NovelToon NovelToon
Always His

Always His

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daena

Catherina Lawrence (24 tahun) mengira pernikahannya dengan Adrian Mettond, senior di kampusnya dulu, adalah pelabuhan tenang setelah badai masa lalu yang kelam. Namun, belum genap satu tahun berjalan, kenyataan pahit menghantamnya. Adrian ternyata tidak siap menjadi ayah bagi putra mereka, Liam, dan sang ibu mertua terus memperlakukannya layaknya orang asing yang tak diinginkan.

Di tengah dinginnya sikap Adrian, Catherina dihantui oleh bayang-bayang Everest Cavanaught—mantan kekasih sekaligus "pangeran berandalan" dari masa Lalunya. Hubungan Empat tahun itu berakhir karena keegoisan Catherina, meninggalkan luka yang belum sembuh. Ironisnya, semakin Liam tumbuh, wajah sang bayi justru semakin menyerupai Everest, bukan Adrian.

Terjebak dalam rumah tangga yang hampa dan penuh tuntutan, Catherina mulai mempertanyakan segalanya.

Apakah Adrian benar-benar mencintainya?
.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#30

Bel pulang sekolah berbunyi dengan nada yang panjang, seolah memberikan tanda berakhirnya ketegangan ujian sejarah bagi seluruh siswa. Namun bagi Angelina Mettond, suara itu justru menjadi awal dari siksaan lain yang harus ia jalani setiap hari: perjalanan pulang bersama Liam Cavanaugh.

Udara sore yang hangat menyelimuti area parkir saat mereka berdua memasuki kursi belakang mobil mewah keluarga Cavanaugh. Seperti rutinitas selama belasan tahun, tidak ada jarak di antara mereka.

Begitu pintu tertutup dan AC mobil mulai berhembus pelan, Liam langsung menggeser duduknya, merapatkan tubuhnya pada Angelina dan melingkarkan tangannya yang kokoh di bahu gadis itu.

"Angel... sepertinya hari ini aku demam," keluh Liam. Suaranya terdengar serak, sebuah nada manja yang hanya ia keluarkan saat mereka hanya berdua.

Angelina tertegun sejenak. Dengan naluri yang sudah tertanam sejak kecil, ia segera menempelkan punggung tangannya ke dahi Liam. Dingin. Ia membolak-balikkan tangannya, memeriksa pipi dan leher Liam.

"Tidak, Liam. Kau sama sekali tidak demam. Suhumu normal," ucap Angelina heran.

Bukannya menjauh, Liam justru semakin menenggelamkan wajahnya di bahu Angelina, merapatkan tubuhnya hingga Angelina bisa merasakan detak jantung pemuda itu yang stabil namun kuat.

"Aku merasa demam, Angel. Kepalaku pening sekali," bohong Liam dengan nada merajuk yang keras kepala. "Kau harus menginap lagi malam ini di mansion. Ya? Ya? Ya?"

Angelina menghela napas, menatap keluar jendela untuk menyembunyikan getaran di matanya. "aku baru saja menginap semalam, Liam. Dan pagi tadi kau hampir membuat Clarissa meledak di kantin."

"Rasanya tidak cukup hanya semalam," gumam Liam, kini kedua tangannya melingkari pinggang Angelina, memeluknya erat seolah takut gadis itu akan melompat keluar dari mobil yang sedang melaju.

"Aku masih merindukan tubuhmu... maksudku, keberadaanmu di sampingku. Kau tahu? Aku sudah menghitungnya. Kau sudah tidak menginap selama dua belas hari sebelum semalam. Itu rekor terlama kita berpisah."

Angelina merasakan nyeri yang familiar di dadanya. Merindukan tubuhku? Kata-kata itu terdengar begitu ambigu di telinganya. Bagi Liam, mungkin itu hanya berarti kenyamanan saat mereka tidur berpelukan sebagai sahabat, namun bagi Angelina, itu adalah racun yang manis.

"Pekan depan aku juga akan menginap di mansionmu, Angel," lanjut Liam tanpa memberi celah bagi Angelina untuk menolak. "Om Adrian sudah mengajakku ke tempat golf pekan depan. Aku akan menghabiskan waktu di kamarmu seharian."

"Ya, baiklah... dasar manja," ucap Angelina akhirnya kalah.

Tangannya secara otomatis bergerak, mengelus lembut rambut hitam legam Liam yang kini bersandar di pundaknya. "Liam... rambutmu sudah sedikit memanjang."

"Benarkah?" Liam mendongak sedikit, menatap Angelina dari jarak yang sangat dekat. Matanya yang kelam mengunci tatapan Angelina. "Tidak apa-apa, aku sengaja membiarkannya sedikit panjang. Menurutmu aku lebih tampan dengan rambut pendek atau seperti ini?"

"Apa pun bagimu sama saja, kau selalu percaya diri," jawab Angelina berusaha tetap netral.

Liam kemudian melakukan gerakan yang membuat napas Angelina tercekat. Ia memutar kepalanya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Angelina, membiarkan helaian rambutnya yang sedikit kasar menusuk kulit sensitif gadis itu.

"Liam... itu geli! Menyingkir dariku," protes Angelina sambil mencoba mendorong bahu Liam.

Bukannya menyingkir, Liam justru semakin mengeratkan pelukannya. Ia menghirup dalam-dalam aroma tubuh Angelina, sebuah aroma yang selalu menjadi obat penenang paling mujarab bagi setiap kegelisahan yang ia miliki.

"Liam, aku tidak bisa bernapas! Lepaskan!" Angelina tertawa kecil, meski tawanya mengandung kepedihan yang nyata. "Oh Tuhan... seandainya Clarissa melihat tingkah gilamu ini, dia pasti akan memutuskanmu detik ini juga."

Mendengar nama Clarissa, Liam melepaskan sedikit dekapannya namun tetap berada di jarak yang sangat intim. Ia tertawa pendek, sebuah tawa bariton yang terasa bergetar di dada Angelina.

"Ahahaha... kau tahu tidak, Angel? Clarissa sempat berkata padaku," tiru Liam dengan nada suara yang sedikit dibuat-buat. "Dia bilang, 'Tidak ada persahabatan yang benar-benar abadi antara pria dan wanita, Liam. Pasti salah satu dari kalian ada yang punya perasaan.'"

Jantung Angelina serasa berhenti berdetak. Ia membeku, tangannya yang tadi mengelus rambut Liam kini kaku di udara.

Liam terkekeh pelan, tidak menyadari reaksi membatu dari gadis di pelukannya. "Clarissa benar-benar cemburu padamu, Angel. Lucu sekali, kan? Bagaimana mungkin dia berpikir kita punya perasaan lain, padahal kita ini tumbuh bersama?"

"Lucu... benar-benar lucu," sahut Angelina lirih. Suaranya hampir hilang.

Angelina memejamkan matanya rapat-rapat. Sakit sekali. Liam menceritakan kecemburuan kekasihnya seolah itu adalah sebuah lelucon konyol, seolah kemungkinan adanya perasaan cinta di antara mereka adalah hal yang mustahil dan absurd.

Liam kembali menyandarkan kepalanya dengan nyaman, tidak menyadari bahwa di balik keheningan itu, Angelina sedang merayakan patah hatinya yang kesekian kali.

Di dalam mobil yang melaju membelah kota, Angelina menyadari bahwa ia terjebak dalam labirin perasaan yang ia bangun sendiri. Ia dicintai oleh Liam, benar—tapi dicintai sebagai sebuah kebiasaan, sebagai sebuah bagian dari dekorasi hidup yang harus selalu ada, namun bukan sebagai seorang wanita.

"Angel?" panggil Liam pelan, hampir terlelap karena elusan tangan Angelina yang perlahan kembali bergerak di rambutnya.

"Ya?"

"Jangan pernah dengarkan kata orang lain. Persahabatan kita abadi. Kau akan selalu menjadi milikku, dan aku milikmu. Kita tidak butuh perasaan rumit seperti yang Clarissa bicarakan untuk tetap bersama," gumam Liam setengah mengantuk.

Tapi aku butuh, Liam... aku butuh perasaan itu, batin Angelina menjerit.

Namun yang keluar dari bibirnya hanyalah sebuah bisikan lembut yang menenangkan pria itu menuju alam mimpi. "Tidurlah, Liam. Aku di sini."

Mobil terus melaju menuju Mansion Cavanaugh, membawa dua remaja dengan dua dunia yang berbeda. Yang satu tertidur lelap dengan keyakinan bahwa segalanya aman dalam genggamannya, sementara yang lain terjaga dengan luka yang semakin menganga, mencoba bertahan hidup dalam bayang-bayang persahabatan yang terasa semakin menyesakkan.

Angelina menatap profil wajah Liam yang damai dalam tidurnya. Ia tahu, mulai malam ini, ia harus melatih wajahnya lebih keras lagi. Ia harus menjadi benteng yang lebih kokoh untuk menyimpan rahasia cintanya, karena jika Liam sampai tahu, kehangatan di dalam mobil ini akan lenyap selamanya, dan ia belum siap kehilangan itu. Tidak sekarang, mungkin tidak akan pernah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!