NovelToon NovelToon
Sang Istri Muda

Sang Istri Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Liaramanstra

"Saya memilih dia sebagai istri bukan karena dia spesial, tapi karena kemungkinan memberontaknya lebih kecil. Dia lemah, ceroboh, dan bodoh. Dia tidak akan terlalu mempengaruhi hidup saya."

Itulah kata-kata yang Prabujangga lontarkan saat sang ayah terus mendesaknya untuk menikah. Diantara semua pilihan, Prabujangga memilih seorang gadis yang jauh lebih muda darinya.

Dia Kharisma, putri bungsu kesayangan di keluarganya. Terlalu dijaga, hingga tak pernah mengenal dunia luar sampai akhirnya harus menikah dengan Prabujangga yang tak lain adalah CEO dingin yang tak pernah menganggap cinta itu ada.

Prabujangga memilih Kharisma bukan karena cinta, tapi karena dia terlalu polos untuk memberontak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 : Suami Yang Mengobati

"Terimakasih, ya."

Senyum simpul terukir di bibir Kharisma begitu menerima sebuah salep berukuran kecil dari salah satu asisten rumah tangga yang tadi sempat disebutkan oleh Prabujangga.

Dia seorang wanita, berpenampilan sederhana. Tubuhnya yang kurus dipasangi seragam pelayan yang hampir digunakan semua pekerja di Mansion ini. Rambutnya digulung rapi, menciptakan kesan sopan dan teduh begitu dipandangi.

"Namamu siapa, ya? Tadi Mas Prabu sempat menyebutkan, tapi aku lupa," tanya Kharisma dengan ramah, dibalas dengan anggukan sopan oleh wanita di hadapannya.

"Meara, Non."

Kharisma mengangguk lembut. "Oh, iya. Terimakasih ya, Meara."

Setelah akhirnya Meara pergi dari hadapannya dengan anggukan terakhir, ekspresi Kharisma kembali berubah murung. Dia menutup pintu perlahan, lalu memandangi salep kecil di tangannya.

Entah bagaimana cara menggunakan ini, Kharisma tidak tau.

Apakah ia bisa dikatakan sebagai anak manja sekarang? Tapi memang iya, kan? Selama ini jika ia terluka pasti Mama yang akan mengobati.

Rasanya begitu tersiksa sekali saat bahkan Kharisma tak bisa berjalan dengan normal. Panas, perih, bercampur dengan rasa sakit lainnya yang tak bisa diutarakan.

Kharisma duduk di tepi tempat tidur, menoleh ragu-ragu ke arah pintu kamar mandi yang tertutup. Prabujangga berada di dalam, sedang membersihkan diri dan tentu saja siap untuk pergi ke kantor.

Kharisma dengan helaan napasnya yang berat membuka penutup salep, bersusah payah membuka kakinya yang langsung membuat matanya terbelalak merasakan rasa sakit.

"Ahh... kenapa sakit sekali?" Kharisma memejamkan mata, satu tangannya mencengkram pinggiran tempat tidur kuat-kuat.

Bahkan saking fokusnya pada rasa sakit, Kharisma tak menyadari pintu kamar mandi berderit terbuka.

Prabujangga muncul, dengan handuk yang melilit di pinggang. Rambutnya basah, dan tangannya menggosokkan handuk pada helaian-helaian rambutnya yang meneteskan air di lantai.

Sejenak, Prabujangga berhenti untuk memandangi Kharisma yang memunggunginya.

"Saya rasa Meara sudah membawakan obatnya." Bukan pertanyaan, karena Prabujangga sebenarnya tau bahwa Kharisma telah mendapatkan salepnya.

Dia melangkah mendekat, seketika membuat Kharisma kembali merapatkan kaki.

"Sudah, Mas." Kharisma menunduk, kakinya sedikit berayun-ayun di tepi tempat tidur. "Nanti saja diobatinya, agar Mas Prabu berangkat bekerja."

"Kenapa? Tidak ingin saya melihat kebodohanmu karena tidak bisa mengobati diri sendiri?"

Sekali lagi, Prabujangga membuat Kharisma merasa kecil dan tak berguna. Dia memang manja, Kharisma sendiri mengakui itu.

Tak memerlukan jawaban, Prabujangga meletakkan handuk kecil yang pada awalnya ia kenakan untuk mengeringkan rambut. Dia melangkah mendekat tanpa ragu, membuat Kharisma bisa melihat dada telanjangnya dengan jelas meskipun sudah bersusah payah untuk tak memandangi.

Sisa-sisa air pemandian membuat kulit kecoklatan Prabujangga bersinar, ditambah lagi dengan pemandangan otot-ototnya yang cukup padat namun terkesan tak berlebihan. Samar-samar Kharisma juga melihat perut laki-laki itu yang terbentuk. Seperti bantal, atau mungkin... roti?

Saat Prabujangga tiba-tiba menadahkan tangan, Kharisma langsung mendongak untuk memandanginya.

"Berikan itu pada saya." Prabujangga mengendikkan dagunya ke arah salep di genggaman Kharisma.

"U-untuk apa, Mas?" Kharisma menelan ludah, entah mengapa enggan memberikan.

Kenapa lagi Prabujangga menginginkan salep ini?

"Apa susahnya menurut dan memberikannya pada saya?" Geram, Prabujangga langsung merampas salep di tangan Kharisma. "Lebih sedikit bertanya setidaknya tak akan banyak membuang waktu saya."

Kharisma meremat seprai semakin erat saat Prabujangga mengeluarkan sedikit salep pada ujung jarinya. Apakah yang sekiranya Prabujangga akan lakukan sekarang? Tapi seharusnya Kharisma tidak bisa dibilang terlalu percaya diri jika menganggap bahwa Prabujangga akan membantunya untuk...

"Buka kakimu."

Kharisma menegang. "A-apa, M-mas?"

Prabujangga memejamkan mata, menekan kesabarannya yang semakin menipis. "Buka kakimu, Kharisma," ulangnya dengan rahang terkatup.

"T-tidak usah, Mas." Kharisma langsung menggeleng saat tak bisa menyangkal lagi bahwa Prabujangga memang benar-benar akan mengobatinya. "Mas Prabujangga bersiap saja, aku bisa mengobati sendiri."

Kharisma hendak meraih kembali salep di tangan Prabujangga, tapi laki-laki itu segera menjauhkannya dari jangkauan Kharisma.

"Buka kakimu sekarang atau saya yang buka paksa?"

Itu jelas ancaman.

Tak bisa lagi melawan, Kharisma dengan hati-hati membuka kakinya, menahan rasa sakit mati-matian.

Buku-buku jarinya memutih, segala rasa gugup ia salurkan pada seprai yang mulai kusut ketika ia remat erat.

Prabujangga menyingkap gaun tidur Kharisma hingga terkumpul di pinggang. Dia yang seakan-akan tau bahwa istrinya tidak akan nyaman di pandangi, mengalihkan pandangan sementara tangannya yang berisikan salep menyentuh bagian kewanitaan yang bengkak.

"M-mas..." Kharisma tersentak, secara tidak sadar mencengkram lengan Prabujangga dengan mata yang terpejam.

Rasa dingin dari salep yang dioleskan pada kulitnya yang panas terasa begitu kontras.

Jantung Kharisma berdegup kencang, rasa malu dan sakit bercampur menjadi satu.

Prabujangga memperhatikan ekspresi kesakitan Kharisma, tak menyadari goresan akibat cakaran Perempuan itu di lengannya. Alisnya berkerut penuh konsentrasi begitu meraba-raba dan mengolesi salep tanpa melihat area intim milik istrinya secara langsung.

"Lain kali saya tidak akan melakukan ini lagi," ujar Prabujangga datar. "Belajarlah untuk merawat dirimu sendiri, jangan bersikap manja."

"I-iya, Mas." Kharisma mengangguk pelan, menggigit bibir bawahnya untuk menghalau rintihan kesakitan.

Rasanya benar-benar aneh saat jari Prabujangga menyentuh bagian intimnya. Tak seorangpun selama ini pernah diizinkan untuk menyentuh area itu, tapi bahkan kemarin malam Prabujangga melakukannya tanpa repot-repot menggunakan cara yang hati-hati.

Kharisma ingat persis bagaimana rasanya ketika benda berukuran besar itu melesak masuk secara paksa. Kharisma tak melihat jelas, tapi dia bisa merasakannya.

Apakah Kharisma harus merasakan hal seperti itu setiap malam?

...***...

"Gimana? Kamu suka nggak dikepang seperti ini sama bunda?"

Mungkin setelah kesedihannya kemarin, diperlakukan begitu semena-mena oleh sang suami, setidaknya ada satu hal yang patut disyukuri oleh Kharisma karena berada di tempat tinggal barunya ini.

Dia adalah Nada, ibu dari Prabujangga yang baiknya hampir menyamai sang Mama.

Sekarang ini Kharisma tengah duduk anteng di sofa, mengukir senyum manis sementara ibu mertuanya mengepang rambut panjangnya seperti anak kecil.

Wanita yang usianya tak jauh dari Mama Kharisma itu memiliki sorot teduh yang mengingatkannya langsung pada sang Mama. Kerinduan Kharisma tersalurkan dengan kasih sayang yang diberikan oleh mertuanya di hari pertama.

"Suka, Bunda." Kharisma mengangguk, menoleh ke arah Nada dengan sudut-sudut mata yang menyipit karena senyum. "Mama juga sering mengepang rambutku saat berada di rumah. Ternyata bunda juga suka, ya?"

"Suka, dong." Nada terkekeh gemas, mencubit lembut pipi menantunya. "Kalau aja Bunda punya anak perempuan semenggemaskan kamu, sudah pasti Bunda kepang setiap hari rambutnya."

Nada mengambil karet tipis di atas meja, mengikat ujung jalinan rambut kharisma dengan rapi.

Pagi ini Nada yang mendadani menantunya, memilihkan dress cantik berwarna putih dengan motif bunga polos yang indah.

Nada tentu saja sudah banyak mendengar tentang Kharisma dari sang suami, dan begitu bahagia saat mengetahui bahwa menantunya adalah sosok berhati lembut. Tapi Nada tidak menyangka bahwa Kharisma bahkan terlihat begitu cantik, mencerminkan kemurnian hatinya sendiri.

Perempuan yang didik langsung oleh kedua orangtuanya tanpa dipengaruhi oleh dunia luar selama dua puluh satu tahun, bagaimana mungkin Nada akan ragu?

"Berarti Bunda tidak memiliki anak perempuan, ya?" Tiba-tiba saja Kharisma merasa penasaran, matanya melirik Nada yang tengah fokus merapikan rambutnya. "Mas Prabujangga anak satu-satunya Bunda?"

Nada membalas tatapan Kharisma lantas menggeleng. "Enggak, suami kamu itu anak kedua Bunda," jelasnya dengan nada lembut.

Kharisma sedikit bergeser begitu Nada mengambil duduk di sebelahnya. Wanita itu meletakkan sisir di atas meja kopi di depan sofa.

"Sebenarnya Bunda punya anak perempuan. Kakaknya Prabu." Nada menjelaskan dengan ekspresi yang berubah menjadi sedikit murung. "Cuman sejak kecil dia nggak tinggal sama Bunda."

"Kenapa begitu, Bunda?" Kharisma memiringkan kepalanya penasaran.

Nada tampak menarik napas sejenak, tangannya bergerak untuk menyentuh pundak Kharisma dan memberikan elusan lembut. Gerakan yang entah mengapa menenangkan.

Ekspresi Nada yang tiba-tiba sedih itu tak luput dari pengamatan polos Kharisma. Mertuanya yang sejak tadi begitu gembira menyambutnya saat keluar dari kamar tidur, menyiapkan makanan di meja makan, kini berubah saat membahas tentang Prabujangga dan kakak perempuannya yang jelas Kharisma belum ketahui.

Alih-alih kakaknya Prabujangga, bahkan Kharisma tak mengenal Prabujangga sendiri karena langsung saja menyetujui lamarannya satu bulan yang lalu.

"Ceritanya panjang, sayang," ujar Nada dengan suara teduhnya, lantas kembali bangkit dari sofa. "Lain kali Bunda ceritain, ya? Sekarang, gimana kalau ikut Bunda beli bahan-bahan untuk makan malam?"

Saran dari Nada itu sepertinya tak membuat rasa penasaran Kharisma terpuaskan. Dia menghela napas samar, namun tak melunturkan senyum di bibirnya.

Sebenarnya Kharisma ingin tau lebih banyak tentang Prabujangga dan keluarganya, tapi mungkin secara perlahan-lahan.

Ini barulah hari pertama, dan Kharisma harus bisa menyesuaikan diri.

Kharisma menatap mertuanya dan mengangguk, setuju untuk ikut berbelanja hari ini.

"Iya, Bunda."

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!