Lunaria Wulandari terpaksa menggantikan kakaknya yang kabur di hari pernikahan. Demi menyelamatkan nama keluarga, ia harus menikah dengan Alex Lucas Dimitri—pria dingin dan penuh rahasia yang sejak awal tidak pernah menginginkan dirinya.
Awalnya Luna hanya dianggap pengganti. Namun semakin lama bersama, hubungan mereka berubah menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan. Sayangnya, saat hati mulai saling menerima, masa lalu datang menghancurkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Wawancara yang Menentukan
"Nona Lunaria Wulandari."
Suara panitia kembali terdengar.
Luna berdiri dari kursinya.
Tangannya terasa dingin.
Padahal ruangan ber-AC biasa.
Namun rasa gugup membuat seluruh tubuhnya tegang.
Ia menarik napas dalam-dalam.
Lalu berjalan menuju ruang wawancara.
"Semangat, ya."
ucap salah satu peserta yang tadi mengobrol dengannya.
Luna tersenyum kecil.
"Makasih."
---
Pintu ruangan terbuka.
Di dalam sudah ada tiga orang pewawancara.
Dua pria dan satu wanita.
Luna sedikit lega.
Karena tidak ada Alex di sana.
Ia memang tahu Alex tidak mungkin ikut campur dalam proses rekrutmen, tapi tetap saja akan terasa canggung jika harus diwawancarai suaminya sendiri.
"Silakan duduk, Nona Luna."
"Terima kasih."
jawab Luna sopan.
Wawancara pun dimulai.
Awalnya pertanyaan-pertanyaan standar.
Tentang pendidikan.
Pengalaman organisasi.
Kemampuan komunikasi.
Dan alasan melamar sebagai Public Relations.
Luna menjawab satu per satu dengan tenang.
Semakin lama rasa gugupnya mulai berkurang.
---
"Kenapa Anda tertarik bekerja di bidang Public Relations?"
tanya salah satu pewawancara.
Luna tersenyum tipis.
"Saya suka berinteraksi dengan banyak orang."
"Saya juga percaya bahwa citra sebuah perusahaan bukan hanya dibangun melalui iklan, tetapi juga melalui komunikasi yang baik dengan masyarakat."
Ketiga pewawancara terlihat mengangguk.
Luna melanjutkan.
"Menurut saya, seorang humas harus bisa menjadi jembatan antara perusahaan dan publik."
Jawaban itu membuat salah satu pewawancara mencatat sesuatu.
Dan itu sedikit meningkatkan rasa percaya dirinya.
---
Pertanyaan demi pertanyaan terus berdatangan.
Beberapa cukup mudah.
Beberapa cukup sulit.
Namun Luna berusaha menjawab sebaik mungkin.
Sampai akhirnya seorang pewawancara bertanya,
"Jika suatu saat perusahaan menghadapi krisis reputasi, apa langkah pertama yang akan Anda lakukan?"
Luna sempat berpikir beberapa detik.
Kemudian menjawab,
"Saya akan memastikan informasi yang beredar terlebih dahulu."
"Karena keputusan yang diambil berdasarkan asumsi sering kali memperburuk keadaan."
"Setelah itu saya akan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk menyusun komunikasi yang jelas dan transparan kepada publik."
Ruangan menjadi hening sesaat.
Lalu salah satu pewawancara tersenyum.
"Jawaban yang bagus."
Jantung Luna langsung terasa lebih ringan.
---
Satu jam berlalu tanpa terasa.
Wawancara akhirnya selesai.
"Terima kasih atas waktunya, Nona Luna."
"Kami akan menghubungi Anda setelah proses seleksi selesai."
Luna berdiri lalu membungkukkan badan sedikit.
"Terima kasih."
Saat keluar dari ruangan, ia langsung menghembuskan napas panjang.
Seolah baru saja menyelesaikan ujian skripsi untuk kedua kalinya.
---
Di lantai tiga puluh dua.
Ryan masuk ke ruang kerja Alex tanpa mengetuk.
"Kabarnya?"
Alex bahkan tidak mengangkat kepala dari dokumennya.
"Apa?"
"Luna."
Alex tetap terlihat tenang.
"Tanya HR."
Ryan mendengus.
"Kalau aku tanya HR nanti ketahuan."
"Itu urusanmu."
Ryan duduk di sofa.
"Kadang aku heran."
Alex akhirnya mengangkat kepala.
"Apa lagi?"
"Kamu bisa santai begini."
Alex terdiam beberapa saat.
Lalu menutup map di depannya.
"Aku percaya sama kemampuan Luna."
Ryan tersenyum kecil.
Jawaban yang sangat Alex.
---
Sementara itu Luna sudah berada di kafe dekat kantor.
Ia memesan segelas kopi dingin.
Masih mencoba menenangkan dirinya.
Ponselnya bergetar.
Nama Alex muncul di layar.
Senyum Luna langsung muncul.
"Halo."
"Udah selesai?"
"Iya."
"Gimana?"
Luna menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Nggak tahu."
"Maksudnya?"
"Aku udah jawab semampuku."
Alex tersenyum di balik telepon.
"Itu cukup."
Luna tidak tahu kenapa.
Tapi mendengar suara Alex membuat rasa cemasnya berkurang.
---
Malam harinya mereka makan malam bersama di rumah.
Kakek Dimitri yang mendengar Luna baru selesai wawancara langsung ikut penasaran.
"Gimana hasilnya?"
tanya pria tua itu.
Luna tertawa kecil.
"Belum keluar, Kek."
"Kalau nggak diterima, siapa yang harus aku marahi?"
Alex langsung menyela.
"Kakek."
Kakek tertawa puas.
Sedangkan Luna hanya bisa menggeleng.
---
Dua hari berlalu.
Belum ada kabar.
Tiga hari berlalu.
Masih belum ada kabar.
Dan pada hari keempat, Luna mulai gelisah.
Ia terus memeriksa email.
Memeriksa ponsel.
Bahkan memeriksa folder spam.
Namun tetap tidak ada apa-apa.
"Kamu bikin ponselmu stres."
kata Alex suatu malam.
Luna langsung menatapnya.
"Memangnya ponsel bisa stres?"
"Bisa kalau dicek setiap lima menit."
Luna mendengus.
"Ini penting."
"Aku tahu."
Alex lalu duduk di sampingnya.
"Tapi hasilnya nggak akan berubah walaupun kamu lihat email seratus kali."
Luna tahu Alex benar.
Tetapi tetap saja sulit untuk tenang.
---
Keesokan paginya.
Saat Luna sedang membantu pelayan menata bunga di ruang tengah, ponselnya berbunyi.
Sebuah email masuk.
Dari Dimitri Group.
Jantungnya langsung berdetak sangat cepat.
Sangat cepat.
Tangannya bahkan sedikit gemetar saat membuka email itu.
"Luna?"
Suara Alex terdengar dari tangga.
Namun Luna tidak menjawab.
Matanya fokus membaca isi email.
Beberapa detik kemudian...
Matanya membulat.
Mulutnya sedikit terbuka.
Dan ia membeku di tempat.
"Luna?"
Alex mulai turun dengan langkah cepat.
"Ada apa?"
Luna perlahan mengangkat kepala.
Wajahnya terlihat campuran antara terkejut dan tidak percaya.
Alex langsung merasa tegang.
"Sebenarnya apa isi emailnya?"
Luna menatap layar sekali lagi.
Memastikan dirinya tidak salah baca.
Lalu perlahan senyum besar muncul di wajahnya.
Senyum yang begitu cerah.
"Aku..."
Suaranya bergetar.
"Aku lolos."
Alex terdiam sesaat.
Lalu untuk pertama kalinya hari itu, senyum muncul di wajahnya.
Tulus.
Bangga.
Dan penuh kelegaan.
Karena Luna berhasil.
Bukan sebagai istri seorang direktur.
Tetapi sebagai Lunaria Wulandari yang lolos karena kemampuan dan usahanya sendiri.
Dan tanpa mereka sadari, langkah baru dalam kehidupan Luna akhirnya dimulai.