Hamil dengan pria asing yang ternyata, Mafia???!
Aria hamil dari pria tak dikenal setelah malam yang menghancurkan hidupnya. Ia memilih mempertahankan anak itu, meski pikirannya nyaris runtuh.
Hingga pria itu kembali.
Lorenzo de Santis—datang, mengaku bertanggung jawab, dan masuk ke hidupnya tanpa izin. Namun Aria tidak tahu…
Bahwa kehamilan tersebut bukanlah kebetulan.
Melainkan rencana.
Dan pria yang berdiri di hadapannya bukan sekadar masa lalu yang kelam—
melainkan seorang bos mafia yang sejak awal telah mengendalikan segalanya.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MBM — BAB 28
RENCANA LICIK
Ruang VIP itu remang. Aroma cerutu mahal dan wiski tua bercampur di udara. Emilio de Santis duduk di sofa kulit hitam, dikelilingi empat pria berjas yang rambutnya sudah memutih semua. Tangan mereka penuh cincin, suara mereka pelan tapi setiap kata bisa menggerakkan saham dan nyawa.
“Pengiriman bulan depan kita alihkan lewat Maroko,” kata pria botak dengan jam Rolex emas. “Jalur lama sudah panas sejak—”
Pintu diketuk dua kali. Pendek. Kode.
Seorang pria muda masuk. Jas hitam, kuping tersambung earpiece. Dia membungkuk ke Emilio, membisikkan sesuatu tepat di telinga bosnya. Suaranya tidak terdengar, tapi efeknya langsung.
Tawa para tetua itu berhenti. Gelas wiski berhenti di tengah jalan ke bibir. Semua mata ke Emilio.
Wajah Emilio berubah. Terkejut dulu, namun itu hanya sedetik. Lalu tegang dan rahangnya mengeras tercetak jelas, kemudian datar, dingin seperti danau beku.
Dia menegakkan punggung. Menaruh gelasnya ke meja tanpa suara.
“Habisi mereka yang ada di sana.” Suaranya pelan dan serak, namun tak ada emosi. Tapi jelas perintah tadi lebih tajam dari pisau. “Jangan tersisa.”
Anak buahnya mengangguk. “Saya mengerti, Tuan.” Dia berbalik, keluar secepat dia masuk.
Hening menggantung di ruangan. Empat klien terpandang itu saling lirik. Alis terangkat penasaran dan jelas menggantung di wajah mereka. Tapi tidak ada yang buka mulut. Karena mereka tahu dunia mereka, privasi adalah mata uang, tanya berarti lemah.
Emilio meraih cerutunya lagi. Menyalakan lalu mengisap panjang. Asap mengepul, menyembunyikan matanya.
“Maafkan interupsi kecil.” Kata akhirnya. Senyumnya tipis dan kosong. “Kita lanjutkan. Jalur Maroko tadi.”
Dia bicara bisnis lagi. Suaranya stabil, tapi tangannya yang memegang cerutu, buku jarinya memutih pasrah, dingin, seperti orang yang baru saja menandatangani surat kematian seseorang.
.
.
.
Di kamar paling ujung sayap timur, lampu tidur menyala temaram. Monica berdiri di depan meja rias, mengenakan piyama dress sutra hitam, mewah dan mahal. Tapi tidak bisa menutupi gelisahnya.
Sudah gelas ketiga beer yang dia teguk hingga habis, tapi kepalanya masih ribut. Jantungnya berdetak terlalu cepat tanpa sebab. Bayangan Don Vito, bayangan Lorenzo. Bayangan masa lalu dua puluh tahun lalu yang bau darah dan pengkhianatan.
Pyarr!!! “Sialan.” kesal Monica membanting gelas di lantai.
Kakinya membawa keluar kamar. Lorong begitu sepi karena memang jam sudah lewat tengah malam. Para pelayan sudah masuk kamar masing-masing untuk istirahat sesuai aturan.
Monica melangkah cepat, menuruni tangga. “PELAYAN!” Panggilannya menggema berteriak marah. Tidak ada sahutan. “DI MANA PARA PELAYAN SIALAN INI! APA TIDAK ADA YANG BEKERJA ?!”
Namun semuanya masih sama, hening dan gelap.
Dia meremas ujung piyamanya marah sekaligus panik yang luar biasa, hingga jantungnya berdegup kencang. “Tidak ada yang kerja benar di rumah ini! Dasar bajingan...” gerutunya yang sesekali memegangi kening hingga kepalanya.
“Hei, cantik. Kenapa teriak-teriak di malam hari?”
Suara itu datang dari bawah tangga.
Pria dengan gaya seperti biasa— kemeja putih, jas, topi fedora yang senda dengan jas dan celananya serta cerutu yang menyala.
Vitorio— Berdiri santai. Di tangannya, benda oval kecil berisi bubuk putih. Ia berjalan maju dan tersenyum licik menatap Monica. Dan Monica menatap benda itu. Matanya melebar. Lalu menyipit. “Kau membawa lagi, Vitorio.” katanya dengan nada rendah.
“Aku peduli.” Vitorio naik satu anak tangga. Menawarkan kantong itu. “Kau tidak butuh beer lagi. Kau butuh ini agar lebih tenang. Dan kau terlihat sangat tegang.”
Monica menatapnya. Ia segera mendekat dan meraih benda itu karena dia membutuhkannya untuk menenangkan pikiran dan kepalanya yang berisik.
“Sialan kau, Vitorio. Aku setengah mati untuk bisa tenang.” Dengan kasar dia merebut kantong itu. Jarinya gemetar membuka, menaburkan sedikit ke meja konsol di dekat tangga. Menggulung uang kertas yang Vitorio sodorkan, lalu menghirupnya hingga tak tersisa.
Sekali, namun dalam.
Kepalanya langsung kosong. Jantungnya melambat dan bahunya turun. Monica memejamkan matanya, bibirnya yang merah itu tersenyum lebar nan lega.
Tapi semua itu hanya di permukaan, karena di dalam, pikirannya masih kacau.
Vitorio bersandar di pagar tangga sembari memperhatikan wanita itu. “Lebih baik?”
Monica membuka mata. Tatapannya sudah fokus, tapi dingin, namun senyumannya masih terukir jelas. “Hahh... Sangat baik. Tapi jangan bahas itu.”
“Kau memikirkan Don Vito.” Vitorio tidak bertanya, namun menyatakan. “Dan Lorenzo. Dan apa yang akan terjadi kalau bocah itu pulang dari Sisilia?”
Monica terkejut mendengar kabar itu. Dia berjalan menatapnya lekat. “Sisilia? Untuk apa dia ke sana? Dan kapan?”
“Tentu saja menemui Don Vito.” jawab santai Vitorio yang melewatinya dan duduk di sofa panjang dengan santai.
Monica ikut duduk, tapi di sofa singel. “Bagaimana kau bisa yakin kalau dia bertemu Don Vito? Kita semua tahu, Don Vito masih di penjara.” kata Monica sedikit panik namun tak berlebihan seperti beberapa menit lalu.
Vitorio tersenyum kecil. “Apa yang tidak aku ketahui di sini, Monica!” senyuman itu hilang dan ia menghisap cerutu nya lagi.
Monica mengangkat wajah. Matanya menyala lagi, bukan oleh kokain, tapi oleh dendam lama. “Aku muak, semakin hari rasanya aku ingin menghabisi mereka semua dan mengakhiri ini, Vitorio.” tegas Monica yang menatap lurus dan sedikit khawatir.
Ia kembali menoleh ke Vitorio yang masih diam dan mendengarkan.
“Sejak dulu, aku berhasil menghasut kakakmu itu sehingga Leonor tewas dan menjerat si bajingan Lorenzo itu di bawahku. Tapi semakin hari, Emilio bersikap keterlaluan. Aku ingin menghabisi mereka semua.” kata Monica tak peduli.
Mendengar itu, Vitorio terdiam dengan tatapan seolah berpikir.
“Kalau begitu habisi saja mereka satu persatu. 5 tahun itu tidak lama, Monica... Jangan sampai musuh bertambah satu.”
Monica berkernyit bingung. Musuhnya bertambah satu. “Siapa yang kau maksud?”
“Tentu saja anak Matteo yang akan menjadi anaknya Lorenzo.” ujar Vitorio kembali merokok. Sementara Monica langsung terdiam seolah berpikir dua kali.
“Jika memang benar itu milik Matteo... Maka itu sangatlah peluang, bukan.” pria berkumis itu menatap licik ke Monica yang masih berpikir dalam diam. Hingga Vitorio tersenyum kecil saat Monica masih fokus ke depan.
-‘Anak Matteo. Tentu saja...’ batin Monica yang kini alis kanannya terangkat dan mimik wajahnya menunjukkan betapa liciknya dia dengan pikirannya.
“Rebut. Lalu habisi semuanya.” gumam Monica yang sudah pasti dan sangat yakin akan keputusannya detik itu juga.
Vitorio mengangguk-anggukkan kepalanya, dan menghisap cerutu nya dengan sangat santai. Begitu juga Monica yang mulai bersandar dan masih berpikir lebih jernih serta licik.
Sementara di kamar. Aria tak bisa tidur, sudah beberapa menit dia mengajak Teresa mengobrol hingga Teresa tertidur di sampingnya lebih dulu.
“Kenapa aromanya terbayang-bayang di hidungku?” kesalnya yang mengelus perutnya dan menatapnya sedih. “Ayolah... Dia ayah yang buruk, jangan dekat-dekat dengannya. Mengerti.” ucapnya memberi nasehat pada calon bayinya.
Aria menoleh ke Teresa yang masih tidur, lalu ia turun dari ranjang dan keluar kamar. Namun langkahnya malah membawanya ke kamar pribadi milik Lorenzo yang disana seketika aroma khas suaminya itu tercium jelas di hidungnya.
Wanita itu tersenyum menikmatinya dan nyelonong masuk begitu saja.
Kamar yang rapi dan elegan. Ia membuka lemari dan melihat susunan kemeja hitam, jas hitam, mantel. Hingga tangan Aria menyentuh salah satu kemeja hitam milik Lorenzo dan mencium bagian lengan kemeja tersebut sampai menempel di hidungnya.
“Aromanya sangat wangi!” gumamnya yang langsung mengambil kemeja itu dan membawanya berbaring di kasur king size milik Lorenzo.
Begitu nyaman dan lembut, itu yang Aria rasakan.