NovelToon NovelToon
Sistem: Suplai Tak Terbatas

Sistem: Suplai Tak Terbatas

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Hari Kiamat / Sistem
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Wan Chen tidak ingin menyelamatkan dunia.

Ia hanya ingin kaya.

Untungnya, saat berada di ambang kematian, ia memperoleh Sistem dengan kemampuan Duplikasi dan Penyimpanan Dimensional.

Dan di dunia yang kekurangan segalanya, tidak ada kemampuan yang lebih menakutkan dari itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 - Formasi Ganjil dan Ujian Bangsal Karantina

"Langkahmu." Wan Chen bersuara datar memotong gema statis lorong. "Terlalu berisik."

Pria raksasa itu menoleh ke belakang. Senyum tanpa dosa tersungging di bibirnya.

"Ah, maaf," kekeh Yang Luo, sama sekali tidak terdengar seperti orang yang merasa bersalah. "Aku kurang terbiasa menapak ringan. Biasanya aku menabrak apa saja."

Diapit oleh keduanya, Lin Yu Yan memijat pangkal hidungnya keras-keras.

"Bisakah kalian berdua serius sedikit?" bisiknya melalui celah gigi. Mata wanita itu bergerak waspada ke setiap sudut. "Gift-ku telah memberikan peringatan sejak tadi."

Wan Chen mengabaikan keluhan itu. Ia melangkah tenang di garis paling belakang. Posisi paling rasional untuk bertahan hidup.

Tangan kanannya tenggelam di saku mantel. Gagang pisau taktisnya terasa familier. Siap dipanggil kapan saja.

Bagi otak Wan Chen, formasi ini cukup masuk akal. Tidak merugikan sama sekali.

Satu relawan ceria berbahu lebar untuk menyerap bahaya pertama. Satu navigator bahaya untuk membaca peta struktural. Dan ia sendiri bertugas sebagai penyapu sisa kotoran. Sekaligus penimbun laba akhir.

Minim risiko. Sangat efisien.

Langkah Lin Yu Yan mendadak berhenti keras.

Tubuhnya menegang kaku. Tangan kirinya langsung merentang ke samping, hampir menghantam dada Wan Chen demi menahan laju tim.

"Berhenti."

Suaranya bergetar. Telunjuk wanita itu terangkat ke arah ujung lorong. Menunjuk sebuah bangsal karantina berdinding kaca tebal yang sebagian sudah retak rambut.

"Ada apa di sana?" Yang Luo menurunkan tongkat bajanya pelan.

"Spora." Lin Yu Yan menelan ludah. Keringat dingin meluncur di lehernya. "Udara di depan sana berubah warna. Kalian lihat kabut hijau tipis itu?"

Wan Chen menyipitkan mata. Memang ada lapisan gas berawan yang melayang setinggi lutut orang dewasa.

"Bangsal itu sarang lumut medis mutasi," lanjut Lin Yu Yan parau. "Sekali kalian hirup sporanya, jaringan paru-paru kalian akan melepuh dalam waktu kurang dari tiga detik. Kita harus cari rute putar."

Di balik kaca retak itu, belasan siluet bergerak gelisah. Tubuh manusia berpakaian perawat dan pasien. Bengkak. Ditumbuhi tonjolan jamur raksasa yang berdenyut pelan mengikuti ritme napas cacat mereka.

'Mencari jalan putar sama dengan membuang tenaga,' hitung Wan Chen dalam kepala.

Ia berdiri pasif. Matanya menghitung jumlah siluet di balik kaca. Dua puluh. Mungkin dua puluh lima. Cukup repot kalau dihadapi dengan tangan kosong.

"Tidak perlu buang waktu putar balik," celetuk Yang Luo cerah.

Tanpa menunggu aba-aba, pria bertubuh bongsor itu melanjutkan langkah. Menembus batas imajiner zona aman. Menginjak kabut hijau beracun itu begitu saja.

"Kau gila?!" desis Lin Yu Yan histeris. Ia nyaris melompat maju untuk menarik kerah baju Yang Luo, tapi urung karena takut ikut terpapar.

Wan Chen tidak bereaksi. Ia malah melipat kedua tangan di dada, memposisikan diri sebagai penonton utama.

"Tenang saja, Undying Energy-ku tidak akan semudah itu dihancurkan," kekeh Yang Luo. "Lihat saja."

Undying Energy. Nama yang cukup mengintimidasi.

Kabut beracun itu menampar kulit Yang Luo. Tersedot rakus ke dalam rongga pernapasan pria itu setiap kali dadanya kembang kempis.

Lin Yu Yan memalingkan wajah, bersiap mendengar jeritan daging direbus dari dalam.

Tapi sepi.

Hanya ada suara sepatu bot melangkah di atas genangan basah.

Yang Luo mengusap hidungnya sesaat. "Lumayan mengganggu," gumam pria itu. "Baunya mirip seperti cucian lembab yang direndam pemutih pakaian."

Lin Yu Yan perlahan mengintip kembali. Mulutnya setengah terbuka.

Tidak ada pembuluh darah pecah. Tidak ada kejang-kejang. Spora racun mematikan itu sekadar masuk dan dinetralkan seketika oleh sistem metabolisme sinting milik Yang Luo.

Wan Chen mengusap dagunya perlahan. 'Imunitas absolut,' monolognya pelan.

"Hei, sudah cukup eksperimen gilanya," tegur Wan Chen dengan nada mengantuk. "Kalau kau memang tidak bisa mati karena asma, cepat tarik perhatian mereka. Kita sedang mengejar waktu luangku."

"Serahkan padaku!" sahut Yang Luo semangat.

Pria itu mengangkat tongkat bajanya, lalu menghantamkannya kuat-kuat ke bingkai pintu logam di dekatnya. Bunyi dentang nyaring membelah sunyinya lorong mati.

Dua puluh kepala berjamur di dalam bangsal serentak berputar. Rahang-rahang cacat menganga lebar, menumpahkan cairan kental ke lantai. Geraman serak berlomba-lomba memenuhi udara sebelum mereka berhamburan keluar menyerbu satu-satunya benda hidup di depan sana.

Gelombang daging pembawa penyakit itu menelan Yang Luo mentah-mentah.

Tubuh besarnya ditabrak. Kemejanya ditarik putus. Kuku-kuku hitam merobek kulit lengannya secara barbar. Namun ia hanya berdiri tegak. Tongkat bajanya berayun canggung menampar dada seekor mutan perawat.

Makhluk itu terhuyung mundur. Tulang rusuknya berderak pelan. Tapi tidak hancur. Detik berikutnya makhluk itu kembali meloncat menindih Yang Luo.

Wan Chen berdiri mengamati kekacauan itu dari batas aman. Matanya merekam satu demi satu informasi faktual.

'Stamina gila. Pertahanan kulit luar biasa. Sistem sirkulasi steril,' rinci Wan Chen, membedah kemampuan rekan dadakannya ini dalam pikiran. 'Tapi nol besar dalam parameter daya serang.'

Bagi kalkulasi Wan Chen, pria bernama Yang Luo ini tidak lebih dari sekadar perisai berjalan. Samsak bernapas. Ujung tombaknya tumpul parah.

Itulah penyebab kenapa bajunya sobek-sobek sedari lobi atas tadi. Pria ini tidak punya cara membunuh musuhnya dengan presisi cepat.

Wan Chen menghela napas pasrah.

Telapak tangannya bergerak membuka lipatan udara di ruang kosong di samping pahanya. Penyimpanan Dimensional miliknya berdesir lembut. Empat gagang pisau karbon berturut-turut muncul menyambut sela jari-jemarinya. Dingin. Solid.

Langkah kakinya bergeser menyamping mencari sudut pandang bersih ke arah kerumunan.

Ia menimbang sejenak, menatap tengkuk makhluk-makhluk yang sedang sibuk mengunyah pundak Yang Luo.

Tiga sentakan halus beruntun memotong angin.

Pisau-pisau itu melesat membentuk garis lurus. Suara tancapan tumpul menyusul. Tiga mutan jamur ambruk berdebum ke lantai. Tengkorak belakang mereka sudah bolong tertembus gagang hitam berbahan karbon.

"Mantap lemparanmu, Wan Chen!" seru Yang Luo nyaring. Suaranya redam dari balik tiga kepala monster yang sedang menutupi wajahnya.

Wan Chen merotasikan bahunya ringan. Enggan merespons basa-basi.

Dua pisau tambahan kembali melayang masuk ke pusaran keributan. Memutus batang leher target tanpa suara.

Sementara Lin Yu Yan hanya mengawasi.

Satu orang menahan barang jualan. Satu orang memotong bagian kepalanya secara bertahap dari jauh.

Hanya butuh sebelas menit.

Sisa-sisa bangsal karantina berubah wujud menjadi kuburan senyap. Mayat mutan berserakan tumpang tindih. Genangan lendir hijau bercampur darah menghitam memenuhi ubin pecah di sekeliling mereka.

Di tengah tumpukan itu, Yang Luo mengibas-ngibaskan lengannya. Berusaha melepaskan bangkai perawat yang masih menempel gigitannya di kemeja sisa pria itu.

Wan Chen berjalan santai menyusul. Ia sama sekali tak berniat menanyakan detail kondisi punggung rekannya.

Sepatunya melangkah melewati pecahan botol infusan. Badannya merendah di atas gunungan cacat tersebut. Jari-jarinya bermanuver cekatan mencabut satu per satu pisau kesayangannya dari tulang keras tengkorak mutan.

Mencongkel core hijau yang berbau apak. Lalu meraupnya masuk ke dalam tas pinggang.

Lin Yu Yan akhirnya memaksakan kaki melangkah pelan mendekati garis pintu. Mulutnya mengatup cemas.

"Kau... tidak takut mengirup sisa sporanya?" tanya Lin Yu Yan pelan kepada figur Wan Chen yang masih sibuk mengorek tengkorak.

"Sumber lumut inangnya sudah hancur," balas Wan Chen pendek tanpa jeda bekerja. Ia menarik core terakhir dari mulut seekor mutan besar. "Lagi pula aku tahu kapan harus menahan napas."

Hitungan berakhir di angka dua puluh lima core utuh. Wan Chen bangkit merapikan debu di lutut celananya.

Di ujung depan, Yang Luo melangkah mengarah pada sebuah akses gelap yang menurun tajam. Jalur satu-satunya menuju level terbawah basemen.

Langkah bahagia Yang Luo memelan lalu berhenti total. Jalan itu diblokir secara mutlak.

Sebuah gerbang baja industrial menutup lorong beton tersebut. Posisinya bukan sekadar terkunci. Gerbang penyekat itu melengkung menjorok parah ke arah mereka. Penyok tak wajar di tengah bidang plat, seolah benda dengan tonase luar biasa baru saja mencoba menanduk paksa jalan ke atas.

Udara sekitar merosot turun suhunya.

Lin Yu Yan memeluk siku lengannya sendiri. Instingnya memaksa kaki wanita itu bergeser mundur.

"Ini." Suara wanita itu mendadak tercekat pelan. "Firasat terburuk yang pernah kekuatanku deteksi semenjak fasilitas ini jebol."

Yang Luo meraba belakang lehernya perlahan. Cengirannya pudar terbawa suhu ruang. Ia menatap lekat bongkahan pintu baja penyok itu, tangannya tanpa sadar memutar pegangan tongkat sedikit lebih erat.

Sebaliknya, langkah ringan sepatu bot Wan Chen mendahului mereka berdua.

Mata pria berkemeja itu menyapu tiap lengkungan pelat retak di hadapannya. Tidak ada getaran gentar di retina matanya. Hanya ada kilat perhitungan pasar gelap yang murni.

'Penjaga level mati terpasang di brankas sektor medis,' analisis otaknya berputar.

Formula dunia hancur amat sederhana. Di mana ada kematian terpadat, di sana berdiam jarahan tak ternilai. Serum penyembuh genetik, kapsul pertahanan masa lalu, hingga tabung peremajaan organ yang bernilai keping perak tanpa batas di markas pertukaran luar sana.

Wan Chen merapikan lengan mantelnya perlahan. Pisau di telapak tangannya diserap senyap oleh pusaran dimensi saku.

"Nilai tukar yang menjanjikan," komentar Wan Chen lugas. Ia mengabaikan decak panik tertahan dari arah Lin Yu Yan.

Jari tangannya menepuk dinding baja dingin itu pelan.

"Jangan hanya diam." Suara pragmatis Wan Chen memecah kebisuan mereka. "Cepat paksa pintunya terbuka."

1
Yui
Karya ini sangat luar biasa, setelah baca novel ini aku jadi sedikit mengingat kenanganku yang telah lama menghilang, terimakasih Author 🔥🔥🔥🔥🔥
Ironside: /Toasted/
total 1 replies
Ironside
Ada error /Sweat/, biarlah, nanti di fix Editor
Gege
dan Wang Chen pun jualan obat...🤣😄
HiaTus
/Rose/
Wakana
wow sangat menarik & unik 👀
Ironside: Terima kasih telah membaca, semoga betah /Smile/
total 1 replies
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
‎ ‎ ‎Basah Mas... Sampe Banjir
ada insectnya gak kak?
‎ ‎ ‎Basah Mas... Sampe Banjir: yah, kecewa kak.
total 2 replies
The Ironheart
darkfantasy ini kak☺️
Ironside: /Slight/
total 1 replies
Ironside
Pliss... Like, Subscribe dan Upvote jika kalian menyukai karya ini /Determined/.
Ironside: Mr. Willheim /Scare/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!