Di puncak keabadian, saat semua makhluk tunduk pada namanya… dia justru memilih turun.
Seorang Immortal yang telah menembus batas ranah, mencapai puncak keabadian, bahkan secara tak langsung menjadi penjaga keseimbangan semesta, tiba-tiba membuat pengumuman yang mengguncang seluruh alam.
“Aku pensiun.”
Istana Surga terdiam. Para dewa tercengang. Para raja iblis waspada. Dunia fana gemetar—bukan karena perang, melainkan karena satu kenyataan yang tak masuk akal:
sosok yang selama ini menjaga garis takdir… memilih pergi.
Bukan karena kalah.
Bukan karena terluka.
Namun karena… bosan.
Ribuan tahun berlalu dalam siklus yang sama: menekan kekacauan, mengadili pelanggar langit, menutup retakan dimensi, mengulang hari-hari tanpa rasa. Hidup abadi yang sempurna justru terasa seperti penjara paling sunyi.
Maka sang Immortal turun ke dunia, meninggalkan singgasana langit, dan memilih sesuatu yang dianggap remeh oleh para dewa:
Membuka sebuah restoran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Radapedaxa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 — Raungan Naga Petir
BOOM!!
Tubuh Wang Jianhong terhempas keras.
Punggungnya menghantam dinding bangunan tua di pinggir jalan utama, menghancurkannya seketika. Batu dan kayu beterbangan, debu mengepul tinggi ke udara, menelan sosoknya dalam kabut kelabu.
Sesaat… sunyi.
Lalu—
“Khh—!”
Suara batuk pecah dari dalam debu.
Darah muncrat dari mulut Wang Jianhong, menodai tanah yang retak di bawahnya.
Ia terhuyung.
Satu tangan bertumpu pada tanah.
Satu lagi masih menggenggam pedang.
Tubuhnya gemetar.
Pakaiannya sudah compang-camping, robek di sana-sini. Luka menganga di bahu, di dada, di lengan—beberapa masih mengalirkan darah segar.
Namun—
Ia tetap berdiri.
Perlahan.
Dengan susah payah.
Matanya belum padam.
Di depannya—
Mad Dog berjalan mendekat.
Langkahnya santai.
Tenang.
Seolah yang terjadi barusan hanyalah permainan kecil.
Di belakangnya, para bawahan berbaris diam, seperti bayangan tanpa jiwa.
Mad Dog mengangkat tangannya.
Cakar yang terbuat dari logam Abyss itu—
Kini berlumuran darah.
Ia mengibaskan nya ringan.
Darah terpercik.
“Ah…” gumamnya pelan, “kau benar-benar keras kepala.”
Ia memiringkan kepala.
Menatap Wang Jianhong dengan tatapan dingin.
“Namun… justru itu yang membuatmu sempurna.”
Langkahnya berhenti beberapa meter dari Jianhong.
Senyumnya melebar.
“Kau akan menjadi persembahan yang sempurna… untuk kebangkitan nya.”
Ia berhenti sejenak.
Lalu menambahkan dengan santai—
“Tentu saja… dua tumbal tambahan juga poin yang bagus.”
Bzzzt—
Udara bergetar.
Qi petir mulai muncul kembali dari tubuh Wang Jianhong.
Liar.
Tidak stabil.
Namun… kuat.
Matanya berkilat.
“Jangan… sentuh cucuku…”
Suaranya berat.
Serak.
Namun penuh niat membunuh.
“Jika tidak—”
“Jika tidak apa?”
Mad Dog memotong.
Nada suaranya berubah dingin.
Membeku.
“Seharusnya kau mengkhawatirkan dirimu sendiri, Sword Saint.”
Ia melangkah lebih dekat.
Aura hitamnya menekan.
“Mengancam dalam kondisi seperti itu… sungguh lucu.”
Ia menyeringai.
“Jika kau saja sudah sekarat… bagaimana dengan yang lain?”
Kata-kata itu—
Menusuk.
Seperti pisau.
Wang Jianhong membeku.
Matanya melebar.
Lalu—
BOOOOM!!
Ledakan besar terdengar dari kejauhan.
Dari arah luar kota.
Jantungnya berdegup keras.
Ia menoleh cepat.
Tatapannya bergetar.
Yihan…
Zhenyu…
Kekhawatiran membanjiri dadanya.
Tangannya gemetar.
Napasnya semakin berat.
Mad Dog tertawa pelan.
“Sepertinya situasi di sana…” katanya santai.
“Tidak akan lama lagi.”
Ia menatap Jianhong.
Matanya dingin.
“Tenang saja.”
Senyumnya melebar.
“Kau akan reuni dengan cucumu… di neraka.”
Wajah Wang Jianhong mengeras.
Seketika.
Semua keraguan—
Lenyap.
Yang tersisa hanya—
Tekad.
Ia mengangkat pedangnya lagi.
Tangan yang gemetar kini mengepal lebih erat.
Matanya kembali menyala.
Mad Dog tertawa sinis.
“Ah… jadi ini pilihanmu?”
Ia membuka lengannya sedikit.
“Mau melancarkan serangan putus asa?”
Namun—
Wang Jianhong tidak menjawab.
Sebaliknya—
Ia menggesekkan bilah pedangnya ke telapak tangannya sendiri.
Slash.
Darah mengalir.
Merah pekat.
Menetes—
Lalu menyelimuti bilah pedang itu.
Bzzzztt—
Reaksi terjadi.
Petir yang tadi liar kini menjadi lebih ganas.
Lebih buas.
Seolah darah itu… menjadi bahan bakar.
Wang Jianhong mengangkat pedangnya.
“Yang akan hangus…”
Suaranya rendah.
Dalam.
“…adalah kau.”
Mad Dog terdiam.
Untuk pertama kalinya—
Ekspresinya berubah.
Ia merasakan sesuatu.
Udara di sekelilingnya—
Berat.
Menusuk.
Mengandung ancaman nyata.
“...Apa ini…”
CRACK!
Petir meledak dari tubuh Wang Jianhong.
Bukan hanya dari pedangnya—
Dari seluruh tubuhnya.
Rambutnya terangkat.
Terurai liar.
Matanya—
Bersinar biru terang.
Seperti inti petir itu sendiri.
Qi di sekelilingnya mengamuk.
Tanah retak.
Udara bergetar.
Langit di atasnya… mulai bergemuruh.
Mad Dog membelalak.
Instingnya—
Berteriak.
Bahaya.
Bahaya besar.
“JANGAN COBA-COBA!!”
Ia berteriak.
Tubuhnya langsung melesat.
Kecepatan penuh.
Tanpa ragu.
Tujuannya satu—
Membunuh Wang Jianhong sebelum teknik itu selesai.
Namun—
Terlambat.
Wang Jianhong telah mengangkat pedangnya tinggi.
Dan—
Menebas.
“Heavenly Thunder Dragon Annihilation!”
BOOOOOOOOOOM!!!!
Langit seolah pecah.
Cahaya petir menyambar turun seperti hukuman dari langit.
Dari tebasan itu—
Muncul.
Bukan satu.
Bukan dua.
Namun—
Beberapa naga petir.
Raksasa.
Mengamuk.
Tubuh mereka terbentuk dari kilatan cahaya yang tak stabil.
Mata mereka menyala.
Raungan mereka mengguncang jiwa.
Mereka menerjang.
Langsung ke arah Mad Dog.
“KAU BANGSAT SIALAN!!”
Mad Dog meraung.
Ia mengangkat cakarnya.
Mengumpulkan seluruh Qi hitamnya.
“Abyss Devouring Claw!”
Ia mengayunkan tangannya.
Benturan terjadi.
CRAAACK!!!
Satu naga petir berhasil ia belokkan.
Terlempar ke samping—
Namun—
Itu saja.
Yang lainnya—
Tetap datang.
Tak terhentikan.
“Tidak—!”
Mad Dog mencoba bertahan.
Namun—
Crrrkkk—
Cakarnya retak.
Hancur.
Berkeping-keping.
“ARRRRGGHHHH!!!”
Naga-naga petir itu menelannya.
Satu demi satu.
Menggigit.
Mengoyak.
Menghancurkan.
Tubuhnya dilahap cahaya.
Aura hitamnya tercerai-berai.
Jeritannya menggema di seluruh kota.
Penuh rasa sakit.
Penuh amarah.
Langit menyala.
Tanah bergetar.
Dan dalam ledakan cahaya itu—
Sosok Wang Jianhong berdiri.
Pedangnya masih terangkat.
Namun—
Tubuhnya goyah.
Napasnya hampir habis.
Matanya mulai redup.
Namun—
Ia tetap berdiri.
Menatap ke arah ledakan itu.
Akhirnya… selesai sudah…
Udara masih dipenuhi sisa-sisa listrik.
Bau hangus.
Debu.
Dan sisa energi yang belum sepenuhnya mereda.
Wang Jianhong berdiri di tengah kehancuran itu, tubuhnya gemetar hebat. Pedangnya masih terangkat, namun perlahan turun seiring napasnya yang berat dan terputus-putus.
“Haah… haah…”
Dadanya naik turun.
Pandangan mulai kabur.
Namun—
Ia masih hidup.
Serangan itu… sudah dilepaskan.
Dan untuk sesaat—
Semuanya terasa selesai.
Ia mencoba menarik napas lebih dalam.
Namun—
Tiba-tiba.
…
Bulu kuduknya berdiri.
Tubuhnya menegang.
Instingnya—
Menjerit.
Bahaya.
Tidak.
Lebih dari itu.
Kematian.
Dingin menjalar dari tulang belakangnya hingga ke ujung jari.
Niat membunuh.
Sangat pekat.
Sangat murni.
Dan—
Sangat mengerikan.
Berasal dari—
Belakangnya.
Namun…
Tubuhnya tidak bergerak.
Bukan tidak bisa.
Tapi…
Tidak berani.
Seolah ada sesuatu dalam dirinya yang menolak untuk melihat.
Seolah pikirannya berkata—
Jangan.
Kalau kau melihatnya… kau akan hancur.
Keringat dingin mengalir di pelipisnya.
“Sial…”
Suaranya hampir tidak terdengar.
“Apakah… Mad Dog masih hidup…?”
Namun—
Ia langsung menolak pikirannya sendiri.
“Tidak… tidak…”
Giginya bergetar.
“Aura ini… bukan dia…”
Matanya membesar perlahan.
“Ini… jauh melebihi itu…”
Perasaan itu—
Sama seperti saat ia berdiri di hadapan sosok tertinggi di kekaisaran.
Saat ia pertama kali bertemu sang Kaisar.
Tekanan itu.
Ketidakmampuan untuk melawan.
Rasa kecil yang menusuk hingga ke jiwa.
Dan sekarang—
Ia merasakannya lagi.
Di belakangnya.
Perlahan—
Bayangan muncul di tanah.
Memanjang.
Mendekat.
Siluet itu terlihat.
Tinggi.
Gelap.
Dan—
Dua mata.
Menyala merah.
Penuh niat membunuh.
—
Beberapa saat sebelumnya.
Di atas atap restoran.
Zhao duduk santai.
Kakinya masih menjuntai.
Namun kini—
Ia memakai kacamata hitam.
Di tangannya—
Sebuah wadah berisi popcorn.
Ia memasukkan segenggam ke mulutnya.
“Crunch.”
Matanya tertuju ke kejauhan.
Ke arah pertempuran.
“Wuih…”
Ia mengunyah santai.
“Yang bener aja…”
Kilatan petir memenuhi langit.
Naga-naga listrik mengamuk.
Cahaya menyilaukan.
Ledakan bertubi-tubi.
Zhao bersiul pelan.
“Ini mereka mau hancurin satu kota sekalian apa gimana…”
Ia memasukkan popcorn lagi.
“Crunch.”
“Serius amat sih…”
Namun—
Tiba-tiba ia berhenti.
Menatap wadahnya.
Mengguncangnya sedikit.
Kosong.
“…hah?”
Ia membalik wadahnya.
Tidak ada yang jatuh.
“Udah habis?”
Ia mengangkat alis.
“Saking serunya… cepet banget ludes.”
Ia mendesah.
“Yasudahlah…”
Zhao berdiri.
Meregangkan tubuhnya.
“Ambil lagi aja.”
Ia berbalik.
Siap turun ke bawah.
Namun—
Sesuatu terasa.
Ia berhenti.
“Hmm?”
Ia menoleh sedikit.
Melihat ke arah samping.
Sebuah cahaya.
Kecil.
Namun—
Semakin besar.
Semakin terang.
Semakin mendekat.
“Kenapa ada lampu…?”
Ia menyipitkan mata.
“…yang makin terang ke arah sini?”
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik—
Matanya sedikit melebar.
“…itu apa?”
Dan saat ia berbalik penuh—
Sudah terlambat.
Seekor naga petir.
Raksasa.
Sudah tepat di depan wajahnya.
“What the...”
BOOOOOOOOOM!!!
Ledakan terjadi.
Lantai satu restoran—
Hancur.
Langsung.
Tanpa sisa.
Kayu beterbangan.
Dinding runtuh.
Debu membumbung tinggi.
Atap bergetar hebat.
Seluruh bangunan miring.
Hampir roboh.
Zhao—
Membeku.
Benar-benar membeku.
Tangannya masih setengah mengangkat wadah popcorn kosong.
Matanya menatap ke bawah.
Ke arah—
Restoran miliknya.
Yang sekarang…
Tidak lagi berbentuk restoran.
“….”
Sunyi.
Dua detik.
Tiga detik.
Lalu—
“WHAT THE FUUUUUCKKKK—!”
Ia langsung bergerak.
Qi mengalir deras dari tubuhnya.
Menguatkan struktur yang tersisa.
Menahan atap.
Menahan lantai dua.
Menahan segalanya agar tidak runtuh.
“JANGAN ROBOH DULU—!”
Ia menekan dengan seluruh kekuatannya.
Kayu yang retak perlahan berhenti.
Struktur yang hampir runtuh kembali stabil.
Sementara itu—
Di lantai dua.
Yueling sedikit mengerut.
“Uhmm…”
Ia menggeram pelan dalam tidurnya.
Zhao langsung panik.
“Eh eh eh—”
Ia menahan napas.
Tidak berani bergerak.
Tidak berani bersuara.
“Sayang… itu terlalu keras…”
gumam Yueling pelan.
Lalu—
Ia kembali tenang.
Tertidur lagi.
Zhao terdiam.
Beberapa detik.
Lalu—
Huuuuuhhh…
Ia menghela napas lega.
Sangat lega.
“Selamat…”
Ia hampir duduk di tempat.
Namun—
Perlahan.
Sangat perlahan.
Ia menoleh ke bawah.
Ke arah lantai satu.
Yang sekarang—
Sudah jadi puing.
Dinding hancur.
Meja kursi lenyap.
Dapur—
Hilang.
Hilang total.
Hening.
Zhao berdiri diam.
Tidak bergerak.
Ekspresinya kosong.
Beberapa detik.
Sepuluh detik.
Dua puluh detik.
Lalu—
Pelan.
Sangat pelan.
Urat di pelipisnya berkedut.
Sekali.
Dua kali.
Tangannya mengepal.
“…”
Aura di sekelilingnya berubah.
Udara menjadi berat.
Sangat berat.
“Padahal…”
Suaranya pelan.
Bergetar.
“…baru aja direnovasi.”
Kepalanya sedikit menunduk.
Rambutnya menutupi matanya.
“…baru sebulan.”
Sunyi.
Angin berhenti.
Malam terasa membeku.
Kemudian—
Ia mengangkat kepala.
Matanya—
Gelap.
Dingin.
Dan penuh—
Niat membunuh.
“Bunuh…”
Satu kata.
Namun beratnya—
Seperti runtuhnya dunia.
“Aku…”
Qi mulai bergetar liar.
Tanah di bawahnya retak perlahan.
“Akan membunuh semuanya…”
Suaranya rendah.
Tenang.
Namun justru itu yang membuatnya mengerikan.
“Aku tidak peduli…”
Ia melangkah satu langkah ke depan.
“…meskipun harus mengacak-acak dunia ini sekali lagi. Mereka harus membayar karena aku akan kena omel istriku lagi habis ini..”
Di kejauhan—
Wang Jianhong masih berdiri.
Membeku.
Tidak berani berbalik.