NovelToon NovelToon
Bos Baruku Ternyata Mantanku

Bos Baruku Ternyata Mantanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Aira Maharani, 28 tahun, dikenal sebagai gadis mungil dan cantik dengan dedikasi tinggi di bidang keuangan. Kariernya di salah satu anak perusahaan Satria Group berjalan stabil hingga ia dipindahkan ke unit yang lebih besar, sebuah kesempatan yang seharusnya menjadi langkah maju. Namun, harapan itu berubah menjadi kecanggungan ketika ia mengetahui bahwa direktur barunya adalah Bimantara Dwi Cahyo, putra pemilik Satria Group sekaligus mantan kekasihnya di masa SMA.

Dulu, Aira memilih mengakhiri hubungan mereka karena merasa prestasinya menurun sejak berpacaran dengan Bima. Keputusan itu meninggalkan luka yang tampaknya belum sepenuhnya sembuh bagi Bima. Kini, dalam posisi sebagai atasan, Bima kerap memberi tekanan dan tugas berlebihan kepada Aira, seolah membalas masa lalu yang belum selesai.

Meski awalnya dipenuhi ketegangan dan konflik, interaksi mereka mulai berubah seiring berjalannya waktu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 10

Hari itu Aira benar-benar tidak merasa nyaman. Sejak pagi, suasana hatinya seperti ditindih sesuatu yang berat dan tak terlihat. Bayangan tentang pertengkarannya dengan Pandu terus berputar di kepalanya, seolah tidak mau memberi ruang sedikit pun untuk bernapas. Ancaman yang dilontarkan pria itu masih terngiang jelas, menusuk perlahan dan membuatnya gelisah.

Ia hanya ingin bekerja. Itu saja. Datang pagi, menyelesaikan tugas, lalu pulang tanpa drama. Namun kenyataannya, kehidupan kantor yang ia jalani sekarang justru terasa seperti jebakan yang perlahan menutup.

Aira menatap layar komputernya, tetapi pikirannya tidak benar-benar berada di sana. Tangannya diam di atas keyboard. Semua terasa sia-sia.

Lebih menyakitkan lagi, ia teringat pada Bima.

Pria itu pernah mengatakan akan melindunginya. Kata-kata yang saat itu terasa seperti pegangan, seperti janji yang bisa ia percayai. Namun apa yang terjadi hari ini benar-benar berbeda.

Bima hanya diam.

Saat Pandu menggodanya, Bima diam.

Saat Pandu mulai marah dan mengancam, Bima tetap diam.

Seolah semua itu hanya tontonan.

Seolah Aira bukan seseorang yang perlu dibela.

Aira menunduk, menggigit bibirnya pelan. Perasaan kecewa itu lebih tajam daripada rasa takut. Jika sejak awal ia tahu akan seperti ini, mungkin ia tidak akan pernah percaya.

Dengan napas panjang, ia membuka laci mejanya dan mengeluarkan selembar kertas. Tangannya mulai bergerak menulis.

Surat pengunduran diri.

Tidak ada pilihan lain yang terasa masuk akal baginya. Ia tidak akan pernah bisa bekerja dengan tenang di tempat seperti ini. Bukan hanya soal Pandu, tapi juga sistem yang membiarkan hal itu terjadi.

“Aira...”

Suara Ayunda membuatnya berhenti menulis. Ia menoleh pelan.

Ayunda berdiri di samping mejanya dengan ekspresi khawatir.

“Kamu masih kepikiran soal tadi, ya?”

Aira tersenyum tipis, walau jelas tidak meyakinkan. “Sulit untuk tidak memikirkannya.”

Ayunda menarik kursi dan duduk di dekatnya. “Aku sudah bicara sama Bu Ida. Dia bilang akan bantu kalau Pandu macam-macam lagi.”

Aira terdiam sejenak. Ada sedikit rasa lega, tapi itu tidak cukup untuk menghapus ketakutan yang sudah terlanjur tumbuh.

“Terima kasih,” ucapnya pelan. “Tapi aku tidak yakin itu akan cukup.”

Ayunda menatapnya serius. “Setidaknya kamu tidak sendirian.”

Kalimat itu terdengar hangat, tapi Aira tahu kenyataannya tidak sesederhana itu.

Ia kembali melihat surat di tangannya.

“Aku mau resign,” katanya akhirnya.

Ayunda terkejut. “Kamu serius?”

Aira mengangguk. “Aku tidak bisa terus seperti ini. Setiap hari merasa takut, merasa tidak aman... itu bukan cara hidup yang normal.”

Ayunda terdiam, tidak langsung menjawab. Ia mengerti, tapi tetap terasa berat.

“Aku harap kamu dapat tempat yang lebih baik,” katanya pelan.

Aira hanya tersenyum kecil.

 

Di ruangan lain, suasana terasa jauh berbeda.

Bu Ida berdiri di depan meja Bima dengan ekspresi tegang. Ia baru saja menjelaskan kejadian di depan lift pagi tadi secara detail. Harapannya sederhana, agar Bima mau mengambil tindakan tegas terhadap Pandu.

Namun reaksi yang ia dapatkan jauh dari yang diharapkan.

Bima hanya tersenyum.

Senyuman yang terlalu santai untuk situasi seperti ini.

“Pak Bima,” ujar Bu Ida dengan nada tertahan, “ini bukan hal sepele. Pandu sudah melewati batas.”

Bima menyandarkan tubuhnya di kursi. “Saya tahu.”

“Kalau tahu, kenapa tidak ada tindakan?”

Bima menatapnya sebentar, lalu menghela napas ringan. “Karena situasinya tidak sesederhana itu.”

Bu Ida mengerutkan kening. “Maksudnya?”

“Pandu bukan hanya manajer produksi,” lanjut Bima tenang. “Dia putra Pak Taufik.”

Nama itu membuat Bu Ida terdiam sejenak.

“Pemegang saham,” tambah Bima. “Dan juga sahabat ayah saya.”

Ruangan itu tiba-tiba terasa lebih dingin.

“Jadi... karena itu, Bapak tidak bisa berbuat apa-apa?” tanya Bu Ida, suaranya mulai terdengar kecewa.

Bima tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum kecil, seolah mencoba menutupi sesuatu.

“Kalau Pandu ingin Aira dipecat,” katanya akhirnya, “maka itu bisa terjadi.”

Bu Ida menatapnya tidak percaya. “Ini tidak adil.”

“Dunia kerja memang tidak selalu adil,” jawab Bima ringan.

Kalimat itu membuat dada Bu Ida terasa sesak.

Ia datang dengan harapan, tapi pulang dengan kekecewaan.

“Baik,” katanya singkat, berusaha menjaga sikap profesional. “Saya mengerti.”

Ia berbalik dan keluar dari ruangan tanpa menunggu balasan.

Begitu pintu tertutup, ekspresi Bima berubah. Senyumnya perlahan menghilang, digantikan tatapan kosong yang sulit diartikan.

 

Setelah makan siang, Aira menerima panggilan dari HRD.

Jantungnya langsung berdegup lebih cepat.

Ia sudah menduga ini akan terjadi.

Dengan langkah pelan, ia berjalan menuju ruangan HRD. Setiap langkah terasa berat, seolah kakinya enggan melanjutkan.

Begitu pintu dibuka, ia langsung melihat Pandu.

Pria itu duduk santai, bersandar di kursi dengan ekspresi puas. Seolah ini semua adalah rencana yang sudah ia susun sejak awal.

Beberapa staf HRD juga berada di sana, menatap Aira dengan ekspresi serius.

“Aira, silakan duduk,” kata salah satu dari mereka.

Aira duduk dengan tenang, walau tangannya sedikit gemetar.

Pandu berdiri, lalu berjalan mendekatinya.

“Akhirnya datang juga,” katanya dengan nada mengejek. “Sudah siap menerima balasan?”

Aira tidak menjawab. Ia hanya menatap lurus ke depan.

Salah satu staf HRD membuka berkas di mejanya. “Kami akan membahas laporan terkait insiden antara Anda dan Pak Pandu.”

Aira menelan ludah. Ia mencoba tetap tenang.

Namun yang terjadi selanjutnya benar-benar di luar dugaannya.

“Kami memberikan teguran keras kepada Anda,” lanjut staf itu.

Aira terkejut. “Saya?”

“Ya,” jawabnya tegas. “Berdasarkan laporan yang masuk, Anda dianggap melakukan tindakan yang merugikan nama baik perusahaan dan atasan Anda.”

Aira menatap mereka tidak percaya. “Saya yang dirugikan. Saya yang diganggu.”

Pandu tertawa pelan di sampingnya. “Dengar itu? Masih berani menyangkal.”

Aira menoleh ke arahnya. “Anda tahu apa yang Anda lakukan.”

“Yang saya tahu,” balas Pandu santai, “saya dipermalukan.”

Suasana ruangan menjadi tegang.

“Selain itu,” lanjut staf HRD, “Pak Pandu berniat membawa masalah ini ke jalur hukum atas dugaan pencemaran nama baik.”

Kata-kata itu seperti petir bagi Aira.

“Apa?” suaranya bergetar.

Pandu tersenyum lebar. “Kamu pikir ini akan selesai begitu saja?”

Aira merasa dunia di sekitarnya mulai berputar.

“Saya tidak melakukan apa-apa,” katanya pelan, hampir seperti bisikan.

“Tapi kamu sudah membuat cerita yang merugikan saya,” jawab Pandu. “Dan itu cukup.”

Aira menatap meja di depannya, mencoba memahami situasi yang semakin absurd.

Ia yang diam selama ini, ia yang menahan diri, kini justru menjadi pihak yang disalahkan.

Ini tidak masuk akal.

Dengan sisa keberanian yang ia punya, Aira mengeluarkan surat dari tasnya.

“Saya ingin mengundurkan diri,” katanya, suaranya pelan tapi tegas. “Saya rasa ini bisa menjadi penyelesaian.”

Staf HRD saling berpandangan.

Namun sebelum mereka sempat menjawab, Pandu sudah lebih dulu berbicara.

“Tidak bisa.”

Aira menoleh cepat. “Apa?”

“Saya tidak setuju,” kata Pandu sambil menyilangkan tangan. “Kamu tidak bisa lari begitu saja.”

Aira menatapnya dengan campuran marah dan takut. “Saya tidak lari. Saya hanya ingin menyelesaikan ini tanpa masalah lebih lanjut.”

Pandu mendekat sedikit, menunduk agar sejajar dengan wajah Aira.

“Kamu akan melakukan apa yang saya inginkan,” katanya pelan, tapi penuh tekanan. “Atau saya akan benar-benar membawa ini ke pengadilan.”

Aira merasa napasnya tertahan.

“Bersikaplah baik,” lanjut Pandu dengan senyum tipis, “dan mungkin saya akan mempertimbangkan untuk tidak menghancurkanmu.”

Kata-kata itu begitu dingin, begitu kejam.

Aira tidak tahu harus menjawab apa.

Ia terjebak.

Benar-benar tidak bisa melakukan apa pun.

Ruangan itu terasa semakin sempit, seolah menekan dari segala arah.

Dan untuk pertama kalinya, Aira benar-benar merasa sendirian.

1
Wayan Sucani
Lanjut thor...
Nurjana Bakir
lanjut thoor
Black Rascall: siap👍👍👍 jangan lupa likenya kak
total 1 replies
Cucu Rodiah
udah kalou begini terus tidak baca lagi
Black Rascall: makasih udah mampir kak semoga nanti mau mampir lagi
total 1 replies
Cucu Rodiah
komentar apalagi udah dua kali komentar
Black Rascall: tenang aja kak nanti kalau view nyentuh 5K saya update 10 bab sehari buat ngasih bonus ke pembaca yang sudah mendukung
total 1 replies
Cucu Rodiah
teruskan kan jangan di potong potong
Black Rascall: sabar ya kak udah saya siapkan bab terjadwal sampai bab 44 kok update setiap hari
total 1 replies
Cucu Rodiah
maki seru bagus
Black Rascall: makasih dukungannya bab berikutnya mungkin lebih parah ributnya
total 1 replies
Nana umi
bagus
Black Rascall: makasih kak bantu likenya
total 1 replies
Lempongsari Samsung
makasih crazy up nya thor❤❤❤
Black Rascall: yang penting likenya yang rajin kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!