Langit Elarion tidak pernah benar-benar diam.
Ia bernapas.
Bukan seperti makhluk hidup—tidak dengan paru-paru atau denyut nadi—melainkan dengan ritme kosmik yang tak terlihat, gelombang halus yang mengalir di antara bintang-bintang seperti bisikan yang terlalu tua untuk diingat. Warna ungu kebiruan yang membentang di ufuk fajar bukan sekadar fenomena cahaya, melainkan residu dari hukum-hukum yang terus menulis ulang dirinya sendiri, detik demi detik, tanpa pernah berhenti.
Di dunia manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vi nhnựg nười Nĩóđs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: REINKARNASI
Jauh di bawah hamparan awan putih, di mana langit yang tinggi dan megah itu hanya tampak sebagai atap biru keunguan yang jauh, terbentanglah dunia fana. Dunia di mana manusia hidup, bekerja, mencinta, dan meninggal dalam siklus waktu yang terus berputar.
Di sebuah lembah yang subur, tersembunyi di antara rangkaian pegunungan yang hijau, terletak sebuah desa kecil yang damai. Kehidupan di sana berjalan lambat dan sederhana, jauh dari hiruk-pikuk kerajaan besar atau intrik politik. Penduduknya hidup dari hasil bumi, bekerja di ladang saat matahari bersinar, dan beristirahat saat bulan muncul menggantikan cahaya hari.
Namun pada suatu pagi yang cerah, sesuatu yang aneh terjadi.
Di pinggiran desa, tepat di tengah padang rumput liar yang berwarna hijau segar, cahaya itu turun.
Bukan meteor yang menghantam tanah. Bukan juga kilat yang menyambar. Itu adalah cahaya yang lembut, berwarna keemasan samar, yang turun perlahan dari langit bagaikan sehelai bulu yang terbawa angin. Cahaya itu berputar-putar pelan di udara, lalu mendarat dengan lembut di atas rerumputan.
Saat cahaya itu meredup dan menghilang, tertinggallah sesosok tubuh kecil.
Seorang gadis.
Ia terbaring terlentang, memejamkan mata, dengan rambut panjang yang berwarna merah muda pucat—warna yang jarang dan indah, seperti kelopak bunga sakura yang baru mekar di musim semi. Pakaiannya sederhana, namun bersih, bersinar samar dengan sisa-sisa energi suci yang belum sepenuhnya hilang.
Perlahan-lahan, kelopak matanya bergetar.
Dan kemudian, ia membuka matanya untuk pertama kalinya di dunia ini.
Mata itu berwarna cokelat keemasan, hangat dan dalam, namun juga kosong. Kosong seperti kertas putih yang belum tertulis sebaris kata pun.
Ia tidak mengingat apa-apa.
Tidak ada ingatan tentang Istana Celestia yang megah. Tidak ada ingatan tentang sayap-sayap emas yang membentang luas. Tidak ada ingatan tentang pertempuran, tentang kegelapan, atau tentang pengorbanan besar yang pernah ia lakukan.
Ia tidak tahu siapa namanya. Ia tidak tahu dari mana ia berasal. Ia bahkan tidak mengerti mengapa ia ada di sana.
Yang ia rasakan hanyalah angin pagi yang sejuk menyentuh kulitnya, suara burung berkicau di kejauhan, dan rumput yang lembut di bawah punggungnya.
“Di… mana…?”
Suaranya keluar pelan, serak, dan sangat halus. Seperti bunyi dedaunan yang saling bergesekan.
Ia mencoba menggerakkan tangannya, meraba udara di atasnya, seolah mencari pegangan pada sesuatu yang nyata. Segalanya terasa asing. Dunia ini terasa begitu besar, begitu berisik, dan begitu… padat. Berbeda dengan kebebasan dan cahaya yang pernah ia rasakan di masa lalu yang kelam itu.
Dengan susah payah, gadis itu bangkit dan duduk. Ia menatap sekelilingnya dengan tatapan bingung namun takut. Pemandangan hijau membentang luas, gubuk-gubuk kecil terbuat dari kayu dan jerami, serta asap tipis yang mengepul dari cerobong dapur.
Ia berdiri. Kakinya gemetar hebat saat pertama kali menapakkan kaki ke tanah. Ia belum terbiasa dengan gravitasi yang menarik tubuhnya ke bawah, belum terbiasa dengan beratnya daging dan tulang yang kini membalut jiwanya.
Namun saat ia melangkah—hanya satu langkah kecil—keajaiban terjadi.
Di tempat telapak kakinya yang telanjang menyentuh tanah, rumput-rumput liar yang tadinya biasa saja seketika menjadi lebih hijau dan segar. Dan di sela-sela rumput itu, bunga-bunga kecil bermekaran secara instan. Bunga-bunga berwarna putih dan kuning yang indah, tumbuh dengan cepat seolah menyambut kedatangan sang ratu.
Gadis itu tertegun. Ia menunduk, melihat jejak bunga yang mengikuti langkah kakinya.
“Indah…” bisiknya, dan senyum tipis terukir di bibirnya. Sebuah senyum murni, tanpa beban, tanpa dosa.
Ia tidak tahu mengapa hal itu bisa terjadi. Ia tidak sadar bahwa esensi kehidupan yang mengalir di dalam nadinya adalah sesuatu yang suci, sesuatu yang mampu membuat alam tunduk dan bersinar. Baginya, itu hanyalah hal yang wajar.
Ia terus berjalan, meninggalkan jejak kehidupan di mana pun ia berpijak. Padang rumput itu seolah menjadi jalan setapak yang hidup, memancarkan aura damai yang menenangkan hati siapa saja yang melihatnya.
Jauh di atas sana, di ketinggian di mana awan menjadi lantai, di Istana Celestia yang sunyi.
Elyndra sedang duduk di tepi kolam cermin air suci, memandang permukaan air yang tenang dengan mata yang masih sering basah oleh air mata. Ia sedang mencoba merasakan keberadaan sahabatnya, meski ia tahu itu mustahil.
Tiba-tiba…
Dug!
Jantung Elyndra berdegup kencang secara tiba-tiba. Bukan karena sakit, melainkan karena sebuah sentuhan yang sangat familiar. Sebuah getaran energi yang ia kenal betul. Energi yang hangat, lembut, namun sangat kuat.
“Apa itu…?” bisik Elyndra, matanya membelalak.
Ia segera mencondongkan tubuh ke arah kolam cermin. Dengan gemetar, ia menggerakkan tangannya di atas air. Permukaan air yang tadinya tenang kini beriak-riak, lalu memperlihatkan gambaran yang jauh di bawah.
Gambar itu tidak jelas, buram oleh jarak dan dimensi, namun Elyndra bisa melihatnya.
Ia melihat sosok seorang gadis dengan rambut merah muda. Ia melihat bagaimana bunga-bunga bermekaran di bawah kakinya. Dan yang paling penting, ia bisa merasakannya.
Rasa itu.
Aura itu.
“Itu… tidak mungkin…” air mata kembali mengalir, tapi kali ini bukan air mata kesedihan. Itu adalah air mata haru yang meledak-ledak.
Di ruangan lain, Lunareth muncul di hadapan Elyndra. Sang peramal tersenyum, senyum yang tulus dan penuh ketenangan. Ia mengangguk pelan seolah menjawab pertanyaan yang belum sempat diajukan oleh sahabatnya itu.
“Bukan akhir, Elyndra,” kata Lunareth lembut, suaranya bergema penuh makna. “Kehancuran hanyalah cara alam untuk menciptakan ruang bagi yang baru.”
Elyndra menatapnya tak percaya. “Jadi… dia kembali?”
“Bukan kembali seperti dulu,” jawab Lunareth bijak. “Ia lahir kembali. Jiwanya utuh, namun kisahnya harus ditulis ulang dari awal sekali.”
Di dunia bawah, gadis itu berhenti berjalan. Ia memegang dadanya, merasakan degupan jantungnya yang tiba-tiba menjadi cepat. Ia menatap ke atas, menatap langit yang biru keunguan itu seolah ada yang memanggilnya dari sana.
Ia tidak tahu siapa yang memanggil, atau apa yang diinginkan. Namun ia merasa… tidak sendirian.
“Melainkan awal baru,” lanjut Lunareth, menegaskan kata-katanya.
Sebuah bab baru telah dibuka. Bukan lagi tentang seorang Dewi yang harus mengorbankan nyawanya, melainkan tentang seorang gadis manusia yang harus menemukan kembali dirinya di tengah dunia yang luas dan penuh misteri.
Cahaya itu tidak padam. Ia hanya berpindah wujud, dan kini, ia bersinar kembali di antara manusia.