10 Cara Melihat Hantu adalah kisah misteri yang menggabungkan rasa penasaran manusia terhadap dunia gaib dengan konsekuensi menakutkan yang tak terduga. Cerita ini berpusat pada seorang remaja bernama Alin yang menemukan sebuah buku tua berdebu berjudul sama—10 Cara Melihat Hantu—di sudut perpustakaan yang hampir terlupakan.
Awalnya, buku itu tampak seperti panduan biasa yang berisi sepuluh metode berbeda untuk membuka “mata batin” dan melihat makhluk tak kasatmata. Mulai dari ritual sederhana seperti menatap cermin di tengah malam, hingga cara yang lebih ekstrem seperti mengunjungi tempat angker seorang diri. Didorong oleh rasa ingin tahu, Alin mencoba satu per satu cara tersebut, tanpa menyadari bahwa setiap langkah yang ia ambil semakin menarik dirinya lebih dalam ke dunia yang seharusnya tidak ia sentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Sisa yang Tidak Terhapus
Malam itu terasa… terlalu tenang.
Raka berjalan pulang dengan langkah lambat. Jalanan sepi, hanya lampu-lampu jalan yang berpendar redup menemani. Tidak ada bisikan. Tidak ada bayangan bergerak. Tidak ada perasaan diawasi.
Semua yang selama ini menghantuinya… menghilang.
Setidaknya, begitu yang ia kira.
Sesampainya di rumah, pintu terbuka dengan mudah.
Lampu ruang tamu menyala terang.
Suara televisi terdengar pelan dari dalam.
“Ibu…?” panggil Raka.
“Di sini,” jawab suara dari dapur.
Raka melangkah masuk.
Ibunya berdiri di sana, seperti biasa.
Memasak.
Tersenyum saat melihatnya.
“Kamu dari mana saja? Sudah malam,” katanya.
Raka menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya.
Normal.
Semua tampak normal.
“Aku… ke sekolah sebentar,” jawabnya.
Ibunya mengangguk.
“Sudah makan?”
“Belum.”
“Ya sudah, cuci tangan dulu. Ibu sudah siapkan makan.”
Raka mengangguk pelan.
Ia berjalan ke kamar mandi.
Menatap dirinya di cermin.
Pantulan itu mengikuti setiap gerakannya.
Tidak ada keterlambatan.
Tidak ada senyum aneh.
Hanya dirinya.
“Ini… benar-benar selesai,” bisiknya.
Namun saat ia hendak berbalik—
Pantulan itu… tetap diam.
Raka membeku.
Perlahan, ia kembali menoleh ke cermin.
Pantulan itu kini menatapnya.
Tanpa ekspresi.
“Tidak…” gumamnya.
Lalu—
Pantulan itu tersenyum.
Senyum tipis.
Sangat tipis.
Dan menghilang.
Cermin kembali normal.
Raka mundur cepat.
Napasnya memburu.
“Tidak… tidak… aku sudah menutupnya…”
Ia menatap cermin itu lagi.
Tidak ada apa-apa.
Namun rasa dingin kembali
menjalar.
Lebih halus.
Lebih tersembunyi.
Tapi ada.
Raka keluar dari kamar mandi dengan langkah cepat.
“Ibu…” panggilnya.
“Iya?” sahut ibunya dari dapur.
Raka berhenti di ambang pintu.
Menatap ibunya.
Untuk memastikan.
Untuk meyakinkan diri.
“Ibu… kalau… ada sesuatu yang aneh… Ibu bakal bilang ke aku, kan?”
Ibunya tertawa kecil.
“Kamu ini kenapa sih? Dari tadi aneh.”
Raka memaksakan senyum.
“Tidak apa-apa…”
Ia duduk di meja makan.
Makanan tersaji seperti biasa.
Hangat.
Menggoda.
Namun entah kenapa… ia tidak merasa lapar.
Ia mengambil sendok.
Tangannya sedikit gemetar.
Saat ia hendak menyuap—
Ia melihat sesuatu di
permukaan sendok itu.
Pantulannya.
Namun—
Pantulan itu tidak sedang makan.
Pantulan itu hanya… menatap.
Raka langsung menjatuhkan sendok itu.
“Kenapa?” tanya ibunya.
“Panas…” jawab Raka cepat.
Ia berdiri.
“Aku… ke kamar dulu.”
Tanpa menunggu jawaban, ia
langsung pergi.
Langkahnya cepat.
Hampir berlari.
Sesampainya di kamar, ia menutup pintu dan menguncinya.
Napasnya berat.
“Ini belum selesai…” bisiknya.
Tatapannya langsung tertuju ke meja.
Buku itu.
Tergeletak di sana.
Padahal—
Ia tidak membawanya pulang.
Raka perlahan mendekat.
Setiap langkah terasa lebih
berat dari sebelumnya.
“Kenapa kamu masih di sini…” gumamnya.
Ia tidak berani menyentuhnya.
Namun buku itu… terbuka sendiri.
Halaman demi halaman bergerak cepat.
Berhenti di bagian tengah.
Tulisan muncul.
“Kau menutup pintu.”
Raka menelan ludah.
“Tapi…” tulisannya berlanjut.
“Kau tidak menghapus jejaknya.”
Raka menggeleng.
“Apa lagi yang kamu mau…?”
Tulisan berikutnya muncul lebih lambat.
Seolah menikmati
ketakutannya.
“Kami tidak perlu pintu… untuk kembali.”
Lampu kamar berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Lalu padam.
Gelap.
Raka tidak bergerak.
Napasnya tertahan.
Dalam kegelapan itu—
Ia mendengar sesuatu.
Langkah kaki.
Di dalam kamarnya.
Pelan.
Mendekat.
Raka meraih sesuatu di meja.
Sebuah benda keras.
Ia tidak tahu apa.
Yang penting… untuk berjaga.
Langkah itu berhenti.
Tepat di belakangnya.
Raka bisa merasakan—
Napas dingin di lehernya.
“Aku bilang…” suara itu berbisik.
“Ini belum selesai.”
Raka membalik tubuhnya dengan cepat.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun suara itu… masih ada.
Di kepalanya.
Di dinding.
Di udara.
Ia menyalakan lampu.
Kamar kembali terang.
Kosong.
Namun buku itu—
Kini tertutup.
Raka menatapnya dengan marah.
“Kenapa aku?” teriaknya.
Tidak ada jawaban.
Namun dalam keheningan itu—
Ia mulai mengerti.
Ini bukan tentang buku.
Bukan tentang gudang.
Bukan tentang cara melihat hantu.
Ini tentang dirinya.
Tentang apa yang sudah ia buka… di dalam dirinya sendiri.
Raka terduduk di lantai.
Pikirannya berputar.
Jika pintu itu sudah ditutup—
Kenapa masih ada yang tersisa?
Apa yang sebenarnya belum selesai?
Tiba-tiba—
Ia teringat sesuatu.
Kata-kata terakhir di gudang.
“Untuk sekarang.”
Raka mengangkat kepala.
Matanya perlahan berubah.
Bukan lagi penuh ketakutan—
Tapi kesadaran.
“Ini bukan akhir…” katanya pelan.
“Ini cuma jeda.”
Ia menatap buku itu.
Lama.
Lalu berdiri.
Langkahnya kali ini lebih tenang.
Lebih pasti.
Ia mengambil buku itu.
Menggenggamnya erat.
“Kalau kamu tidak bisa ditutup…” katanya pelan.
“Berarti aku harus menghadapinya.”
Sunyi.
Tidak ada jawaban.
Namun untuk pertama kalinya—
Raka tidak menunggu.
Ia duduk di kursi.
Meletakkan buku itu di meja.
Dan membukanya.
Perlahan.
Halaman pertama.
Kosong.
Halaman kedua.
Kosong.
Namun ia tahu—
Tulisan itu akan kembali.
Cepat atau lambat.
Dan kali ini—
Ia siap.
Atau setidaknya…
Ia harus siap.
Di luar kamar—
Angin malam berhembus lebih kencang.
Jendela bergetar pelan.
Dan di balik kaca—
Untuk sesaat—
Terlihat bayangan seseorang
berdiri.
Mengamati.
Menunggu.
Sabar.
Karena mereka tahu—
Permainan ini belum selesai.
Dan sekarang—
Raka tidak lagi hanya pemain.
Ia telah menjadi bagian dari aturan itu sendiri.