Laura Hiraya yang baru berusia 20 tahun harus rela di jodohkan dengan putra konglomerat. Keputusan egois keluarganya menjadikan ia alat tukar di dalam bisnis. Keluarga konglomerat itu menjanjikan sebuah kerjasama bisnis, dan sebagai imbalannya mereka menginginkan calon istri untuk putra mereka, Gaharu Gardapati.
Gaharu, pria cacat yang sialnya sangat tampan. Kecelakaan tragis 2 tahun lalu membuatnya harus terduduk di atas kursi roda. Ia kehilangan kedua fungsi kakinya. Itu, bersifat sementara. Ia masih menjalani perawatan.
Lalu.. bagaimana kisah rumah tangga si gadis ceria dan aktif seperti Laura Hiraya yang di hadapkan dengan Gaharu Gardapati si pria arogan yang pemarah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanesa Dintiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
08. 5 Antek-antek & kelas seni (2)
“Harus tenang, kalo hasil akhirnya nggak sesuai sama yang di bilang Pak Baskoro, kamu bisa-bisa revisi sampe nanti malem, emang mau?”
“Nggak lah! Gila aja sampe malem.”
“Perhatiin lagi shading-nya, Hel.”
“Lagi gue usahain.”
Percakapan mereka terhenti saat mereka sadar suara pantofel si dosen berhenti tidak jauh dari mereka. Lalu, sebuah bayangan tubuh terhenti di antara mereka berdua. Tangan Pak Baskoro terjulur dan mengambil kanvas milik Rahel.
Sedangkan si empu, sudah memasang wajah melas sambil menatap sahabatnya.
Matilah kita.
Pak Baskoro tidak langsung bicara. Ia mengangkat kanvas itu setinggi mata, memutarnya sedikit ke arah cahaya lampu ruangan, gestur yang seakan-akan sedang mendeteksi kesalahan. Dan hal itu merupakan sebuah adegan berbahaya yang mereka hindari.
Sial.
“Saudari Rahel,” suara Pak Baskoro memecah keheningan. “Di bandingkan sebuah pohon Cemara, ini lebih terlihat seperti sayur brokoli.”
Ungkapan gamblang itu menghancurkan kepercayaan diri Rahel yang tersisa sedikit. Dan sekarang, dengan mudahnya dosen pengganti itu mengucapkan kata-kata yang menghunus sampai ke ulu hatinya.
“Maaf, pak.” Hanya kata maaf yang dapat Rahel ucapkan. Keberaniannya untuk menyela dan menjelaskan pupus sudah hanya karena kata 'seperti sayur brokoli'.
“Tidak dapat mengatur gradasi, pemberian shading-nya pun tidak jelas, akibatnya? Karya ini terlihat datar, tidak memiliki nyawa. Terlihat seperti lukisan anak TK.”
Rahel semakin berkecil hati. Ia menatap lukisan yang ia lukis setengah mati saat kanvas itu kembali pada tempatnya. Ia sudah berusaha semaksimal mungkin, kenapa tidak ada apresiasi sama sekali? Walaupun lukisannya tidak sesempurna yang lain, namun jika sampai di bandingkan dengan lukisan anak TK itu benar-benar keterlaluan.
'Untung Lo lebih tua, coba kalo seumuran, udah gue bejek-bejek Lo kayak ayam geprek.'
'Mentang-mentang jago, recall-recall depan gue. Gue smackdown juga Lo bakal K.O! Dasar tua!”
Banyak gerutuan kesal di dalam hati Rahel. Wajahnya mungkin terlihat tenang, namun suara hatinya siapa yang tahu. Sumpah serapah sampai bahasa kebun binatang-pun Rahel curahkan di dalam hati.
"Seni adalah disiplin, disiplin yang menuntut konsistensi, kesabaran, dan pengelolaan diri untuk melahirkan karya. Bukan sekadar curahan perasaan yang berantakan. Perbaiki dalam sepuluh menit, atau saya anggap kamu absen hari ini."
“Baik, Pak.” Rahel menyahut pelan.
Saat Pak Baskoro berbalik meninggalkan tempat mereka, dengan kesadaran penuh gadis itu mengacungkan kedua jari tengahnya kepada dosen tersebut. Laura di sampingnya melotot tidak percaya.
“Rahel,” tegurnya pelan. Ia menarik-narik tangan Rahel agar turun. Bisa habis nanti sahabatnya jika ketahuan.
Laura mengikuti langkah kaki Pak Baskoro yang mulai menjauh dari tempat mereka. Bernafas lega saat dosen tersebut keluar dari dalam kelas untuk mengangkat sebuah panggilan.
.
.
.
“Sumpah ya itu dosen ngeselin banget, mentang-mentang jago!”
“Coba aja kalo seumuran, udah gue smackdown sampe K.O.”
“Bisa-bisanya lukisan gue di samain sama lukisan anak TK.”
“Kalo gue nggak punya hati udah gue jadiin manusia geprek kali itu dosen, nyebelin banget.”
“Sayur brokoli, Lo bayangin, Lau. Se malu apa gue pas lukisan gue di bilang kayak sayur brokoli?”
Sepanjang perjalanan setelah kelas mereka selesai, mereka berniat untuk mengisi perut terlebih dahulu sebelum pulang. Otak dan tenaga mereka terkuras karena kelas hari ini benar-benar berat. Di tambah lagi dosen pengganti yang super duper menyebalkan menurut Rahel.
Di sampingnya, Laura hanya dapat menyimak setiap gerutuan yang keluar dari bibir sahabatnya. Dari keluar kelas sampai kini mereka berjalan di lorong menuju kantin, bibir sahabatnya itu tidak pernah diam.
“Si tua banyak gaya!”
“Aduh, Hel. Mulut kamu nggak cape emangnya bahas itu terus?”
“Nggak! Gue kesel banget, Lau. Lo bayangin deh di posisi gue. Tapi nggak mungkin si, di setiap praktik nilai Lo bagus semua. Tapi Lau...” Rahel menatap melas kepada Laura. Laura yang tidak tega langsung saya memberikan rangkulan dan kata-kata penyemangat.
“Udah.. nggak apa-apa, namanya juga belajar. Nggak masalah kok, manusia nggak pernah luput dari kesalahan, semua orang juga pernah salah.”
“Tapi bayangan pas Pak Baskoro bilang lukisan gue kayak sayur brokoli terus terngiang-ngiang, Lau. Nggak bisa ilang di otak gue,” Rahel menepuk-nepuk kepalanya berapa kali. Si gadis yang biasanya pecicilan ini jadi galau gara-gara kejadian di kelas tadi.
“Heh, jangan dipukulin gitu kepalanya, nanti sel-sel kreatifmu malah kabur beneran,” goda Laura sambil menarik tangan Rahel. “Lagian, kalau dipikir-pikir, brokoli itu kan sayuran paling sehat. Mungkin maksud Pak Baskoro lukisan kamu itu... bergizi?”
Rahel mendelik tajam, meski sudut bibirnya mulai berkedut menahan senyum karena logika ngawur Laura. Otak sahabatnya ini kadang sengklek kadang juga puitis ngalahin anak-anak sastra.
“Bergizi apanya! Itu penghinaan seni namanya, Lau! Gue niatnya bikin pohon cemara yang rimbun dan estetik, eh malah disangka sayur brokoli. Mana dia ngomongnya keras banget lagi di kelas, anak-anak lain pasti pada dengerin. Malu banget gue. Lagian bentuk pohon Cemara sama sayur brokoli bedah jauh, gila. Bisa-bisanya di samain.”
Dada gadis itu kembali naik turun karena kesal. Hidungnya kembang kempis menahan amarah, tangan terkepal erat siap meninju siapa saja yang menyinggungnya saat ini.
Laura terkekeh pelan, ia mengangkat tangannya lalu mengacak pelan puncak kepala sahabatnya itu.
“Udah ah, nggak usah di pikirin lagi. Pak Baskoro memang kalau kritik suka nggak pakai filter, tapi gitu-gitu juga dia emang jago sih, aku akuin. Cuma ya gitu, minusnya di tutur katanya aja yang blak-blakan tanpa di filter dulu.”
Rahel menghela napas panjang, bahunya yang tadi tegang mulai merosot. “Ya, makanya itu gue kesel banget. Kapan Miss Shenina masuk lagi. Jadi kangen, di banding Pak Baskoro gue lebih baik di cerewetin Miss Shenina deh, Lau.”
“Aku juga nggak tahu kapan Miss masuk lagi. Cuti melahirkan biasanya tiga bulan 'kan?”
“Lama banget, bisa habis di goreng sampe gosong gue kalo berhadapan terus sama si dosen tua itu.”
“Eh, tapi kamu sadar nggak sih, Hel? Setiap jadwal Pak Baskoro yang jadi sasaran empuk omelan itu kamu terus? Minggu kemarin juga gitu, 'kan?”
Rahel terdiam sejenak, matanya mengerjap-ngerjap seolah sedang memutar ulang memori pahit di kelas-kelas sebelumnya. Benar juga.
Minggu lalu soal komposisi warna yang dibilang 'mirip tumpahan cat sisa renovasi rumah', dan dua minggu lalu soal teknik shading yang katanya 'lebih mirip noda jelaga di pantat panci', terus hari ini lukisan pohon Cemara yang mirip 'sayur brokoli'.
“Eh, iya juga ya?” Rahel menoleh ke Laura dengan ekspresi horor yang dibuat-buat. “Lau, jangan-jangan... gue punya utang darah di kehidupan sebelumnya sama itu dosen? Atau muka gue mirip sama mantan yang pernah nyakitin dia?”
Laura tertawa renyah, menarik tangan Rahel untuk masuk ke dalam kantin sebelum membalas perkataan sahabatnya itu.
“Hush! Ngaco banget. Tapi kalo bener sih, kayaknya bukan karena mirip sama mantannya deh. Tapi mungkin Pak Baskoro suka sama kamu,” goda Laura dengan tawa jenaka.
Rahel menatap ngeri kepada Laura. Tubuhnya bergidik geli saat mendengar itu.
“Amit-amit! Walaupun gue emang suka pria matang, tapi kalo modelan Pak Baskoro? Nggak dulu. Mati muda gue yang ada.”
“Tapi walaupun umur 38, Pak Baskoro masih keliatan bugar, nggak keliatan kayak duda anak dua, Hel. Beliau juga tinggi tegap kayak artis-artis luar yang kamu idola-in itu. Dan yang penting beliau kaya, aku yakin kamu nggak akan kekurangan makanan kalo nikah sama beliau.”
Plak!
Rahel sedikit memberikan pukulan ringan pada bahu sahabatnya. “Lau! Sumpah ya, omongan Lo makin ke sini makin ke sana, ngaco banget.”
Gadis itu kembali bergidik ngeri. “Ganteng sih ganteng, kaya juga iya, tapi kalau tiap pagi pas sarapan dia ngelihat nasi goreng buatan gue terus bilang, ‘Rahel, tekstur nasi ini terlalu abstrak, seperti aspal jalanan rusak’, apa nggak kena mental gue tiap hari?”
“Ciee ngebayangin nih ya?” Goda Laura kembali dengan tawa lebar sambil memegangi perutnya yang terasa sakit karena terus tertawa sedari tadi.
“Demi apapun, Lau. Lo nyebelin banget hari ini. Sebelas dua belas sama Pak Baskoro.”
“Maaf-maaf, lagian lucu banget kamu sampe di bayangin kayak gitu.” Laura menyeka sudut matanya yang basah— merasa puas tertawa.
“Perumpamaan, Lau. Kalo sampe beneran kejadian, bener-bener mati muda gue.”
“Tapi Hel, serius deh,” Laura merendahkan suaranya, sedikit lebih serius. “Kamu sadar nggak, walaupun dia hobi ngomel, dia selalu kasih waktu lebih lama buat bahas karya kamu dibanding yang lain? Tadi aja dia berdiri di depan kanvas kamu hampir sepuluh menit kan? Minggu-minggu kemarin juga gitu 'kan?”
Rahel tertegun. Ia mencoba mengingat-ingat. Ada benarnya juga sih. Tapi ia buru-buru menggelengkan kepalanya, mengusir kemungkinan-kemungkinan tidak mendasar.
“Bodo amat deh, Lau. Mau dia naksir, mau dia benci, yang jelas sekarang gue butuh asupan biar nggak pingsan kalau besok ketemu dia lagi,” Rahel akhirnya memutus pembahasan tidak bermutu itu dan menarik Laura menuju stand makanan favoritnya.
“Mbak! Ayam geprek satu, level sepuluh! Sambelnya banyakin ya, Mbak, biar panasnya pindah dari hati ke mulut!”
Laura hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya itu. Bisa ia tebak nanti malam Rahel akan curhat perutnya sakit gara-gara makan ayam geprek level 10 hari ini. Tinggal menghitung mundur.
***
Halo, jangan lupa untuk memberikan dukungan berupa like dan komentar ya teman-teman.
Terimakasih.
Sabtu, 04 April 2026
Published : Senin, 06 April 2026