"Mantan kabur, adiknya malah melamar? Dunia ini sudah gila!"
Bagi Cantik (26 tahun), hidupnya berakhir tragis saat rencana pernikahannya hancur karena Satria, sang calon suami, ketahuan selingkuh tepat sebulan sebelum hari H. Di tengah rasa sakit hati dan niatnya untuk menutup diri dari laki-laki, sebuah kekacauan muncul di depan pagarnya.
Bukan Satria yang datang meminta maaf, melainkan Juna (18 tahun), adik kandung Satria yang baru saja pamer foto ijazah SMA. Tidak tanggung-tanggung, bocah ugal-ugalan itu datang membawa rombongan motor sport, spanduk lamaran, hingga surat izin menikah dari ibunya sendiri!
Bagi Cantik, Juna hanyalah "bocil" bau matahari yang tidak tahu diri. Namun bagi Juna, Cantik adalah bidadari yang sudah ia incar sejak ia masih memakai seragam putih-abu.
"Lu itu berlian, Kak! Nggak pantes nangisin kerikil kayak Bang Satria. Daripada jadi mantan kakak, mending jadi istri adek. Gaskeun?!"
Sanggupkah Cantik mempertahankan tembok gengsinya mengahadapi pesona Juna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35. Ijab Kabul
Hari itu, Masjid Agung seolah bergetar bukan karena gempa, tapi karena raungan mesin dari seratus motor custom yang mengepung pelataran. Juna Raksa datang dengan gaya yang tidak akan pernah dilupakan sejarah KUA. Ia duduk tegak di atas motor sport hitamnya, mengenakan beskap putih premium dengan ronce melati yang menjuntai dari keris di punggungnya.
Helmnya tetap dipakai hingga parkiran—sebuah helm putih mutiara yang senada dengan beskapnya. Di belakangnya, rombongan bengkel "Raksa Jaya" melakukan revving (geber mesin) serentak sebagai pengganti musik rebana.
Juna turun dari motor, membuka helm, dan langsung disambut oleh sosok pria paruh baya yang berdiri gagah di depan pintu masjid: Bapak Bani Sudirjo. Sang ayah menatap putra bungsunya itu dengan gelengan kepala, tapi matanya berkaca-kaca bangga.
"Juna, hari ini jangan ugal-ugalan dulu. Sopan dikit sama mertua," bisik Pak Bani sambil merapikan melati di dada Juna.
Juna nyengir, mencium tangan ayahnya dengan khidmat. "Tenang, Pak. Juna bakal bikin nama Sudirjo harum, minimal harum bau oli mahal."
Di dalam masjid, Cantik sudah duduk manis di balik sekat transparan. Ia tampak luar biasa anggun dengan kebaya putih ekor panjang dan siger Sunda yang berkilau. Saat melihat Juna masuk didampingi Pak Bani, Cantik tak bisa menahan senyum harunya.
Acara dimulai. Suasana mendadak hening. Juna menjabat tangan Bapak Wijaya, ayah dari Cantik, yang duduk berhadapan dengannya. Di samping Juna, Pak Bani Sudirjo duduk sebagai saksi utama, memberikan kekuatan moral bagi anaknya yang kelahiran 2008 itu.
"Ananda Juna Raksa bin Bani Sudirjo," suara Pak Wijaya bergetar namun tegas, "Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Cantik Kirana binti Wijaya, dengan maskawin berupa logam mulia 24 gram, seperangkat alat salat, dan satu unit motor sport custom dibayar tunai!"
Juna menarik napas sedalam-dalamnya, menatap Pak Bani sekilas yang mengangguk mantap, lalu dengan satu tarikan napas yang menggelegar:
"SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINNYA CANTIK KIRANA BINTI WIJAYA DENGAN MASKAWIN TERSEBUT DIBAYAR TUNAI!"
"SAH?" tanya penghulu.
"SAAAHHH!" Jawab Papa Sudirjo dan Ayan Wijaya hampir bersamaan, diikuti teriakan teman-teman Juna dari luar masjid yang suaranya sampai memantul di kubah.
Cantik memejamkan mata, air matanya jatuh. Dia resmi jadi milik si brondong ugal-ugalan itu. Saat Juna menghampirinya untuk pemasangan cincin "gir motor" yang ikonik itu, Juna berbisik pelan di telinga Cantik.
"Mulai detik ini, Sayang... lu adalah navigator hidup gue. Jangan bosen-bosen ngerem gue kalau gue terlalu kenceng, ya?"
Cantik tertawa haru sambil mencium tangan suaminya. "Janji. Tapi habis ini, jangan langsung touring ya? Kita resepsi dulu!"
Resepsi diadakan di halaman luas masjid dengan konsep outdoor bertema otomotif. Bukannya lempar bunga, Juna dan Cantik justru melakukan sesi "First Ride". Juna menarik gas, melakukan burnout tipis yang menciptakan asap putih melingkar di sekitar mereka—seolah-olah membentuk Halo (lingkaran cahaya) dari asap karet ban.
Kedua orang tua Cantik dan Juna berdiri bersisian di pelaminan, tertawa lebar melihat tingkah anak-anak mereka. "Besan, sepertinya kita harus siap-siap punya cucu yang hobi balapan," seloroh Papa Sudirjo yang disambut tawa Ayah Wijaya.
Di depan mereka, sebuah spanduk besar dibentangkan oleh anak-anak bengkel:
"SELAMAT MENEMPUH HIDUP BARU: DARI MANTAN KAKAK IPAR, JADI NYONYA RAKSA. GASPOLL SAMPAI TUA!"
Malam itu, Jakarta jadi saksi. Bahwa cinta nggak butuh umur yang sebaya, cuma butuh nyali yang besar untuk saling menjaga. Juna Raksa, si brondong 2008, resmi memenangkan balapan paling penting dalam hidupnya.