Namanya Esterlita Hanggara Suparapto, putri bungsu pengusaha transportasi terkenal Anthony Hanggara Suprapto dan Hagia Selvia Suprapto.
Ester adalah gadis cantik berusia 20 tahun, karena statusnya yang merupakan putri bungsu ia mendapatkan kasih sayang berlebih dari kedua orang tuanya dan kedua kakak perempuannya.
Namun ternyata perlakuan itu menjadikan Esterlita menjadi sosok nona muda dengan segudang sifat dan sikapnya yang menyebalkan. Estelerlita menjadi sosok yang sangat arrogant dan suka merendahkan orang lain.
Pergaulannya kian liar,
Keributan demi keributan seringkali ia ciptakan, Titik kesabaran tuan Anthony mencapai batas ketika ia bertemu dengan sang putri di loby hotel bersama seorang pria yang sangat tidak ia suka.
Tuan Anthony marah bukan main,
keputusan di buat,
Jika Ester tak ingin kehilangan haknya atas semua fasilitas dari sang ayah maka ia harus mau menikah dengan Yoga Setyawan.
Supir pribadi sang ayah,
brugh....
Ester pingsan....
apa yang akan terjadi.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khitara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32 malam pertama
" yah.... apa mereka sudah bertengkar di hari pertama mereka menjadi suami istri ?!? " cicit bu Maryam dengan bola mata yang mengikuti pergerakanYoga menaiki tangga.
" tidak mungkin bu Maryam....
pasti itu karena Ester " nyonya Hagia menjawab.
" maaf....
jika kedepannya nanti Ester akan selalu merepotkan Yoga " ucap nyonya Hagia dengan wajah sendu.
" jangan bicara seperti itu nyonya....doakan saja yang terbaik untuk mereka " kali ini pak Bagus yang bicara dan di angguki oleh istri dan kedua besannya.
Sementara Yoga,
ia yang berlari mengejar Ester yang lebih dulu berlari meninggalkannya.
Kini ia sampai di depan pintu kamar Ester, dan sesampainya di sana...bukannya langsung membuka pintu di hadapannya, ia justru berhenti.
Dengan wajah bingung Yoga berdiri cukup lama di depan kamar Ester.
Hingga akhirnya...
Tok tok tok....Yoga memutuskan mengetuk pintu lebih dulu sebelum membuka pintu itu.
cklek...
setelahnya, ia baru membuka pintu itu.
Di dalam kamar, Yoga melihat Ester duduk di atas tempat tidur...
dan begitu melihatnya....gadis itu langsung membuang muka dan menempatkan bantal guling di tengah tengah tempat tidur sebagai pembatas.
" bukan aku yang ingin kau berada di kamar ini, tapi kau pasti tahu sendiri siapa yang menginginkannya " ucap Ester ketus sambil kemudian ia merebahkan diri dengan posisi miring membelakangi tempat Yoga tidur nanti.
Yoga menarik nafas dalam dalam kemudian ia menutup pintu dan melangkah mendekat ke arah tempat tidur.
Yoga duduk di sisi tempat tidur.
" kenapa kau tiba tiba marah padaku ?! Apa aku membuat kesalahan ?! " tanya Yoga akhirnya dengan posisi tubuh miring menghadap Ester.
Berharap gadis itu mau menoleh dan bicara padanya.
Sungguh hampir seharian tak melihatnya, ia rindu...
" kenapa kau perduli padaku ?! Jangan sok perhatian begitu....
bukankah kau terpaksa menikahiku ?! " cibir Ester
" nona...e....maksudku....e...Es..ter...."
" tidak usah di jelaskan, aku tahu kau terpaksa menikahiku.
jadi mari kita jalani semua dengan santai, jika kau ingin semua orang tahu jika alasanmu menikahiku adalah terpaksa...
maka silahkan kabarkan itu kepada semuanya atau jika perlu kabarkan itu pada dunia " jawab Ester dengan posisi yang masih membelakangi Yoga.
" memangnya kau sendiri tidak terpaksa menikah denganku ?! " tanya Yoga balik, ia sedikit tersulut dengan ucapan Ester.
" tentu saja aku juga terpaksa dan kau tahu itu, tapi aku tidak pernah mengatakan pada siapapun tentang itu.
Tapi baiklah....aku tidak akan perduli, silahkan lakukan apapun yang kau inginkan.
Termasuk mengabarkan tentang keterpaksaanmu menikahiku " jawab Ester lagi ketus,
Yoga memutar tubuhnya dan naik ke ranjang, kemudian ia menarik tangan Ester hingga gadis itu duduk.
Ester berusaha menepis tangan Yoga yang menariknya,
tapi gagal, Yoga tak mau melepaskannya.
" memangnya kepada siapa aku mengatakan itu ?! " tanya Yoga
" atau jangan jangan kau hanya menuduhku saja " lanjut Yoga lagi.
Ester melotot menatap Yoga.
" he...jaga ucapanmu ya...aku bukan orang yang suka omong kosong " sentak Ester
Yoga menghela nafas, tiba tiba ia sadar sesuatu...
gadis di hadapannya itu tidak bisa di kasar.
" bukan itu maksudku...kau salah paham " ucap Yoga melembut.
" salah paham....
itu saja yang selalu kau katakan tentangku, aku ini tidak bodoh.
aku bisa lihat jika gadis bernama Zahra itu suka padamu dan dia cemburu melihat kau menikahiku.
Entah janji apa yang sudah kau berikan padanya hingga dia begitu mengharapkanmu " ucap Ester lagi.
" apa Zahra yang mengatakan jika aku terpaksa menikahimu ?! "
" tidak usah di bahas lagi, aku malas.....aku mau tidur " jawan Ester sambil berniat membaringkan diri.
Tapi lagi lagi Yoga menarik tangannya dan membuatnya duduk.
" entah kau percaya atau tidak, tapi aku tidak pernah mengatakan itu kepada Zahra.
Mungkin....karena durasi perkenalan dan pernikahan kita yang sebentar membuat dia berpikir seperti itu "
" aku tidak perduli, lepaskan..."
" dan lagi.... kau tahu dari mana jika aku menikahimu karena terpaksa ?!
memangnya kau bisa baca hatiku ?! " ucap Yoga, ia benar benar memilih mengalah.
" sudah aku bilang aku tidak perduli, lepaskan....aku mau tidur, aku ngantuk..."
" apa kau cemburu pada Zahra ?! "
" idihh...cemburu, najis..."
" Zahra itu adik sepupuku, ayahnya adalah adik ibuku.
Dan sungguh tidak ada hubungan seperti yang kau pikirkan di antara aku dan Zahra. Percayalah..." ucap Yoga dengan raut wajah tegas menatap Ester.
Ia tetap menjelaskan meski Ester terkesan tak mau mendengar itu.
Sementara Ester, ia tertegun sejenak mendengar penuturan laki laki di hadapannya itu.
" kau ingat apa yang aku bisikkan padamu tadi...?! " tanya Yoga dan Ester hanya diam meski netranya tak lepas dari wajah tampan di hadapannya itu.
" selama aku hidup, maka aku akan selalu mengusahakan kebahagiaanmu dan itu janjiku padamu.
percayalah...
tidak akan ada hal lain yang ingin kulakukan selain mengusahakan kebahagiaanmu " tutur Yoga lagi dengan pelan namun pasti dan bisa di dengar Ester dengan jelas.
Tanpa sadar, wajahnya memerah dan tiba tiba ia merasakan wajahnya terasa panas.
" lepaskan tanganmu dan tidurlah, bicaramu semakin tidak jelas " ucap Ester sambil menarik tangannya dari tangan Yoga kemudian ia segera berbaring miring seperti tadi.
Di dalam hati, Ester merutuki dirinya sendiri, bisa bisanya ia terlena dengan ucapan Yoga barusan.
" apanya yang tidak jelas...semua yang kukatakan jelas dan itu pasti, kemari....aku belum selesai bicara.
kau lupa apa kata penghulu tadi ?!
harus menghormati suami " ucap Yoga dan kembali menarik tubuh Ester hingga duduk.
" apa sih....suami yang di hormati itu suami yang tidak terpaksa menikahi wanitanya " protes Ester, tapi lagi lagi ia tak bisa berbaring karena Yoga memegangi tangannya.
" tidak ada yang seperti itu, semua suami harus di hormati...
terutama suami yang menyayangi istrinya " jawab Yoga tak mau kalah, Ester mencebik dan menatapnya sinis.
Tapi bukannya tersinggung, Yoga tertawa pelan.
" lagi pula, tahu dari mana kamu kalau aku terpaksa menikahi kamu....
memangnya kamu bisa baca hatiku ?! " tanya Yoga masih dengan cengar cengir, ia sudah bertekad akan meluluhkan hati wanita di hadapannya itu tak perduli meski ia sekeras batu.
Baginya tak ada lagi alasan untuknya menjaga jarak atau segan kepada Ester.
Karena hal itu hanya akan membuat ia kian berjarak dengan wanita yang telah menjadi istrinya itu.
Restu semua orang telah ia dapat, maka sejak ijab ia ucapkan tadi pagi,
Maka Yoga berjanji...akan menyayangi Ester dengan segenap jiwa dan raganya.
" memangnya alasan apalagi kalau tidak terpaksa ?!
cinta ?! Omong kosong " sanggah Ester
" kalau aku bilang memang karena cinta bagaimana ?! " jawab Yoga dan sukses membuat Ester terdiam menatapnya.
Keduanya saling menatap cukup lama hingga Ester tiba tiba mengangkat bantal dan memukul kepala Yoga.
" kau hilang ingatan ya.....
kau lupa bagaimana papa akhirnya bisa membuat kita menikah,
Tak kusangka...
Ternyata kau pandai menggombal juga, aku ragu....
Andai papa tahu kau pandai menggombal seperti ini,
apa dia masih yakin mau menikahkan aku denganmu ?!
Dasar laki laki.....sana, aku mau tidur, awas melewati batas.
Dan....jangan cari cari kesempatan " protes Ester sambil memukuli Yoga dengan bantal.
Yoga hanya tertawa dan tak menghindar sama sekali.
Ia juga tak lagi menahan ketika Ester kembali membaringkan diri dengan posisi kembali membelakanginya.
Tak apa....
Setidaknya saat ini Ester tak lagi marah apalagi salah paham padanya.
Tentang Zahra ...
Ia akan coba bicara baik baik dengannya nanti.