Joshua Halim, anak ketua yayasan sekaligus cowok paling berkuasa di Seventeen International School, tiba-tiba menyatakan cinta, Yeri Marliana L. menolaknya tanpa ragu.
Penolakan itu melukai ego Joshua. Terlebih lagi, ia sedang berada di tengah taruhan dengan gengnya VOCAL (Vanguard Of Commanding Alpha Leaders), dan Joshua tidak pernah menerima kekalahan.
Sejak saat itu, ia terus mendekati Yeri dengan berbagai cara, memaksa jarak di antara mereka semakin sempit. Di sisi lain, Yeri justru harus menghadapi konsekuensinya: diincar, dijahili, dan dibully.
Tapi Yeri bukan tipe yang lemah. Ia melawan semuanya tanpa ampun. Namun keadaan berubah saat neneknya membutuhkan biaya operasi besar. Dalam kondisi terpojok, Joshua datang dengan tawaran yang tak bisa ia abaikan—ia akan menanggung seluruh biaya, asalkan Yeri mau menjadi pacarnya.
Dan di balik hubungan yang dimulai dari taruhan dan paksaan itu, satu hal mulai keluar dari kendali—perasaan yang seharusnya tidak pernah ada.
Story by Instagram & Tiktok @penulis_rain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14
Dua hari kemudian, setelah serangkaian pemeriksaan, dokter akhirnya mengumumkan kalau Nenek Widya sudah boleh pulang, meski dengan satu syarat penting ia harus datang lagi untuk pengecekan lanjutan.
Yeri langsung mengemasi barang-barang kecil mereka dari selimut tipis, tas kecil berisi obat, dan beberapa baju nenek. Wajahnya terlihat lega, tapi juga tetap waspada. Trauma melihat neneknya pingsan masih melekat kuat.
Sementara itu, Nenek Widya duduk di tepi ranjang, perlahan mengikat rambutnya. “Nenek bisa pulang sendiri sebenernya, Yeri. Kamu tuh harusnya sekolah. Nggak usah bolak-balik jagain Nenek.”
Yeri langsung berhenti memasukkan barang ke tas. Ia menatap neneknya dengan alis mengernyit.
“Nenek ngomong apa sih? Yeri nggak bakal ninggalin Nenek sendirian pulang dari rumah sakit.”
“Tapi kamu sekolah, Yeri…” suara sang nenek pelan, terdengar lebih seperti kekhawatiran daripada teguran. “Ujian sebentar lagi, kan?”
Yeri menjongkok di depan neneknya, menggenggam tangan tua itu dengan lembut.
“Nek, Yeri bisa ijin. Lagian… Yeri udah pinter. Nggak belajar juga tetep bisa ngerjain.”
Nenek Widya memutar bola matanya, tapi bibirnya tersenyum kecil. “Kamu ya… ada-ada aja.”
“Beneran, Nek,” Yeri mengangguk mantap. “Nenek jauh lebih penting daripada ujian.”
Perawat datang menyerahkan berkas dan catatan obat. Yeri menerima semuanya, mendengarkan penjelasan satu per satu dari cara minum obat, kapan kembali untuk kontrol, dan gejala apa saja yang harus diwaspadai. Setiap informasi langsung ia catat di ponselnya.
Setelah semua urusan selesai, Yeri mendorong kursi roda yang dipinjam dari rumah sakit, membawa neneknya menuju pintu keluar. Nenek Widya beberapa kali mencoba protes.
“Yeri, udah deh. Nenek bisa jalan sendiri. Masa jalan dikit aja pakai kursi roda.”
“Nenek cuma bisa jalan sedikit karena Yeri paksa duduk di kursi roda,” jawab Yeri, setengah bercanda. “Kalau Nenek pingsan lagi gimana? Yeri nggak mau kejadian kemarin terulang.”
Nenek Widya terdiam. Ada kehangatan terselip di balik ekspresi jengkelnya. “Kamu itu ya… ngebantah tapi sayang.”
Mereka keluar lewat pintu depan rumah sakit. Yeri memesan ojek mobil online, lalu membantu nenek naik perlahan. Ia memastikan sabuk pengaman terpasang, selimut diselipkan agar nenek tidak kedinginan, dan semua barang aman di pangkuannya.
“Kayak bayi aja,” gumam nenek.
“Gapapa dong. Bayinya Yeri.”
Nenek tersipu, lalu melirik jendela seolah ingin sembunyi dari ucapan manis cucunya itu.
Dalam perjalanan pulang, Yeri beberapa kali melirik neneknya yang terkantuk-kantuk. Wanita tua itu tampak lebih baik, tapi tetap ada bayang lelah di wajahnya, wajah yang sudah mengasuh Yeri, menggantikannya jadi ibu dan ayah sekaligus.
Di momen itu, Yeri makin yakin ia harus kerja. Harus cari uang. Harus kuat.
“Yeri,” tiba-tiba suara nenek mengagetkannya.
“Ya?”
“Kamu jangan sampe ngorbanin masa depanmu buat Nenek. Nanti Nenek sedih.”
Yeri memegang tangan neneknya di atas selimut. “Yeri belajar itu buat masa depan. Tapi jagain Nenek itu… buat hidup Yeri sekarang. Kalau Nenek sakit, Yeri nggak bisa fokus apa-apa.”
Nenek menutup mata, nggak menjawab. Tapi dari sudut bibirnya, terlihat jelas senyum tipis penuh haru.
Mereka tiba di rumah. Yeri membuka pintu, menyalakan lampu, memastikan semuanya aman. Rumah itu terasa sedikit lebih hangat daripada hari sebelumnya. Yeri membantu neneknya duduk di sofa, memijat kaki sang nenek pelan.
“Nenek istirahat. Yeri masakin sesuatu, ya?”
“Nggak usah repot, Yeri…”
“Yeri mau, kok.”
Nenek Widya akhirnya menurut, duduk sambil menarik napas panjang.
Dalam hati, Yeri berjanji apapun yang terjadi, ia akan bekerja keras, sekolah, dan tetap menjaga satu-satunya keluarga yang ia punya.
Nenek Widya menatap cucunya itu lama-lama, lalu berbisik pelan, “Kamu tuh… anugerah buat Nenek, Yeri.”
Dan Yeri tersenyum, menahan air mata yang hampir jatuh.
***
Yeri selesai mengaduk bubur yang baru matang, asap tipis masih naik dari permukaannya. Ia menaruh mangkuk itu di meja, tapi matanya terus aja ngelirik ke arah ponsel di counter dapur. Sejak tadi ia nungguin jawaban dari lamaran tutor yang dia kirim kemarin. Rasanya kayak nunggu hasil ujian nasional, deg-degan tapi pura-pura santai.
“Nek, buburnya bentar lagi dingin, ya,” gumam Yeri sambil nyiapin sendok.
Baru aja dia mau duduk, ponselnya bunyi. Notifikasi masuk. Yeri langsung lompat kecil kayak kucing kaget.
Ia buka layar ponsel itu dengan hati deg-degan.
[Selamat, Anda lolos seleksi. Harap datang minggu ini jam 13.00 untuk sesi percobaan mengajar.]
Yeri langsung nutup mulutnya sendiri, mata berkaca-kaca.
“Ya Tuhan… beneran?” bisiknya pelan.
Ia baca ulang sekali lagi. Dan sekali lagi. Terus sekali lagi hanya untuk memastikan itu bukan halusinasi. Tangannya bergetar, tapi bukan karena takut tapi lega.
“Kalo gue ngajar 2 jam tiap minggu… berarti gue dapet satu juta…” Yeri hitung cepat dalam kepala. “Sebulan… empat juta.”
Empat juta. Angka itu rasanya kayak cahaya terang di tengah gelap. Dengan itu, dia bisa bantu biaya pemeriksaan nenek, beli obat, bayar makan, dan… sedikit demi sedikit, nabung buat kemungkinan operasi.
“Nenek nggak perlu kepikiran soal uang lagi.” Yeri senyum kecil, matanya panas karena terharu.
Ia melihat nenek Widya yang sedang berbaring, belum sadar kalo cucunya hampir meledak bahagia. Yeri menghela napas lega, duduk perlahan sambil membawa mangkuk bubur ke sisi sofa.
“Ternyata bener, Nek… kalau rezeki emang selalu ada jalannya,” gumamnya pelan, seolah ngomong ke diri sendiri.
***
Hari Minggu akhirnya tiba.
Yeri berdiri di depan sebuah rumah… bukan, lebih tepatnya istana. Gerbang tinggi menjulang, pagar besi hitam dengan ukiran rumit, dan halaman luas yang bikin rumah sederhana Yeri terasa kayak beda dunia.
“Gila… ini rumah apa vila?” gumam Yeri pelan.
Gerbangnya terbuka otomatis. Yeri menarik napas dalam, lalu mulai jalan masuk. Jarak dari gerbang ke pintu utama aja udah lumayan jauh, bikin dia makin ngerasa kecil di tempat sebesar ini.
Begitu sampai di depan pintu, seorang pelayan langsung menyambut dengan senyum sopan.
“Selamat siang. Anda Yeri, ya?”
“Iya…” Yeri jawab agak canggung.
“Silakan ikut saya. Tuan muda ada di lantai dua.”
Yeri mengangguk, lalu mengikuti pelayan itu naik tangga besar yang mewah banget. Setiap langkahnya terasa berat antara gugup, penasaran, dan… firasat aneh yang tiba-tiba muncul.
Begitu sampai di depan sebuah pintu kamar, pelayan itu mengetuk sebentar lalu membukanya.
“Tuan muda, tutor untuk Anda, sudah datang.”
Yeri melangkah masuk, lalu langsung bicara formal, “Permisi, saya Yeri, tutor yang—”
Kalimatnya langsung terhenti. Matanya membelalak.
Di dalam kamar luas itu, Joshua lagi rebahan santai di atas ranjang, satu tangan pegang ponsel, rambutnya berantakan dikit, dan… jelas-jelas nggak pakai atasan.
Yeri nge-freeze di tempat.
Joshua nengok terus senyum miring begitu sadar siapa yang datang.
“Oh…” dia bangkit dikit, santai banget. “Ternyata tutor gue… lo. Halo sayangku.”
Yeri masih berdiri kaku di pintu, otaknya kayak nge-lag.
“Anjrit. Lo lagi?!”