, namun Yan Bingchen tetap berdiri tegak, meski kakinya mulai retak ke dalam lantai batu.

Kekuatan matanya mulai berdenyut sakit, namun ia menahannya dengan kesadaran penuh.

​"Kau menolakku?" tanya Kaisar dengan nada dingin yang menusuk tulang.

​"Hamba hanya memohon waktu untuk membuktikan kelayakan hamba, Yang Mulia," balas Yan Bingchen tanpa rasa takut. "Hamba ingin mengikuti tradisi pengembara. Jika hamba bisa melewati ujian yang Yang Mulia berikan, barulah hamba layak berdiri di bawah bendera Shan."

​Kaisar Shan terdiam sejenak, lalu perlahan tekanan itu menghilang. Ia tampak tertarik dengan keberanian dan tata krama pemuda ini. "Baiklah. Aku suka matamu yang penuh ambisi. Aku akan memberimu hadiah kemenanganmu—tapi ingatlah, di Benua Tiandi ini, tidak ada yang benar-benar gratis."

​Kaisar melambaikan tangan, dan seorang pelayan membawa sebuah kotak kecil berisi Pil pelindung jantung—sumber daya langka untuk membantu kenaikan ranah.

​"Ambillah hadiah ini. Pergilah dan kuatlah. Tapi ketahuilah, Yan Bingchen ... sejauh mana pun kau berlari, bayangan Kekaisaran Shan akan selalu ada di bawah kakimu."

​Yan Bingchen menerima kotak itu dan membungkuk hormat untuk terakhir kalinya. "Terima kasih atas kemurahan hati Yang Mulia."

​Ia segera berbalik, memberi isyarat pada Mo Ran untuk segera pergi. Di dalam hatinya, ia tahu bahwa ia baru saja membuat perjanjian dengan iblis.

Ia harus segera pergi dari ibukota sebelum kaisar berubah pikiran atau sebelum para selirnya mulai menggunakan intrik untuk menjeratnya.

1
Ibad Moulay
Uraaa 🔥🔥🔥🔥
Ibad Moulay
Lanjutkan 🔥🔥🔥
Ibad Moulay
Uraaa
Ibad Moulay
Lanjutkan. 🔥🔥🔥
Aman Wijaya
jooooz kotos kotos lanjut terus Thor
Ibad Moulay
Uraa 🔥🔥🔥
Ibad Moulay
Lanjutkan 🔥🔥🔥
Abil Amar
iy in kyk dicerita dlegenda pendekar sabit yan bingchen bntu shan luo wktu mau dbnuh ayahny mau rebut kristal leluhurny yg dbnuh yan bingchen ayahnya shan feng
Abil Amar
emmmmmm kyk pernah dengar y klu g slah ceritanya ad dbgian menolong shan luo dlegenda pendekar sabit
Arken: satu Dunia
total 1 replies
Ibad Moulay
Merah
Ibad Moulay
Langit
Ibad Moulay
Uraaa 🔥🔥🔥
Ibad Moulay
Lanjutkan 🔥🔥🔥
Surianto Tiwoel
bantai abis,, mantap Ferguso
Marsahhayati
justru yg tidak waras adalah orang yg apa adanya.,👍
Ibad Moulay
Pedang Darah
Ibad Moulay
Sekte
Ibad Moulay
Uraaa 🔥🔥🔥
Ibad Moulay
Lanjutkan 🔥🔥🔥
Ibad Moulay
Uraaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!