Arka adalah pria biasa yang hidupnya selalu penuh kegagalan. Dipecat dari pekerjaan, ditinggalkan pacar, dan hampir kehilangan harapan hidup.
Namun setelah kecelakaan misterius, hidupnya berubah total ketika sebuah Sistem Harem Legendaris muncul di dalam pikirannya.
Sistem itu memberinya misi aneh: bertemu wanita-wanita luar biasa yang akan mengubah takdirnya.
Dari CEO cantik yang dingin, idol terkenal, hacker jenius, hingga pembunuh bayaran misterius—setiap wanita yang mendekatinya membuka kekuatan baru bagi Arka.
Namun semakin banyak wanita yang masuk dalam hidupnya, semakin berbahaya dunia yang harus ia hadapi.
Akankah Arka mampu mengendalikan kekuatan sistem itu… atau justru tenggelam dalam permainan takdir yang lebih besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wedanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Masa Lalu
Langit di atas Akademi Arclight mulai berubah warna ketika matahari perlahan turun di ufuk barat. Turnamen hari itu hampir selesai, tetapi suasana di seluruh akademi masih penuh dengan energi. Para siswa terus membicarakan pertandingan yang baru saja terjadi, terutama duel tim yang melibatkan Ren dan juga tim Lilia.
Nama Ren kini mulai terdengar di berbagai sudut akademi. Banyak yang awalnya tidak mengenalnya, tetapi setelah dua pertandingan yang ia menangkan dengan cara yang cukup mengejutkan, hampir semua siswa mulai penasaran dengan siapa sebenarnya Ren Valen.
Ren sendiri sedang berjalan sendirian di salah satu koridor batu yang panjang di sisi akademi. Langkahnya santai, tetapi pikirannya jauh dari tenang. Pertandingan tadi terus terulang di kepalanya, terutama saat Selene melepaskan serangan aneh yang langsung mengakhiri duel.
Energi yang Selene gunakan terasa… mirip.
Mirip dengan sesuatu yang ada di dalam dirinya.
Ren berhenti sejenak di dekat jendela besar yang menghadap ke halaman belakang akademi. Angin malam yang mulai dingin masuk perlahan melalui celah jendela yang terbuka sedikit. Ia menghela napas panjang.
“Apa sebenarnya kekuatan ini…” gumamnya pelan.
Ia menatap tangannya sendiri.
Sejak insiden di hutan, energi aneh itu semakin sering muncul. Kadang terasa hangat seperti api yang tertahan di dalam tubuhnya, kadang terasa dingin seperti bayangan yang bergerak di dalam darahnya.
Ren bahkan tidak yakin apakah kekuatan itu benar-benar miliknya… atau sesuatu yang lain.
“Berpikir sendirian di tempat gelap seperti ini tidak baik.”
Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari belakangnya.
Ren menoleh.
Selene berdiri beberapa meter di belakangnya, bersandar santai pada dinding batu koridor. Rambut hitam panjangnya bergerak pelan tertiup angin malam. Mata merahnya bersinar samar dalam cahaya lampu sihir yang redup.
Ren menghela napas kecil.
“Seharusnya aku sudah menebak kamu akan muncul.”
Selene tersenyum tipis.
“Aku hanya kebetulan lewat.”
Ren menatapnya dengan ekspresi datar.
“Kebetulan yang sangat mencurigakan.”
Selene tertawa pelan, suara tawanya terdengar ringan tetapi penuh misteri.
Ia berjalan mendekat beberapa langkah hingga akhirnya berdiri di samping Ren, sama-sama menghadap keluar jendela.
Beberapa detik mereka hanya diam.
Selene akhirnya berbicara lagi.
“Kamu bertarung dengan baik hari ini.”
Ren menjawab tanpa menoleh.
“Terima kasih.”
Selene meliriknya sedikit.
“Kamu tidak terlihat senang.”
Ren mengangkat bahu.
“Menang bukan berarti semuanya jelas.”
Selene memiringkan kepalanya sedikit.
“Maksudmu kekuatanmu?”
Ren akhirnya menoleh.
“Kamu tahu sesuatu tentang itu, kan?”
Selene tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Ren beberapa saat dengan ekspresi yang sulit dibaca.
Kemudian ia berkata pelan.
“Lebih banyak dari yang kamu kira.”
Ren menghela napas pelan.
“Aku sudah menduga.”
Selene bersandar pada jendela batu dan menatap langit yang mulai gelap.
“Ren… apakah kamu pernah merasa bahwa hidupmu tidak sepenuhnya milikmu?”
Pertanyaan itu membuat Ren sedikit bingung.
“Apa maksudmu?”
Selene menatap bulan yang mulai muncul di langit.
“Seperti ada sesuatu di masa lalumu yang hilang.”
Ren terdiam.
Ia tidak pernah benar-benar memikirkan masa lalunya terlalu dalam. Yang ia ingat hanya hidup sederhana di desa kecil sebelum akhirnya datang ke akademi ini.
Namun sekarang…
Setelah semua yang terjadi…
Ia mulai merasa ada sesuatu yang memang tidak lengkap.
Selene melanjutkan dengan suara pelan.
“Kamu tidak ingat apa pun sebelum usia sepuluh tahun, bukan?”
Ren langsung menatapnya tajam.
“Bagaimana kamu tahu itu?”
Selene tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung.
Ia hanya tersenyum kecil.
“Karena itu bukan kebetulan.”
Ren merasa jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
“Apa yang kamu maksud?”
Selene menoleh dan menatap langsung ke matanya.
“Karena sebagian dari masa lalumu… memang sengaja disembunyikan.”
Koridor itu tiba-tiba terasa jauh lebih sunyi.
Ren mencoba memahami kata-katanya.
“Sengaja?”
Selene mengangguk perlahan.
“Ya.”
Ren mengepalkan tangannya sedikit.
“Siapa yang menyembunyikannya?”
Selene tidak langsung menjawab.
Ia menatap Ren lama sebelum akhirnya berkata dengan suara sangat pelan.
“Keluargamu.”
Ren langsung mengernyit.
“Aku bahkan hampir tidak mengenal keluargaku.”
Selene tersenyum tipis.
“Justru itu.”
Angin malam berhembus lebih kuat melalui jendela, membuat lampu sihir di koridor bergoyang sedikit.
Ren mencoba menenangkan pikirannya.
“Kamu mengatakan semua ini seolah-olah kamu tahu segalanya.”
Selene mengangkat bahu ringan.
“Aku hanya tahu sebagian.”
Ren menatapnya tajam.
“Lalu kenapa kamu memberitahuku?”
Selene menatapnya lagi.
Tatapannya kali ini berbeda. Lebih serius.
“Karena cepat atau lambat kamu akan tahu sendiri.”
Ren terdiam.
Beberapa detik berlalu tanpa kata.
Kemudian Ren akhirnya berkata pelan.
“Apakah kekuatan ini… berhubungan dengan masa laluku?”
Selene tersenyum tipis lagi.
“Kamu mulai mengerti.”
Ren menghela napas panjang.
“Kamu benar-benar suka berbicara dengan teka-teki.”
Selene tertawa kecil.
“Kalau aku memberitahumu semuanya sekarang, ceritanya akan jadi membosankan.”
Ren memutar matanya sedikit.
“Luar biasa.”
Selene kemudian menjauh dari jendela dan mulai berjalan menuju ujung koridor.
Namun sebelum benar-benar pergi, ia berhenti sebentar.
“Ren.”
Ren menoleh.
Selene menatapnya sekali lagi.
“Turnamen ini akan mengubah hidupmu.”
Ren tidak menjawab.
Selene melanjutkan dengan senyum misterius.
“Dan ketika saatnya tiba…”
Matanya bersinar merah samar.
“…aku ingin melihat apakah kamu benar-benar siap.”
Setelah mengatakan itu, Selene berjalan pergi dan menghilang di ujung koridor.
Ren tetap berdiri di tempatnya.
Pikirannya penuh dengan pertanyaan.
Masa lalu yang hilang.
Kekuatan yang tidak ia pahami.
Dan Selene… yang tampaknya tahu jauh lebih banyak daripada yang ia katakan.
Ren akhirnya menatap langit malam sekali lagi.
Bintang-bintang mulai muncul satu per satu di langit gelap.
Ia mengepalkan tangannya perlahan.
“Aku tidak peduli apa pun yang tersembunyi di masa laluku…”
suara Ren terdengar pelan tetapi tegas.
“…aku akan mencari tahu sendiri.”
Namun jauh di luar akademi, di hutan gelap yang mengelilingi wilayah Arclight…
Seseorang sedang berdiri di atas tebing batu tinggi.
Sosok itu mengenakan jubah hitam panjang dengan simbol aneh di bagian punggungnya.
Di depannya melayang sebuah bola kristal gelap.
Di dalam kristal itu terlihat bayangan arena akademi… dan wajah Ren.
Pria berjubah itu tersenyum dingin.
“Jadi akhirnya kau muncul…”
Ia mengangkat tangannya perlahan.
Energi gelap mengalir di sekeliling kristal.
“Pewaris kekuatan itu…”
Matanya bersinar merah.
“…aku sudah menunggumu sangat lama.”
Angin malam bertiup kencang di atas tebing.
Dan tanpa Ren sadari…
Musuh yang jauh lebih berbahaya daripada turnamen akademi…
Sudah mulai bergerak.