NovelToon NovelToon
DUDUK BERDUA

DUDUK BERDUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cintapertama / Teen
Popularitas:605
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

"Gue gak akan pergi," jawab Angga akhirnya. Suaranya tegas. Pasti. Tidak ada keraguan. "Itu cuma mimpi. Gue di sini. Nyata. Dan gue gak kemana-mana."

Adea menghela napas lega. Matanya yang tadinya tegang mulai mengendur.

"Janji?"

"Janji."

"Sumpah?"

Angga tersenyum kecil. "Sumpah pake kucing."

Adea menoleh ke bawah. Cumi sedang duduk manis di samping kursinya, menatap bolak-balik antara Angga dan Adea.

"Cumi jadi saksinya," ucap Angga.

"Meong," sahut Cumi, seolah mengiyakan.

Emang boleh sahabat jadi cinta? Emang boleh sahabat tapi tinggal se atap? Emang boleh manja-manjaan ke 'sahabat'..... Emang boleh~

Ikut cerita dua anomali ini yaaa~~~~

Intip dikit gpp lahhh~ kalo betah ya tinggal, kalo nggk ya skip ajaaaa~~~~~

Happy Reading ^^

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Thalia lagi (Sialan Memang!!)

Pagi itu. Perjalanan menuju kampus.

Motor Kawasaki Ninja hitam melaju pelan di jalanan Lombok yang masih sepi. Angga di depan, jaket kulit hitamnya berkibar tipis tertiup angin. Di belakangnya, Adea memeluk erat seperti biasa. Kepala menempel di punggung Angga, mata terpejam menikmati hangatnya matahari pagi.

Helm biru di kepalanya terlihat mencolok di antara lautan kendaraan yang didominasi motor bebek dan mobil pick-up.

Tapi kali ini, mereka tidak sendirian.

Di samping kanan, sebuah motor Aerox berwarna putih melaju dengan gaya yang sangat... berlebihan. Seoul Lee mengendarainya dengan satu tangan. Tangan kirinya di setang, tangan kanannya malah memegang ponsel sambil sesekali selfie.

"SEOOOUL! LU GAK USAH FOTO-FOTO! JALAN!" teriak Angga tanpa menoleh.

"INI KENANGAN! AKU BARU PUNYA MOTOR DI LOMBOK!" balas Seoul dengan semangat.

"KENANGAN APAAN NJIR!"

Adea tertawa dari belakang. Tangannya yang memeluk Angga terasa bergetar karena geli.

"Biarkan saja, Angga. Dia senang," ucap Adea.

"Lu jangan belain dia."

"Gue gak belain. Gue cuma bilang-"

"Udah. Jangan banyak omong. Nanti kedinginan."

Adea mengerucutkan bibir, tapi ia menurut. Ia kembali mengubur wajahnya di punggung Angga dan memejamkan mata.

Seoul Lee di samping mereka akhirnya menyerah. Ia memasukkan ponsel ke saku jaket dan mulai fokus berkendara. Tapi sesekali ia menoleh ke arah Adea dan Angga, tersenyum kecil.

Istri kecil yang manja~ pikirnya.

---

Di depan gedung fakultas.

Angga memarkir motornya di tempat biasa. Ia turun lebih dulu, lalu melepas helm Adea dengan gerakan lembut yang sudah menjadi kebiasaan. Rambut gadis itu sedikit kusut di belakang, tapi Adea tidak peduli.

"Udah. Turun," ucap Angga sambil mengulurkan tangan.

Adea meraih tangan itu dan melompat turun dari jok belakang dengan sedikit bantuan. Begitu kakinya menyentuh tanah, ia langsung menggerakkan tubuh. Kedua tangan di belakang, badan bergoyang kecil.

"Hari ini jam berapa selesai?" tanya Angga.

"Jam dua. Tapi gue ada praktikum tambahan sampe jam tiga."

"Gua jemput jam tiga."

"Janji?"

"Janji."

Adea tersenyum. Ia melompat kecil sekali, lalu berbalik dan berlari kecil menuju gedung fakultas. Seperti anak ayam, pikir Seoul yang baru saja memarkir motornya di samping Angga.

"Dia lucu banget, ya, Angga," komentar Seoul sambil melepas helm.

"Udah. Jangan ngomongin dia."

"Kenapa? Takut aku suka?"

Angga menoleh. Matanya tajam.

"Bercanda. Bercanda!" Seoul mengangkat kedua tangan. "Aku tahu dia punya kamu. Aku cuma... mengagumi dari jauh. Sebagai teman."

Angga tidak menjawab. Ia menggantung helm biru di stang, lalu merapikan jaketnya.

"Lu mau ke mana sekarang?" tanyanya.

"Jalan-jalan. Cari kos-kosan atau kontrakan." Seoul memasukkan tangan ke saku jaketnya. "Aku gak mau terlalu lama nginep di rumah kamu. Nanti kalian jadi gak bebas."

"Kami bebas aja."

"Iya. Tapi kamu jadi gak bisa... kamu tahu." Seoul mengedip. "Hal-hal yang dilakukan sama istri kecil."

"Dia bukan istri-"

"Belum. Tapi nanti." Seoul tersenyum. "Aku pergi dulu. Nanti sore aku kembali. Bawa oleh-oleh."

Seoul Lee menyalakan motornya dan melaju pergi dengan lambaian tangan.

Angga menggeleng. Ia naik ke motornya dan meluncur menuju Fakultas Ekonomi.

---

Kelas Ekonomi.

Angga masuk ke ruang kuliah tepat waktu. Sesuatu yang jarang terjadi. Biasanya ia datang lima menit sebelum dosen, duduk di pojok belakang, dan tidak banyak bicara. Tapi hari ini ia datang lebih awal karena harus mengantar Adea dan Seoul.

Ruang kuliah masih setengah kosong. Beberapa mahasiswa sudah duduk sambil bermain ponsel, ada yang sarapan roti di tempat secara diam-diam.

Angga berjalan menuju bangku favoritnya, paling belakang dekat jendela. Tapi saat ia hendak duduk-

"Angga, selamat pagi."

Thalia.

Perempuan itu sudah duduk di bangku sebelah kursi Angga. Hari ini ia mengenakan kemeja putih polos dengan blazer biru muda, rambutnya diikat rendah. Tetap rapi. Tetap mahal.

"Pagi," jawab Angga singkat. Ia duduk, meletakkan tas di samping kursi, lalu mengeluarkan laptop.

"Kamu datang sendiri hari ini? Biasanya kan sama..." Thalia berhenti, seolah mencari kata yang tepat. "...gadis kecil kemarin."

"Namanya Adea. Dia mahasiswi kedokteran. Gue anter dia dulu."

"Oh, jadi kamu anter jemput dia setiap hari?"

"Iya."

"Kok sabar banget sih?" Thalia tersenyum. Matanya menatap Angga dengan rasa ingin tahu. "Cowok seusia kamu biasanya males ngantar jemput."

"Gue bukan cowok biasa."

"Iya. Gue sadar."

Thalia tidak mengatakan lebih jauh. Ia membuka buku catatannya, pulpen emas di tangan, dan mulai menulis sesuatu. Tapi matanya sesekali melirik ke arah Angga.

Angga tidak memperhatikan. Ia membuka ponselnya dan membaca pesan dari Adea:

"Anggaa~ gue udah sampe kelas. Dosennya udah dateng. Matanya melotot kayak ikan. Semangat kuliah! 💙"

Angga tersenyum kecil. Ia membalas:

"Iya. Jangan ketawa di kelas nanti dikeluarin."

"GUE KETAWANYA DI DALEM HATI, BANGKE!"

"Iya."

"BANGKE BANGET SIH LO JAWABNYA SINGKAT BANGETTT 😤"

"Iya."

"ANGGAAA!!"

Angga memasukkan ponsel ke saku. Senyumnya masih tersisa.

Thalia melihatnya dari samping. "Chat sama Adea lagi?"

"Iya."

"Kamu tuh beda kalau lagi chat sama dia."

"Beda gimana?"

"Kayak... lebih hidup. Lebih lembut. Kayak bukan kamu yang biasanya di kelas."

Angga menoleh. Menatap Thalia sekilas.

"Karena yang gue chat emang orang yang bikin gue hidup."

Thalia terdiam.

Ia tidak menyangka jawaban itu. Jujur. Blak-blakan. Tanpa basa-basi.

"Oh," ucapnya akhirnya. Suaranya sedikit berbeda. Tidak sepercaya diri biasanya. "Bagus kalau begitu."

Dosen masuk. Pak Budi dengan khasnya membuka slide presentasi. Topik hari ini: Elastisitas Silang dan Pendapatan.

Tapi Thalia tidak bisa fokus.

Pikirannya masih pada kata-kata Angga.

Orang yang bikin gue hidup.

---

Jam istirahat.

Angga ke luar ruangan untuk membeli kopi di kantin. Thalia mengikutinya dari belakang tanpa sengaja, atau sengaja, tidak ada yang tahu.

"Angga."

"Hm."

"Maaf kalau gue terlalu banyak tanya. Tapi gue penasaran." Thalia berjalan di sampingnya. "Kalian... pacaran?"

"Bukan."

"Tapi kalian tinggal bareng?"

"Iya."

"Kok bisa?"

Angga berhenti. Ia menoleh ke arah Thalia.

"Gue kenal dia dari kecil. Rumah gue sebelahan. Orang tua gue udah gak ada. Orang tua dia juga udah gak ada. Jadi ya... kita berdua aja."

Thalia terdiam. Ia tidak tahu latar belakang itu.

"Maaf," ucapnya pelan.

"Gak apa. Bukan rahasia juga." Angga melanjutkan langkah. "Dia sekarang kuliah kedokteran. Gue ekonomi. Kita punya mimpi masing-masing. Tapi satu atap."

"Kedokteran? Berarti dia anak pinter."

"Dia pinter banget. Tapi suka telat."

Angga tersenyum lagi. Senyum yang sama...lembut, hangat, dan hanya muncul ketika ia membicarakan Adea.

Thalia merasakan sesuatu di dadanya.

Bukan cemburu. Tapi semacam... kesadaran.

Bahwa ia tidak akan pernah bisa masuk ke dalam ruang yang sudah ditempati oleh gadis kecil bernama Adea itu. Bahwa ruang itu sudah penuh. Sudah kunci rapat dari dalam. Dan Angga memegang satu-satunya kunci.

"Thalia."

"Hm?"

"Lu baik. Cantik. Pinter. Kaya. Lu bakal dapet cowok yang tepat." Angga menatapnya lurus. "Tapi bukan gue."

Thalia tersenyum pahit.

"Gue belum bilang suka sama lo, Angga."

"Gue tahu. Tapi mending gue jelas dari awal."

"Sakit juga sih lo nolak sebelum dinyatakan."

"Gue gak suka bikin orang berharap."

Thalia tertawa kecil. Ia menggeleng.

"Oke. Gue terima. Tapi kita masih bisa jadi teman, kan?"

"Tentu."

Thalia mengulurkan tangannya. Angga menyambutnya.

Jabat tangan singkat. Bukan persaingan. Bukan permusuhan. Hanya dua orang yang saling memahami batasan masing-masing.

"Sekarang beli kopi," ucap Thalia. "Lu traktir gue, karena lu udah nyakitin hati gue."

"Gue gak nyakitin."

"Ya sedikit. Traktir."

Angga menghela napas. "Ya udah. Satu."

Mereka berjalan ke kantin bersama. Tidak ada drama. Tidak ada air mata. Hanya dua mahasiswa ekonomi yang membeli kopi di pagi hari.

---

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!